BAB 19. ANCAMAN

1194 Kata
Dara penasaran dengan pil tersebut, lantas mengamankan benda itu dan menyelesaikan pekerjaannya dengan terburu. Kemudian, dia kembali ke kamarnya untuk mengambil laptop dan mencari tahu tentang obat yang ditemukan di kamar Langit. Pikirannya berkecamuk, mengkhawatirkan suaminya, ya, khawatir pria itu mengalami sakit keras dan menyembunyikan hal tersebut darinya. Pil kecil berwarna biru tua, awalnya Dara pikir itu zinc, tetapi setelah ditelisik cukup berbeda. Dia yang penasaran mengecek beberapa pil berwarna biru di browser pencariannya. Ternyata cukup banyak, itu membuatnya pusing. Namun, dari bentuk dan warna pil di tangannya begitu mirip dengan obat anti-depresan. “Untuk apa Kak Langit memiliki ini?” gumam Dara. “Tapi akan lebih aneh jika dia memiliki pil viagra.” “Apa dia begitu tertekan sampai-sampai harus minum benda ini?” Dara terus bermonolog, menerka-nerka apa yang sebenarnya Langit rasakan. Dara pun mulai mencari tahu tentang kegunaan obat yang dia duga sebagai penenang tersebut. Tentu saja karena tidak ingin Langit sampai ketergantungan. Itu buruk untuk kesehatannya. Akan tetapi, Dara teringat tentang petuah sang ayah yang memintanya untuk pura-pura tidak tahu kelemahan sang suami. Dara buru-buru membuang pil tersebut ke toilet. Setelah itu, dia mencari cara di internet cara alami untuk membuat seseorang lebih tenang. Seketika dia terkejut, usai membaca jika seks adalah opsi yang paling disarankan. “Ish! Ni gugel kayaknya sesat, nih! Ngaco banget! Masa ikeh-ikeh?” ocehnya, wajahnya tiba-tiba memerah. “Aish!” Dara pun salah tingkah dan menutup laptop begitu saja. *** Saat jam makan siang tiba, Langit dan Pangeran berjalan menuju kafe, saat di kantor keduanya bersikap profesional, dan hanya berkomunikasi masalah pekerjaan. Namun, ketika tiba di luar gedung mewah itu tiba-tiba Pangeran berteriak kencang, membuat Langit yang hendak membuka pintu mobil tersentak nyaris menutup pintu itu kembali. “Apa-apaan, sih?” sembur Langit. “Aku merasa bebas, sumpek banget ngadepin orang yang cari muka,” ungkap pria muda berjas hitam itu. “Baru setengah hari,” jawab Langit, “tapi, omong-omong, kamu keren banget tadi.” Langit memuji Pangeran yang otomatis membuat pria yang lebih muda darinya itu langsung bergaya kepedean. “Heleh! Aku kan emang keren dari lahir,” ocehnya, “inget kan, jadi ayahku berdoa sebelum kikuk-kikuk agar anaknya keren banget, dan lahirlah diriku.” “Aku menyesali pujianku,” celetuk Langit, dia seketika merasa mual dengan narsisnya Ketua baru itu. “Sialan!” umpat Pangeran, lantas dia pun masuk ke mobil dan duduk di sisi kiri kemudi. Tepat saat Langit hendak menyalakan mesin mobilnya, tiba-tiba Rania muncul di depan mobil Langit dan mencegatnya seperti preman. Rania menggebrak body mobil dengan kencang, dengan tatapan tajam yang terarah tepat kepada Langit. “Rania?!” ucap Langit, lantas dia membuka kembali sabuk pengaman dan keluar dari mobil. “Apa yang kamu lakukan?!” tanya Langit dengan nada sedikit tinggi. Mendengar Langit membentaknya dengan suara tinggi, Rania menyeringai. “Kita perlu bicara,” ucap Rania dengan raut wajah penuh percaya diri. “Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, aku sudah tidak memiliki urusan denganmu. Jika memang kamu begitu ingin bicara denganku, di sini saja,” jawab Langit tegas, karena jika tidak begitu Rania akan salah paham terhadapnya. Rania tersenyum penuh percaya diri, lantas menyodorkan sebuah berkas beramplop cokelat ke arah Langit. “Putuskan setelah kamu membaca ini,” ujar Rania. Langit mengambil berkas itu dengan enggan, lalu membukanya, dia membaca perlahan, baru setengah halaman, alis pria itu mengernyit, merasa familiar dengan isi dokumen tersebut. “Dari mana kamu mendapatkan inu?” tanya Langit, wajahnya yang tenang tiba-tiba menegang. Kemudian, dia langsung menyimpan berkas tersebut dengan rapi, tanpa kendali dia melirik ke arah Pangeran yang masih di dalam mobil, jelas dia khawatir jika Pangeran tahu isi dokumen tersebut. “Tentu saja dari orang terpercaya, orang yang menjadi saksi kunci terbitnya dokumen itu,” jelas Rania, masih dengan sikap angkuh penuh percaya diri. Langit merogoh saku, tangannya gemetar saat mengambil ponsel dan mencoba menelepon kuasa hukum yang dia percaya untuk mengurus surat kontrak pernikahannya dengan Dara. Sialnya, sebanyak dia mencoba, sebanyak itu pula panggilan teleponnya gagal. Nomor orang itu sudah tidak dipakai lagi, membuat Langit seketika menjadi emosi. Langit menghambur ke arah Rania lalu menarik lengan wanita itu dengan kasar, dia membawanya menjauh dari Pangeran. “Kenapa, Lang? Kamu takut Bosmu tahu, kalau kamu dan sepupunya hanya menikah kontrak? Ck!” ledek Rania, lalu menghentikan langkah dan menghempaskan cengkeraman jemari kekar Langit. “Apa maumu?” sentak Langit. “Jelas, kamu tahu mauku!” balas Rania. Langit mengusap wajah dengan kasar, dia melengos membuang amarah yang nyaris membuncah. “Aku tahu kamu mencintai dan tidak bisa melupakan hubungan kita, aku tahu alasanmu membuat kontrak ini. Ayok kita balikan,” pinta Rania, lalu dia meraih tangan Langit dan mengelusnya dengan lembut. Sontak, Langit menarik tangannya dan mencebik dengan kasar. “Semakin kamu menolak, itu artinya kamu semakin menantangku, Lang. Ingatlah, harusnya kontrak kalian sudah berakhir, tapi karena Dara hamil, kamu harus terjebak dengan pernikahan ini begitu lama. Ayoklah, Sayang, berhenti berkorban demi keluarga Pradipta, kamu berhak bahagia, tentu saja denganku,” oceh Rania, merayu Langit dengan segala pesonanya. “Tutup mulutmu!” sentak Langit seraya menunjuk ke arah wajah Rania, dia tidak ingin bersikap kasar terhadap wanita, tetapi wanita yang satu ini kayaknya wajib masuk pengecualian. “Okey! Bersikaplah sekasar itu, atau lebih kasar lagi. Bagaimana kalau kuberikan dokumen ini kepada mertuamu? Hah! Masih bisakah kamu menolakku?” Kecam Rania, apa pun dia lakukan untuk menbuat Langit tunduk kepadanya. “Jangan pernah berani macam-macam, kamu, Ran!” Langit mulai kehilangan kendali atas dirinya, hari ini dia mengalami banyak tekanan yang membuat ketenangannya terusik. Langit mengangkat tangan, nyaris memukul Rania, tetapi untunglah dia berhasil menahan diri. Sementara itu, Pangeran melihat situasi semakin tidak kondusif. Dia melihat Langit tidak baik-baik saja. Pribadinya yang lembut mendadak berubah dan nyaris melakukan tindakan kasar. “Apa yang dia lakukan? Apa yang mereka bicarakan?” Pangeran penasaran, lantas keluar dari mobil dan berusaha mendekat agar bisa mendengar walaupun samar. Akan tetapi, dia tidak bisa mendengar apa pun, membuat dirinya semakin ingin tahu. “Ah, kenapa mereka harus bisik-bisik, sih,” gerutunya, seraya terus berusaha menajamkan pendengaran. Namun, sia-sia. *** Dara terus memikirkan artikel yang dibacanya siang tadi, saat dia membuka lemari untuk berganti pakaian, entah bagaimana dia tiba-tiba tertarik dengan baju haram warna merah hadiah pernikahan dari adik iparnya setahun lalu. “Aish! Mikir apa aku ini?!” gumam Dara, tetapi tangannya bergerak mengambil baju itu, dia pun mengenakan dan cukup cantik di tubuh rampingnya. Usai berdandan tipis dan mengenakan parfum dengan aroma manis, Dara mendengar bel pintu berbunyi. Dahinya mengerut, agak heran, karena Langit akan masuk tanpa menekan bel. Buru-buru Dara mengambil outer untuk menutupi lekuk tubuhnya yang semakin menggoda dengan balutan gaun haram berwarna merah itu. Setelah siap, Dara pun bergegas menuju pintu utama dan mencari tahu siapa yang datang. Namun, saat Dara menyahuti, suasana di luar sana cukup hening. Karena penasaran Dara pun membuka pintu perlahan, lalu dia keluar dan memastikan siapa yang datang. Namun, benar-benar tidak ada siapa pun. Akan tetapi, Saat Dara berbalik dan hendak masuk kembali ke dalam rumah, sebuah tangan mencengkeram pundaknya, lalu mendorongnya dengan kasar sambil membanting pintu. “Dara histeris, tetapi orang itu dengan cepat membekap mulutnya.” Dara berusaha melawan, tetapi …. Bersambung …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN