Epilog

1589 Kata

Raga mengikuti koridor yang membawanya ke tempat gadis pemilik separuh jiwanya. Ironis sekali, entah sudah berapa kali Raga berhadapan dengan maut dan hatinya tak pernah gentar. Namun saat ini. Untuk melangkah saja rasanya berat. Seperti berpuluh rantai pengekang sedang melilit kakinya. Mungkin karena ini yang terakhir. Terakhir kali benang merah mereka terhubung. Pintu itu dibuka. Di sana Ita sedang berbaring dengan wajah damai. Seolah tidur panjang adalah keinginannya. "Apa kabar?" monolog Raga. Ia menarik kursi dan duduk di samping brangkar Ita. "Emh...., gimana ya mulainya…." Ucap Raga kikuk. Entahlah, khayalannya menganggap bahwa Ita seakan-akan tengah duduk di depannya. "Ita..., laki-laki di hadapan mu ini adalah Raga yang kamu kenal sebagai suami mu." "Rasanya udah lama kita n

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN