L'aeroport de Paris

1800 Kata
Pukul sembilan malam waktu Paris, Charles de Gaulle diliputi kabut. Musim dingin belum genap tiba tapi dinginnya sudah terasa menusuk. Mereka pun bergegas menaiki shuttle bus yang akan membawa mereka menuju tempat Transfer Passenger. Masih satu kali lagi penerbangan menuju Casablanca. ”Man! Penerbangan ke Casablanca jam duabelas, berarti kita bakalan nunggu tiga jam di sini.” Mereka berdiri bergantungan dalam shuttle bus. Tak ada wajah Asia yang ia lihat selain Rahman. ”Ini sih belum seberapa, waktu di Detroit, saya pernah transit selama tujuh jam. Nyantey we, atuh.” Setelah berjalan-jalan di sekitar shoping arcade, mereka duduk di sebuah cafeteria bandara. Suasana cafe cukup terbuka, cozy dan tidak kaku. Masih tak percaya rasanya. Dari kota kembang Paris Van Java di belahan dunia lain sampai akhirnya berada di kota dunia, di Paris yang sesungguhnya. Sayang ia hanya transit. Terkurung dalam etalase bandara, dan Eiffel masih menjadi utopia. Jangankan berfoto di depannya, puncak menaranya saja tidak kelihatan. Apalagi menyusuri Les Champs Elysées sambil menerawangi lenggak-lenggok wanita Perancis berbusana mutakhir. Padahal selangkah lagi. Mengapa join kapalnya tidak di sini saja. Mengapa harus Casablanca. Kota antah berantah di ujung barat laut Africa yang namanya sama dengan tempat pemakaman umum di Jakarta. CASABLANCA Air France melayang membawa mereka ke timur. Melintasi Spanyol dan Selat Gibraltar. Setelah 6 jam mengangkasa, tepat pukul delapan pagi mereka mendarat di Casablanca. Waktu di Casablanca memang lebih cepat 1 jam dari waktu Paris. Setelah melawati Imigrasi dan mengambil koper, mereka pun segera meninggalkan bandara. ”Ayo Her, orang yang menjemput kita ada di sana.” Seorang pria dengan brewok lebat berdiri di luar pagar dengan menampangkan kertas bertuliskan CREW OF SILVER ROMEO.” ”Good morning, Sir! We are crew of Silver Romeo from Indonesia.” Seru Rahman menyapa pria itu. “Voila, here you are. Welcome to Casablanca, gentlemen. Im Mahmud from Port Agent. Bagaimana penerbangan kalian?” Pria itu bertanya dengan bahasa Inggris yang terdengar rancu di telinga. Maklumlah bahasa Inggris memang jarang digunakan di sana. Maroko sendiri merupakan negara bekas jajahan Perancis dan bahasa nasionalnya, Perancis dan Arab. ”Menyenangkan, dan kami bisa tiba di sini tepat waktu.” Heru segera menjawab. Hitung-hitung pemanasan berbahasa Inggris. Kelihatannya ia memang harus membiasakan diri mendengar bahasa Inggris dengan berbagai aksen. ”Silver Romeo baru akan merapat besok pagi. Sekarang saya akan mengantar kalian ke hotel. Kalian tunggu di sini, saya akan mengambil mobil saya.” Mahmud pun berlalu. Cuaca agak mendung di kota itu. Angin bertiup kencang. Letak geografis Maroko yang berdekatan dengan Eropa mempengaruhi temperatur udara. Sejuk seperti habis hujan. Bandara memang tidak jauh dari Down Town (pusat kota). Hanya dalam waktu kurang dari setengah jam mereka sudah memasuki kota. Mata Heru hampir tak berkedip menyaksikan pemandangan yang baru pertama itu ia lihat. Terutama pada para wanita lokal yang berjalan di trotoar. Banyak yang tidak memakai kerudung. Ia kira Maroko adalah negara dengan hukum Islam yang saklek. Bangunan-bangunan nampak membosankan dengan warna cat yang serupa. Coklat muda dan krem. Tulisan-tulisan disepanjang jalan ditulis dengan huruf Arab atau bahasa Perancis. ”Cuaca di sini kurang baik saat-saat ini, cukup sulit ditebak. Awal musim dingin di Eropa membawa angin kencang ke negara kami. Saya berharap kapal kalian bisa segera meninggalkan Mediterania.” Mahmud berkata sambil menyetir. Tepat setelah mereka memasuki lobby hotel, hujan deras pun tumpah mengguyur Casablanca. ”Besok pagi saya akan menjemput kalian pukul 08.00. Sekarang silahkan beristirahat.” Mahmud memberikan kunci kamar dan seorang Bell Boy segera membawa koper kedua pelaut itu tanpa diminta. Hotel sekelas bintang tiga dengan lift yang tak begitu luas itu, tidak lebih baik dari hotel-hotel serupa di Indonesia. Rahman langsung merebahkan tubuhnya di kasur. Heru sendiri tidak merasa lelah atau mengantuk. Ia pandangi hujan dari balik kaca jendela kamar. Mengamati orang-orang yang berjalan di tengah hujan dengan payung-payung hitam. Ingin sekali rasanya berjalan-jalan di luar. ”Tidur aja, Her! Simpan tenaga kamu buat besok.” Suara Rahman membuyarkan lamunan. ”Besok kita akan kerja rodi, walau baru hari pertama tetap tidak akan ada dispensasi.” Rahman pun menutup wajahnya dengan bantal. **** Tepat jam delapan pagi Mahmud menjemput mereka. Udara sangat dingin di luar. Hujan yang timbul tenggelam sampai malam membuat pagi itu berkabut tebal. Setiap nafas yang mereka hembuskan membentuk gumpalan asap kecil. Heru pun mempermainkannya seperti asap rokok. Setengah jam kemudian, mereka tiba di pelabuhan. Pelabuhan terlihat sepi. Hanya ada dua kapal barang yang bersandar. Air laut nampak bergejolak diselimuti kabut. Mereka pun berhenti, Mahmud segera berjalan menemui seseorang. Tak berapa lama kemudian ia kembali menemui Heru dan Rahman yang masih berada dalam mobil. ”Silver Romeo kelihatannya akan terlambat tiba di sini. Ada badai besar di sekitar Palma de Mallorca dan kapal terpaksa berganti arah. Saya masih menunggu berita dari captain anda lewat Handy Talky.” Mahmud berkata sambil memutar-mutar gelombang HT. Ia nampak gelisah. Kemudian tiga bus besar nampak memasuki pelabuhan dan parkir di dekat mobil Mahmud. Bus pariwisata rupanya. Rahman cerita kalau bus-bus itu diperuntukan bagi para passenger kapal yang hendak mengikuti tour di Casablanca. Silver Romeo adalah kapal satu-satunya dari enam kapal Silver Cruise Line yang berlayar di Eropa. Silver Romeo berlayar dari Chivitavecia Italy, dan dalam pelayarannya ia akan singgah di sepanjang Cote dazur (kota-kota di Perancis Selatan), lalu Barcelona, Casablanca dan Madeira di Portugal, sebelum akhirnya menyeberang Samudera Atlantik menuju Miami Florida, USA. Sebelum musin dingin di Eropa, sebagian besar perusahaan pelayaran akan mengalihkan rute pelayaran ke Laut Karibia dan Pasifik. Pada saat musin dingin, laut akan sangat tidak nyaman untuk berpesiar. Khususnya Laut Baltik yang sebagian akan ditutupi es. Sambil menunggu, mereka pun berjalan-jalan di sekitar pelabuhan. Sudah hampir satu jam mereka berputar-putar. Hujan pun kembali turun rintik-rintik. Saat yang bersamaan Mahmud berjalan cepat ke arah mereka. Ia berjalan sambil berbicara lewat HT. So, you cancel Casablanca and go straight to Madeira. Captain, do you read me? I have two crew join on board here. How about them? Oke, Well keep in touch by e-mail. Mahmud menghentikan pembicaraannya di HT. “Silver Romeo membatalkan Casablanca, ombak cukup besar di luar sana. Mereka akan langsung menuju Madeira, Portugal. Kami akan usahakan agar kalian bisa terbang ke Madeira. Sekarang saya akan mengantar kalian kembali ke hotel.” **** Hotel Washington yang mereka tempati terletak tepat di pusat kota, di dekat Boulevard Hasan, dimana Mesjid Agung Hasan terletak disampingnya. Tak banyak yang bisa mereka lakukan selain menunggu berita lebih lanjut dari Mahmud. Mereka pun hanya makan, tidur dan berjalan-jalan. Ini sudah hari ketiga mereka berada di kota itu, namun Mahmud belum juga menghubungi. Hampir setiap malam mereka ke luar hotel bila tidak hujan. Uang pun sudah mulai menipis. Dalam kondisi seperti itu mereka tidak berani bereksperimen dengan makanan lokal. McDonald yang ternyata juga ada di sana harga dan rasanya lebih jelas. Kehidupan dan gaya hidup masyarakat di Casablanca juga tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya mengenai negara-negara di Afrika, khususnya negara yang mayoritas beragama Islam. Selain kafe yang bertebaran di sepanjang jalan, ada juga beberapa Bar yang jelas menjual minuman beralkohol. Seperti umumnya negara berkembang, pengemis dan penjaja sovenir menghampiri dengan agresif. Di beberapa sudut dan persimpangan nampak beberapa pemuda luntang-lantung dengan tatapan yang menyelidik, seolah tanggap akan penampakan orang-orang pendatang, terutama turis. Dengan pecaya diri yang berlebihan, sigap menawarkan jasa menjadi gaet, mengantar ke tempat belanja dan wisata lainnya, mencarikan mobil carteran, bahkan ada pula yang dengan terang-terangan menawarkan wanita yang bisa diajak kencan. Tempat favorit kedua pelaut nyasar itu adalah kafe di atas trotoar yang berseberangan dengan gedung bioskop. Poster film legendaris “Casablanca” yang di bintangi Inggrid Bergman dan Humprey Bogart tepampang besar di depan bioskop. Poster itu sudah bertahun-tahun terpampang di sana. Film yang diproduksi tahun 1942 itu memang sudah menjadi salah satu icon kota Casablanca dan begitu monumental bagi rakyat Maroko. Pengunjung di kafe itu didominasi anak-anak muda. Postur tubuh dan wajah mereka cenderung mirip orang-orang Eropa Latin. Ternyata letak geografis cukup mempengaruhi bentuk fisik mereka. Kalau sudah begitu Heru dan Rahman merasa tidak seperti Pelaut atau TKI. Mereka terlihat seperti orang yang kelebihan duit bertravelling ke suatu negara yang bukan tujuan wisata favorit. Duduk di kafe sambil menikmati teh ala Maroko dengan aroma chamomile yang disajikan dalam teko tembaga yang berbentuk sepeti lampu Aladin. Bercampur pula daun mint hijau segar yang batangnya menjuntai ke luar teko. Gula kubus diletakan disampingnya. ”Ini sudah hari ketiga. Mahmud belum menghubungi juga. Besok kita harus menghubungi Port Agent. Nomor telepon Port Agent kita minta saja ke resepsionis hotel.” Rahman berkata serius sebelum menghirup teh panasnya. Heru hanya diam. Entak kenapa ia bisa tidak terlalu memikirkan tujuan sebenarnya dari perjalanan ini. Mungkin ia memang sudah terbuai dengan kota ini. Sentimentil yang berlebihan. ”Bukan apa-apa, Her. Uang saya sudah tinggal 25 dollar. Saya nggak nyangka kita bakalan lama di sini. Selama tiga kali kontrak saya. Ini baru pertama kalinya saya menetap lebih dari satu hari ketika mau join kapal.” Heru memandang Rahman yang terlihat kesal. ”Seharusnya kan kita memang sudah join kapal. Hanya karena ada badai makanya kita ditunda. Berarti ini musibah. Semuanya di luar rencana. Kamu masih mending, uang saya malah tinggal 10 dollar. Saya memang nggak bawa uang banyak. Lagipula waktu di Paris saya agak royal. Saya membeli miniature Eiffel dan beberapa souvenir. Saya takut nggak bakalan ke Paris lagi. Tahu gini waktu itu nggak usah belanja-belanja.” Rahman tersenyum tipis sambil geleng-geleng. ”Kamu itu aneh. Kerja aja belum, sudah shopping. Keesokan harinya di hari ke empat. Resepsionis menghubungkan mereka dengan Port Agent. ”Kamu saja yang ngomong. Kamu kan anak kuliahan, bahasa Inggris kamu lebih bagus. Kalau ngomong bahasa Inggris yang resmi, saya kurang lancar.” Seketika Rahman memberikan telepon yang sudah tersambung. Heru meraih telpon itu. Nada dering masih berbunyi, terpikir dalam benaknya, Rahman tak lancar bahasa Inggris, terus ngapain aja ia selama tiga tahun di kapal. Sesaat berselang suara wanita terdengar dalam bahasa Perancis. Heru segera menjawab. Halo, Saya crew of Silver Romeo dari Indonesia. Saya hanya ingin menanyakan, kapan kami akan terbang menyusul kapal. Ini sudah hari ke empat tapi belum ada berita dari kalian. Oh Maaf. Kami kesulitan mendapatkan tiket pesawat untuk anda. Kami pun mendapat kendala dalam mengurus Visa Portugal untuk anda, mengingat hubungan diplomatik negara kalian kurang baik (masih urusan Timor Timur yang baru saja lepas dari NKRI). Head Office anda di Seattle meminta kami menerbangkan kalian ke Miami. Kalian akan bergabung sementara dengan Silver Agatha sampai Silver Romeo tiba di Miami. Kemungkinan dua hari lagi. Lalu bagaimana dengan makan kami? Uang kami sudah hampir habis. Bisakah kami makan di hotel lalu tagihannya bebankan saja ke Seattle?. Maaf, apakah Mahmud, staff kami, tidak memberitahukan kalian kalau selama di sini kalian free untuk makan tiga kali di hotel, kecuali untuk soft drink dan minumam beralkohol. Tidak, Mahmud tidak bicara apa-apa mengenai hal itu. Oh Mon Dieu (Oh Tuhanku), nous sommes vraiment desoles. Kalau begitu maafkan kami. Sialan si Mahmud! Awas kau!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN