Kemarin adalah waktu terlamaku menggunakan ponsel. Terjaga bersamanya semalaman dan itu karena--kupikir--dia adalah pengagum rahasiaku.
Well, aku punya bukti bahwa dia adalah pengagum rahasiaku sebab ia membicarakan soal buket-buket bunga, memiliki satu foto bunga terakhir yang sama persis seperti milikku kemarin, dan dari foto wajahnya pula kurasa dia sangat manis, tidak ada kekurangan untuk menjadi teman kencan.
Jadi, kami ber-chatting ria sepanjang malam, hingga tanpa terasa fajar menjemput kami serta aku tidak sabar menceritakan hal tersebut pada Alma dan Jackson.
+1-555-3596-713
Hi.
Remember me?
Finally I got up the nerve to send you a message.
Hope you like the flowers.
Me
Who's dis?
+1-555-3596-713
They called me Steven.
Me
Mc'key.
Is there anything you want to say?
+1-555-3596-713
Yeah, I want to tell you that the flowers bouquet is my own job.
See the picture.
***
"Apa kau yakin bahwa itu adalah dia?" Jackson bertanya setelah sekilas ia melihat riwayat pesanku bersama Stephen semalam. "Dari wajahnya sama sekali tidak memberikan kesan sebagai pengagum rahasia."
"Menurutku dia si misterius yang manis."
"Alma, kau tidak bisa mengklaim sifat seseorang sebelum kau bertemu langsung dan mengenalnya."
Alma menoleh ke arah Jackson. Wajahnya menampilkan mimik sedikit kesal kemudian mengembalikan ponselku yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan gadis itu.
"Demi Tuhan, kau itu tinggal di zaman apa, Jackson?" tanyanya, "asal kau tahu, tiga puluh lima persen remaja di Amerika lebih suka melakukan komunikasi melalui chat, video call, atau telepon dan kita termasuk di dalamnya."
"Bagaimana kau bisa tahu tentang hal itu?" tanyaku sungguh-sungguh karena setahu kami; aku dan Jackson, yang dikatakan Alma barusan bukanlah bidang kesukaannya.
"Ayah dan ibuku bekerja di pusat statistik. Mereka selalu menggunakan data konkret setiap kali mengomeliku jadi ...." Belum sempat menyelesaikan ucapannya, saat itu pula ponsel Alma berdering. "s**l! Kurasa barusan aku mengucapkan matra yang tidak seharusnya kukatakan." Alma menempelkan ponselnya di telinga. Sembari bangkit dari tempat duduk, ia pun bergegas pergi meninggalkan kafetaria, di mana merupakan ide buruk jika harus menerima telepon di tempat super bising ini.
Aku menyimpan ponselku ke dalam saku celana, sedangkan Jackson kembali menikmati makan siangnya sambil membaca buku sejarah. Sejak pagi, Jackson memang terlihat tidak antusias dengan identitas pengagum rahasiaku. Entah alasan yang dikatakan Jackson masuk akal atau tidak, tetapi ia memiliki tingkat kewaspadaan terlampau tinggi seperti;
Satu, bisa saja ini adalah suatu kebetulan.
Dua, Pengagum rahasia itu menyeramkan. Tidak mau menampilkan identitasnya, seolah-olah dia memiliki kesalahan fatal.
Tiga, Jackson pikir orang-orang seperti itu memiliki kecenderungan menjadi stalker.
Dan empat, biasanya mereka adalah sosok yang posesif.
Posesif dalam artian yang negatif, di mana mereka bisa saja memberikan teror jika kita tidak sesuai dengan harapannya. Namun, jika sekali lagi kupikirkan mengenai perkataan Jackson lalu dihubungkan dengan para penggemar Aiden, termasuk Aubrey maka rasanya itu masuk akal.
Yeah, masuk akal karena sejak kemarin Aubrey terus mencoba memancing emosiku--beruntung, Alma dan Jackson berada di sisiku sebab jika tidak, gadis itu pastilah sudah habis ditanganku--begitu pula dengan hari ini, di kelas Bahasa Mandarin. Dengan menggunakan cat air warna biru gelap, Aubrey menumpahkan cairan tersebut ke kepalaku hingga mengotori Tshirt merahku.
Dan tidak akan terpancing emosi karena Alma serta Jackson--
"Megan." Alma melangkah terburu-buru kemudian menarik lenganku, tanpa peduli dengan aktivitas makan siang kami yang belum selesai. "Kurasa kau harus ke lokermu sekarang demi melihat kekacauan ini," katanya.
Jarak antara kafetaria dan loker tidak terlalu jauh, yaitu hanya sekitar seratus meter. Sebagian murid-murid yang kebetulan kami lewati masih memberikan tatapan serupa, yakni tatapan jengkel karena tadi pagi aku duduk di jok penumpang sebelah Aiden.
Bukan keinginanku untuk berada di sana, tapi karena Aiden lagi-lagi datang ke rumahku--menjemput--mengendarai mobil dengan sangat perlahan di sisiku, hingga tidak sedikit pengendara di jalan perumahan membunyikan klakson mereka. Sayangnya, Aiden malah mengatakan pada mereka bahwa ia harus melambatkan kecepatannya karena aku menolak ikut dengannya.
Alhasil, mereka semua menuntutku untuk naik dan ... ok, satu lagi, aku tidak akan ikut dengannya jika masa siklus tidak semerepotkan ini.
"Kau baik-baik saja?" Alma bertanya padaku, sambil meletakkan punggung tangannya di keningku. "Apa haidmu sangat banyak?"
"Aku bisa mengatasinya." Kujauhkan tangan Alma di keningku, sambil terus melangkah menuju lorong loker. "Sekarang apa lagi, sih, yang mereka lakukan? Kenapa tidak langsung melabrakku saja?!"
"Well, mereka takut padamu."
"Tapi aku tidak."
"Mereka tidak ingin terlibat masalah jika harus bertengkar dengan--"
"Oh, s**t!" Rahangku benar-benar jatuh saat melihat betapa busuknya lokerku. Oke, ralat, aku bahkan tidak mengenal milik siapa. Katakan saja, ini lebih mirip tong sampah yang tidak dibuang isinya selama sepekan.
Menggunakan jepitan ujung telunjuk dan ibu jari, aku mencoba untuk mengambil selembar kain paling kotor sedunia dan bodohnya, aku malah mengarahkan benda tersebut ke hidungku. Alhasil tentu saja gejolak dalam perut tidak bisa lagi kuhindari.
"Megan, pakai ini." Alma menepuk pundakku lalu mengulurkan tangannya yang memegangi kantong plastik hitam dan aku meletakkan sampah-sampah tersebut di dalamnya. "Sorry, aku tidak menemukan handscoon jadi kau harus mengorbankan tangan telanjangmu untuk membersihkannya."
Aku menggeleng. Sungguh tidak apa-apa dengan kondisi s****n tersebut karena tangan kotorku ini, akan segera dibersihkan oleh seseorang yang seharusnya bertanggung jawab sejak awal.
Pembalut bekas, makanan busuk, daun-daun kering yang basah, dan bungkus makanan dengan sisa saus menjadi barang-barang paling dominan di lokerku. Sebisa mungkin aku menahan napas, tetapi selalu gagal karena paru-paru membutuhkan oksigen.
"Kau bisa bernapas lewat mulut." Alma mencetuskan idenya. "Beberapa kali aku melakukan hal itu dan ... yeah, sangat membantu meskipun mulut tidak memiliki filter untuk menyaring kotoran dari udara."
"Cerdas." Aku memutar mata lalu menoleh ke arah Alma. "Kau tahu, jika aku mengikutimu itu sama saja dengan memakan sampah."
"How can you think like that?"
"Easy, kau bernapas memalui mulut, memasukkan udara ke dalamnya dan dengan kata lain kau memakan udara sampah," ujarku, sambil kembali membersihkan sampah-sampah di dalam loker. "Berikan kantong sampahnya."
"Untuk apa?" Tatapan curiga Alma berikan untukku.
"Membuangnya ke tempat sampah. Tentu saja. Kita adalah manusia patuh aturan yang tahu di mana tempat untuk membuang limbah." Tanpa menunggu tanggapan dari Alma, langsung saja aku merebut kantong plastik di tangannya kemudian berjalan cepat kembali ke kafetaria.
Alma mengikutiku dari belakang. Sayup-sayup terdengar bahwa ia setengah berlari karena postur tubuh yang kurang menguntungkan. Dari kami bertiga, Alma-lah yang paling pendek di mana dia hanya sebahuku sehingga demi mengejarku gadis itu harus bersusah payah, menyeimbangkan langkah.
Kafetaria masih ramai seperti sebelumnya. Jackson yang belum berpindah posisi, memberikan bahasa tubuh menyambut dengan bangkit dari tempat duduknya dan--mungkin--ingin menghampiri kami. Namun, tertahan saat aku mengambil langkah berlawanan.
Yakni melangkah ke sayap kiri, di mana sisi itu merupakan tempat spesial--secara tidak tertulis--karena memiliki pencahayaan terbaik, dekorasi teramat instagramble sebab dindingnya memiliki sentuhan street art. Jika kau befoto di sana lalu mengeditnya dengan sedikit efek, maka percayalah mood foto tersebut akan memberikan kesan bahwa kau sedang berada di Montana Avenue.
Namun, untuk saat ini bukan dinding penuh seni itu yang menjadi titik fokusku. Melainkan sosok tampan berambut cokelat berkilau, garis rahang teramat indah, serta postur tubuh tinggi tegap dengan segala keindahan surga dunia, sedang tertawa lepas seolah lupa dengan masalah yang telah ia ciptakan terhadapku.
Dia ....
"Aiden Kowalsky!" Ugh, memangnya siapa lagi?!.
Aiden menoleh, memberikan senyum yang dulu memiliki efek luar biasa pada jantungku, lalu berkata, "Yeah, Babe. Akhirnya kau mau terbuka ju ...."
"Ulah dari para penggemar atau Aubrey--pacar cheerleader-mu," kataku bernada super ketus, sambil melempar kantong plastik ke arah Aiden.
Sampah-sampah berhamburan ke lantai, tepat di depan sepatu lelaki itu. Seketika aromanya mengudara, tetapi tidak menimbulkan reaksi apa pun karena keriuhan Kafetaria berubah senyap di waktu bersamaan. Semua pasang mata tertuju pada kami dan beberapa di antaranya, secara diam-diam mulai merekam kejadian ini.
Peduli setan, jika mereka menyebarkan video itu kemudian para penggila Aiden secara serempak mem-bully-ku karena tentu saja, idolanya juga akan kuperlakukan serupa. Tidak ada lagi kesabaran yang kumiliki, seperti saat Alma dan Jackson menenangkanku pada peristiwa perkelahian dengan Aubrey. Sekarang, semua telah keterlaluan hingga terasa tidak adil jika Aiden bisa tertawa bebas, tanpa tahu masalah apa yang telah ia ciptakan.
Aiden menatapku. Tampak tidak percaya dengan apa yang kulakukan barusan.
"What?" tantangku, sambil membersihkan kedua tangan yang saling kutepuk secara perlahan. "feel shocked by what I did, eh? That's what your fan or girlfriend did to me."
Tidak menjawab apalagi berkata apa pun, Aiden akhirnya kembali setelah terpaku beberapa saat kemudian membersihkan sisa kotoran yang melengket di pakaiannya menggunakan tissue.
Oh, ayolah, ini bukan reaksi yang kuharapkan. Aku ingin Aiden marah padaku kemudian--jika perlu--tinju saja wajahku, sehingga secara tidak langsung para penggila penuh obsesi itu akan berpikir bahwa tidak ada apa pun antara aku dan Aiden.
"Just tell me. Who would dare bother her with something disgusting like this, hah?!" Tiba-tiba saja Aiden berteriak, sambil menarik tanganku hingga berada di pulakannya dan dengan sekuat tenaga ia menahanku agar tidak menjauh darinya.
Sial! Jadi apa lagi yang Aiden inginkan?!
"Aku tahu pelakunya ada di antara kalian," ujar Aiden lagi dengan netra cokelatnya yang menelusuri siapa saja yang berada di kafetaria. "Dan siapa pun itu, sekali lagi kutegaskan bahwa Megan adalah pacarku. Siapa saja yang berani mengganggunya, maka akan berurusan denganku. All of you, boy or girl."
Aiden menoleh ke arah kanan, menyeret tubuhku agar mengikutinya dan kami menemukan Aubrey dengan wajah masam hingga tanpa sadar telah meremas gelas kerta, saking kesalnya.
"Lalu untukmu, Aubrey. Kau tahu, kau telah bermain belakang dengan Felix, sehingga wajar jika kita mengakhiri ini." Aiden lagi-lagi merapatkan rangkulannya di bahuku, memaksaku agar semakin rapat dengan lelaki itu dan kembali berujar, "Terima saja keputusan ini dan biarkan Megan bersamaku."
Oh, s**t! Seriously, how could this happen?