Bab 18. MISI PANGERAN

1156 Kata
“Ck! Enggak usah sok kaget begitu, tinggal juga kasih instruksi,” sahut Pangeran, seraya mendelik ke arah Langit. “Okey!” jawab Langit, mematuhi perintah pria muda itu. *** Semalaman suntuk Langit tak bisa memejamkan mata, dia gelisah, pikirannya terus berkecamuk, tetapi tidak terarah. Usai mandi, Langit berdiri di samping nakas putih yang ada di samping ranjang. Dia menatap ke arah benda itu dengan sorot tajam, tampak jelas keraguan di raut wajah pria tampan itu. Lantas, Langit membuka laci dan mengeluarkan sebuah botol yang berisi pil. Dia menuangkan dua pil itu ke telapak tangan, lalu mengembuskan napas kasar. Sejurus, Langit menelan pil tersebut dengan ragu-ragu. Tiba-tiba sebuah ketukan pintu mengusiknya, dengan tergesa pria bertubuh atletis itu menyimpan kembali botol tersebut ke lacinya. Namun, tanpa dia sadari satu pil jatuh ke lantai. “Masuk!” ucapnya, meminta seorang yang mengetuk pintu kamarnya untuk masuk. Pintu pun terbuka perlahan, terlihat Dara berdiri di ambang pintu dan menyembulkan kepalanya. “Sarapan udah siap,” ucap Dara sambil tersenyum manis. Senyum itu mendapat balasan, tetapi Dara melihat ada yang aneh dari suaminya. “Kenapa?” tanya Dara, lalu masuk ke kamar suaminya untuk mencari tahu apa yang terjadi. Langit bergeming seraya menahan napas, bola mata bergerak acak, seolah mencari sesuatu untuk dijadikan jawaban. “Kok, kayak panik gitu? Kenapa?” tanya Dara sedikit mendesak sang suami untuk menjawab pertanyaannya. “Eng-eng-gak,” jawab Langit terbata-bata. “Ada yang kamu sembunyiin, Kak? Apa hal itu enggak boleh aku tahu?” Dara masih tak percaya, karena dia tahu kalau Langit bukan orang yang pandai berbohong. “Sudahlah, jangan terlalu ikut campur, jangan karena aku mulai bersikap baik kepadamu, lalu kamu menjadi tidak tahu diri seperti ini?!” sembur Langit, tiba-tiba saja emosinya meledak. Sengaja atau tidak, dia sudah membentak istrinya dengan suara yang begitu kencang. Dara tersentak saat suaminya berteriak seperti itu. Itu menyakitkan, padahal dia hanya mencoba perhatian terhadap suaminya. “Baiklah, aku mengerti,” jawab Dara dengan getar di suaranya, jelas dia sedikit ketakutan dengan bentakan Langit. Buru-buru Dara berbalik, saat dia mengedip tanpa terasa air matanya jatuh, Dara pun mengusap itu seraya berjalan meninggalkan suaminya. Setelah Dara keluar dari kamar, Langit mengusap kasar wajahnya, tentu saja dia menyesali apa yang baru saja dia katakan pada sang istri. Namun, alih-alih mengejar dan meminta maaf, Langit terduduk lemas di tepi ranjang. “Apa yang kulakukan, kenapa aku tidak bisa mengontrol emosiku,” gumam Langit, lantas meremas rambut dengan kedua tangan dan mengempaskan itu dengan kasar. “Argh!” *** Langit memulai hari dengan cukup buruk, sampai saat ini hatinya masih gelisah dan tak karuan. Setibanya di kantor, Langit pun menghubungi semua dewan direksi untuk rapat darurat. Melihat ruang rapat, jiwanya semakin tertekan, dia pergi ke toilet untuk beberapa saat, di depan cermin dia bisa melihat bayang diri yang tampak tak pantas mengenakan setelan mahal yang kini melekat di tubuhnya. Langit memejamkan mata, berusaha mengendalikan diri, tetapi tak mempengaruhi apa pun. Terpaksa, dia kembali merogoh saku dan mengambil botol pil yang sebelumnya ada di laci. Langit meminum dua pil lagi, dengan dorongan air kran. Kemudian, berdiam diri sejenak sampai hatinya benar-benar tenang. Usai melakukan itu, Langit pun kembali ke ruang rapat, lalu duduk di tempat biasanya. Suasana yang awalnya ricuh, tiba-tiba menjadi hening saat dirinya masuk, jelas apa yang mereka bicarakan adalah dirinya. Setelah memastikan semuanya berkumpul, Langit pun buru-buru menelepon Pangeran untuk menginformasikan jika rapat sudah siap. Tak lama kemudian, pria muda bersetelan hitam itu masuk ruang rapat, dengan percaya diri dia menyapa semua orang yang ada di sana. Begitu dia masuk ruang rapat, senyum semua orang terkembang. Seolah menantikan momen itu, momen pemilik asli perusahaan tersebut kembali. Langit berdiri untuk menyambutnya. “Akhirnya, Anda kembali, Tuan Muda,” sambut seseorang seraya berdiri dan mengulurkan tangan, berharap Pangeran menjabatnya. Akan tetapi, dia lebih memilih mengabaikan hal tersebut, seolah tahu jika manusia yang bersikap manis adalah mereka yang bersiap menghancurkan. “Saya mampir, karena ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan sebelum saya benar-benar kembali ke perusahaan,” ucap Pangeran, lalu dia duduk di kursi yang awalnya tempat Langit duduk. Sementara itu, Langit mengambil tempat duduk lain, membuat semua orang menertawakannya. Pangeran mendelik ke arah suami sepupunya itu. “Apa yang Anda lakukan, Pak Langit, duduklah di dekatku!” tukas Pangeran. Langit tercengang dengan apa yang dilontarkan Pangeran, tanpa banyak basa-basi Langit pun kembali pindah. Dia duduk di samping Pangeran. “Kamu pikir bisa menghindariku!” desisnya. “Parfummu terlalu kuat, membuatku mual!” Langit pun menjawab dengan candaan. “Ck!” “Aku sudah mendapatkan semua laporan tentang kinerja perusahaan dari tahun ke tahun. Banyak klien lama yang memutus kontrak, padahal mereka memiliki perusahaan yang cukup besar dan memberikan perusahaan kita keuntungan yang bagus,” papar Pangeran, langsung pada inti permasalahannya. “Mungkin karena mereka ragu dengan CEOnya,” komentar seseorang. “Kenapa? Anda meragukan pilihan ayahku?” tanya Pengeran, seraya mendelik ke arah pria botak yang baru saja berpendapat itu. “Saya tidak ragu, tetapi klien ragu!” jawabnya. “Kalau begitu itu tugas Anda semua untuk meyakinkan. Bukan justru menghasut mereka untuk memutus kerja sama,” sahut Pengeran dengan nada tegas. “Cih! Apa-apaan ini? Setidaknya Anda harus kembali menjadi CEO untuk memberikan perintah, Tuan Muda,” protes direktur keuangan yang dapat dipastikan dia paling tidak menyukai Langit. “CEO? Perusahaan ini sudah memiliki CEO, kenapa harus ada dua CEO?” sergah Pangeran. “Ada apa dengan CEO sekarang? Dia bekerja dengan baik, bahkan terjun langsung untuk mencari klien baru, dan pemasukan terbesar dari klien yang dia bawa, tanpa andil divisi pemasaran. Kalian pikir, aku tidak tahu? Ah, ada lagi, klien yang memutus kontrak ternyata memiliki kekerabatan dengan Anda semua. Sebenarnya masih ingin bekerja di perusahaan ini atau tidak, kenapa Anda semua justru mengambil tindakan yang merugikan perusahaan? Hah!” sembur Pangeran menatap satu persatu direktur yang da di hadapannya. “Pak Langit, mulai sekarang ganti tim audit dengan orang-orang yang kamu percaya, awasi mereka semua!” tukas Pangeran kepada Langit. “Baik, Tuan Muda!” jawab Langit. Sejurus kemudian, Pangeran mengeluarkan berkas, dan mengirimkan email pemberitahuan jika mulai hari ini dia menjadi Ketua PC, pengganti langsung Galih Pradipta. Dia mendapat kuasa langsung dari sang Ayah untuk memimpin perusahaannya dan ditantang untuk menaikan omset yang beberapa tahun ini stuck. “Berhenti mempermasalahkan CEO, karena Pak Langit sudah sepantasnya ada di sana dengan kemampuannya.” Semua orang terdiam dan tertunduk malu. Padahal dari wajahnya, jelas mereka lebih tua dan berpengalaman. Sial, pikirannya terlalu sempit. *** Sementara itu di rumah, Dara yang bosan hendak membersihkan rumah sekadar membersihkan debu-debu di lantai. Dara memulai dari kamar Langit. Saat masuk dia kembali teringat kejadian tadi pagi. Namun, buru-buru menepis itu dan memaafkan suaminya, meski pria itu tak memintanya. Saat Dara menyedot debu dengan vacum cleaner di area ranjang, dia terkesiap ketika melihat sebuah benda asing tersedot. Wanita itu menghentikan aktivitasnya dan mencari tahu benda apa itu. Matanya membeliak saat mendapati benda itu adalah sebuah obat. “Pil? Pil apa ini?” Bersambung….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN