Susunan berkas tampak menggunung di meja Ita. Tak luput tangan dan punggungnya terasa pegal karena sejak tadi bergelut dengan dokumen anggaran. Beberapa bekas cup kopi pun nampak di meja gadis itu. Padahal ia punya pantangan minum mengandung kafein. Harus bagaimana lagi? Menyalahi atasan yang sudah memberi tugas? Walau suka ngeluh tapi Ita masih punya harga diri untuk tidak kalah saing oleh perempuan di sampingnya. Sasa tersenyum simpul saat menyadari Ita menoleh. Terpaksa ia pun membalasnya walau canggung. "Istirahat nanti mau nitip nggak? Aku mau keluar," ujar Sasa disela mengelompokan dokumen dari tahun ketahun. "Memang mau kemana?" "Emh, tadi disuruh Pak Raga ambil snack untuk rapat. Sekalian kalau kamu mau nitip boleh," tawar Sasa kembali. Kata 'disuruh Pak Raga' entah mengapa

