Dion menoleh ke arah Rania yang tampaknya memiliki informasi yang dia tidak tahu.
“Om Dewa salah satu eksekutif di PC, kan, dia mertua Langit, belum lagi Om Sam, enggak mungkin jika mereka tidak memiliki orang kepercayaan yang membantu mengurus pernikahan tersebut,” ungkap Rania, dia cukup cerdas untuk hal seperti itu.
“Terus apa rencanamu, dari yang kudengar Langit bahkan tidak memiliki asisten,” komentar Dion, menepis penafsiran yang Rania lontarkan.
Rania menyeringai, entah apa yang dia pikirkan, yang jelas itu pasti rencana jahat untuk mengusik kehidupan Langit dan Dara. Dion yang tidak mendapat jawaban pasti dari wanita berdada montok di sampingnya itu, seketika menjadi kesal. Sebab, dia begitu penasaran dan tak sabar melihat mantan kekasihnya terpuruk seperti yang dia dan Rania mau.
“Untuk hal ini, biar aku yang urus, kamu tinggal nunggu tahap selanjutnya aja,” ujar Rania.
“Sok Misterius banget, kamu, Rania,” lontar Dion dengan nada ketus, bibirnya langsung mengerucut.
Sementara Rania hanya membalas itu dengan senyum simpul penuh keangkuhan.
***
Beberapa hari kemudian, kabar tentang kembalinya Pangeran ke kantor membuat suasana di perusahaan investasi terbesar itu cukup ricuh. Bahkan, rumor-rumor tak mengenakkan terus sampai ke telinga Langit. Entah itu tanpa sengaja terdengar, atau beberapa orang yang memang sengaja menyampaikan dengan nada sindiran.
Hal tersebut begitu memengaruhi perasaan Langit, seperti pagi ini saat dia sarapan berdua dengan Dara. Wajahnya selalu ditekuk, dan hanya diam hingga sesi sarapan selesai. Langit memang tipe orang yang akan menyelesaikan kemelutnya sendiri, tanpa sharing dengan siapa pun termasuk istrinya. Namun, bukan Dara orangnya, jika hanya tinggal diam melihat situasi buruk yang menimpa suami tampannya itu.
“Aish, haruskah kumakan biji mata mereka agar dirimu merasa lebih baik, Kak?” celetuk Dara, dia sangat tidak suka saat Langit murung seperti itu.
Walau pria itu tak mengatakan apa pun, tetapi Dara bagaikan cenayang yang tahu semuanya tanpa harus diceritakan.
“Siapa yang akan kamu makan bola matanya?” tanya Langit, pura-pura tak mengerti.
“Tentu saja staf, karyawan, dan eksekutif yang terus membuatmu merasa tak nyaman karena kabar tentang kembalinya Pangeran,” jelas Dara tanpa basa-basi. Dia juga tak berniat untuk menutupi apa yang dia tahu.
“Ck!” Langit berdecak, lantas tersenyum, entah mengapa candaan yang istrinya lontarkan begitu menghiburnya.
“Kak Langit tersenyum? Kakak suka dengan candaanku? Haruskah tiap detik aku melakukannya untukmu?” oceh Dara, dia berusaha mendapatkan fokus Langit yang kini terus berlarian entah ke mana.
“Ya, lakukanlah setiap saat, jangan lupa makan semua bola mata orang-orang itu, biar kamu kayak zombie,” sahut Langit masih terkekeh.
“Oke, acc, Sayang,” jawab Dara dengan nada riang, memang sengaja dia melakukan hal itu, karena tidak ingin Langit merasa tertekan. Dia ingin menjadi tempat pulang Langit, setidaknya Langit merasa nyaman ketika dengannya. Itu saja.
Akan tetapi, hal itu cukup berat mengingat Langit belum sepenuhnya terbuka kepadanya. Langit bangkit dari duduk, dia berpamitan kepada istrinya.
“Rumit, ya, menjadi dewasa harus tetap terlihat baik-baik saja, padahal sebenarnya pikiran sedang berperang hingga membuat napas aja terasa sesak. Aku mungkin enggak bisa menjadi solusi untuk itu, tapi kalau Kak Langit butuh orang untuk bicara, aku siap mendengarnya, apa pun itu,” tutur Dara, lalu mencium punggung tangan yang selalu wangi itu.
Langit mengelus kepala Dara, gerakannya terlihat canggung, tetapi dia tetap melakukan itu karena terkesan dengan sikap terbuka gadis itu. Hangat, begitu yang Langit rasakan di hatinya.
“Aku pamit dulu, nanti pulang mau dibawakan apa?” Langit tak menggubris ocehan Dara, berusaha setegar karang di lautan lepas, yang akan tetap tangguh meski ombak terus menerjal tanpa tahu waktu.
“Bawakan senyumanmu saja, itu cukup untukku,” jawab Dara, selalu saja kata-kata di luar prediksi yang terucap dari bibirnya.
“Kupikir kamu ingin kubawakan bola mata,” sahut Langit.
“Jangan, ya, Kak, ya, biar aku saja yang melakukannya untukmu,” jawab Dara, masih dengan nada bercanda yang menggelitik hati.
Langit pun akhirnya pergi bekerja, setidaknya dengan celotehan tak masuk akal sang istri, harinya sedikit berwarna, meski hanya warna sekunder, tetapi baginya itu sangat jarang didapati.
Sementara di rumah, Dara sibuk menelepon seseorang setelah mendengar deru mobil suaminya menjauh. Beberapa kali, dia menghela napas panjang, dengan gestur tubuh tampak gelisah.
“Bang Dewa, kenapa lama banget jawab teleponnya?” omelnya pada seseorang di seberang sana, yang tak lain adalah sang ayah.
“Kamu ini, ini masih pagi udah ngomel-ngomel aja, kayak mamimu. Kenapa, ada apa?” sahut Dewa di seberang sana.
“Aku boleh minta daftar eksekutif PC, enggak?” tanya Dara.
“Untuk apa? Kamu orang luar, enggak bisa sembarangan kukasih, bisa kena pasal aku, gara-gara kamu!” sembur Dewa, menolak apa yang Dara mau.
“Ih, dasar pria tua pelit. Setidaknya kasih aku bocoran, berapa persen orang yang tidak setuju Langit jadi CEO dan berapa saham yang mereka miliki?” selidik Dara.
“Cukup sulit, karena lebih banyak yang tidak menyetujui dibandingkan yang setuju. Kuncinya cuma ada di Ketua, selama dia masih mempercayai Langit, semua akan baik-baik saja untuknya,” jelas Dewa.
“Tapi, kan, Pangeran pulang, tentu saja dia akan menggantikan posisi Kak Langit, Pi,” keluh Dara begitu khawatir, “setidaknya, dia harus dapat kompensasi, kan, Pi?”
“Kenapa kamu sibuk memikirkan kompensasi? Kamu meragukan kemampuan suamimu?” tanya Dewa, penuh selidik juga terdengar seperti omelan bagi putri semata wayangnya.
Dara mengerjap beberapa kali, merasakan tamparan halus langsung menembus hati sanubarinya.
“Bukan begitu, Pi, aku hanya–”
“Papi ngerti, kamu mengkhawatirkan suamimu. Tapi, Dara, pura-puralah tidak mengetahuinya, cukup jadikan rumah adalah rumah, yang artinya dia nyaman di dekatmu, itu sudah cukup. Biarkan dia memegang kendali tentang pekerjaannya, jadikan dia pria di matamu, ngerti, kan?” Dewa mencoba memberikan petuah kepada sang putri, sebagai seorang pria dia mengerti apa yang menantunya mau.
“Kamu akan melukai harga diri suamimu jika terlalu ikut campur masalah ini.” Dewa melanjutkan ucapannya, meski Dara belum menjawab percakapan sebelumnya.
Mendengar nasihat sang ayah, Dara kembali merasa tertohok. Nyaris, dia melangkah begitu jauh yang akan membuat hubungannya dengan Langit di ambang keretakan, padahal baru beberapa waktu lalu mulai melekat dan terjalin chemistry.
“Hampir saja, untung aku menelepon pria pertama yang kucintai dalam hidup,” jawab Dara, dia tak membantah seperti biasanya, karena apa yang dikatakan Dewa memang benar.
“Segala sesuatu di dunia ini memiliki risiko, entah itu besar atau kecil. Tapi, selalu ada pilihan untuk bangkit, kalian berdua cukup mampu untuk mendirikan sebuah perusahaan, kenapa harus khawatir yang berlebihan? Nikmati saja,” pesan Dewa sebelum akhirnya dia berpamitan dan mengakhiri percakapan pagi dengan putrinya. Putri yang sebentar lagi akan menjadi seorang ibu.
Setelah mendengar nasihat sang ayah, Dara merasa lega dan tenang, dunianya kembali stabil setelah berkeluh kesah kepada cinta pertamanya itu. Ya, sang ayah cukup memberinya cinta, hingga membuat dia menjadi wanita mahal yang tak mudah disentuh, meski banyak yang menginginkan.
***
Di sisi lain, Rania berusaha mencari orang yang Langit percayai di perusahaannya. Memang tak mudah, tetapi dengan kegigihan dan cara licik yang dia miliki, akhirnya Rania pun mendapatkan info, jika seseorang selama ini menyokongnya dari balik layar.
“Sudah kuduga, tidak mungkin dia benar-benar sendiri meskipun hanya CEO pengganti. Enggak akan kubiarkan kalian bahagia begitu saja, jika aku tak bisa bersamamu, maka kamu tidak boleh bersama siapa pun, Langit. Termasuk jalang licik seperti Niadara. Aku akan menghancurkan kalian berdua,” gumam Rania seraya melihat sebuah kartu nama berwarna hitam, yang bertuliskan nama seseorang.
Dia baru saja menemui seorang staff PC, dan mendapatkan informasi tersebut darinya. Wajah cantik nan licik itu kembali semringah saat mendapat celah untuk menghancurkan orang yang dia pikir telah menghancurkannya.
“Tunggu saja, Lang, kamu akan tahu bagaimana saat seorang Rania bertindak,” gumamnya lagi, dengan penuh tekad.
Bersambung ….