Heru bergegas mengganti celana pendeknya dengan jean biru muda. Ia merasa tidak perlu rapi, tak akan ada bedanya. Sweater merah kusam dari pasar loak di Lisbon ia kenakan dengan cepat. Ia harus bertemu dengannya karena esok hari gadis itu akan kembali ke kotanya. Tanpa menyia-nyiakan waktu, tanpa rencana atau strategi, segalanya terasa spontan dan mengalir lepas. Setelah pertemuan itu, ia dan Nesa memang intensif mengudara lewat handphone. Tidak siang, tidak malam, seperti siaran radio, berdua saling menyiarkan acara. Tiga hari pun berlalu, mereka sepakat untuk bertemu kembali sebelum Nesa pulang ke Semarang. Dan setengah jam kemudian ia sudah berada di pintu pagar rumah Nesa. “Youre really on time, Im impressed! Nesa membukakan pintu pagar. Ia tidak cukup berdandan. Apa pun adanya, ia te

