Nomaden Alfred

2022 Kata
Terus sekarang bagaimana, Man?” ”Saya juga bingung. Baru sekarang saya mengalami pengalaman seperti ini, biasanya lancar-lancar aja.” Rahman nampak pasrah tanpa peran dan inisiatif. Rasanya jadi percuma berangkat bersama orang yang sudah bolak-balik ke Amerika. Rahman tetap terlihat seperti orang kuper. Saat itu mereka memang sudah berada di luar bangunan bandara. Celingak-celinguk gelisah di sekitar teras pintu ke luar kedatangan luar negeri. ”Sudahlah, kita tunggu aja sampai besok pagi, besok pagi baru kita telepon Seattle.” Rahman pun beranjak menuju deretan kursi plastik. Heru melihat ke sekeliling dan tak sengaja matanya beradu dengan mata seorang petugas yang sedang berdiri di dekat pintu ke luar. Entah kenapa jantungnya berdebar. Tanpa pikir panjang ia segera menghampiri Rahman yang sudah terduduk mengantuk di kursi plastik. ”Man, ayo kita pergi sekarang juga! Petugas itu ngelihatin kita terus. Takutnya nanti ada masalah lagi.” Rahman gelagapan terjaga dari kantuknya. ”Pergi kemana?” ”Kita jalan aja dulu. Pokoknya ke luar area bandara.” **** Sudah beberapa taxi menghampiri menawarkan jasa. Mereka tak menggubris, terus berjalan sambil menggiring koper. Kurang lebih 1 km sudah mereka berjalan, gapura bandara mulai terlihat. Nenek moyangku seorang pelaut, pandai mengarung luas samudera... Heru bernyanyi sekeras-kerasnya. Mungkin ia sudah mulai gila. ”Kamu enak, Her. Belun nikah. Belum punya tanggungan.” Rahman berkata lirih. Heru tidak peduli, ditanggapi hanya akan semakin nelangsa, lebai tak berguna. Ia hanya tidak ingin terlalu banyak melamun. Kondisi seperti itu pikiran harus segar. Bukan saatnya bermelo-melo. Yang pasti semangat jangan sampai kendur. Namun ia juga bisa mengerti apa yang dirasakan Rahman. Untuk sejenak, mereka saling diam. Basah keringat di sekujur pakaian mulai terasa mengalir. Lampu-lampu kota dan jalan raya nan lebar terbentang di depan mereka. Kendaraan yang lewat hanya satu dua. Saat itu memang sudah jam tiga pagi. ”Her, mungkin lebih aman jika kita tetap di bandara saja tadi.” ”Sudahlah, Man. Kalau kita dirampok kasihin aja semua yang kita punya, asal jangan nyawa dan dokumen kita. Berdoa aja.” Kekuatiran Rahman memang beralasan. Mereka masih berdiri di trotoar jalan belum tahu persis akan kemana. Heru menerawang jauh di terangnya bulan dan lampu-lampu jalan. Tak terlihat sedikit pun keramaian atau kehidupan. Ia pun mulai kuatir. Ia termakan kata-katanya sendiri pada Rahman. ”Di seberang sana sepertinya pom bensin, Man. Ada tokonya juga. Mendingan kita ke sana, lampu tokonya masih menyala.” Setelah terlihat tidak ada alternatif lain, mereka pun menyeberangi jalanan lebar. Pom bensin tersebut memang sudah tutup begitu juga dengan tokonya. Hanya lampu teras toko saja yang masih menyala dan tidak ada seorang pun di sana. Rahman segera merebahkan tubuhnya pada kursi panjang di depan toko. Refleknya pada kursi memang sangat cepat. Sedangkan Heru memilih duduk di lantai konblok, kakinya ia selonjorkan dan tubuhnya ia sandararkan di dinding. ”Kita nggak usah kemana-mana lagi, Her. Kita di sini aja sampai tokonya buka. Kayaknya di sini jual kartu telepon. Kalau ada, pasti lebih murah dibanding di bandara. Rahman menguap. Kalau kamu lapar di koper saya ada Indomie, saya bawa dari Indonesia. Nggak usah dicampur air, dimakan kering aja.” Sesaat kemudian ia memejamkan mata. Heru belum menjawab. Ia baru tahu kalau selama itu Rahman membawa Indomie. ”Kenapa baru sekarang ia bilang?” Ini yang menjelaskan kenapa bungkus indomie Indonesia bisa berada di dalam tempat sampah lobby hotel di Casablanca. Heru mengetahuinya ketika hendak membuang bungkus rokok.”Tapi masak sih dia sepelit itu? Naluri bertahan hidup kadang memang membuat manusia menjadi egois. Tapi semoga saja Rahman hanya lupa. Toh sekarang dia sudah menawari.” ”Nggak deh, makasih. Nanti malah tambah haus.” Rahman tidak menjawab, ia sudah tertidur. Heru membuka tutup botol kecil air mineral. Isinya tinggal setengah. Ia meminumnya dua teguk saja, just in case, kalau toko baru buka siang. Kakinya sangat pegal, lelah tetapi tidak terlalu mengantuk. Biarlah Rahman saja yang tidur. Lebih baik menjaga barang. Besok gantian balas dendam tidur. Sekarang ini tak ada yang bisa ia lakukan selain melamun untuk kesekian kalinya. Waktu pun berselang, Heru memandang mesin bensin tempat menggantungkan selang. Tertulis regular dan super. Kota sebesar ini pom bensin tidak buka 24 jam. Kalah sama Indonesia. BBM dalam botol di kios-kios rumah walau sudah tutup kadang masih bisa melayani, tinggal ketok pintunya. Pikirannya membandingkan. Beberapa saat kemudian pandangannya beralih pada jalan raya. Di langit bulan sudah tertutup awan. Jalanan nampak kembali gelap, namun, dari seberang jalan nampak samar-samar sesosok bayangan bergerak. Semakin diperhatikan semakin jelas wujudnya, seseorang menyeberang jalan dan berjalan ke arahnya. Jantungnya berdebar, reflek ia tegakan badan, siaga. Ia biarkan sosok itu mendekat. Seorang pria kulit putih berkumis lebat dengan memakai topi coklat dan kemeja flannel kotak-kotak merah. Ia membawa tas besar dengan tali yang disilangkan di badan. ”Apa yang kalian lakukan di sini? Darimana kalian?” Pria itu mengamati, melihat pada Rahman yang tertidur dan melirik sekilas pada koper mereka. Dengan ragu Heru berdiri, menjaga jarak, ia jelaskan singkat mengenai dirinya dan semua cerita diarahkan pada kondisi dimana ia dan Rahman tidak memiliki banyak uang dan barang-barang berharga. ”Jangan kuatir saya bukan orang jahat.” Walau nampak tersinggung, pria itu mengerti maksud Heru. Lalu ia rebahkan tubuhnya di lantai, tas besarnya ia jadikan sandaran. ”Aneh, kalian jauh-jauh datang ke sini untuk bekerja, saya justru baru kehilangan pekerjaan.” Suaranya parau seperti menggumam, namun wajahnya sudah tidak begitu menyeramkan lagi. Heru pun kembali duduk dengan masih sedikit tegang. ”Amerika memang tempatnya segudang harapan sekaligus segudang kekecewaan.” Pria itu terus berbicara. ”Kelihatannya orang stress, tapi aku juga sedang stress. Mudah-mudahan nyambung.” Heru berkata dalam hati, mencoba menguatkan diri. ”Where are you from?” Dengan ragu Heru bertanya. ”Saya baru tiba dari Portltand, Oregon. Saya juga bukan asli orang Amerika. 20 tahun yang lalu, saya dan istri saya migrasi dari England.” ”Apa keluarga anda tinggal di Portland?” Heru mencoba akrab agar tidak terlihat tegang. Pria itu memandang ke langit. ”Oh, tidak. Mereka semua sudah lama pergi meninggalkan saya. Saya tinggal seorang diri, dan saya baru kehilangan pekerjaan saya di Portland.” ”Apa yang terjadi?” Tiba-tiba saja ia ingin tahu. Pria itu menghela nafas. ”Di Portland, saya bekerja sebagai penjaga pom bensin, tetapi bukan pom bensin besar seperti ini. Hanya pom bensin kecil milik perorangan.” Pria itu terdiam sebentar mengatur nafas. ”Kemudian pom bensin itu meledak dan terbakar. Memang tidak ada korban jiwa, tetapi pemilik pom bensin menuntut saya. Karena saya satu-satunya orang yang sedang menjaga tempat itu. Saya pun ditahan selama beberapa hari.” ”Tapi anda sudah benar-benar bebas, kan?” tanya Heru spontan. ”Ya, begitulah. Tapi tenang, saya bukan buronan. Mereka membabaskan saya. Menuntut saya juga percuma, saya tidak punya apa-apa. Jadi jangan kuatir, saya juga tidak akan meledakan pom bensin ini.” Ujarnya menyeringai. Hal itu tak terpikirkan oleh Heru sebelumnya, tapi kata-katanya membuatnya merinding. ”Ya, Tuhan! Lindungi kami.” ”Lalu,... ba-bagaimana pom bensin itu bisa,.. terbakar?” ”Persisnya saya tidak tahu. Ada percikan api dari kabel listrik. Entah itu karena keteledoran saya atau bukan. Tapi jelasnya itu semua kecelakaan. Semua sudah terjadi. Mau bilang apa.” Pria itu menundukan kepala. “By the way, nama saya Alfred. Siapa nama kamu?” “My name is Heru.” “E-ru? Bagaimana mengejanya.” “H-E-R-U.” “Like Hero (pahlawan)? “Ya, begitulah.” Jawab Heru biar cepat. Keduanya terdiam. ”Teman kamu pulas sekali tidurnya.” Alfred memperhatikan Rahman yang ngorok kayak bangkong. ”Ya, begitulah. Ini memang hari yang panjang dan melelahkan.” Heru ikut memperhatikan Rahman. Iri rasanya bisa tidur seperti itu. Malam terasa cepat berlalu. Alfred membalikan tubuh, mengambil sesuatu dari tasnya. ”Saya punya kopi, apa kamu mau?” Ia membuka tutup termos stainless lalu menjadikannya tutup itu sebagai gelas. Ia memberikannya pada Heru. Dengan sedikit ragu Heru meraihnya. Sudah tidak mengeluarkan asap tapi hangatnya masih terasa di tangan. Alfred menuangkan lagi pada sebuah mug stainless untuk dirinya. Heru tidak langsung minum, ia biarkan Alfred meminumnya terlebih dahulu. ”Kamu tahu, waktu saya masih muda saya juga seperti kamu. Merantau ke negeri orang untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Sebetulnya saya dan Martha mempunyai kehidupan yang cukup mapan. Kami membuka toko groceries di Maryland. Martha sendiri mengajar Matematika di Elementary School. Suatu ketika orang tua Martha memintanya untuk kembali England. Saya tidak setuju dan mulai saat itu kami menjadi sering bertengkar. Sampai akhirnya terjadi kecelekaan itu.” Alfred menghentikan cerita. Terdiam dan pandangannya nampak kosong. Heru mendekatkan tubuhnya dengan sedikit mengedepankan d**a. Ia hanya ingin menunjukan kalau ia serius mendengarkannya, dan menunggu ceritanya lebih lanjut. Moga-moga dapat sedikit merenggangkan beban pikiran teman barunya itu. ”Rumah kami terbakar dan Emely, putri kami satu-satunya terjatuh dari loteng. Kecelakaan itu membuat Emely lumpuh. Martha tidak bisa menerima apa yang terjadi. Ia menyalahkan saya dan akhirnya pergi meninggalkan saya dengan membawa Emely ke England. Sejak saat itu hidup saya mulai berantakan. Saya tidak tahu, kenapa api seolah-olah mengikuti hidup saya. Mulai dari rumah saya sampai dengan pom bensin. Saya pun mulai mabuk-mabukan dan toko pun tak terurus. Akhirnya saya menjualnya, karena saya punya banyak hutang. Kemudian hidup saya mulai berpindah-pindah. Saya bekerja apa saja sekedar untuk memenuhi kehidupan pribadi. Yang membuat saya bertahan hidup karena saya punya mimpi. Saya ingin kembali ke England, bertemu anak dan istri dan meninggal di sana. Tapi tidak sekarang, belum saatnya. Saya tidak mau mereka melihat saya seperti ini.” Tak terdengar Adzan Subuh menutup malam, begitu juga dengan suara ayam berkokok, tapi matahari tetap mulai menampakan kemilaunya. Alfred memasukan termos ke dalam tas. ”Sekarang ini anda hendak kemana?” ”Saya akan ke Key West.” Jawab Alfred sambil berdiri. ”Seorang teman meminta saya membantu menjaga toko souvenir. Kamu sendiri, apa kamu masih akan menunggu sampai toko ini buka?” ”Kelihatannya begitu. Kata teman saya kartu telepon di sini lebih murah. Dan kami akan menelpon Head Office kami dari bandara.” ”Tapi toko di sini biasanya baru buka jam sembilan. Jam tujuh nanti penjaga pom bensin akan datang, kalian tidak bisa tidur di sini. Di jalan menuju bandara juga ada toko seperti ini, sebaiknya kalian ke sana.” Alfred menyapu bagian belakang celana dengan telapak tangan. Lalu menghampiri Heru yang juga sudah berdiri. Well, Good bye my friend! No pain no gain. Be tought. And good luck.” Mereka berjabat tangan untuk yang pertama dan yang terakhir. Tangannya lebar hampir satu kali tangan Heru. Jabatan yang kuat membuat suara kresek-kresek di tangan hampir tak terasa, yang tak lain adalah selembar kusut uang dua puluh dollar dari Alfred. Heru terheran sambil menatap pria itu. ”Alfred, saya tidak bisa menerima ini.” ”Itu tidak seberapa, tapi cukup untuk membeli kartu telepon dan dua potong Burger. Saya tidak semiskin yang kamu bayangkan, Hero. Sudah lama saya tidak berbagi, selama ini saya hidup untuk diri saya sendiri.” Alfred pun melangkah pergi meninggalkan Heru yang masih terdiam. Namun, baru beberapa langkah Alfred berjalan, Heru segera memanggilnya. Alfred menoleh. ”Alfred, God bless you. Sepertinya nama Hero lebih pantas untuk kamu.” Alfred tersenyum. “Semua orang adalah pahlawan, Hero. Dont disappoint yourself, and im sure you will find magic in you!” Ia pun berbalik dan kembali melangkah. Heru bergegas membangunkan Rahman. Betul juga kata orang tua, banyak tidur seret rejeki. Rahman nampak tenang memandang sekitarnya, seperti habis tidur ratusan tahun. Mereka pun kembali berjalan menuju bandara. Sesampai di bandara mereka segera meraih public telephone yang berjejer. Kantor sudah buka dan mereka cukup terkejut. HRD Manager sendiri langsung meminta maaf pada mereka berdua. Ia segera akan menghubungi Port Agent di Miami untuk menjemput dua pelaut malang itu, dan ia juga memberikan nomor contact person di Miami. Tepat jam 12 siang, seorang staff Port Agent datang menjemput. Ia pun membayari makan siang. Lalu membawa Heru dan Rahman ke hotel untuk beristirahat sampai Silver Romeo tiba dari Eropa. Head Office tidak jadi menitipkan mereka di Silver Agatha. Selain bentuk permintaan maaf dari perusahaan, memang tanggung juga, karena Silver Romeo sudah akan tiba di Miami besok lusa. ”Hotel lagi! hotel lagi! Kapan kerjanya. Kapan dapat duitnya.” Rahman menggerutu di dalam kamar. Heru tidak menghiraukannya. Kasur empuk sudah menanti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN