BAB 13. CELAH KEHANCURAN

1014 Kata
Langit terhenyak setelah mendengar jawaban Dion, hatinya merasa tertampar hingga membuatnya tersadar. “Iya, ya, lagi pula di antara kalian bertiga hanya Dara yang waras, kenapa aku sampai datang ke sini dan berharap sebuah penjelasan bijak dari orang yang jelas-jelas tidak mampu melakukannya,” sarkas Langit, salah satu sudut bibirnya melebar. Mendengar ucapan Langit yang seperti itu, Dion pun naik pitam, dengan sekuat tenaga pria beralis tebal itu menggebrak meja. “Kurang ajar kamu! Berani-beraninya kamu menyindirku seperti itu!” sentaknya, matanya membeliak seakan-akan lepas dari kelopaknya. Kali ini, Langit terkekeh melihat emosi Dion, dia tahu pasti jawaban sebenarnya, jika Dara bukan pelaku yang membuatnya kalap waktu itu. “Tapi, siapa pun yang melakukannya kepadaku, aku tetap berterima kasih, setidaknya aku bisa melewati malam indah dengan istriku, dan jadi yang pertama untuknya,” oceh Langit, seperti dengan sengaja memprovokasi Dion dan Rania. “Aku tahu, Dara bukan wanita rendah yang menyerahkan kesuciannya kepada sembarang orang, termasuk ‘mantan’,” ucap Langit melanjutkan, dengan sedikit penekanan dalam kata terakhirnya, bola matanya melirik Dion dan Rania secara bergantian, seolah menegaskan sindiran terhadap keduanya. “Naif banget kamu, Lang! Zaman segini, masih mementingkan keperawanan, memangnya kamu bisa jamin, keperawanan yang Dara kasih ke kamu, bisa bikin rumah tangga kalian baik-baik saja kedepannya?” sanggah Rania, dia merasa tersinggung dengan komentar Langit tentang kesucian. “Bukan tentang naif atau tidak naif, hanya saja manusia itu harus memiliki prinsip hidup!” sahut Langit dengan nada tegas, “ketika sudah memutuskan untuk berkomitmen dengan satu orang, jangan membentuk hubungan dengan orang lain, atau selesaikan hubungan masa lalu. Dengan begitu setidaknya aku tahu, mana yang layak dan tidak layak kuperjuangkan.” Rania tertawa kecil, dia mengarahkan tatapannya ke arah Langit, lantas dia berkata, “kurasa kamu terlalu sentimental, Lang. Aku dan Arga hanya bertemu untuk terakhir kali, itu hanya untuk menjaga silaturahmi.” “Silaturahmi tidak harus di hotel, Rania!” sanggah Langit, tentu saja logikanya tidak akan menerima penjelasan apa pun dari wanita itu. “Tapi, aku sudah tidak peduli lagi dengan hal itu, yang harusnya kamu beri pengertian bukan ak, tetapi calon suamimu!” pungkas Langit, seraya menatap Dion dan tersenyum sinis. Langit bangkit dari duduk, sebelum pulang langit menaruh uang merah dua lembar di atas meja. “Terima kasih untuk waktu kalian, biarkan aku mentraktir calon suami-istri, itung-itung ucapan selamat.” Setelah mengatakan hal itu, Langit pun beranjak dari posisinya, dia pergi begitu saja tanpa menoleh lagi. “Haish! Sialan, kenapa dia tidak terpengaruh, sih,” geram Rania, lalu meninju meja kafe dengan kesal. “Harusnya kamu tidak terbawa emosi tadi tuh!” Rania mulai menyalahkan Dion yang di detik terakhir, pria itu lebih banyak tutup mulut. Dion memijat kening yang terasa berat, dia mengembuskan napas berat, kemudian menatap Rania. “Apa ini tidak berlebihan? Kulihat Langit tidak terpengaruh dengan hubungan sandiwara kita?” celetuk Dion, dia berpikir Langit bukanlah pria yang mudah diluluhkan dengan cara murahan seperti itu. Pria itu pun merasa bingung. Akan tetapi, setelah sejenak termenung dan mengingat-ingat apa yang Langit katakan beberapa saat tadi, tiba-tiba Dion tersenyum lebar, lalu dia tertawa seperti orang gila. Rania yang sedang pusing sontak terkejut dengan tawa Dion, dia pun memukul lengan pria di sampingnya seraya mengumpat. “Dasar gila!” umpat Rania bengis. “Apa kamu tidak terpikirkan sesuatu, Rania?” tanya Dion dengan raut wajah semringah dan senyum lebar. “Apa?” tanya Rania kesal dan juga penasaran. “Tadi saat Langit ngoceh tentang kesucian, terus tentang malam indahnya bersama Dara, berarti itu artinya malam saat dia minum obat perangsang adalah malam pertama dengan Dara? Bukankah itu mencurigakan?” papar Dion. Sial, dia cukup tanggap untuk hal-hal seperti itu. Celah yang berusaha Langit bentengi dengan sikap arogan dan dingin, harus ditemukan oleh orang-orang kurang waras seperti Dion dan Rania. “Maksudnya?” tanya Rania, masih belum mengerti apa yang Dion bicarakan. “Dasar bodoh! Pas dia nikah itu tepat dengan party ultah gue yang ke 32, kan? Nah, kemarin dia datang pas party yang ke 33, artinya setahun bersama mereka tidak melakukan hubungan badan? Apa itu tidak aneh?” jelas Dion. Rania menyeringai, dia baru memahami apa yang Dion maksud, “Artinya selama ini pernikahan mereka hanya kedok?” “Jelas, kita harus bisa mengungkap semua ini, jika kita berhasil, Langit dan Dara akan hancur sehancur-hancurnya, kamu tahu, kan, kalau keluarga Pradipta terkenal dengan bersih dari skandalnya. Nah, kita berdua, bisa menghancurkan klaim itu dengan mengungkapkan rahasia mereka. Bagaimana menurutmu?” tutur Dion, dia cukup jeli tentang mengusik hidup orang lain. Rania mengangkat tangan memberi kode kepada Dion untuk melakukan high five, yang artinya dia sangat setuju dengan ide cemerlang yang Dion utarakan. Keduanya pun tertawa seolah melihat kemenangan di depan mata mereka. *** Sementara itu, di rumah Dara merasa perutnya melilit bukan main, segelas s**u hangat yang sedang dalam genggaman pun seketika jatuh ke lantai. “Akh!” erangnya, lalu meremas perut yang tiba-tiba saja merasakan kram yang sakitnya begitu hebat. Dara hendak menjangkau ponsel yang terletak di meja, tetapi cukup kesulitan. Susah payah dirinya berjalan ke arah meja makan itu. Perlahan Dara pun duduk di kursi, saat posisi seperti itu sakitnya justru semakin menjadi-jadi. Dara meraung saking tak bisa menahan rasanya. Setelah sedikit mereda, Dara berusaha menghubungi Langit, untunglah suaminya itu sudah berada di depan rumah dan baru saja memarkirkan mobilnya. “Kenapa? Apa kamu begitu merindukanku?” tanya Langit saat menjawab panggilan dari sang istri. “Sakit, Kak!” teriak Dara. “Apa yang sakit?” Langit pun panik bukan main, sejurus dia berlari menuju rumah. “Dara!” teriak Langit memanggil sang istri yang sedang mengerang di dekat meja makan. “Kak, perutku sakit,” keluh Dara, disertai isak tangis. Langit menghambur ke arah Dara dan buru-buru menggendongnya untuk membawanya ke rumah sakit. “Maafkan aku,” ucap Langit. Dara tidak menjawab, hanya memeluk erat leher suaminya, menunjukkan jika dirinya tak memiliki energi untuk mendengarkan kata maaf dari pria tampan itu. Langit berlari menuju mobil, selain itu dia juga menelepon mertuanya karena kondisi Dara terlihat memprihatinkan. “Dara bertahanlah,” ucap Langit. Lekas, dia mengendarai mobil dengan ugal-ugalan. “Kumohon, bertahanlah.” Bersambung…..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN