New comer, Ding? Fillipino? Indonesian?” Hampir semua orang yang mereka temui bertanya singkat.
Heru tersenyum pada orang-orang itu. Ding lah yang menjawab semua pertanyaan. Ternyata Ding cukup dikenal. Ding sudah seperti juru bicara merangkap PR pribadinya. Ding juga menerangkan semua lokasi dan kegiatan yang mereka lalui. Tak henti-hentinya ia bicara. Mungkin juga karena pengaruh alkohol. Ding berjalan cepat, meskipun terlihat santai. Agak sulit mengimbangi langkahnya. Tapi tidak hanya dia yang berjalan secepat itu, orang-orang lain pun begitu. Meskipun sambil mengangkat beban berat sampai mengerjakan hal-hal simpel.
Setiap gerakan bagaikan tangan dan kaki robot yang sudah diprogram untuk cepat dan berulang-ulang. Ia seolah melihat deru pacunya hasrat manusia yang dipaksa berontak pada keperlahanan. Suara-suara dalam berbagai bahasa pun terdengar nyaring bersautan dan saling tumpang tindih antara bahasa satu dengan yang lainnya. Berteriak, bercakap-cakap, atau saling menyapa dalam satu kesatuan gema. Dijamin pasti bingung bagi mereka yang baru pertama kali ke tempat ini. Mereka memang sudah menjadi warga negara dunia
Ding mengajaknya menaiki lift barang yang lebih mirip kandang. Pintunya berupa teralis besi yang digeser secara manual dengan tangan. Kemudian membuka pintu public area yang tebal dan beratnya bisa bikin turun bero.
”Ding, berapa lama kamu bisa hapal semua ruangan dan gang-gang di sini?”
”Tidak sampai dua minggu.” Jawab Ding. ”Kalau orang lain umumnya lebih. Kita ini anak-anak Room Service, bisa dibilang yang paling gaul, paling beredar. Setiap hari kita bermain di koridor-koridor dan public area. Wajar kalau kita cepat menguasai berbagai tempat, bahkan sampai gang tikusnya. Kerjaan kita juga menuntut untuk dealing dengan departemen lain. Orderan makanan tidak hanya untuk passenger. Tetapi para Officer yang gayanya macam tuan tanah, diperbolehkan memesan makanan dari Room Servce. Jadi kita akan sering bertemu dengan petinggi-petinggi kapal di Bridge (anjungan) atau di kabin mereka. Oh iya, kita juga tidak punya Order Taker khusus untuk menerima pesanan lewat telepon. Kesepakatan kita bagi siapa yang kebetulan paling dekat dengan telepon, itulah yang mengangkat. Jadi wajar saja kalau banyak mis-order lalu passenger komplain. Kita tidak dilatih menjadi Order Taker yang sesungguhnya. Lagipula kamu tahu sendiri bahasa Inggris bukan mother language kita. Ngomong di telepon itu lebih susah. Apalagi sekarang, sejak dial number untuk Front Office dirubah dan nomor barunya belum tercantum di selebaran informasi. Passenger akan mengontak Room Service bukan hanya untuk mengorder makanan tapi juga untuk menanyakan berbagai hal lainnya. Mulai dari istrinya kurang sehat minta dikirim dokter, closet yang tidak bisa di flush sampai masalah administrasi. Ngeladeninnya kadang kesel, kalau dijawab ketus sedikit nanti mereka komplain. Kita memang harus pandai berakting, selalu ramah dan tersenyum walau hati menjerit. Karena itu sekarang ini kita sedang perang dingin dengan Front Office. Tapi sulitnya, mereka itu kebanyakan wanita, dan kamu tahu sendiri kita ini paling lemah dengan mahluk yang satu itu.” Pelaut juga manusia.
Mereka berjalan memasuki deck 4 atau Promenade Deck dimana Room Service Station berada. Ding menatap Heru sambil menunjuk kerah lehernya. Tak sadar tali karet dasi kupu-kupu ke luar menaiki kerah baju. Heru memang belum terbiasa memakainya. Rasanya seperti tercekik.
”Yang lebih menyulitkan kita lagi, sejak 3 bulan yang lalu tugas membersihkan tray (baki/alas makanan) dan piring-piring kotor yang berserakan di depan kabin passenger dilimpahkan kepada Room Service. Sebelumnya itu tugas Housekeeping. Dan kamu tahu, baru siangnya saja sudah pasti akan ada sekitar 150 sampai 200 tray yang berserakan bekas breakfast. Masalahnya pekerjaan kita kan nggak hanya itu, lagipula kita ini hanya berenam dengan satu Supervisor, sekarang tujuh dengan kamu. Dan ingat, hanya pada saat jam breakfast saja kita bertujuh masuk bareng, tapi nanti setelah jam 10, akan dibagi sift. Tiga orang lanjut sampai sore, yang lainnya istirahat, sore tiga orang berikutnya menggantikan sampai jam 11 malam, lalu dua orang lagi menggantikan sampai breakfast. Bayangkan, bertujuh kita kumpul aja kadang masih keteteran apalagi ketika kita tinggal bertiga atau berdua di satu sift.
Room Service Station berada di dalam area Main Kitchen, berupa ruangan kecil yang terisolasi di belakang Dinning Room. Dishwasher berada di sebelah Store Equipment.
Heru pun bertemu lagi dengan Kantayong si penguasa dishwasher. “Welcome to the jungle, my friend!” Sapanya di tengah pecah belah yang siap dicuci.
Sepanjang line di depan food counter berjejerkan tray yang berisi paket breakfast di atasnya. Ada 180 tray yang harus diantar pagi itu. Kitchen staff sibuk mempersiakan makanan di atas setiap tray berdasarkan Breakfast Card yang di isi oleh passenger. Breakfast Card itu digantungkan passenger di gagang pintu kabin tiap malamnya. Untung saja 500 kamar yang terisi tidak memesan semua. Sisanya mengambil breakfast di Dining Room atau Lido Buffet Restaurant.
Untuk mengantar sejumlah breakfast tersebut, anak-anak Room Service tidak menggunakan trolley. Tray berisi breakfast itu diangkat satu persatu di bahu mereka, lalu melesat bagaikan anak panah, cepat dan sigap, lalu kembali, dan antar lagi. Begitu seterusnya. Orderan harus diantar tepat waktu sesuai dengan waktu yang ditulis passenger dalam breakfast card.
Ding mengantarnya menemui Supervisor. Menir Volklander, pria Belanda berkulit putih kemerahan itu nampak ramah meskipun ia baru saja habis berteriak-teriak. Menir berumur sekitar empat puluh tahunan, bertubuh bulat, lehernya pendek dan lebar, selebar wajahnya, berkepala botak dengan hidung besar, matanya sayu dan dagunya berkerut menyatu dengan lehernya yang juga mengerut. Anak-anak Room Service menyebutnya Si Buldog. Tentu saja tidak di depan beliau. Tak ada basa-basi lebih lama. Menir memintanya untuk mengantar orderan breakfast.
”Ini orderan kabin 344, tidak jauh dari sini. Kamu pasti tidak akan nyasar.” Menir berkata dengan aksen gaya Kompeni musuh si Pitung.
Perlahan Heru mencoba mengangkatnya.
Busyet, beratnya bukan main. Makanan ini seperti berisi bongkahan batu. Pikirnya. Tangannya gemetaran begitu juga seluruh isi tray. Ia tidak yakin bisa menaruhnya di bahu. Barang pecah belah itu juga butuh keseimbangan. Punggungnya mulai basah tegang ketika tray sampai di bahu. Ia pun tak berani melangkah. Getarannya semakin kencang.
”Hop sigere! Jongen!” ( ayo cepat! Anak muda )
Bentakan Menir justru membuatnya hampir kencing di celana. ”Ya Tuhan. Beri aku kekuatan.”