Setelah mendapat informasi penting mengenai Langit dan Dara, Rania pun bergegas menemui Dion di sebuah kafe untuk berdiskusi. Kedua orang itu memang benar-benar memiliki tekad yang sama–menghancurkan Langit.
“Kamu yakin ini bukan informasi palsu?” tanya Dion setengah tidak percaya dengan dokumen yang dia baca saat ini.
“Serius! Aku dapet langsung dari kuasa hukumnya. Jadi, di hari akad itu Dara yang meminta untuk menjadi pengantin Langit menggantikanku,” ujar Rania, lalu tersenyum licik seperti biasanya.
Dion mengembuskan napas kasar, dia memainkan ibu jari dan telunjuk di dagu berjanggut tipis itu.
“Terus, apa yang mau kamu lakuin dengan ini?” tanya Dion.
“Dasar bodoh! Bukankah dengan informasi ini kita bisa ancam Langit dan Dara. Misalkan eksekutif di perusahaannya tahu, atau bahkan Ketua Pradipta Capital tahu, hidup Langit akan dalam masalah. Bukan hanya pernikahannya yang hancur, melainkan karirnya juga. Terus, setelah dia terpuruk, dia akan datang sama aku, memohon, berlutut, dan bersujud,” oceh Rania dengan tatapan berbinar, lagi-lagi senyumnya terkembang memimpikan kehancuran orang yang dicintainya.
“Dasar wanita gila!” umpat Dion, lalu melempar berkas itu ke meja, raut wajahnya menunjukkan ketidaksetujuan.
“Kenapa?” sergah Rania, geram.
“Kalau kita ketahuan, kita bisa dibui. Kamu pikir keluarga mereka keluarga sembarangan? Lagian mana mungkin kuasa hukum mereka bisa menyerahkan berkas sepenting ini dengan mudah.” Dion kembali berkomentar yang isinya jelas-jelas menentang apa yang Rania rencanakan.
Senyum yang tadinya terkembang seketika menciut, Rania memutar bola mata dengan malas, lalu menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
“Kalau kamu memang tidak mau ikuta andil, enggak apa-apa, aku mampu melakukannya sendiri.” Rania menarik berkas itu dari meja, lalu dia bangkit dari duduk dan pergi meninggalkan Dion. Tentu saja dia merajuk ketika reaksi Dion di luar dugaannya.
“Rania!” teriak Dion memanggil wanita itu begitu kencang, sehingga semua orang yang ada di sana melirik ke arahnya.
Akan tetapi, Rania tak mengindahkan panggilan Dion, dia terus berlalu meninggalkan pria itu di sana tanpa kata-kata lagi.
“Ah, sialan, dasar cewek tukang ngambek!” umpat Dion, “lagian ngapain sih, dia berencana melakukan hal kasar, padahal, kan, bisa main cantik aja.”
***
Sementara di tempat lain, seorang pria muda berkemeja navy melenggang di koridor bandara seraya menyeret koper, kacamata hitam melengkapi wajah tampan bak model itu, rambutnya sengaja ditata sedikit berantakan, membuat kesan modis semakin melekat kepadanya.
“Ah, benar seperti ini, tidak ada orang datang menjemputku seperti serah terima pengantin,” ucapnya lalu menghentikan langkah dan membuka kacamata hitamnya dengan penuh gaya.
Sejurus kemudian, seseorang menepuk bahunya yang membuat pria muda itu terhenyak.
“Kucing oren naik kuda,” ocehnya, seraya berbalik dan menoleh siapa yang datang menyambutnya itu.
“Kucing oren naik harimau kali,” sahut pria yang kini berdiri berhadapan dengannya.
Dia menghela napas lega saat melihat orang yang mengusiknya bukan orang jahat.
“Sengaja bikin kejutan, malah dikejutkan,” komentarnya seraya mengelus d**a bidang yang memberikan pesona lebih darinya.
“Lagi pula, kenapa jadi sok misterius gitu, ini tuh malam hari pakai kacamata hitam segala,” sahut pria berlesung pipi yang tak lain adalah Langit.
“Hahaha,” pria muda itu terkekeh, “aku memang selalu gagal keren seperti biasanya,” celetuknya.
“Untung aku lagi senggang, jadi bisa jemput kamu ke sini, Ran. Lain kali jangan begitu, kamu juga perlu doa untuk keselamatan di perjalanan,” protes Langit, ternyata pria yang melebihi ketampanannya itu Pangeran.
“Haish, terus mau ngadain doa bareng di masjid gitu? Kayak yang sudah-sudah, tolonglaaah, aku sudah dewasa, Kawan,” oceh Pangeran seraya merangkul Langit dan mengapit kepalanya penuh candaan.
Langit merengek dan meninju pelan perut pria yang usianya lebih muda darinya itu, sentuhan fisik yang Pangeran lakukan mencairkan suasana hati Langit yang beberapa waktu sebelum kepulangannya terasa sesak.
“Kamu berutang penjelasan kepadaku, bukan? Kenapa kamu menikahi adik sepupuku tanpa izinku? Hah!” tanya Pangeran dengan penuh selidik.
“Nanti kuceritakan, tapi lepaskan ini dulu, atau orang mengira kita ini kembar siam!” protes Langit, lalu dia menepuk b****g Pangeran dengan cukup kencang.
“Ih, kamu m***m!” sentak Pangeran, lalu melepaskan tangan dari leher Langit.
“Matamu coplok!” jawab Langit.
Refleks, Pangeran meraba dua bola matanya, dan dia merasakan itu masih menempel erat.
“Pembohong!” pekik Pangeran.
Langit hanya menyeringai, entah bagaimana sikap tengil bocah itu masih begitu melekat, padahal sudah bertahun-tahun dia mengenyam pendidikan di luar negeri.
“Kalau serius, aku akan berteriak kencang, bodoh!” lontar Langit, lalu mengambil koper milik Pangeran dan menyeretnya, dia berjalan duluan meninggalkan pria tampan itu dengan wajah polosnya.
“Buruan, keburu matahari terbit!” teriak Langit.
Pangeran terhenyak dan berlari ke arahnya.
***
Pangeran meminta pulang ke rumah Langit, dia juga ingin menemui Dara dan menginterogasi keduanya tentang pernikahan yang terjadi tanpa sepengetahuan dan kehadirannya.
“Ka-mu, ke–”
“Diam kamu! Kamu enggak punya hak untuk bicara sebelum kutanya,” sergah Pangeran saat Dara berusaha mengungkap isi hatinya.
Mendengar itu Dara melirik ke arah Langit, dia pun mendapat sebuah anggukan kecil dari pria yang menjabat sebagai suaminya.
“Kenapa kalian bisa menikah dan sekarang kamu sedang hamil, kalian benar-benar membuatku terkejut,” komentar Pangeran, lantas melirik Dara dan Langit secara bergantian.
“Emangnya aku mau hamil harus izin dulu dari kamu?” sergah Dara, alih-alih menjelaskan dia justru mengajak Pangeran perang.
“Ternyata kita udah setua itu, ya? Kamu sebentar lagi akan menjadi ibu, lalu aku akan menjadi om-om, ah, tidak-tidak, jika anakmu lahir kelak, jangan suruh dia memanggilku om, tapi panggil aku abang,” cerocos Pangeran, yang sontak membuat Dara geleng-geleng kepala.
“Apa yang kamu pelajari di Amerika sebenarnya, kenapa sikap konyolmu tidak berubah, Pangeran?” sembur Dara.
“Entah, apa yang kupelajari di sana hanya deretan bagan dan angka yang membuat otakku berasap, wuuush!” jawab Pangeran masih dengan bahasa yang jenaka.
“Lalu, bagaimana cara kalian bisa menikah? Apa kalian mengungkapkan perasaan satu sama lain di detik-detik terakhir? Hah!” Pangeran kembali penasaran dengan kisah cinta saudaranya itu.
“Bang Lang, kamu yang menyatakan duluan atau Dara? Dara mantan pacarnya banyak, kan, termasuk si Dionsaurus. Cowok gangster yang waktu SMA suka pakai ikat kepala kayak kakek-kakek migren,” cerocos Pangeran.
Sial, dia tidak seseram apa yang dibicarakan orang-orang, apa yang dia ucapkan selalu membuat Dara dan Langit gagal menahan tawa. Meskipun kesal dengan ejekannya, tetapi bahasa yang dia gunakan membuat Dara melepaskan tawanya.
“Kenapa kamu menyebut nama pria b******k itu?!” protes Dara.
“Nah, mantan Bang Langit berarti cuma satu yaitu mantan calon istrinya, kan, siapa namanya? Aku lupa, Rapia? Iya, kan?”
“Rania!” teriak Langit dan Dara secara bersamaan.
“Lama-lama kamu kayak Kakek Galih, sumpah, ganti-ganti nama orang seenaknya.”
“Rania selingkuh dengan mantan pacarnya menjelang hari pernikahan kami, lalu Dara menggantikan posisi Rania. Sebab, tidak mungkin pernikahan dibatalkan,” jelas Langit, menyela obrolan saling mengejek Pangeran dan Dara.
“Turut berduka cita, kamu terselamatkan dari buaya betina tapi masuk kandang kadal betina, Bang,” komentar Pangeran.
“Kamu ini, bisa enggak, gak bikin orang kesel, ih!” omel Dara kesal.
“Sudah, lupakan tentang kami, sekarang aku yang akan bertanya kepadamu.”
“Besok! Aku akan ke kantor besok, adakan rapat dewan direksi dadakan!”
Padahal Langit belum mengatakan pertanyaannya, tetapi Pangeran sudah menjawab itu, tepat sebagai jawaban apa yang ada di pikirannya.
“Apa?!”
Bersambung ….