“Dara bangun, Dara maafkan aku,” ucap Langit seraya terus berusaha membangunkan istrinya yang terus menangis di amang kesadarannya.
Hingga tak lama kemudian, Dara pun tersentak dari tidurnya dan bangun seketika, Langit kaget, tubuhnya ikut terdorong nyaris terpelanting ke belakang.
Dara tercenung untuk beberapa saat, dia merasa matanya begitu perih dan berat. Dadanya mengembang seiring dengan tarikan napas panjang yang dia lakukan.
“Aku ingin sendiri,” pinta Dara, tanpa menoleh ke arah Langit.
Pria tampan yang masih tertegun itu, terkesiap seketika. Matanya membeliak mendengar Dara mengusirnya secara halus.
“Da-ra, aku–”
“Tolong, Kak. Aku ingin sendiri dan istirahat dengan tenang. Kakak bisa pulang ke hotel dan tunggu aku di hotel saja,” ucap Dara, terdengar jelas kemarahan dari nada bicaranya.
“Dengerin aku dulu, Dara. Anak kita–”
“Anak kita? Sejak kapan Kak Langit mengakuinya, selama ini dia hanya anakku. Jadi, aku paham Kak Langit biasa saja. Bagaimana mungkin, kamu tahu apa yang kurasakan saat ini?” cerocos Dara, membantah perkataan Langit yang mengakui anaknya di saat seperti ini.
Benar, Dara belum mengetahui semuanya, karena Langit belum sempat menjelaskan. Hingga Dr. Silvia datang melakukan visit dan mengusik pertengkaran keduanya.
Ketegangan di antara Langit dan Dara pun mereda saat mendapati sosok tinggi semampai itu masuk ruangan perawatan.
“Nona Dara sudah siuman?” tanya Dr. Silvia.
Dara mengangguk sembari mengusap sisa air mata di wajahnya.
“Kita USG, ya, cari tahu kondisi dedek bayi di dalam sana, karena Nona sempat saya berikan anestesi, khawatir berdampak pada jabang bayi, apa lagi kehamilan Nona baru trimester pertama,” jelas Dr. Silvia, lantas memberi kode kepada asistennya untuk melakukan prosedur itu.
“Apa maksudnya?” tanya Dara, dengan wajah tegang dan kebingungan.
“Loh, Pak Langit belum jelasin?” tanya Dr. Silvia, lalu melemparkan tatapan ke arah Langit.
Langit menggeleng dengan raut wajah polos layaknya anak kecil.
Dr. Silvia mengembuskan napas panjang, lantas kembali memberikan perhatiannya kepada Dara.
“Jadi, Pak Langit membatalkan keinginannya untuk menghentikan kehamilan Nona Dara, saat setengah dosis anestesi masuk ke tubuh Anda. Tapi, Nona Dara keburu tidur, jadi enggak tahu itu. Bahkan, Pak Langit yang gendong Nona Dara ke ruangan ini sambil terus minta maaf,” jelas Dr. Silvia, bagaikan malaikat cinta yang berniat menyatukan suami istri itu.
“Apa?!” Dara terkejut, hingga matanya membelalak, lantas dia melirik Langit yang kini wajahnya memerah.
Dr. Silvia hanya tersenyum tipis, lalu meminta Dara untuk berbaring, dia pun mulai mengecek kesehatan Dara dan janin dalam kandungannya.
“Syukurlah semua baik-baik saja, Tuhan berpihak sama kalian berdua, janinnya kuat dan baik-baik saja, tapi saya sarankan untuk rajin kontrol, karena yang telah terjadi itu berisiko. Nona Dara tolong istirahat, Pak Langit tolong jaga istri dan calon anaknya dengan baik. Tanggung jawab atas keputusan Anda, oke,” pesan Dr. Silvia, lantas dia berpamitan dan Dara sudah diperbolehkan pulang.
Suami istri itu mengangguk, banyak sekali pertanyaan yang ingin Dara lontarkan kepada suaminya, tetapi dia menyimpan itu untuk nanti saat tiba di hotel, agar lebih leluasa untuk meluapkan emosinya.
Langit melirik ragu ke arah Dara yang dari beberapa saat lalu menatapnya dengan sorot tajam.
“Kenapa? Bukankah harusnya kamu senang?” tanya Langit, dengan nada ragu.
Dara membisu, dia tak merespon itu dan memilih menarik selimut lalu pura-pura tidur. Gadis cantik itu mengelus perutnya beberapa kali. Kemudian, dia kembali terisak.
“Mami, apa aku bisa menjadi ibu yang baik seperti Mami, kenapa dewasa itu berat,” ucapnya di sela isakan tangis.
“Ini pertama kalinya aku menyesali keputusanku, Mami. Aku bahkan nyaris membunuh anakku demi pria b******k bernama Langit,” oceh Dara, padahal dia tahu Langit masih ada di sana.
Langit yang mendengar itu hanya bisa mengembuskan napas berat, lalu dia mengusap wajah dengan kasar, dan beranjak dari duduk lalu keluar.
Langit mencari area untuk merokok, karena kepalanya terlalu penat dengan situasi ini. Baginya, lebih mudah menjalankan perusahaan raksasa seperti Pradipta Capital, dibandingkan menghadapi drama rumah tangga yang dialami. Bukan, mertua julid atau istri yang tidak patuh. Namun, rasa tidak percaya diri yang dimiliki akibat perselingkuhan yang dilakukan mantan pacarnya, membuat bekas luka yang menganga di hatinya. Dia terlalu takut, jika dikhianati lagi. Tanpa sadar, pria tampan itu menganggap Dara–wanita yang sudah puluhan tahun dia kenal, sama seperti wanita yang sudah melukainya begitu dalam.
“Harusnya aku memang tidak menikah dengannya,” ucap Langit, dia memandangi poto di layar ponsel lipat.
Poto bertahun-tahun lalu, saat dirinya wisuda, di sana ada dua pria muda lain, dan Dara lah satu-satunya wanita di antara mereka. Namun, justru Dara yang membuat kehidupan lebih berwarna pada masa itu.
Langit memperbesar poto istrinya, lalu membelai lembut wajah cantik yang selalu ceria itu.
“Apa yang harus kulakukan kedepannya?”
***
Sementara di sisi lain, setelah kejadian malam itu, Rania jadi terdorong untuk menghancurkan pernikahan Langit dan Dara. Apalagi saat dia tahu, jika Dara adalah karyawan di perusahaan salah satu kerabatnya. Rania kembali menemui Sean, duda beranak satu yang dia duga menyukai Dara.
“Kak, kayaknya Kakak batalin aja deh mecat Daranya,” ucap Rania langsung pada inti keinginannya.
“Memangnya kenapa?” tanya Sean, tanpa menoleh ke arah Rania, fokusnya masih tertuju pada laporan di meja yang sedang dia periksa.
“Ya, enggak apa-apa, aku hanya emosi waktu itu, lagi pula dia karyawan yang berpotensi, kan, semangat kerjanya juga bagus,” jelas Rania lalu mengangkat kedua alis dengan sudut bibir terkembang berusaha meyakinkan Sean agar kembali mendengarkan pendapatnya.
Sean meletakkan pulpen yang sedang dia gunakan, lalu menutup berkas dan membuka kacamata. Perlahan, pria tampan bergaya trendy itu memijat kening lalu mengarahkan tatapan ke arah Rania.
“Aku hanya tidak suka manusia penuh intrik bekerja di perusahaanku. Seorang yang licik adalah calon musuh yang berbahaya. Apalagi kamu tahu, jika Dara adalah putri Shounia dan Dewandaru yang terkenal kecerdasannya,” jelas Sean.
“Enggak, enggak, kayaknya gadis itu cukup profesional. Buktinya, meskipun memiliki saham di PC, dia bekerja di perusahaan Kakak dengan dedikasi yang maksimal, kan?” komentar Rania, dia kembali meyakinkan Sean, untuk mempertahankan Dara.
Sebab, Rania memiliki peluang yang cukup bagus, saat menyadari jika Sean menyukai Dara. Ya, saat Dara pergi malam itu, Rania bisa membaca situasi, raut wajah Sean penuh rasa cemburu, apalagi saat melihat Dara dan Langit saling membela di depannya.
“Biar kupikirkan, nanti kuhubungi dia usai masa cutinya,” ucap Sean, dengan begitu datar, tanpa curiga terhadap tindakan Rania.
***
Seminggu kemudian ….
“Apa kamu tidak ingin memikirkan ini, Dara?” tanya Sean, usai membaca surat pengunduran diri yang Dara serahkan.
“Keputusan saya sudah bulat, Pak. Mungkin kedepannya saya pun akan kembali bekerja, tetapi untuk saat ini saya memerlukan istirahat karena akan fokus pada kehamilan saya,” jelas Dara.
Degh!
Mendengar itu, hati Sean seolah akan meledak karena terbakar api cemburu.
“Jadi kamu hamil?” tanya Sean.
“Ya.”
“Suamimu yang memintamu berhenti?”
“Tidak, ini keputusan saya pribadi.”
“Dara, tapi aku membutuhkanmu–”
“Apa?”
Bersambung ….