Setelah transit selama 2 jam di Madrid, tepat pakul 22.15 mereka tiba di Miami. Ada beberapa pesawat yang mendarat secara bersamaan dari luar America, sehingga antrian cukup panjang walau sudah dibuka beberapa loket Imigrasi. Bahkan American citizen dipisahkan dengan foreign visitor. Seperti biasa Rahman meminta Heru antri di depannya. Bahasa Inggrisnya memang Inggris katro sehingga membuatnya kurang percaya diri.
”Anda rupanya Pelaut. Apakah anda pernah ke Untited State sebelumnya?” Petugas Imigrasi bertanya sambil membolik-balik halaman Passport Heru.
”Belum Pak, dan ini juga pertama kalinya saya bekerja di kapal.”
”Kalau begitu, apakah anda membawa surat pengantar buat kami? Yang anda tunjukan ini surat pengantar buat Imigrasi Maroko dan surat kontrak kerja anda dengan Silver Cruise Line.”
”Maaf, tapi hanya itu yang di berikan agen kami di Jakarta. Kami memang seharusnya naik di Casablanca, tapi karena badai di Medeterania, Silver Romeo tidak jadi singgah di Casablanca. Lalu Port Agent di sana mengirim kami ke sini untuk bergabung sementara dengan Silver Agatha yang sekarang sedang merapat di Miami.”
”Oke, kalau begitu tolong anda tunjukan surat pengantar yang menyatakan anda di transfer dari Silver Romeo ke Silver Agatha.”
”Maaf, Pak. Tapi Port Agent di Casablanca tidak memberikan surat apa pun pada kami.”
Petugas itu terdiam sejenak.
”Berapa jumlah kalian?”
”Kami hanya berdua, Pak.” Jawab Heru sambil menunjuk Rahman yang berdiri di garis kuning.
Melihat Heru menunjuknya, Rahman segera melangkah hendak mendekati.
“Just stay on the yellow line, Sir! Wait your turn!” Teriak Petugas itu sambil menunjuk pada Rahman. Spontan orang-orang di sekitar melihat pada mereka. Rahman benar-benar bikin malu.
Petugas itu lalu menghubungi seseorang lewat telepon. Tak lama kemudian dua orang petugas berpakaian hitam-hitam datang menghampiri mereka.
”Untuk sementara kami tidak dapat mengijinkan kalian masuk United State. Sekarang silahkan anda dan teman anda ikut petugas kami.”
”Her, suruh mereka untuk menghubungi Seattle!” Rahman berseru panik.
”I know what Im doing. Sekarang kita ikuti saja mereka dulu.”
Sebuah ruangan nampak dipenuhi visitor-visitor bermasalah. Ada yang sudah menunggu selama tiga jam di tempat itu. Mereka semua duduk di kursi plastik menunggu untuk diinterogasi lebih lanjut. Tak terpikirkan oleh Heru sebelumnya bisa berada di sana. Rasanya baru kemarin ia duduk di kantin kampus bersama teman-teman, janjian di perpustakaan DU (Dipati Ukur) atau ramai-ramai hunting foto untuk mata kuliah fotografi. Rasanya hidup begitu simpel, mudah tanpa beban.
Waktu di Indonesia berbeda dua belas jam dengan di America. Saat itu tentunya mereka sedang berada di kelas, atau mungkin sedang ada quiz. Membuka lipatan kertas contekan yang dibuat sedemikian rupa, kecil dan sistematis. Besok-besok membuat kertas lipatan origami, menyulam dan merangkai bunga.
Berulang kali Heru mengusap mata. Beberapa orang sudah tertidur, baik di kursi, di bahu pasangannya atau dalam gendongan ibu dan ayah. Lembaran-lembaran formulir yang harus mereka isi nampak bagaikan kertas koran. Heru hanya memandangi dan membolak-baliknya. Rahman pun hanya terdiam. Pikirannya pastilah lebih kalut. Kemungkinan terburuk adalah deportasi. Jika itu terjadi maka sia-sialah semua ini. Ia akan kembali menjadi pecundang di kampus. Sedangkan Rahman, anak istrinya mau makan apa. Apalagi ia curhat kalau ia banyak hutang di Indonesia. Maka itu ia pun buru-buru berangkat kembali ke kapal.
Setelah dua jam menunggu, mereka pun mengikuti proses berikutnya. Seorang Petugas mengambil sidik jari mereka. Lalu mereka di foto. Tampak depan dan tampak samping, kiri-kanan kayak di Jonas Photo (studio foto paling populer di Bandung). Teringat kata-kata teman-teman, bila ada pasangan yang belum berfoto berdua di Jonas Photo, berarti belum jadian. Mengingat itu ia jadi tersenyum sendiri walau dalam kondisi seperti itu. Biarlah, daripada si Rahman, gayanya begitu tegang dengan sikap sempurna. Rongga matanya yang kehitaman menahan kantuk, membuatnya mirip teroris yang baru digebukin seantero warga dunia.
Setelah itu mereka duduk di depan seorang petugas di dalam ruangan yang lebih kecil.
”Saya sudah mendengar masalah kalian. Kami pun sudah menghubungi Head Office anda di Seattle, tapi karena ini sudah malam, mereka sepertinya sudah tutup. Tak ada yang mengangkat telepon kami. Do you have another number in United State so we can call by now? Atau kalian mungkin punya contact person di Miami?
“Yes, eh.. No, Sir. Maksud saya kalau di Seattle ada, tapi di Miami tidak ada. Biasanya mereka sudah menunggu di luar bandara.” Agak gugup juga ia berbicara dengan petugas berkulit hitam itu. Ia justru membayangkan betapa miripnya petugas itu dengan Bill Cosby, seorang aktor Amerika kulit hitam yang sering memerankan tokoh ayah periang dan bijaksana dalam drama keluarga The Cosby Show di era delapan puluhan.
“Kami sudah memeriksa di luar. Nobody waits for anybody. Tidak ada seorang pun yang menunggu Crew of Silver Cruise Line atau Silver Romeo.” Petugas itu berkata jelas dan tegas.
Spontan Heru dan Rahman saling berpandangan.
”Saya yakin, Pak. Ada sedikit mis-komunikasi antara Head Office dengan Port Agent di Miami. Untuk apa perusahaan kami memberikan tiket ke Amerika bila tidak untuk mempekerjakan kami. Kami juga sudah menandatangani kontrak kerjanya. Kami pun tidak mungkin begitu saja kembali ke negara kami atau menetap di Casablanca pada waktu itu. Semua kapal milik perusahaan kami saat ini sedang berada di perairan Amerika dan Karibia.”
Petugas itu mendengarkan dengan seksama.
”Oke, jika kami membiarkan kalian masuk United State, apa yang akan kalian lakukan?”
”Kami punya uang. Kami akan menginap di hotel dan besok kami akan menghubungi Head Office kami.” Jawab Heru yakin sekaligus memelas dan pasrah.
”Baiklah kalau begitu, kami akan ijinkan kalian pergi. But listen! Ini menjadi pelajaran bagi kalian, mintalah surat pengantar yang jelas dari tempat kalian berangkat sebelum masuk United State.”
Heru terdiam. Sedangkan Rahman hanya manggut-manggut kayak burung.
”Saya mendengar krisis yang melanda negara kalian, tapi janganlah ini dijadikan pelarian. Tetaplah bersemangat dan segeralah kembali pulang. Ini dokumen-dokumen kalian, and welcome to America.”