Plak!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Langit. Begitu saja. Baru kali ini dia membantah perkataan sang ibu, tidak seperti biasanya. Namun, dia rasa keputusannya kali ini tidak keliru, bukankah setiap orang berhak memperjuangkan cintanya. Langit mengusap pipi yang terasa panas dan perih, dia menatap Nanas dengan berani dan penuh keyakinan.
“Tampar lagi, Ma!” ucap Langit, menantang ibunya untuk kembali memukul wajah tampannya itu.
Nanas geram, dia tidak mengerti kenapa anaknya berubah menjadi pembangkang. Wanita itu kembali mengangkat tangan, bersiap untuk melayangkan kembali tamparannya. Namun, seketika itu terhenti, sebab walau bagaimana Langit tetap putranya.
“Kamu benar-benar kurang ajar, Langit!” sentak Nanas.
“Aku enggak peduli perkataan orang, aku berada di sini, karena aku mampu, bukan karena belas kasihan Pangeran. Jadi, walau seribu kali Mama menamparku, aku akan tetap bersama Dara,” sahut Langit dengan penuh percaya diri.
“Apa yang mengubahmu, Langit? Kenapa kamu jadi seperti ini, apa kamu pikir dunia akan mentolerir apa yang kamu lakukan? Kamu akan tetap sekurang ajar itu. Apa kamu tidak mengerti?” balas Nanas masih mencoba menyadarkan putranya.
“Memangnya kenapa aku harus peduli dengan pemikiran orang lain, Ma?” sanggah Langit.
“Karena kamu masih menumpang hidup di dunia orang lain, Langit!” sentak Nanas, nada suaranya terdengar gemetar, penuh kekhawatiran.
“Tidak masalah, aku bekerja bersungguh-sungguh, aku tidak berniat merugikan mereka. Kurasa, pemikiran Mama yang terlalu buruk terhadap keluarga Pradipta,” jelas Langit.
Bukan tanpa alasan dia berbicara seperti itu kepada sang ibu, sudah terlalu lama dia hanya tunduk dan menuruti kemauannya. Tahu diri, tahan diri, selalu saja seperti itu. Padahal, Langit tidak pernah bersikap kurang ajar, dan posisinya saat ini cukup pantas. Namun, tidak bagi Nanas, kekhawatiran terus menyelimuti pikirannya. Dia tidak ingin Langit terbuang seperti saat dulu. Masa lalu keduanya memang begitu pahit, sampai keduanya bertemu dengan Samudra dan menjalani hidup lebih baik. Maka dari itu, Nanas selalu berusaha mengendalikan diri, agar dirinya dan Langit tak mengecewakan.
“Cukup katakan ‘ya’ saat aku memberitahumu, Langit. Pikirkan baik-baik, sebelum semuanya menjadi kekeliruan,” jawab Nanas, penuh penekanan.
Jelas, hal itu membuat Langit kembali merasa gamang saat doktrin sang ibu menjejalinya. Senyum ceria itu kembali musnah dari wajah tampannya, dia ingin berpikir jika ibunya salah paham, tetapi situasinya memang rumit seperti sekarang.
Nanas meninggalkan putranya yang masih termangu, sudut matanya berair menandakan jika dia pun berat saat berkata seperti itu. Namun, tidak ada pilihan lain baginya, Langit harus membuat keputusan secepat mungkin, agar bisa menemukan jati diri seperti yang dia katakan pada sang istri.
Langit merapikan kotak makan siang yang dibawakan ibunya, lantas dia beranjak menuju meja kerja. Perlahan, langit duduk di kursi mewah yang merupakan sebuah beban baginya. Pria tampan berkacamata itu mengembuskan napas berat, lalu membuka laci meja dan mengeluarkan sebuah amplop putih bertuliskan ‘surat pengunduran diri’. Sudah lama Langit menyimpan benda itu di sana. Namun, dia masih memikirkan kapan waktu yang tepat untuk menyerahkan itu kepada Andra.
“Bukan aku tidak tahu berterima kasih, tetapi jika harus merelakan Dara untuk ke sekian kali, rasanya aku tidak akan sanggup,” ucap Langit, lirih. Kemudian, dia meletakkan kembali surat itu ke dalam laci dan menutupnya dengan binder bersampul hitam dengan ukiran namanya.
Ingatan Langit kembali ke masa di mana dia, Dara, dan Pangeran masih remaja. Berulang kali Dara menyatakan cinta kepadanya, tetapi dia hanya membalas itu dengan senyum ambigu. Hingga Dara pun merajuk dan tak mengacuhkannya untuk beberapa waktu. Bahkan, untuk membuatnya cemburu, Dara berkencan dengan teman satu tingkatnya. Benar, pria itu adalah Dion. Mengingat nama Dion, Langit jadi teringat sesuatu, skandal malam panas yang hampir saja terjadi kepadanya dan Rania di pesta Dion. Langit buru-buru mengambil ponsel dan meneleponnya.
“Hai, Bro!” Beruntung, tak perlu menunggu lama, Dion langsung menjawab panggilannya.
“Kamu sibuk?” tanya Langit.
“Kenapa bertanya?” sahut Dion.
“Ada yang ingin kubicarakan denganmu, bisa kita bertemu?” tanya Langit dengan nada gusar.
Di balik telepon, Dion terkekeh, lalu dia berkata, “Ada angin apa CEO sukses ini ingin menemuiku?”
Pertanyaan tersebut terdengar seperti ejekan bagi Langit, tetapi dia berusaha untuk tetap tenang. Memang, semenjak tahu jika Langit menikah dengan Dara, sikap Dion berubah. Dia jadi lebih sering menyindir Langit dengan berbagai kalimat sarkastik.
“Penting!” jawab Langit ketus, yang artinya dia tidak sedang ingin bergurau untuk saat ini.
“Okey, datang saja ke kafe biasa,” sahut Dion, lagi-lagi terdengar malas.
Langit juga sama malasnya, tetapi untuk saat ini dia tidak memiliki pilihan. Selain bertanggung jawab kepada istrinya, Langit juga harus tahu yang sebenarnya–terjadi di malam pesta itu. Sebab, dia tak ingat apa pun, selain terbangun di pagi hari usai memadu cinta dengan Dara.
***
Usai bekerja, Langit pun mampir ke kafe tempat biasa berkumpul dengan teman semasa kuliahnya dulu.
Sial, lagi-lagi Dion mengundang Rania ke tempat itu. Kali ini ada yang berbeda, Rania tampak mesra saat berinteraksi dengan Dion. Langit mengerutkan dahi ketika melihat pemandangan tak biasa itu. Namun, tidak ada alasan untuk membatalkan pertemuan.
Langit berdeham saat hampir sampai di meja, lalu dia menarik satu kursi dan duduk bersebrangan dengan sejoli itu.
“Kenapa kamu mengundang orang lain?” tanya Langit dengan nada ketus dan wajah datar.
Dion menoleh ke kanan dan kiri seolah mencari seseorang, setelah mendengar pertanyaan Langit.
“Orang lain, siapa? Kenapa aku tidak melihat orang lain di sini?” jawab Dion, dengan raut wajah menyebalkan.
Langit tersenyum sinis, tanpa menjelaskan apa pun.
“Oh, maksudmu Rania? Dia orang lain menurutmu? Tenang, Lang, dia bukan orang lain, karena sekarang dia adalah calon istriku.” Penjelasan yang Dion lontarkan membuat Langit terhenyak.
Bagaimana tidak? Baru kemarin Rania merengek merasa dicampakkan, tetapi kini sudah menjadi calon istri seseorang. Lantas, Langit mengangguk seolah percaya dengan apa yang dikatakan Dion.
“Selamat untuk kalian berdua,” ucap Langit, seraya tersenyum simpul.
“Jadi, kita impas bukan, kamu menikahi mantan pacarku, dan aku akan menikahi mantan tunangan yang kamu tinggalkan,” ujar Dion.
“Lalu, apa yang ingin kamu bicarakan?” tanya Dion pada akhirnya.
Langit lantas mengubah posisi duduknya agar lebih tegak, sementara Rania hanya menatapnya dengan penuh sirat. Langit melirik ke arah wanita itu, Dion menangkap basah hal tersebut, lalu buru-buru merangkul wanitanya.
“Apa yang terjadi malam itu? Kenapa aku tidak mengingat apa-apa setelah minum jus di party-mu?” tanya Langit penuh selidik.
“Kenapa kamu bertanya kepadaku? Bukankah harusnya kamu menanyakan itu kepada Niadara?” sahut Dion, seolah memutarbalikkan fakta jika Daralah yang dalang di balik semua kejadian itu.
“Benar, Lang, bukankah Dara memiliki cukup alasan untuk melakukannya? Dia naksir kamu sejak muda, dan tiba-tiba jadi istrimu, mana mungkin bisa melepasmu begitu saja? Kenapa kamu justru bertanya kepada calon suamiku?” Rania ikut merecoki pembicaraan di antara kedua pria yang bersamanya.
“Seperti yang kalian kenal, Dara bukan orang yang bisa berbuat licik–”
“Kata siapa? Buktinya dia berkencan denganku, hanya untuk membuatmu cemburu, Bro! Kamu pikir itu bukan perbuatan licik?” tepis Dion.
“Apa? Benarkah?” Rania seolah mengompori amarah Dion terhadap Langit dan Dara.
“Cukup! Itu masa lalu!” sentak Langit tak terima.
“Kalau kamu begitu mempercayai istrimu? Untuk apa kamu repot-repot datang menemuiku? Hah!”
Degh!
Bersambung….