BAB 14. BUCIN

1116 Kata
Bab 14 “Dokter, tolong, tolong istri saya!” Sesampainya di rumah sakit, Langit menggendong Dara dengan raut wajah panik, dia berlari ke UGD seraya berteriak meminta pertolongan pada petugas kesehatan yang berjaga di Instalasi Gawat Darurat. Beberapa orang berseragam putih menghampirinya dengan tergesa sambil mendorong brankar. “Baringkan di sini, Pak!” pinta salah seorang perawat itu. Langit pun membaringkan tubuh istrinya dengan perlahan, petugas pun segera membawa Dara untuk menjalani tindakan. “Dia sedang hamil, perutnya sakit,” ungkap Langit, dengan nada tertahan karena emosi yang menerjal di tenggorokan seolah menghalangi kata-kata yang hendak keluar. “Baik, apa ada catatan medis istrinya, Pak?” tanya salah satu perawat tersebut. “Enggak ada!” sahut Dara. Padahal jelas-jelas ada, tetapi Dara tidak ingin orang lain tahu tentang kebenaran itu. Dia tidak ingin membuat Langit merasa terpojok karena hal tersebut. Langit melirik ke arah Dara, sedikit terkejut dengan jawaban itu. Bahkan, dalam kondisi saat ini, wanita itu masih memikirkannya. “Kalau begitu, Bapak isi administrasi dulu, biar kami periksa istrinya, ya, Pak,” ucapnya dengan nada lembut dan ramah. Langit pun setuju, tetapi sebelum pergi ke ruang administrasi, Langit menghampiri terlebih dulu, sekadar untuk membelainya tanpa berkata-kata. Langit duduk di meja dengan seorang perawat di hadapannya. Dia mengambil sebuah pulpen dengan tangan gemetar, lantas mulai menuliskan semua informasi tentang Dara. “Ada KTP pasien, Pak?” tanya perawat yang membersamainya. “Enggak ada, saya lupa bawa, tapi saya ingat semuanya,” jawab Langit. “No identitasnya ingat?” tanya wanita berbaju putih itu. “Iya.” Langit dengan yakin menjawab pertanyaan itu disertai anggukan kecil. Wanita itu tersenyum kagum, seorang suami begitu mengenal istrinya dengan baik, hingga nomor identitasnya saja hapal. “Oia, Nurs, Dara … maksud saya istri saya alergi antibiotik, memang tidak semua antibiotik yang tidak ditoleransi tubuhnya, tapi untuk jaga-jaga saya katakan itu,” ungkap Langit. “Baik, Pak, saya akan katakan semua informasi ke dokter yang menangani,” jawabnya. Langit pun setuju dengan itu, lantas dia menunggu dengan tidak tenang di ruang tunggu sampai Dara selesai diperiksa. Tak lama kemudian, Langit pun dipanggil oleh dokter yang menangani istrinya, seorang pria paruh baya itu menatap Langit dengan raut wajah serius. “Bagaimana, Dok? Istri saya baik-baik aja?” tanya Langit cemas. “Semua aman,” jawab dokter tersebut, “ibunya aman, bayinya aman, kramnya sudah diatasi dengan baik. Jangan terlalu dibuat stres ya, Pak, istrinya, sebab itu berisiko. Tapi, Pak Langit yakin, sebelum situasi ini tidak ada tindakan medis yang dilakukan kepada istrinya?” tanya Dokter, sepertinya di mencurigai Langit, karena suatu hal yang tidak dijelaskan kepadanya. “I-ya,” jawab Langit ragu. “Baiklah, saya buatkan resep nanti tolong tebus di bagian farmasi, vitaminnya diminum, saya juga kasih penguat, khawatir kejadian ini terulang. Biarkan istrinya istirahat total, ya, Pak. Saya dengar dari beliau awalnya dia sekertaris di sebuah perusahaan. Mungkin, berhenti bekerja membuatnya stres, Pak Langit usahakan jangan membiarkan istrinya sendirian di rumah. Setidaknya dia ada teman untuk berinteraksi,” tutut pria yang rambutnya setengah plontos itu. “Baik!” *** Sesampainya di rumah, Shounia dan Nanas sudah menunggu kedatangan mereka. Seperti biasa, ibu dan mertuanya panik saat melihat kondisi Dara. Langit yang bersikeras menggendong Dara dari mobil, seketika wajahnya memerah karena malu dipergoki ibu dan mertuanya. “Turunkan aku!” Dara menepuk punggung suaminya beberapa kali, hingga Langit pun terhenyak dan menurunkan Dara. Shounia menahan tawa ketika melihat menantunya malu-malu kucing. “Kenapa kamu?” tanya Shounia kepada putrinya yang kini berjalan perlahan ke arah sofa tempat dia duduk. “Kram, mungkin karena perutku kecil, dia yang di dalam sana membesar,” jawab Dara asal, lantas dia duduk di samping sang ibu. “Istirahat, kalau istirahat tuh jangan cuma badannya yang rebahan, otaknya juga. Nanti, kalau udah waktunya tiba, kamu mau pergi bekerja lagi pun tidak masalah,” sahut Shounia. “Iya, Mami,” jawabnya, seraya tersenyum tipis. “Mama dan Mami pasti sibuk, kenapa repot-repot datang kemari?” tanya Dara seraya menatap ibu dan mertuanya secara bergantian. Alih-alih menjawab, Shounia terkekeh geli, hal itu membuat Dara semakin penasaran apa yang terjadi sebenarnya. “Suamimu nangis-nangis, minta kami datang,” celetuk Nangis, “kayaknya dia sayang banget sama kamu, makanya sampe gak malu lagi nelepon Mami sambil nangis, akhirnya Mami kasih tahu Kak Besan dan datang ke sini bareng-bareng.” Dara melirik ke arah Langit yang sedang tertunduk malu karena mertuanya menceritakan itu. Sebenarnya dia berharap yang datang hanya Shounia, tetapi Nanas terlanjur datang. Dia yakin setelah ini sang ibu akan memberinya petuah tentang tahu diri lagi, seolah dirinya sangat kurang ajar selama ini. “Jangan kasih tahu Papi, ya. Aku enggak apa-apa, kan, kalau dia tahu, aku khawatir dia akan ngundang Dokter dari luar negeri atau menyewa rumah sakit untukku,” ungkap Dara. “Baiklah, jadi apa yang terjadi? Apa kamu terlalu stres? Apa Langit terlalu membuatmu tertekan?” tanya Nanas dengan nada sinis. Memang, semenjak Langit menduduki jabatan sebagai CEO yang diserahkan Pangeran, dia kerap curiga dengan tindakan sang putra, kelembutannya terhadap Langit menghilang. “Enggak, kok, Ma, Kak Langit baik kepadaku. Aku hanya terlalu stres, karena biasa bekerja, tetapi kini harus berdiam diri di rumah,” jelas Dara, lagi-lagi dia membela suaminya seperti seorang wanita yang menjadi b***k cinta. “Baiklah kalau begitu, kalau kamu perlu apa-apa jangan sungkan hubungi kami, selama setahun ini kurasa kalian terlalu memaksa untuk mandiri,” komentar Nanas, sebagai bentuk protes karena Langit tak melapor kepadanya tentang situasi apa pun yang terjadi dalam pernikahan itu. “Sudahlah, Kak Nanas, mereka udah dewasa bisa memilah mana yang benar dan salah, kita enggak perlu terlalu khawatir, mereka pasti bisa mengatasinya,” sergah Shounia. “Lagian, Langit itu pria yang bisa diandalkan.” “Ck! Langit itu putra dari seorang yatim piatu sepertiku, Nia, mana bisa aku lengah mengawasinya. Aku khawatir dia menjadi–” “Ma, maaf Dara menyela, kepribadian itu tidak melulu tentang latar belakang. Tapi, mereka beradaptasi dengan lingkungan dan orang-orang sekitar, nanti kalau Kak Langit udah bikin Dara enggak tahan, orang yang pertama Dara hubungin pasti Mama Nanas,” jelas Dara, dia sedikit kesal saat ibu mertuanya seolah merendahkan Langit. Padahal tidak ada yang peduli dengan masa lalu mereka, karena semua orang sudah tahu semuanya. Namun, kekhawatiran Nanas pun tetap berdasar, sebab masa lalu Langit dan dirinya memang begitu suram sebelum bertemu Samudra dan keluarga Pradipta. Sementara itu, Langit tak berani menjawab ocehan ibunya yang masih tampak kecewa terhadapnya. Namun, sesekali dia bertukar pandang dengan Dara, entah bagaimana bisa wanita yang hendak dia jauhi, selalu membelanya habis-habisan, tak peduli dengan sikap jahatnya beberapa waktu lalu. “Oia, kalian sudah dengar kabar kalau Pangeran akan balik Indonesia?” celetuk Shounia mengalihkan pembicaraan. “Sungguh?” Degh! Langit mendongak dan seketika tubuhnya menegang. Bersambung….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN