1 – PERNIKAHAN JEBAKAN
Kediaman keluarga Adhiyaksa malam itu dipenuhi cahaya lampu kristal yang memantul di dinding marmer. Meja panjang di ruang makan telah tertata rapi dengan hidangan yang disiapkan khusus untuk menyambut keluarga Naya.
Suasana hangat dan penuh kebahagiaan terpancar di wajah para kedua orang tua karena pada akhirnya putra dan putri mereka sebentar lagi akan bertunangan. Surya Adhiyaksa duduk di ujung meja bersama istrinya, Larasati.
Di hadapan mereka terdapat kedua orang tua Naya dan putri mereka yang malam itu tampil anggun dengan gaun sederhana berwarna biru muda.
Cakra Adhiyaksa duduk di sisi kanan ayahnya. Pria 35 tahun itu mengenakan jas hitam dengan kemeja gelap. Wajahnya tenang, nyaris tanpa ekspresi. Bekerja sebagai profesor Universitas Cakrawala Indonesia di bidang Manajemen Strategis dan Corporate Finance, Cakra dikenal sebagai sosok dingin dan sulit ditebak.
“Hubungan Cakra dan Naya sudah berjalan cukup baik,” ujar ibu Naya sambil tersenyum.
“Kami berharap pertunangan ini menjadi awal yang baik untuk kedua keluarga.”
Surya mengangguk puas, “Kita hanya perlu menentukan tanggal,” jawabnya.
Naya menundukkan kepala, tersenyum malu sambil mencuri-curi pandang ke arah Cakra. Semuanya berjalan sesuai yang Naya inginkan sampai suara pintu depan terbuka keras.
Braak!
Semua orang menoleh dimana seorang perempuan muda berdiri di ambang pintu. Rambut panjangnya sedikit berantakan, napasnya memburu, tetapi wajahnya menunjukkan ketenangan yang aneh.
Ayvori melangkah masuk tanpa ragu sedikit pun. Cakra dan kakak laki-lakinya bernama Nathan menatap kehadiran Ayvori cemas seolah memiliki firasat buruk yang sama.
Ayvori berdiri di samping Surya sambil tersenyum kepadanya. “Selamat malam, Pak Surya Adhiyaksa selaku pendiri dan ketua yayasan tempat saya berkuliah.”
Surya mengerutkan kening. “Siapa kamu?”
“Saya Ayvori Queen Wijagara, mahasiswa Profesor Cakra yang kebetulan sedang mengandung darah dagingnya.” Ayvori mengatakannya dengan begitu enteng sementara semua orang kini terbelalak kaget.
Ayvori menunjukkan testpack yang memperlihatkan dua garis merah. “Bukan hanya ini,” Ayvori menyimpan kembali testpacknya lalu mengeluarkan ponsel, “Saya juga memiliki bukti foto.”
Raut bahagia yang sebelumnya terpancar di wajah kedua keluarga itu seketika lenyap digantikan tatapan tidak percaya atas apa yang baru saja mereka lihat di layar ponsel Ayvori.
Foto Cakra dan Ayvori tidur telanjang di atas ranjang yang sama.
Ibu Naya langsung menutup mulutnya, Ayah Naya berdiri dengan wajah merah padam. “Pertunangan ini batal!” tegas Ayah Naya kemudian menarik istri dan putrinya meninggalkan kediaman Adhiyaksa.
“Tu-tunggu dulu Pak Reno!” Larasati mengejar keluarga Naya yang sudah pergi tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut.
Sedangkan Surya menatap sangsi putra keduanya. “Cakra, apa betul kamu melakukannya?”
Rahang Cakra mengeras, ia mengingat ke hari pesta ulang tahun salah satu investor Universitas. Malam itu Cakra memang datang, ia masih ingat saat rekan dosennya bernama Dean memaksanya minum alkohol kemudian pertemuannya di lorong gelap bersama Ayvori.
Mereka memeluk, berciuman lalu ia ingat sempat naik lift tapi… sial! Ingatannya hanya bertahan sampai di situ, Cakra tidak bisa memastikan apakah mereka benar-benar melakukannya hingga membuat Ayvori sampai hamil.
Tapi yang jelas, Cakra ingat di bagian ia terbangun di pagi hari bersama Ayvori yang tidur di sampingnya hingga membuatnya sulit membantah pernyataan Ayvori.
“Ayah, saat itu aku dalam pengaruh alkohol.”
Surya menggebrak meja mendengar jawaban Cakra. “Kamu tetap harus bertanggung jawab Cakra!”
“Nikahi Ayvori…” suara Surya memelan, terlihat jelas kekecewaan di wajahnya.
Di waktu yang sama, Larasati baru kembali setelah gagal meyakinkan keluarga Naya lagi. Larasati langsung menatap tajam Ayvori, tidak terima dengan keputusan suaminya namun tidak bisa membantah karena putranya memang bersalah.
Nathan berdiri dari kursinya, ikut campur ke obrolan, “Baru-baru ini ramai universitas X terjebak kasus pelecehan yang dilakukan oknum dosen mengakibatkan universitas X ditutup permanen. Jika skandal ini sampai muncul ke permukaaan, universitas Cakrawala Indonesia milik keluarga kita bisa terkena dampaknya.”
Nathan menatap Cakra dan Ayvori bergantian lalu meneruskan, “Cakra harus tetap bertanggung-jawab karena mau bagaimanapun Ayvori mengandung anaknya, namun pernikahan mereka tetap harus dirahasiakan demi menjaga reputasi universitas.”
Larasati langsung menyahut, “Ibu setuju! Dan kamu Ayvori…” wanita paruh baya itu menunjuk Ayvori dengan tatapan sinis, “jangan pernah berharap bisa diterima sebagai menantu di keluarga ini.”
Ayvori sama sekali tidak tersinggung, ia juga tidak keberatan jikalau pernikahannya dengan Cakra harus di rahasiakan. “Baik Nyonya,” jawab Ayvori, kelewat santai ditengah situasi tegang keluarga Adhiyaksa.
Hal itu memicu Larasati kesal lalu melangkah keluar begitu saja meninggalkan ruangan diikuti Surya dan Nathan, menyisakan Cakra dan Ayvori berdua.
Cakra menundukkan kepala dan berbisik tajam di dekat telinga Ayvori, “Jangan pernah berpikir pernikahan ini membuatku semudah itu menerimamu sebagai istriku, apalagi mengharapkan cinta dariku.”
Ayvori menoleh hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti, “Saya tidak menikahi Anda demi cinta, Pak. Ge-er sekali...”
Cakra mengangkat salah satu alisnya, “Lalu?”
Ayvori mendorong mundur pundak Cakra kemudian menjawab, “Bapak lupa ya pernah bilang ‘Pria tidak beruntung mana yang akan menjadi suami dari perempuan bodoh sepertimu, Ayvori?”
Cakra membeku teringat ucapannya sendiri.
Ayvori mengangkat test pack di tangannya, “Sekarang saya bisa menjawab pertanyaan itu, Pak.”
Senyumnya berubah menjadi kemenangan, “Pria tidak beruntung itu ternyata...”
“Pak Cakra Adhiyaksa sendiri.” Ayvori memberi serangan telak pada Cakra yang seketika kehilangan harga dirinya.
BERSAMBUNG...