Akhirnya tiba pada hari yang di nanti-nanti. Van putih berlogo dodge membawa mereka melintasi jalanan sepi Miami di pagi hari. Menyusuri Palm Beach, memasuki area pelabuhan yang di kelilingi gunung-gunung peti kemas. Forklift (kendaraan kecil pengangkut barang) berlarian diiringi bunyi peluit kapal. Laut nampak biru bercampur gradasi kabut. Melalui Port Everglade dan berhenti pada Passenger Terminal.
Heru tertegun melihat konstruksi bertingkat sembilan dengan panjang sekitar 150 meter itu. Kepalanya menengadah melihat tingkat paling atas. Kapal yang megah mengambang di dalam kolam yang bernama Atlantic Ocean.
”Segini ini masih kecil, Her. Saya pernah bekerja di kapal yang lebih besar dari ini.” Rahman mengusik lamunannya. ”Dari luar aja kelihatan surga, di dalamnya seperti penjara. Tenang aja. Awal-awalnya aja yang berat, lama-lama juga terbiasa. Walau banyak juga yang baru dua minggu atau satu bulan sudah minta pulang.”
Baru sekarang Rahman terlihat kembali ceria, seolah meledek. Mentang-mentang senior.
”Good morning, getlemen! Apa kalian crew yang seharusnya join di Casablanca?” Seorang Ship Officer berseragam putih-putih bertanya. Ia nampak terburu-buru. Tangannya memegang selember kertas dan Handy Talky yang sesekali berbunyi.
“Yes, Chief.” Jawab Rahman dengan sigap.
“Nama saya Arnold, saya Human Resources Officer. Apa kalian new comer?”
“Dia new comer, Chief. Saya repeater, ini kontrak saya yang ke empat.” Rahman menjawab sambil menunjuk Heru. Tumben bahasa Inggrisnya lancar.
“Oke, kalau begitu di dalam nanti beritahu dia apa yang harus dilakukan. Sekarang kalian ikut saya, masuk.” Officer itu segera berbalik dan berjalan cepat menuju tangga.
Heru dan Rahman berpandangan lalu mulai bergerak pelan.
“Hurry up! Were running on business!” Suara bentakannya membuat mereka tersigap.
“Ayo cepat, Her.” Seru Rahman bergegas.
Mereka pun segera menggiring koper mereka dengan setengah berlari mengejar Ship Officer yang melangkah cepat seperti hampir tak menyentuh tanah.
****
Deck A merupakan public crew area. Semua orang nampak sibuk. Dua orang berpakaian dapur mendorong trolley berisikan kaleng-kaleng dan kardus groceries. Fire guard sedang berlatih simulasi kebakaran lengkap dengan selang Hydrant dan fire extinguisher (alat pemadam api portable). Beberapa orang dengan memakai sabuk pengaman pinggang mengangkat koper-koper besar.
Langkahnya terhenti pada sebuah ruangan yang pintunya terbuka. Sebuah ruangan besar bertuliskan CREW MESS (tempat makan crew). Ruangan dengan food counter dan meja kursi yang berwarna cerah seperti di Fast Food. Gambar-gambar wanita setengah telanjang terpajang di dinding. Melalui portholes (jendela kaca berbentuk lingkaran), bangunan di luar terlihat naik turun. Menandakan mereka memang tidak menyentuh tanah. Goyangan lembut pun terasa di setiap pijakan.
Orang kulit hitam, putih dan kuning nampak asyik mengobrol sambil menyantap makanan. Berbagai ras terlihat begitu menyatu. Ingin sekali rasanya cepat bergabung dengan mereka. Tanpa disadari mereka pun memandang Heru yang hanya berdiri terpaku. Mereka nampak bertanya-tanya karena Heru memang baru pertama kali mereka lihat. Heru hanya tersenyum dan segera meninggalkan ruangan.
Kabin crew terletak di deck B atau under water deck. Deck itu berisi kamar-kamar dengan banyak gang yang bersilangan. Seluruh dinding dan pintu bewarna biru tua sedangkan lantai dan langit-langit bewarna kuning gading. Rahman masih mengobrol dengan seseorang yang ia kenal di Deck A. Sejak saat itu mereka jarang bertemu, sibuk dengan kesibukan di divisi masing-masing. Heru pun berjalan sendiri dalam labirin yang membuat matanya jenuh dengan warna yang serupa. Tak ada orang sama sekali, tidak seperti deck A. Kemana mereka? Sepi seperti bangkai kapal.
”Kalau dereten kabin nomor tujuh puluhan di sebelah sini, pastilah delapan puluhan di sebelah sana”. Pikirannya menerka-nerka. Namun setelah menelusuri lorong itu, ternyata kabin 82 tidak ada. Nomor kabin langsung nomor 85 sampai 90. Dimana nomor 82? Tak ada orang yang bisa ditanyai.
Ia mulai berjalan tak tentu arah. Kepalanya mulai pusing mencium bau pembersih lantai yang tak biasa, terlalu menyengat. Ia pun tersandar pada dinding. Menikmati hembusan angin dari air cond yang berada tepat di atas kepala. Langit-langitnya sangat pendek, mungkin sekitar 2,3 meter. Air cond hanya berupa lubang fentilasi yang menempel di langit-langit. Cahaya lampu temaram dengan langit-langit yang pendek membuat labirin itu terasa semakin sempit.
Ia pandangi pintu-pintu yang berjejer, seperti Alice In Wonderland. Seolah-olah di balik setiap pintu terdapat bentuk kehidupan yang berbeda-beda. Seperti menebak angka dadu dalam gelas kocokan. Kau hanya bisa memilih sekali. Begitu membuka dan masuk ke dalam kamar, kau tak akan bisa keluar lagi. Kau harus menjalani alam kehidupan yang ada di dalam kamar yang kau pilih. Ia mulai berhalusinasi. Tiba-tiba sejauh mata memandang ke ujung gang, sesosok bayangan berkelebat dan menghilang cepat di tikungan. Tetapi bukan kelinci dengan tuxedo dalam kisah Alice.
Segera ia bangkit mengejarnya. ”Sir!” Serunya berteriak sambil berjalan cepat. Tak ada siapa-siapa. Mungkin sudah masuk ke salah satu kabin. Tapi yang mana, semua pintu tertutup, tak mungkin ia mengetuk semuanya. Tapi tunggu dulu, pintu di ujung itu nampak sedikit terbuka. Ia pun segera menggapainya. Sebuah toilet umum, nampak bilik-bilik kloset dan dua buah washtafel di dinding. Pasti orang tadi masuk ke sini. Kebetulan, sekalian kencing saja.
Ia membuka bilik pertama. ”Hueek!” Ia hampir muntah. Kloset di penuhi kotoran manusia. Smell like a s**t. Bilik kedua ia buka, sama saja. Bilik ketiga dan seterusnya juga begitu. Ia segera membasuh wajahnya di washtafel. ”Ini benar-benar seperti di penjara. Ya Tuhan. Bisakah aku bertahan di sini. Satu tahun bukanlah waktu yang singkat.”
”Mustaka! Anong balita, Pare?” (apa khabar! Ada khabar baru, sobat?) Sebuah kreasi lidah verbal yang baru kali itu ia dengar. Seorang pria Asia berdiri di sebelahnya.
Pria itu mencuci tangannya di washtafel. Heru segera mengeringkan wajah dengan jaket yang masih menempel di badan.
“Pardon me. What did you just say?”
Pria itu menoleh. “Oh maaf, saya kira kamu Filipino. Just come on board, my friend?” Pria itu bertanya sambil mengelap tangannya dengan toilet paper.
”Yes, all and new. Baru di kapal ini dan saya juga baru pertama kali kerja di kapal.”
“Welcome to our world, my friend! Di bagian apa kamu kerja?” Pria itu memandangnya girang, sepertinya senang ada orang yang benar-benar baru, fresh baru kecemplung di got.
“Saya Room Service Attendant.
“Thanks God. Akhirnya ada juga Room Service baru yang datang. Nama saya Kantayong. Kamu bisa menebak, saya Filipino. Kamu pasti Indonesian, soalnya Room Service Attendant sampai saat ini sudah menjadi jatahnya Indonesian dan Fillipino. Saya Dishwasher Man. Alias tukang cuci piring. Kerja saya dirotasi di setiap outlet yang ada dishwasher-nya. Sekarang ini saya lagi incharge di dish washer bagian Room Service. Nanti kita bakalan sering ketemu. Sekarang saya mau kembali lagi bekerja. Hari emberkasi memang hari yang paling sibuk dan melelahkan. Kita semua bisa bekerja sampai 15 jam, kalau hari biasa hanya 12 jam.
Kantayong nampak ramah dan bersemangat. ”Oh ya! Apa kamu sudah menemukan kabin kamu?”
”Ya itulah. Saya nyasar, he he.”
Kabin bernomor 80 sampai 84 ternyata terletak di deretan kabin lima puluhan. Wajar saja mencarinya setengah meninggal. Setelah itu Kantayong pun segera meninggalkannya. Heru hampir memasukan kunci kabin ketika tiba-tiba pintu terbuka. Seorang pria jangkung berseragam rompi dan dasi kupu-kupu berdiri di muka pintu.
“Welcome to paradise, my hero! Please come in!” Pria itu segera mengangkat kopernya masuk.
Heru masih berdiri tertegun, ia hanya memperhatikan tingkah laku pria itu.
“This is your suite room, my hero. Dont be ashame! Silahkan duduk.”
Sebuah ruangan berukuran 4x4 meter, terdapat dua tempat tidur susun dengan horden yang menggantung di tiap dipannya. Nampak pula empat pintu lemari, satu buah TV, lemari es kecil dan sebuah VCD Player. Pada dinding kamar terpajang gambar-gambar yang sudah tak asing lagi. Wanita setengah telanjang dan ada juga yang full.
Berantakan sekali kamar itu. Majalah-majalah dan kepingan CD berserakan di meja. Selimut yang tak terlipat dan tak ketinggalan sepatu dan baju yang tidak di tempat semestinya. Yang tertata rapi hanya botol-botol minuman keras yang ditata layaknya mini bar.
”Saya yakin kalau dewa-dewa laut akan mengirim kamu ke sini.” Pria itu kemudian duduk sambil menyalakan rokok.
Heru baru tahu kalau di dalam kabin boleh merokok. ”Maaf, apa ini kabin B 82?” Heru masih sedikit keheranan.
”Tentu saja, my hero. Masak saya ganti sendiri nomor yang ada di pintu. Just relax. Nama saya Ding, Ding Suyad. Saya Fillipino. Sudah enam bulan di sini. Saya Room Service terakhir yang datang bersama 3 orang lainnya. Dulu kami berdelapan, tapi 4 bulan yang lalu 2 orang pulang dan sampai kamu datang belum ada penggantinya. Kami benar-benar mengalami masa-masa sulit dengan hanya berenam.”
Ding menghisap rokok lalu menuangkan sedikit Jack Daniel ke dalam gelas kecil.
Akhirnya Heru pun duduk mendengarkan. ”Oh ya, nama saya Heru. Saya Indonesian.”
“Saya sudah tahu. Nama kamu tertulis di daftar crew yang bakalan datang. Waktu kapal tidak jadi masuk Casablanca, malamnya kami mengadakan ritual. Kami memohon dewa-dewa laut agar kamu tidak di transfer ke kapal lain. Ternyata dewa-dewa laut mengabulkan permohonan kami. Oh iya, tempat tidur kamu yang di bawah itu. Lemari baju kamu yang di sebelah lemari yang ada gambar Miss September-nya. Seragam kamu juga sudah ada di dalam, bekas anak yang dulu. Belum dicuci apalagi disetrika. Sudah 4 bulan di dalam situ. Di kabin ini kita berempat. Fillipino-nya saya dan Jose dan Indonesian-nya Toni dan kamu.
”Lalu dimana mereka sekarang?”
”Jam segini semuanya lagi pada kerja. Saya Pagulung sebentar ke sini, alias missing on duty. Saya belum merokok dari tadi dan saya nggak bisa kerja kalau nggak minum vitamin ini.” Ding mengacungkan gelas Jack Daniel-nya. ”Lagipula hanya sebentar kok. Ini sudah lumrah, nanti begitu saya kembali, anak yang lain akan pagulung secara bergantian. Kerja di sini itu stress, tekanan tidak hanya dari atasan tetapi juga dari passenger dan teman sekerja, terutama orang dapur, Housekeeping sama Front Office. Belum lagi lamanya jam kerja dan juga homesick. Jadi bukan fisik saja, tapi pikiran juga. Kalau kita tidak pinter-pinter menyiasati pekerjaan, kita bisa stress sendiri.”
Heru pun menyalakan rokok setelah Ding memberikan sprite kaleng dari lemari es.
”Waktu di Eropa ada Somalier (penyaji minuman khusus anggur) yang menyiram wine ke kepala passenger. Dia berbuat begitu, hanya karena passenger itu sering komplain. Alhasil Somalier itu dipulangkan. Trus kata senior-senior, sekitar dua tahun yang lalu ada Garbage Man asal Indonesia yang menusuk Officer. Lalu orang itu dipenjara di St Thomas. Malah katanya belum ke luar sampai sekarang. Kapal sempat tidak boleh berlayar selama 3 hari guna pemeriksaan. Tapi tenang saja, walaupun di Room Service kami sering gontok-gontokan, tetapi kita terbilang cukup kompak dibanding section lain.”
Heru menyimak serius cerita Ding.
”Oke, waktu pagulung saya sudah habis. Saya akan kembali bekerja.” Ding berdiri sambil membenamkan rokoknya di asbak.
”Kamu istirahat saja dulu. Kamu nggak harus lapor Supervisor sekarang, kan?” Ding pun melangkah ke luar.
Seiring dengan melangkahnya Ding, Heru pun segera bangkit dari kursi. ”Ding, tunggu! Saya ikut kamu. Lebih baik saya melapor sekarang. Saya sudah terlalu lama bersitirahat. Its show time now.”
Ding terdiam menatapnya. Semangat sekali kamu. Sepertinya kamu memang benar-benar Hero. Atau, jangan-jangan, sebenarnya kamu,,,,Spiderman!!!”
Deck C : Engine Room, Laundry
Deck B : Cabin Crew ( under water deck )
Deck A : Crew Public Area, General Store, Crew Mess, Crew Office, Mooring Room (ruang tambat).
Deck 1 :
Passenger Cabin, Infirmary / Klinik Kesehatan.
Deck 2 : Passenger Cabin.
Deck 3 : Lower Promenade Deck ( Passenger Cabin, Walking deck, Lifeboat & Tender Station )
Deck 4 :
Promenade Deck ( Dining Room, Room Service Station, Front Office, Theatre, Library & Internet ).
Deck 5 : Upper Promenade Deck ( Casino, Bar & Discotic, Main Lounge )
Deck 6 : Verandah Cabin ( Cabin Passenger dengan teras di luar )
Deck 7 :
Suite Cabin, Penthouse, Navigation Room / Bridge )
Deck 8 :
Lido Buffet Restaurant, Swimming Pool, Gymnasium, Ships Funnel
Deck 9 :
Sky Deck ( open air )