Langit tak menjelaskan apa pun, dia kembali melajukan mobil dengan perlahan. Hingga tak lama kemudian, mereka sampai di rumah mewah bergaya modern itu. Langit memastikan Dara beristirahat di rumah sebelum kembali ke kantor.
“Jika butuh apa-apa, telepon aku aja, ya,” ucap Langit sebelum dia pergi dari kamar.
Dara menarik selimut dan mengangguk, lalu dia berkata tepat saat langit hendak menutup pintu kamar.
“Jangan temui wanita licik itu lagi!”
Langit tertegun untuk beberapa saat, awalnya dia tidak mengerti siapa wanita licik yang Dara maksud.
“Maksudmu Rania?” tanya Langit seraya membuka pintu dan menatap Dara untuk beberapa saat.
“Iya, siapa lagi,” jawab Dara ketus.
“Kenapa aku tidak boleh menemuinya? Apa kamu cemburu?” celetuk Langit, langsung pada inti keingintahuannya.
“Kak Langit sudah tahu jawabannya tanpa harus kukatakan, lagipula kamu sudah berjanji padaku untuk bertanggung jawab dengan kehidupanku dan bayi kita. Termasuk setia kepadaku,” lontar Dara, wajahnya yang ceria berubah menjadi serius dan penuh penekanan.
Dara tidak ingin lagi ada drama di antara keduanya, hingga drama tidak mengakui buah cinta dan nyaris melenyapkannya. Itu tidak adil baginya, karena mereka menikmati malam panas itu berdua, kenapa hasil dari itu harus dibuang begitu saja. Untunglah Langit sadar lebih cepat, walau karena kejadian itu kehamilan Dara begitu berisiko.
“Maafkan aku, aku akan berusaha menebus semampuku, walau sakit yang kamu rasakan tidak akan tertawar begitu saja karena penyesalanku,” balas Langit, wajah tampannya menciut dia benar-benar menyesal.
Dara menyingkap selimut dan mengubah posisinya menjadi setengah terduduk.
“Kalau begitu, minta maaf kepadanya juga,” tukas Dara seraya mengelus perutnya yang masih rata.
Langit tersenyum manis, tanpa berkata apa-apa perlahan pria itu menghampiri ranjang istrinya dan duduk di tepi kasur queen size itu. Langit mengelus perut kencang istri cantiknya di balik kemeja putih yang tipis.
“Maafkan Papi, ya, Sayang, Papi emosi waktu itu karena banyak hal yang mengganggu. Mulai sekarang, Papi akan berusaha menjagamu dan Mamimu,” tutut Langit.
“Papi jahat, padahal malam itu papi yang semangat, hingga Mami mengandungku,” jawab Dara, dia meniru suara anak kecil berlakon seolah seorang bayi yang merespons perkataan sang ayah.
Langit tersenyum geli, lalu menunduk dan mencium perut Dara. Tubuh Dara sedikit terhentak, tindakan pria itu di luar dugaannya. Ada rasa senang dan tak percaya, kini Langit mulai menerimanya sebagai pasangan, bukan sebagai teman masa kecil yang merepotkan.
Menghirup aroma tubuh Dara yang lembut, membuat Langit merasa tenang, hingga pusing dan mual yang masih selalu datang seolah lenyap tak bersisa.
“Jadi ini obatnya?” ucap Langit, lirih, tiba-tiba dadanya berdesir hingga mengguncang detak jantung hingga di luar batas normal.
Aroma lembut dari esensial yang Dara gunakan setiap mandi, membuat Langit merasa enggan untuk beranjak darinya. Dara mengelus pucuk kepala Langit begitu saja membuat Langit semakin nyaman dalam posisi seperti itu.
“Enggak ngantor lagi?” tanya Dara.
“Kasih aku waktu lima menit,” jawab Langit.
“Apa kamu mulai jatuh cinta kepadaku? Apa boleh aku berharap kalau kontrak itu kita sudahi saja? Boleh enggak aku sekurang ajar ini? Karena jujur, aku ingin hidup bahagia denganmu, Kak,” ungkap Dara, dia tak ingin merusak suasana, tetapi Dara merasa jika kini momen yang tepat untuk mengatakan hal itu.
Langit mendongak, lalu menatap ke dalam mata cantik Dara, perlahan dia bangkit dari posisinya tanpa melepaskan tatapan itu.
“Kenapa kamu ingin hidup bersamaku? Aku ini hanya CEO sementara di PC, saat Pangeran pulang, dia akan segera menggantikanku, dan mungkin–”
“Mungkin apa? Mungkin kamu akan pergi dari PC dan pergi ke perusahaan lain?” terka Dara, “Kak Langit pikir, aku mau menikahimu karena hanya sebatas itu? Apa kamu benar-benar enggak ngerti?” cerocos Dara melanjutkan perkataannya.
“Bukan seperti itu, hanya saja, aku merasa tidak pantas menjadi suamimu. Kamu berhak mendapatkan yang lebih baik, kamu jelas kerabat Tante Mia, tapi memilih bekerja di perusahaan lain. Kamu memiliki jati diri, kamu perempuan mahal. Sementara aku hanya anak sambung cucu angkat almarhum Kakek, kan? Aku hanya ingin–”
“Kenapa? Siapa yang berkata buruk tentangmu, Kak? Ada yang mengganggumu? Memangnya kenapa kalau kamu bukan cucu kandung Kakek Galih?” Dara tidak menyangka, manusia sesempurna Langit, masih memiliki rasa tidak percaya diri.
Pria berlesung pipi itu terkekeh mendapati reaksi istrinya begitu sentimental setelah dia mengungkapkan kekhawatirannya. Benar, dia takut ditinggalkan, karena memang bukan siapa-siapa. Meski dedikasinya begitu sempurna untuk perusahaan, tetapi dirinya tetaplah pengganti. Suatu saat, jika pemilik asli datang, mau tidak mau Langit harus hengkang.
“Kak! Malah bengong,” sentak Dara.
“Sudah, jangan terlalu dipikirkan, gimana nanti saja,” jawab Langit ambigu, dia mengacak rambut Dara dan mengecupnya dengan lembut.
Dara yang tadinya bergejolak, seketika menjadi tenang.
“Tiba-tiba saja? Kamu mengecupku?” tanya Dara, lalu mengusap bekas bibir sang suami di pucuk kepalanya.
“Kenapa? Enggak boleh?” tanya Langit.
“Eh, boleh, kok, yang sering aja, enggak apa-apa. Aku malah seneng,” jawab Dara dengan begitu jujur.
Tak ada yang harus ditutupi, seluruh dunia sudah tahu sejak kecil Dara begitu mencintai Langit. Walau Langit berpura-pura tak tahu. Setelah obrolan kecil itu, Langit berpamitan untuk kembali ke kantor. Dia bahkan melewatkan makan siang, karena terlalu fokus kepada istrinya.
Setibanya di kantor, Langit pun bergegas menuju ruangan CEO yang begitu mewah dan nyaman. Singgasana yang sesuai dengan beban yang dipikulnya. Saat tiba di ruangan bergaya modis itu, Langit terkejut, dirinya melihat sang ibu sudah berada di sana, menunggu kedatangannya.
“Mama.” Langit menghampiri Nanas yang membawakan makan siang untuknya.
“Kenapa repot-repot?” tanya Langit, lantas duduk di hadapan Nanas dengan wajah ceria dan senyum yang selalu terkembang, tak seperti biasanya.
Nanas menatap putranya, menelisik wajah tampan yang dia wariskan nyaris identik, hanya berbeda gender saja.
“Kamu sedang bahagia?” celetuk Nanas, lalu membuka kotak makan siang untuk disuguhkan pada Langit.
“Enggak, aku cuma–
“Lang, kudengar Dara hamil? Bukankah sudah kuperingatkan kamu agar menahan diri?” sela Nanas.
Langit yang hendak menyendok nasi, seketika terhenti ketika mendengar apa yang ibunya tanyakan. Langit, meletakkan sendok ke tempat semula, lalu melempar tatapan tajamnya ke arah sang ibu. Senyumnya menghilang seketika itu pula.
“Ya, dia hamil bayiku,” jawab Langit.
“Harus kukatakan berapa kali, kamu selalu mengulur waktu untuk mengakhiri kontrak dengannya. Hingga semua ini terjadi, seandainya sejak awal kamu mendengarkan Mama, semua tidak akan serumit ini, Langit,” omel Nanas.
Langit mengembuskan napas kasar, “Ma, aku men–”
“Jangan terlalu serakah, kamu harus tahu diri, Langit Atlanka! Kita ini hanya tamu di keluarga Pradipta, kamu ada di posisi sekarang, hanya karena belas kasihan dari Pangeran, kamu harus ingat, kamu bukan siapa-siapa. Kita bukan siapa-siapa,” cerocos Nanas, dia tak membiarkan Langit menjelaskan. Satu kata yang Langit lontarkan, seolah menjadi pancingan kalimat-kalimat pedas yang dia utarakan.
“Aku paham, Ma! Lagipula, kenapa Mama menyetujui pernikahan kami, jika Mama akan terus bersikap seperti ini padaku?” Langit mencoba bertanya pada ibunya, karena dia merasa ini semua tidak adil untuknya dan Dara.
“Sebab akan lebih memalukan jika semua orang tahu kalau kamu batal menikah,” jawab Nanas.
Langit mengempaskan punggung bidangnya ke sandaran sofa. Seleranya untuk makan menghilang seketika. ‘CEO benalu’ julukan itu melekat untuk dirinya, itu yang membuatnya mengerti tentang kekhawatiran Nanas.
“Jika kalian sudah memutuskan untuk melahirkan anak itu, pisahlah setelah anak itu lahir. Kamu jangan khawatir tentang anakmu, dia tidak akan terlantar seperti kita, saat dulu,” pesan Nanas, penuh penekanan, membuat d**a Langit seketika menjadi sesak.
Padahal, baru saja dia berniat untuk melepaskan semua perasaan yang selama ini tertahan. Lima belas tahun, bukan waktu yang sebentar. Cinta pertama yang orang katakan begitu indah, tidak bagi Langit, dia harus menahan itu dan membiarkan gadis yang dia cintai dicintai pria lain. Sampai akhirnya, keduanya disatukan dalam bahtera pernikahan, tetapi Langit harus tetap menahan rasa itu–rasa yang sesungguhnya tidak pernah berubah sama sekali. Meskipun Langit sudah mencoba berlabuh di hati wanita lain, tetap saja cintanya untuk Dara masih dalam ukuran yang sama, hanya saja dia menimbun itu selama ini.
“Ma, aku tidak akan menceraikan Dara, aku akan tetap bersamanya apa pun yang terjadi. Tolong, kasih kesempatan untukku mengambil keputusan! Aku ber–”
Plak!
Bersambung ….