Bab 23 Langit merebut sebuah botol kecil dari tangan Dara, dia mendengkus kesal dan memelototi istrinya. “Kenapa kamu sembarangan menyentuh barangku?!” sentak Langit. “Memangnya kalau celanamu tidak kusentih, dia akan bergerak sendiri ke mesin cuci?!” balas Dara, kali ini dia tidak ingin berdiam saja, wanita berdagu lancip itu berpikir inilah waktu yang tepat untuk membahas obat tersebut. “Jangan menjawabku!” larang Langit. “Lalu aku harus diam aja, kayak kloset, gitu? Dengar, Bung, cukup kamu menjadi dominan, cukup kamu berpura-pura kuat. Bukankah itu melelahkan? Hah? Cobalah jujur, aku di sampingmu sebagai makhluk hidup yang bisa kamu ajak bicara, tentang apa pun,” cerocos Dara, dengan wajah memerah dia marah sekaligus khawatir terhadap suaminya yang berpura-pura seperti baja tahan

