010 - How To Catch A Frog

1187 Kata
Aku tertawa. Dan terlalu keras hingga terdengar aneh karena menjadi satu-satunya suara yang menggema di pinggir sungai pada malam itu. Menggunakan lampu senter milik Aiden, aku mulai menyoroti beberapa titik di sepanjang aliran sungai di mana Aiden sedang menjalankan tugasnya untuk mendayung perahu kano milik kami. Di salah satu pohon yang setengah akarnya terendam air sungai, seekor kura-kura tampak sedang memperhatikan kami kemudian perlahan turun melompat ke dalam air. Aiden melakukan tugasnya dengan baik, yakni mendayung perahu kano tanpa menyatakan bahwa ia sangat kelelahan mendayung sebab kami hanya memiliki satu dayung di mana aku lebih sibuk menjadi petugas pencahayaan. Ia membawaku pada belokan pertama dan melewati pulau dangkal hasil dari tumpukan tanah, jutaan kerikil, dan pasir. Di atasnya terdapat tumpukan ban tua dengan warna sudah tidak lagi hitam lalu aku juga bisa mencium aroma bakaran yang artinya seseorang telah melakukan aktivitas kecil di pulau dangkal tersebut. Entah apa pun itu, kami menolak untuk membahas sebab telah mengetahui kegiatan apa yang mereka lakukan. Jangan bertanya secara spesifik karena aku tidak ingin menjawabnya. Namun, jika kalian melihat betapa lebat pohon-pohon di pinggir sungai ini, maka kalian akan paham bahwa hal-hal yang berlendir, pesta liar, atau aktivitas memancing bisa saja menjadi alasan mengapa beberapa pulau dangkal membutuhkan sentuhan-sentuhan penghangat. Aiden terus mendayung. Kali ini kami melewati batang pohon yang sama sekali tidak lagi berdaun, tetapi masih tetap berdiri tinggi lalu berhenti sebentar membiarkan perahu kami bergerak mengikuti arus sungai. Dan ketika aku ingin bertanya mengapa ia berhenti mendayung, Aiden terlebih dahulu berkata, "Kau tahu, aku telah berpikir sepanjang bertugas sebagai pendayung." Ia menoleh ke arahku, dan detik itu juga lampu senter kumatikan dan hanya mengandalkan sinar bulan sebagai pencahayaan kami. "Kurasa sekolah kita mengalami kegagalan dalam hal menyediakan fasilitas bagi para muridnya." "What do you mean?" Aku mengerutkan keningku sejenak. Benar-benar bertanya di bagian mana sekolah tidak memberikan fasilitas karena kupikir, fasilitas mereka sudah benar-benar keren. "Apa aku melewatkan sesuatu?" "Yeah, seperti yang kita lakukan sekarang. Di mana seharusnya penyediaan katak adalah tugas sekolah sebagai fasilitator. Namun, malah tidak direalisasikan dengan alasan--" "Halo, apa kau sedang latihan berkampanye sebagai ketua kedisiplinan, eh?" selaku, sambil mengibaskan tangan di depan wajahnya agar Aiden segera menghentikan protes tanpa hasil. "Lakukan saja pekerjaanmu dan kita akan cepat pulang." Seperti anak gadis saja. Aiden mengembuskan napas panjang lalu kembali mendayung mencari potongan daratan, yang memungkinkan menjadi tempat persinggahan para katak. Sesekali kelelawar melintasi kami, hingga tidak jarang membbuatku terkejut begitupula dengan Aiden dan setelahnya, salah satu dari akan mengumpat dan mengejek. Aiden berkata lagi, "Seperti kembali ke masa lalu menggunakan mesin waktu saja." "What? I really ...." "Right." Aiden mengangguk, melanjutkan kalimat gantungku seolah ia bisa membaca pikiranku. "Di masa lalu para murid harus mencari katak dan membunuhnya sendiri dengan cairan kimia." "Kau mau mengeluh lagi?" "Tidak." "Ya." Aku menjawab ucapan Aiden dengan sangat cepat, sambil perlahan berdiri di atas perahu kano dan sedikit melompat menuju daratan yang didominasi oleh tumbuhan-tumbuhan kecil--dari yang bisa dimakan dan tidak, serta pepohonan tinggi menjulang dengan akar menyembul di pinggir tanah karena terhubung langsung dengan sungai. "Dan aku sebenarnya sangat tidak berharap bisa satu kelompok denganmu." Aiden mendecak pelan, sambil memukul udara karena uluran tangannya tidak kusambut lalu ia melangkah di sisiku. "Tapi kau justru menjadi partner-ku. Oh, terpujilah kelas anatomi karena memberiku waktu untuk lebih dekat dengan pacarku." "Norak," kataku sambil berjengit jijik kemudian mempercepat langkah demi segera menjauhi Aiden. Aku masih memegangi senter yang dibawa Aiden, menyoroti arah mana saja demi mencari hewan incaran kami. Kami berjalan kami secara beriringan, sesekali Aiden bersiul mengikuti irama musik pop hot list minggu ini. Sesekali aku melirik ke arahnya, kurasa ia tampak tidak khawatir tentang dengan siapa kami akan berhadapan nanti. Padahal andai dia tahu, aku sungguh merasa cemas karena harus berhadapan dengan binatang berlendir itu. Sesuatu tentang sungai serta dataran ini membuatku lebih banyak diam, daripada berbicara. Begitu pula dengan Aiden. Aku tidak tahu alasan mengapa lelaki itu ikut terdiam, tetapi ngomong-ngomong mengenai tempat ini berhasil membuatku jadi bernostalgia secara otomatis. Dulu sekali, saat ulang tahunku yang kesepuluh tahun, aku pernah menghabiskan setengah hari di tempat ini. Mom, dad, dan Jeff mengajakku untuk melakukan permainan mencari harta karun, di mana dalam pada saat itu merupakan kado ulang tahunku. Mom dengan sangat telaten membuatkan kami peta jadi setelah menikmati kue, serta membungkus bekal makan siang kami berempat pergi ke dataran menggunakan perahu kano, lalu aku dan Jeff bekerjasama mencari harta karun, menggalinya sedikit tanah menggunakan sekop. Rasa yang tidak pernah kulupakan saat sekopku berhasil membentur peti harta karun berbahan plastik. Saat itu hatiku luar biasa senang, terlebih harta karunnya adalah sebuah seruling serta bola basket. Setelah mengetahui isinya, aku dan Jeff pun segera berlari mengahampiri orangtua kami, memeluk mereka erat dan mengucapkan terima kasih. Setelahnya, bola basket itu masih menjadi benda kami bermain sambil berdiskusi hal serius, di mana kehadiran orangtua tidak diinginkan. "Megan." Aku menoleh saat suara Aiden memanggilku. "Kau baik-baik saja?" "Yeah." "Well, tapi bisakah kau menjawab selain kata 'yeah' karena--" Krok krook krok. Refleks aku meredupkan lampu senter, bersamaan dengan menajamkan indra penglihatanku. Dan ketika sempat melihat bagaimana reaksi Aiden yang tampak kucam, kecemasan pun mulai merangkak masuk ke dalam diriku. "Jangan katakan bahwa kau takut, Aiden. Akan sangat tidak keren jika--" "Sayangnya, harus kuakui bahwa itu adalah kebenarannya, Megan." Aiden menyerahkan jaring yang ia bawa padaku. Namun, bukannya menerima aku malah mundur satu langkah dengan ekspresi tidak percaya. "Serius, Aiden. Bukan karena kau populer atau aku merasa sangat bersyukur karena satu kelompok dengan orang sepertimu, tapi ... sungguh, kuharap kau yang menangkap, membawanya ke sekolah besok pagi, dan yang--" "Kau benar-benar ingin membunuhku." "Kau laki-laki, Aiden." "Ck, menjadi laki-laki bukan berarti kita dilarang untuk takut pada satu hal." "Itu sungguh cemen." "Kau patriarki," ujar Aiden lalu duduk berjongkok, sambil mengelap buliran keringatnya menggunakan punggung tangan. Suara katak sudah terdengar di sekeliling kami sejak tadi. Membuatku sedikit was-was jika salah satu di antara mereka bertingkah iseng, lalu melompat ke wajahku. Sehingga demi menghindari hal yang tidak diinginkan terjadi, aku menurunkan pet topi baseball milik dad kemudian memasang sarung tangan kain, di mana bagian bawahnya terdapat lingkaran-lingkaran kecil berbahan karet, untuk menahan pergerakan makhluk berlendir itu. "Begini saja," kataku pada Aiden di mana lelaki itu langsung menoleh saat mendengar suaraku. "Kau membidik jaringnya dan aku yang menangkap kemudian kau membuka kotaknya lalu aku akan memasukkannya. Setelahnya kita bicarakan saja nanti." "Bagaimana bisa aku membidik jika mendekatinya saja aku--" "Aiden, lakukan atau lelucon ini akan kusebarkan lalu kau akan--" "Ok, fine! I'll do it," sela Aiden kemudian berdiri di sisiku dan ... yang benar saja! Ia melepas jaketnya kemudian meletakkannya di atas kepala seolah sekarang sedang hujan lalu melindungi wajahnya menggunakan masker. Demi Tuhan! Kau tampak konyol Aiden Kowalsky dan kupikir aku adalah gadis beruntung yang--mungkin--melihatmu seperti ini. "Kau tahu, kepopuleranmu bisa runtuh kapan saja jika seseorang melihatmu seperti ini." "Kalau begitu, maka rahasiakan," ujar Aiden, sambil melangkah kecil di depanku. "Lagipula bukankah seorang pacar tidak akan menjelekkan satu sama lain." "Once again, I'm not your girlfriend." "Yeah, but soon you'll say--aaarrgghh!!!" "Aiden! Hold on!" "No, I can't ... aaarrgh!" Byuur!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN