Aku ingin jadi Penerbang. Seperti ayahku.” Dani berkata penuh penghayatan. Pandangannya menerawang jauh pada dua pesawat penumpang yang mesinnya sedang dipanasi di depan hanggar.
Bosan rasanya mendengar ocehannya. Sudah berulangkali ia mengatakan hal itu. Baik ketika di sekolah, di rumahnya atau setiap kali datang ke tempat ini. Heru sendiri sibuk dengan teropongnya menerawangi aktivitas landasan.
Mereka memang tinggal bertetangga di perumahan militer angkatan udara. Pagar kawat landasan pacu hanya berjarak 100 meter dari rumah mereka. Hampir setiap harinya mereka merasakan getaran dan suara pesawat lepas landas. Di pinggir landasan dua pesawat b****k jenis Dakota di parkir begitu saja, layaknya monumen saksi sejarah. Pesawat-pesawat itu memang bekas perang kemerdekaan. Di sore hari atau di hari libur tempat itu ramai didatangi warga perumahan, terutama anak-anak. Orang-orang bebas menaiki pesawat ini sampai ke ruang kokpit, bahkan memanjat bodi pesawat juga boleh. Tempat itu sudah seperti taman rekreasi. Saat itu, 14 tahun yang lalu, Heru dan Dani memang sedang duduk di sayapnya.
Dani memang terobsesi menjadi penerbang seperti ayahnya. Ayahnya memang seorang penerbang pesawat tempur. Bila ada pesawat yang terbang rendah di atas sekolah mereka, ia akan selalu bilang kalau itu ayahnya. Meski pun yang terbang hanya pesawat Capung atau Helicopter. Pada dinding kamar tidurnya pun ia tempeli dengan gambar-gambar kedirgantaraan. Bahkan ia sempat sengaja meminta ayahnya datang ke tempat ini untuk menggambil gambarnya dengan memakai seragam penerbang lengkap dengan helmnya. Yang jelas, niat banget. Tampangnya lebih mirip Alien dengan helm yang kebesaran. Dan pada akhirnya, impian sejak kecil itu tidak sia-sia, saat ini ia baru saja menyelesaikan pendidikan penerbangan sipil dan tengah mengumpulkan jam terbang untuk mendapatkan flying License. Mungkin itulah pentingnya menanamkan cita-cita semenjak usia dini, segalanya akan lebih fokus dan terarah, tidak buang waktu. Sejak kecil sampai sekarang Heru sendiri memang tidak pernah mempunyai cita-cita yang jelas. Sekarang ia juga tidak menyangka akan menjadi pelaut, anak buah kapal, atau waiter, pelayan restoran di atas kapal. Walau pun pekerjaan itu juga pekerjaan profesional dan bisa sangat menghasilkan, tapi rasanya hampir tidak ada anak kecil yang bercita-cita kalau sudah besar nanti ingin menjadi pelayan restoran.
****
Penerbangan ke Eropa umumnya memang malam hari. Penerbangan ke Paris jam 18.30, sekarang baru jam empat sore. Heru duduk sendiri di kursi Mc Donald. Satu batang rokok sudah menjadi abu sejak satu paket hemat ia habiskan setengah jam yang lalu. Seumur hidupnya Heru belum pernah pergi ke luar negeri. Apalagi perginya seorang diri. Ia cukup kuatir.
Tepat jam 04.15, seseorang yang ia kenal mulai nampak batang lehernya. Pak Agus, pegawai kantor agen berjalan menghampiri. Mereka memang janjian di Mc Donald. Syukurlah akhirnya datang juga. Pak Agus akan mendampinginya untuk check in luggage, lagipula tiket dan semua dokumen perjalanan masih dia yang pegang.
”Kamu sendirian?” Pak Agus bertanya sambil memperhatikan sekelilingnya.
”Saya memang sendiri, Pak. Kebetulan tidak ada yang mengantar.”
”Bukan itu maksud saya. Seharusnya kamu berangkat berdua.” Pak Agus berkata sambil membaca selembar kertas dari tasnya. ”Namanya Rahman, ia crew untuk laundry.”
”Lho, pada saat briefing di kantor, hanya saya Pak yang berangkat hari ini.”
Dalam hatinya ia merasa lega kalau memang ada seorang lagi yang berangkat bersamanya. Karena akan ada teman ngobrol. Akan ada teman senasib untuk berbagi kebingungan di tempat-tempat asing.
”Dia seharusnya tidak berangkat sekarang, kapalnya juga beda dengan kamu. Tapi ada perubahan planning. Biasalah, Seattle suka merubah schedule seenaknya.”
Sudah setengah jam mereka menunggu. Pak Agus pun mulai terlihat kesal.
“Mentang-mentang orang lama datangnya seenaknya.” Keluh Pak Agus.
”Orang lama bagaimana, Pak?” tanya Heru bingung.
”Menurut biodatanya, dia sudah naik tiga kali, dan ini kontraknya yang ke empat. Sudahlah, daripada kamu terlambat, lebih baik kamu check-in duluan saja.” Pak Agus mengeluarkan amplob besar dari tasnya. ”Ini Passport dan Seaman Book kamu, ini tiket pesawat dan ini surat kontrak kamu untuk perusahaan sama surat buat Imigrasi Maroko. Ayo, saya bantu kamu check-in.”
Mereka baru saja akan beranjak meninggalkan Mc Donald ketika Rahman datang membawa koper besar ditemani istrinya yang menggendong bayi.
”Kemana saja, kamu? Jam segini baru datang!” Pak Agus melotot, sekaligus kesalnya reda seketika.
Rahman hanya cengengesan. ”Maaf, Pak. Di jalan macet.”
”Ayo, kalian langsung check-in sekarang saja. Ini dokumen dan ticket kamu, semuanya ada dalam amplop ini. Ingat, kamu team leader-nya! Si Heru ini baru kontrak pertama.”
Rahman memandang Heru, lalu mereka berkenalan. Rahman dan keluarganya tinggal di Cianjur. Heru pernah mendengar kalau Cianjur memang gudangnya TKI dan TKW. Sepertinya merantau ke luar negeri memang sudah menjadi hal yang biasa bagi mereka. Dan mereka pun sepertinya kecanduan untuk tetap kembali merantau.
Akhirnya tibalah waktu untuk berangkat. Pak Agus menyalami mereka.
Rahman mencium kening istrinya. Kemudian pipi lembut bayinya yang masih kemerahan. ”Abah bade angkat, ulah rewel nya ka mamah. Engke Abah uih, dipangmeserkeun boneka anu ageung.”(ayah mau berangkat, jangan rewel ya, sama ibu. Nanti ayah pulang, dibelikan boneka yang besar)
.