BAB 10. KECEMBURUAN RANIA

1240 Kata
“Maksud saya, kamu yakin kalau semua ini bukan karena hal yang terjadi tempo hari? Saya benar-benar minta maaf untuk hal itu,” tutur Sean. Dara tersenyum tipis, lalu menggeleng, “Saya sudah tidak mempermasalahkannya, Bos, itu sudah berlalu, lagi pula yang dikatakan Rania adalah faktanya, saya memang merebut Langit darinya,” seloroh Dara kemudian. Sean menghela napas perlahan, dia menatap Dara dengan tatapan sendu, tersirat rasa belum ikhlas untuk melepaskan gadis incarannya yang kini sudah menjadi istri orang lain. “Ya sudah, kalau itu yang kamu mau,” jawab Sean setelah beberapa saat berpikir, lagi pula keputusan Dara terlihat sudah sangat bulat. “Terima kasih, Pak,” ucap Dara. “Tapi kamu baik-baik saja, kan, Dara?” tanya Sean dengan tatapan menelisik ke wajah Dara yang masih pucat. “Aku hanya harus istirahat, karena kehamilanku baru di trimester pertama, jadi agak lemah,” jelas Dara, tidak mungkin dia mengatakan yang sesungguhnya kepada Sean, mengingat apa yang Dr. Silvia jelaskan tentan anestesi yang berdampak bagi janin yang dikandungnya. “Okey, jika ada apa-apa, jangan lupa kabarin aku,” pesan Sean, setelah itu Dara pun berpamitan kepada bosnya. Tepat, saat Dara hendak keluar dari ruangan Sean, dia berpapasan dengan Rania. Kedua wanita cantik itu sama-sama terkejut karena membuka pintu secara bersamaan hingga nyaris bertabrakan. Dara dan Rania tertegun untuk beberapa saat, sampai akhirnya Dara memberikan jalan agar Rania bisa lebih dulu masuk. Raut wajah Dara tetap datar dengan tatapan dingin, setelah Rania masuk dia bergegas untuk pergi dari tempat itu. Namun, seperti yang sudah-sudah, Rania seolah tidak ingin melepaskan Dara begitu saja. “Kamu kembali untuk merayu Kak Sean?” celetuk Rania seraya berbalik badan dan menatap punggung Dara yang hampir berlalu. Sontak, langkah Dara terhenti, lantas dia menghela napas kasar tanpa mengatakan sepatah kata pun. “Langit belum cukup untukmu? Apa memang orang tuamu mengajarkanmu untuk merayu pria-pria kaya?” cerocos Rania lebih kasar lagi, seolah tak puas jika tak memprovokasi Dara. Dara setengah menoleh, lalu dia tersenyum sinis dan berkata, “Kenapa merasa kalah saing dariku? Karena di sekitarku pria-pria kaya?” Raut wajah Rania yang penuh kemenangan pada awalnya, kini berubah drastis. Sudut bibir yang tadinya berkembang, kini menciut dan hampir mengerucut. “Setidaknya, aku tidak menggunakan hal licik untuk merebut hati pria-pria kaya di sekitarku, melainkan mereka terpikat karena pesonaku, Rania. Lagipula, aku bukan wanita yang menjebak pria beristri dengan obat perangsang, seperti yang seseorang lakukan kepada suamiku,” balas Dara, dengan nada santai tetapi benar-benar berhasil menyalakan amarah Rania. “Kurang ajar!” geram Rania, dia mengepalkan tangan seraya menghentakkan kaki ke lantai. “Sudah cukup, Rania!” Sean yang tadinya hanya diam menyaksikan, merasa terganggu dengan sikap kerabatnya itu. Kali ini, Rania sudah keterlaluan. “Nona Dara, silakan lanjutkan rencana Anda!” Kali ini Sean mengalihkan perhatiannya pada Dara. Gadis bertubuh tinggi semampai itu berbalik dan berpamitan untuk kedua kali kepada mantan bosnya. Kali ini, dia benar-benar pergi dan melanjutkan rencana seperti yang Sean katakan. “Kak Sean ini kenapa terkesan membelanya?” protes Rania lalu duduk di sofa tanpa menunggu izin Sean. “Apa kamu selalu seperti ini, Rania? Itu keterlaluan, tahu, enggak?” sembur Sean. “Niadara yang keterlaluan kepadaku, Kak. Dia merebut calon suamiku di hari pernikahan kami, dia mempermalukanku dan keluargaku, harusnya Kak Sean lebih membelaku, kenapa, sih? Jangan-jangan Kak Sean suka sama dia? Iya?” cerocos Rania menerka-nerka apa yang Sean rasakan. “Memangnya untuk menyukai seseorang, aku harus mendapatkan izinmu?!” sanggah Sean, dia merasa tidak memiliki kewajiban untuk menjelaskan perasaannya. “Lagi pula, Nona Dara datang ke sini bukan untuk merayuku seperti yang kamu tuduhkan, dia hanya datang untuk menyerahkan surat pengunduran dirinya,” jelas Sean, sebab dia juga tidak ingin Rania terus berpikir buruk tentang Dara. “Hah, serius?” tanya Rania, setengah tak percaya. Lalu, Sean menunjukkan surat pengunduran diri dari Dara, sambil memberikan isyarat kepada Rania untuk membaca itu. Rania mengambil kertas tersebut dan membacanya untuk memastikan, lalu dia berkata, “Apa alasan dia mengundurkan diri, Kak?” “Dara hamil,” jawab Sean, tanpa pikir panjang. “Apa?!” teriak Rania, matanya membeliak dengan ekspresi terkejut bukan main. Lalu, dia bangkit dari duduk dan terlihat begitu gelisah. “Enggak, enggak mungkin! Enggak boleh,” racaunya kemudian. Sean melihat Rania tampak kacau, lekas dia menghampiri sepupunya dan mencoba menenangkan wanita cantik bersetelan mahal itu. “Rania sadarlah! Kamu kenapa?” Sean berkata seraya merangkul dan sedikit mengguncang bahu Rania. “Dara enggak boleh hamil, Kak! Dara enggak boleh hamil!” ujarnya. “Sadarlah! Langit sudah bukan milikmu!” bentak Sean. Tatapan Rania tampak kosong, lekas dia menepis cengkeraman tangan Sean dari bahunya, lalu dia berbalik dan pergi begitu saja dengan keadaan kacau-balau. “Rania!” panggil Sean. Akan tetapi, Rania tak mengindahkan, dia terus berlari mengejar Dara. *** “Sudah kubilang, enggak usah repot-repot jemput, aku bisa naik taksi,” ujar Dara pada suaminya yang perlahan berusaha menjadi suami yang baik untuknya. Dara memperlambat langkah ketika mendapati pria berlesung pipi itu sudah menunggunya. Langit menunggunya cukup lama, dia berdiri dengan penuh pesona seraya menyandarkan diri di badan mobil kesayangannya. “Lebih aman kalau sama aku,” jawab Langit, lantas membukakan pintu untuk Dara. “Kenapa seorang CEO harus repot-repot datang menjemput istri penggantinya?” sindir Dara. “Sudahlah, jangan banyak komentar, manfaatkan saja selagi aku berbaik hati,” sahut Langit. Dara melenggang lalu tersenyum tipis, dia menghampiri Langit yang menyambutnya dengan perlakuan lebih baik. Namun, saat Dara hendak masuk ke mobil suaminya, tiba-tiba sebuah teriakan mengusik wanita cantik itu. Sontak, dia menoleh ke belakang. “Rania?!” Dara terkejut saat melihat Rania berlari ke arahnya dengan wajah penuh amarah. “Dara, anak siapa yang ada di dalam kandunganmu?! Itu bukan anak Langit, kan? Jelaskan kepadaku!” Rania tiba-tiba memborbardir Dara dengan pertanyaan mengerikan. “Tutup mulutmu, Rania!” sentak Langit, “apa yang kamu katakan sudah keterlaluan!” Langit mencoba menghalau kegilaan mantan tunangannya yang terus saja menunjukkan kebencian terhadap istrinya. “Kamu jangan mau dibodohi, Langit. Dara itu jalang yang menggoda banyak pria kaya! Apa kamu yakin janinnya itu milikmu?! Atau kamu yakin Dara tidak sedang menjebakmu?!” cerocos Rania. Dara cukup terheran-heran dengan ocehan Rania yang tak masuk akal, dia tahu Rania membencinya. Namun, ocehannya kali ini cukup memuakkan, apalagi dia mengatakan hal buruk itu di depan banyak orang yang bergantian keluar untuk makan siang. “Aku tidak dibodohi! Dia istriku, dan bayi dalam kandungannya adalah anakku! Paham, kamu?! Jangan usik kami lagi!” sentak Langit, lalu berbalik dan meminta Dara untuk masuk mobil. “Kamu akan tahu kebenarannya, dan setelah itu kamu akan menyesal dan bersujud di hadapanku, Langit!” teriak Rania. “Jangan mimpi!” pungkas Langit, dia pun masuk ke mobil dan meninggalkan Rania yang mulai gila karenanya. Langit menyalakan mobil dengan tergesa dan melajukan mobilnya. Di luar sana, Rania terus berteriak tak jelas dan mengejar mobil yang Langit kendarai. “Sepertinya dia sangat mencintaimu, Kak,” komentar Dara seraya menoleh dan menyaksikan tingkah gila Rania. Langit melirik sekilas ke arah Dara, dia tidak menjawab itu dan memilih kembali fokus ke jalanan. “Kenapa kamu begitu yakin dan tidak terpengaruh kata-katanya, Kak. Bukannya kamu sangat mencintai Rania? Bagaimana jika aku memang menipumu?” oceh Dara, seolah sengaja memancing Langit yang sedari tadi terdiam dan hanya fokus mengemudi. Langit sedikit syok dengan ocehan istrinya, dia menginjak rem dengan tiba-tiba yang membuat mobil berhenti mendadak. “Hanya aku yang tahu jawabannya! Bukan orang lain,” jawab Langit. “Hah?!” Bersambung ….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN