008 - Feel Like A Superstar

1334 Kata
Kutekankan sekali lagi, sebagian besar dari semua perempuan di muka bumi ini pasti akan sangat bahagia, sekaligus bangga jika lelaki yang ia sukai membelanya secara terang-terangan dan rela menolong jika seseorang mengganggunya. Namun, harus digarisbawahi bahwa jika terdapat kata sebagian besar, maka selalu ada sebagian kecil dan itu adalah aku. Ya, aku adalah salah satu dari kelompok minioritas yang aneh karena tidak merasa senang, apalagi bangga dengan apa yang dilakukan Aiden di kafetaria tadi. Serius. Jika boleh jujur itu sangatlah tidak keren dan aku bahkan tidak membayangkan hal tersebut akan terjadi. Yang kuharapkan ketika aku melemparkan kantong plastik berisi sampah, hasil karya pemuja Aiden adalah ia marah padaku, memaki, serta melayangkan pukulan ke arahku sehingga mereka--siapa pun--akan berpikir bahwa tidak ada hubungan di antara kami. Well, aku memang sudah menceritakan hal itu sebelumnya. Tapi, tetap saja aku kesal pada Aiden karena tindakannya barusan semakin menyeretku ke dalam masalah yang tidak ingin kukunjungi. "Kau ini hidup di zaman Ratu Elizabeth I, ya?" tanya Aiden, sambil membersihkan diri menggunakan washtafel yang berada di depan laboratorium sains. Kedua mataku refleks meletot. Terutama saat Aiden menyamakanku dengan salah satu Ratu Inggris. Yang benar saja, umur kami bahkan berbeda jauh, tapi jika Aiden berpikir bahwa aku se-kolot itu, maka dia harus mempelajari lebih banyak tentang perasaan seorang gadis. Maksudku, jika dia buta dan berakhir suka padaku seharusnya dia memperlakukanku sebagai seorang gadis yang sesungguhnya. Di mana aku juga membutuhkan ruang privasi saat ia menyatakan perasaan, memberiku waktu beberapa hari untuk memutuskan satu jawaban sakral, dan tidak langsung mengambil ciumanku kemudian mengklaim diriku sebagai pacarnya, seolah semua gadis mencinta lelaki itu. Ugh! Memangnya ini cerita fiksi ala posesif bad boy? "Lalu kau pikir semua gadis suka padamu? Hanya orang sinting yang merasa sangat bersuka cita saat seseorang melakukan pelecehan, seperti yang kau lakukan," ujarku sambil mencuci tangan menggunakan sabun, demi menghilangkan bakteri bekas memegang tumpukan sampah. "Ugh! Memangnya kau se-sempurna apa, sih?" "Sangat sempurna, seperti persilangan antara Dewa Yunani dan malaikat." "Tidak. Kau hanya membawaku ke dalam masalah yang merepotkan akibat ulah dari para penggemarmu." "Well, mengecewakan. Sebenarnya aku tidak berharap mereka melakukan itu." "Ya, dan kau melakukan hal yang membuatnya semakin sulit." Aku menjentik-jentikkan jemari, membuang sisa air kemudian mengeringkannya menggunakan tissue. "Kenapa kita tidak berkelahi saja agar mereka tahu, bahwa tidak ada apa pun di antara kita. Maksudku ... yeah, sejak awal kita hanya orang asing." Sebelah alis Aiden terangkat. Ia melangkah mendekatiku, tanpa mengalihkan pandangannya padaku. Tentu saja hal ini berefek menegangkan, sehingga demi mencari sesuatu yang menimbulkan perasaan tenang, aku mengalihkan pandangan ke sana-sini. Melihat apa saja di sekitar kami seperti; papan nama Laboratorium Sains, Bahasa Asing, dan Komputer berbahan arkalik, jalanan berumput depan lorong ketiga ruangan yang ditanami beberapa bunga, serta sepatuku sendiri bersama noda saus di atasnya. Aku harus mengalihkan pandangan agar tidak memperlihatkan perasaanku. Namun, cukup gagal karena aku membuat pergerakan refleks berupa langkah mundur mengikuti pergerakan Aiden. Sial! "Listen, hanya pecundang yang berani menyakiti seorang gadis dengan menggunakan fisik," katanya, sambil sedikit menunduk agar ia bisa mendapatkan akses menatap wajahku. Secara perlahan aku menelan saliva agar Aiden tidak menyadari kegugupanku. "Kau pikir aku tidak bisa berkelahi? Aku lebih senang jika kau melakukan itu, sehingga aku tidak perlu kerepotan karena harus berurusan dengan penggemarmu. Asal kau tahu, hidupku jauh lebih tenang sebelum kau hadir." "Then let it be a little bit noisy." "No!" tegasku, sambil menggeleng kemudian menunjuk d**a Aiden menggunakan telunjuk. "Aku ingin kau bertanggung jawab. Tanggung jawab yang sesungguhnya, di mana kau melakukan klarifikasi kepada para penggemarmu bahwa kita tidak memiliki hubungan apa pun." Lagi-lagi Aiden tersenyum. Lalu mengerutkan kedua alis dan menatap ke arah jalanan setapak sebelah lorong yang ditumbuhi rumput hias. Kedua matanya menyipit, sesaat setelah awan selesai menyembunyikan sinar sang raja siang. "Mari kita luruskan serta merunut kejadian awal, hingga sampai pada kesimpulan." "Kau menciumku secara tiba-tiba. Terkesan seperti kecelakaan, tapi aku menganggapnya sebagai pelecehan." "Ya, ya, Megan. Kau memang nona yang sangat pintar." Aku mendengkus, setelah mendengar pujian tetapi memiliki makna tidak tulis di dalamnya. Banyak orang yang tidak mengakui ... err, ralat! Maksudnya melihat kepintaranku, sebab dunia sosialku tidak berada pada kumpulan manusia bodoh. Duniaku berada pada lingkaran para sosok-sosok brilian, sebut saja Jackson jika kau peka maka dia selalu bersama buku sejarahnya seolah ia ingin menjadi sejarawan. Sedangkan Alma, fine dia memang agak lincah. Namun, jika kau membawanya ke tempat terbuka di malam hari dia akan mulai membicarakan hal yang hanya dimengerti oleh para antariksawan. Itulah mengapa aku menjadi semakin tidak terlihat jika berada di antara mereka, sebab hanya menjadi bisa jika belajar. Kuakui, kepintaran dalam bidang akademikku adalah hasil dari usaha keras. Bukan dari bakat alami. Kembali ke Aiden. Seperti seorang detektif, ia merunutkan segala kejadian secara rinci. Mulai dari alasan mengapa ia menciumku, yakni karena tidak tahu bagaimana cara mengajakku berkencan (menurutku ini tidak masuk akal dan klise) dan dia juga mengatakan tentang alasannya berpisah dengan Aubrey. "Aubrey berselingkuh, mencampakanku lalu ketika ia tahu bahwa aku akhirnya memberanikan diri untuk menghampirimu, gadis itu merasa harga dirinya terluka," ujar Aiden. "TBH, aku meragukan semua ceritamu." "Why?" "Sejak awal ceritamu terdengar tidak masuk akal." Aiden meremas rambutnya lalu bersandar pada loker saat aku ingin menyemprotkan desinfektan di dalam laciku. Ia melongok, melihat bagaimana kekacauan para penggemarnya terhadap ruang pribadiku kemudian tanpa permisi, lelaki itu mengambil gambar melalui ponsel. Aku ingin bertanya tentang apa yang telah Aiden lakukan. Namun, ketika mengintip sedikit layar ponselnya ia tidak melakukan apa pun, selain melakukan seyembara di media sosialnya dan meminta pertolongan pada Seth untuk menemukan dalang di balik kekacauan lokerku. "Kau mengintip?" tuduhnya yang membuatku langsung menjauh kemudian secepat mungkin menyemprotkan sanitaizer. "Dalam mimpi! Aku hanya tidak ingin kau berulah lagi di media sosial dengan menyebarkan berita hoax." Aiden mengganti posisi berdirinya, di mana sekarang ia berdiri menghadapku seutuhnya. "Di bagian mana yang kau bilang hoax." "Jangan pura-pura t***l, Aiden." Aku menutup lokerku lalu melilitkan kedua lenganku di bawah d**a. "Kau bilang kita berpacaran. Memangnya kapan aku menyetujui hal itu?" "Kau ingin aku bertanggung jawab, 'kan?" "Tentu saja!" Aku menangguk mantap. Lalu Aiden memberikan senyum miring khasnya yang secara bersamaannya justru menimbulkan perasaan aneh. Maksudku, sepertinya aku melakukan kesalahan tanpa kusadari. "Jadi pacarku saja," ujarnya yang membuatku seketika tersedak hingga terbatuk-batuk. Aiden menepuk punggungku beberapa kali dan karena lorong loker sedang sepi, tidak ada siapa pun yang melihat kejadian ini. Oh, beruntungnya aku. "Kau sinting, Aiden." Aku mendorong tangannya menjauh. "Seumur hidup aku tidak pernah berharap menjadi bagian dari kisah asmaramu." "Kalau begitu jadilah bagian dari kisah hidupku," kata Aiden yang menimbulkan kerutan dalam di wajahku. "Kau gila." Aku menggeleng pelan, sambil memberikan mimik ngeri. "Kau tahu, cara bicaramu tidak jauh berbeda dengan para kakek yang berusaha menggombal gadis muda." Aiden tertawa ringan kemudian ikut berjalan di sisiku menuju kelas selanjutnya. Demi Tuhan, aku sama sekali tidak berharap dia mengikutiku, tetapi bagaimana jika langkahnya jauh lebih lebar dariku? Lari pun, Aiden pasti masih bisa mengejarku. "Well, kita lihat saja sampai kapan kau akan terus-menerus menolakku," ujar Aiden lalu melingkarkan lengannya di bahuku dan menarikku agar merapat pada tubuhnya. Namun, pecayalah dia benar-benar berurusan dengan gadis yang salah, karena .... "Argghh!! Megan ... kau ...!" "Yeah, kau pantas menerima ini sebagai balasan dari sifat narsismu itu," ujarku sambil menendangi b****g Aiden berulang kali, meski ia selalu berusaha untuk menjauh. Alright, di Santa Monica High School memang tidak ada yang tahu bahwa menendang adalah keahlianku, kecuali Alma dan Jackson. Sehingga entah Aiden adalah jenis masokis atau apa, dia justru tertawa kecil sambil setengah hati menghindari tendanganku. ... atau mungkin tidak. Baiklah, aku tidak tahu sejak kapan Aubrey ada di sana dan dua temanku juga berada di sekitar kami. Menyaksikan p********n yang kulakukan terhadap Aiden, tetapi--mungkin--terkesan bercanda tawa karena Aubrey tiba-tiba berwajah masam, membalikkan tubuh, serta melangkah dengan menghempaskan kedua kaki. Sedangkan dua temanku; Alma dan Jackson, mereka menatapku dengan ekspresi penuh tanya serta Alma yang menunjukkan layar ponselnya, sambil berkata menggunakan gerakan bibir. Yeah, kurang lebih ia mengatakan, 'Right-now-you-are-a-popular-girl' sambil mengetuk-ngetuk layar ponselnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN