“Ran balik? Kok dia enggak ada ngomong apa-apa di grup chat? Mami tahu dari siapa?” tanya Dara, lantas dia melirik ke arah suaminya yang terlihat tak baik-baik saja setelah mendengar kabar kembalinya Pangeran.
Lambat laun situasi seperti ini akan terjadi, Langit sudah memprediksi, tetapi ini cukup cepat dari perkiraannya. Dia yang kaget hanya bisa terpaku, bukan karena tidak sanggup merelakan, di luar sana banyak orang yang siap untuk mengolok-oloknya.
“Dari Papimu!” jawab Shounia.
“Kok, Bang Dewa enggak ngasih tahu aku, ya,” celetuk Dara.
“Bang Dewa, Bang Dewa, dia ayahmu, Dara!” omel Shounia, ya, mau gimana lagi putrinya itu persis dirinya saat muda.
“Pangeran enggak ngasih tahu Kakak?” tanya Dara kepada suaminya.
Langit menggeleng tanpa mengatakan apa pun, “Mungkin dia masih merajuk sama kita, karena pernikahan mendadak yang kita lakukan.” Langit pun menerka keputusan Pangeran tentangnya.
“Yaudah biarin aja, pura-pura enggak tahu aja,” jawab Dara.
“Bagaimana bisa pura-pura enggak tahu, suamimu harus bersiap untuk mendapat cibiran dari eksekutif dan lainnya, karena CEO asli PC sudah kembali,” komentar Nanas, menyela percakapan itu dengan bahasan yang kurang mengenakkan.
“Kamu kenapa sih, Mbak, bahasnya itu mulu?!” sahut Shounia.
“Kamu enggak ngerti, Nia. Aku itu khawatir sama Langit, dari awal aku enggak setuju dia jadi CEO, apalagi mendapat embel-embel benalu,” ungkap Nanas, untuk pertama kalinya dia mengungkapkan perasaan itu kepada Shounia, saking khawatir dengan situasi saat ini.
Shounia menghela napas berat, dia hendak berkata untuk membela menantunya, tetapi Dara dengan cepat memberi kode pada sang ibu untuk tidak ikut berkomentar. Dara hanya tidak ingin Langit merasa diolok-olok oleh pembelaan yang akan Shounia lakukan.
Langit terdiam tanpa sepatah kata pun, raut wajahnya menunjukkan betapa tertekannya pria berwajah tampan itu. Dara meraih jemari suaminya, lalu meremasnya dengan lembut.
“Orang tua emang kadang pikirannya di luar prediksi, jangan ambil hati,” bisik Dara, lalu tersenyum simpul mencoba menguatkan suaminya itu.
Langit tersenyum tipis, memaksakan diri untuk merespons candaan sang istri. Tak lama setelah itu, Shounia pamit pulang, sementara Nanas meminta waktu untuk berbicara dengan Langit berdua saja. Dara pun menghargai permintaan mertuanya. Langit pun mengantar Dara untuk ke kamar.
“Kak, apa pun yang Mama Nanas katakan, itu semua hanya bentuk kekhawatiran. Kita semua mengenal Pangeran, dia cerdas, tetapi petakilan, butuh waktu untuk dewasa, sekalipun dia mengambil alih PC, jelas kamu akan tetap jadi orang penting di dalamnya,” tutut Dara, saat Langit menyiapkan tempat tidur untuknya.
Langit yang awalnya sibuk merapikan bantal dan selimut seketika terhenti, dia duduk di tepi ranjang lalu menoleh ke arah Dara dan menatapnya cukup lama tanpa berkata apa-apa.
“Kenapa? Apa aku keliru?” tanya Dara, lantas duduk di samping pria bergelar suami itu.
“Kalau aku menolak dan memilih pergi dari keluarga Pardipta, apa kamu akan tetap bersamaku?” celetuk Langit.
“Tergantung,” jawab Dara.
“Tergantung apa?” tanya Langit.
“Tergantung kamu, mau membawaku atau tidak. Tapi, menurutku, lebih baik kamu tetap di PC. Karena, kalau kamu keluar akan sulit mendapatkan posisi di perusahaan lain.” Dara mencoba memberikan celah kepada sang suami yang terlihat begitu putus asa.
“Lagian, kenapa Kak Langit terlalu khawatir dengan apa yang belum terjadi, tenang saja,” pesannya kemudian.
Langit berusaha mengendalikan diri, lantas dia beranjak dari duduk dan berpamitan kepada Dara untuk menemui ibunya.
“Kak!” panggil Dara, tepat saat Langit akan membuka pintu kamar.
Langit menghentikan langkah saat mendengar sang istri memanggilnya. Dia menoleh, seraya menyunggingkan senyuman.
“Apa lagi?” tanya Langit.
“Lakukan semua sesuai hatimu, terkadang perasaan pun diperlukan untuk mengambil sebuah keputusan sebagai seorang protagonis,” celetuk Dara.
Langit pun mengangguk ragu, lalu dia pergi dari kamar Dara.
***
Langit melangkah gontai menghampiri sang ibu yang masih duduk termenung di ruang tamu, wanita itu menatap nanar sekitar, tampak jelas begitu banyak beben di dalam isi pikirannya. Kemelut yang membuatnya terus meributkan hal-hal yang terkesan tak masuk akal. Namun, bagi Langit, pemikiran-pemikiran sang ibu layaknya tugu yang membatasinya untuk melakukan sesuatu.
“Ma!” panggilnya, nada suara lembut dan tertahan, raut wajah itu tampak polos, layaknya orang dewasa yang terantuk masa kecil tak bahagia.
Nanas menoleh malas, menatap pria tampan yang terlihat masih bayi untuknya.
“Duduk!” pinta Nanas.
Langit pun duduk di hadapan sang ibu, dan siap mendengar segala keluh kesah yang akan keluar.
“Siapkan pengunduran diri saja sebelum Pangeran meminta itu, atau eksekutif mengadakan rapat untuk memberhentikanmu,” ucapnya.
Langit terdiam, jelas bingung karena pendapat dua orang yang dia cintai tak selaras. Dara memintanya bertahan, sementara Nanas memintanya berhenti. Bukan saja merepotkan dan menguras energi, tetapi semua ini membuat Langit tak memahami diri sendiri. Dia ingin bertahan, bukan karena serakah, melainkan dia menyukai pekerjaannya dan juga harus mencari nafkah. Sementara, jika dirinya bertahan di sana, orang-orang akan semakin membenci dan itu berlaku untuk ibunya.
“Aku akan pikirkan dan menyiapkan itu,” jawab Langit.
“Jangan mempermalukan diri berulang kali, dulu kamu mendapat dukungan karena Pangeran belum siap memimpin, tetapi kali ini berbeda,” jelas Nanas.
“Iya,” sahut Langit singkat, dia bahkan tak berani menatap ibunya, sebab tahu jika dirinya sedang goyah.
Tanpa mereka sadari, Dara menguping pembicaraan itu dari balik dinding penyekat ruangan tamu dan ruang tengah. Sengaja dia melakukan hal tersebut agar bisa lebih memahami situasi yang dialami sang suami.
“Kenapa Mama Nanas sebegitunya?” gumam Dara, dia melihat punggung suaminya begitu lusuh, bahkan kubis saja terlihat lebih segar dibandingkan pundaknya.
“Bukankah tahu diri dan rendah diri itu berbeda?” Dara kembali bergumam mempertanyakan hal itu kepada diri sendiri.
***
Di sisi lain, Rania menyelidiki tentang pernikahan Langit dan Dara, mulai dari rekaman CCTV yang ada di hotel tempat mereka melakukan resepsi setahun yang lalu. Dara dan Dion bekerja sama untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi di dalam pernikahan itu, hingga membuat Langit mengatakan jika dirinya menikmati malam panas itu, meski dibantu perangsang.
Sialnya, lagi-lagi mereka bisa mendapat rekaman itu dengan mudah karena koneksi Dion yang cukup luas, Rania dan Dion mulai mencari-cari sesuatu yang kiranya bisa menjadi petunjuk untuk mereka.
Hingga larut malam, keduanya dengan gigih menontoni semua rekaman cctv yang terjadi di setiap sudut hotel tersebut, hingga akhirnya mata Rania membeliak, saat mendapati sebuah momen, di mana Dara dan Langit berdiskusi di sebuah ruangan, dan itu tidak terlihat seperti momen yang harusnya dilakukan pengantin baru. Keduanya tampak beradu argumen dengan begitu sengit.
“Dion, apa kamu kenal siapa orang kepercayaan Langit di kantornya?” tanya Rania seraya menyeringai.
“Jangan gila kamu, dia itu dikucilkan, mana ada orang kepercayaan!” bantah Dion.
“Ck!”
Rania menyeringai, “kurasa tidak seperti itu.”
Bersambung….