Mendapati Dara begitu kecewa terhadapnya, Langit pun kesal dan menyesal. Pria berperawakan tinggi tegap itu meninju udara, meluapkan kekesalan yang merengkuh relung jiwanya. Setelah larut dalam amarah untuk beberapa saat, Langit pun bergegas menaiki mobil, menyusul taksi yang Dara tumpangi.
Sementara itu, di dalam taksi, air mata Dara terus menerus mengalir, memikirkan perlakuan menyakitkan dari suaminya.
“Kupikir, aku begitu mengenal Kak Langit. Tapi, dia bagai orang lain bagiku. Aku benar-benar merasa asing dengan pria yang kini menjadi suamiku,” gumam Dara, seraya menyeka air mata yang terus terjun bebas di wajah cantiknya.
Gadis itu pun menangis sesenggukan sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Raungan kecil sesekali terlontar, merasa hidup dan pengorbanannya sia-sia.
Sejurus kemudian, Dara menyadari mobil Langit mengikutinya di belakang, awalnya dia berpikir untuk pulang ke rumah orang tuanya, tetapi segala hal akan menjadi lebih rumit jika orang tua dan mertuanya tahu apa yang terjadi. Hubungan yang lekat, bisa menjadi renggang. Dara tidak menginginkan hal itu terjadi, sebab keluarga Pradipta adalah dunianya–yang tidak ingin dia hancurkan.
***
Sesampainya di rumah, Dara buru-buru masuk kamar, padahal tahu Langit sedang berusaha mengejarnya. Namun, untuk saat ini hatinya sedang kacau dan tidak ingin menemui Langit.
Meskipun begitu, Langit tetap berusaha untuk berbicara dengan Dara.
“Dara, tolong dengarkan aku sebentar,” pinta Langit, seraya menggedor pintu kamar Dara.
“Aku enggal bermaksud mengatakan hal tadi, aku hanya–”
“Hanya apa?” Dara membuka pintu dengan cepat, membuat Langit terkejut.
“Hanya emosi?” desak Dara, karena suaminya masih terpaku karena kaget.
“Ya, itu salah satunya,” jawab Langit.
“Kak Langit tahu, enggak? Rania, Tante Hanum, Om Setya, mereka maki aku sampe mulutnya berbusa itu bisa kuterima. Tapi, satu kalimat seperti tadi yang Kak Langit lontarkan untukku, itu sakitnya kayak pedang menghunus jantung, Kak. Sakit banget!” jelas Dara, jemari lentiknya menunjuk ke arah d**a kiri Langit dan memberi sedikit tekanan di area itu.
“Aku melakukan semua demi kamu, dengan tulus, Kak Langit. Kamu enggak lihat itu? Kamu enggak lihat apa yang kulakukan? Memangnya selama setahun ini aku pernah minta balasan darimu? Pernah minta kamu melakukan hal yang sama? Enggak, kan? Aku selalu menuruti maumu? Kamu pikir, itu kulakukan hanya untuk sebuah kesan darimu, Kak?” cerocos Dara, sedikit meluapkan emosi yang bergejolak di hatinya.
Langit terdiam, dia hanya mampu merespons dengan sebuah tatapan dingin.
“Bukan, aku melakukannya karena aku merasa harus melakukan itu untukmu. Untuk saat ini, kamulah teman hidupku, Kak! Aku enggak pernah berharap, kamu bersikap sama persis, tapi setidaknya hargai aku, hargai apa yang kulakukan!” Dara melanjutkan perkataannya, dengan wajah sembab dan mata bengkak sisa tangis beberapa saat tadi.
Setelah puas mengungkapkan isi hati, Dara pun berbalik dan hendak menutup pintu. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti dan kembali mengarahkan perhatiannya kepada sang suami.
“Oia, Kak. Aku dan Rania tidak sama. Berhenti berpikir yang tidak-tidak tentangku!” ucap Dara dengan nada tegas, kali ini dia benar-benar meninggalkan Langit yang masih berdiri di ambang pintu.
Melihat sikap Dara yang benar-benar menunjukkan rasa kecewa, pria berlesung pipi itu tak bisa berbuat apa-apa, dia berbalik menjauhi kamar Dara, alih-alih menyusul masuk. Embusan napas berat menjadi luapan sisa emosi. Padahal, pria tampan itu hanya cemburu, kenapa serumit ini.
***
Waktu berjalan begitu cepat, keduanya sudah sampai di Singapura untuk melakukan keinginan Langit. Kini, Dara sedang berkonsultasi dengan dokter spesialis obgyn yang berasal dari Indonesia.
Setelah Dara menjelaskan situasi yang terjadi, wanita bernama Silvia itu mengerti. Lantas, Dara pun diberikan jadwal hari itu juga, karena memang sebelumny sudah melakukan reservasi.
Silvia meminta Dara untuk berbaring di ranjang–untuk melakukan USG. Langit pun mendampingi Dara yang tampak ketakutan hingga beberapa kali gadis itu tampak tidak fokus.
Silvia pun melakukan USG, memastikan kondisi janin sesuai prosedur. Suara detak jantung jabang bayi itu membuat rasa sakit yang mendalam untuk Dara. Dia merasakan sesak dan sakit dalam hatinya. Bagaimana bisa calon ibu harus membunuh calon bayi yang tak berdosa itu.
Langit terpaku saat Dr. Silvia menjelaskan tentang kondisi di dalam perut istrinya. Mata indah pria itu mengembun, tiba-tiba napasnya terasa sesak.
“Okey, kita langsung lakukan operasi sekarang, sudah tiba waktunya,” kata Silvia, lalu menyudahi USG dan bangkit dari duduk.
Wanita berjas putih itu lekas memanggil asistennya untuk membawa Dara ke ruang operasi. Langit pun mengantar dengan perasaan tak karuan, apalagi suara detak jantung bayi terus terngiang di telinga membuatnya semakin bingung.
Langit diminta untuk ke ruang administrasi dan melakukan tanda tangan persetujuan, sementara Dara dibawa ke ruang operasi untuk prosedur anastesi. Saat Langit hendak menandatangani surat itu, dia merasa hatinya terus dicabik-cabik, jemarinya gemetar, perasaan dan pikirannya tidak sejalan. Pria itu tertegun cukup lama.
Sementara di ruang operasi, para dokter menunggu administrasi selesai. Namun, setelah cukup lama menunggu, telepon tak kunjung berdering. Dr. Silvia pun memutuskan untuk melakukan bius kepada Dara, sebab Dara terus menangis. Dr. Silvia khawatir itu akan membuat konsentrasinya berantakan.
Dara sedikit berontak, seperti hatinya yang tak rela untuk melepaskan kehamilan itu. Namun, obat bius perlahan masuk ke saluran pernapasannya perlahan otot-otot wanita itu menjadi lemas dan tenang, matanya pun sedikit demi sedikit terpejam.
Sejurus kemudian, pintu ruang operasi tiba-tiba terbuka, petugas administrasi dan Langit datang dengan tergesa.
“Dokter, saya ingin membatalkan operasi ini!” ucap Langit sedikit berteriak.
Dr. Silvia agak kaget, Langit yang terlihat antusias pada awalnya, tiba-tiba membatalkan itu begitu saja.
Petugas administrasi pun menjelaskan kepada Dr. Silvia, jika Langit bersedia untuk membayar finalty karena pembatalan itu. Dokter tidak bisa apa-apa, karena itu keputusan wali pasien. Langit pun menggendong Dara yang masih terkulai lemas, dengan mata berkaca-kaca dan raut wajah penuh penyesalan.
“Ke mana saya harus membawa istri saya? Ruangan ini begitu dingin dan menyeramkan,” celetuk Langit.
Dr. Silvia terkesiap, lalu memerintahkan asistennya untuk mengantar Langit ke ruang perawatan umum.
***
“Kami sudah memberikan anastesi kepada Nona Dara, kuharap itu tidak akan berpengaruh pada bayinya,” ucap Dr. Silvia.
Perkataan itu terus terngiang di pikiran Langit. Melihat Dara terus menitikkan air mata meski kesadarannya belum pulih, dia semakin yakin jika membatalkan operasi adalah keputusan yang tepat.
“Jika sesuatu yang buruk terjadi, aku tidak akan memaafkan diriku,” ucap Langit, lirih, sambil menggenggam tangan Dara yang terasa begitu dingin.
“Dara bangunlah, maafkan aku,” ucao Langit.
Tak lama setelah dia mengatakan hal itu, Langit merasakan pergerakan di jari Dara yang dia genggam. Pria berkulit putih itu terkesiap.
“Dara, Dara, Dara,” panggil Langit, ketika Dara berusaha bangun, tetapi efek anastesi belum sepenuhnya hilang.
“Anakku ….” rengek Dara, dengan mata yang masih terpejam.
“Dara, buka matamu,” pinta Langit, lalu membelai dan mengusap pipi Dara yang terus-menerus basah oleh air mata.
Akan tetapi, tangis Dara terus berlanjut.
“Dara ….”
Bersambung ….