Dara berusaha melawan, tetapi cengkeraman yang dilakukan orang tersebut semakin kuat. Dari tenaganya, dapat dipastikan jika dia adalah seorang pria. Merasa tak mampu untuk melawan, Dara berusaha untuk tenang dan memikirkan cara, beruntung saat sekolah dulu sempat ikut pelatihan bela diri walau tidak menuntaskannya.
Dara beruntung karena ingatan tentang teknik dasar bela diri yang dipelajarinya muncul dengan cepat, lalu dengan itu dia berhasil melepaskan diri dan membuat pria itu terjungkal.
“Siapa kamu?” teriak Dara, seraya mengambil benda yang bisa membantunya membela diri dari sekitar, dia mendapatkan satu pas bunga yang terbuat dari kaca.
Pergerakan yang cukup liar dan tak teratur, membuat pakaian Dara berantakan, pria yang mengenakan masker itu bisa melihat pakaian seksinya dari balik outer yang tersingkap bagian depannya.
“Wuhuuu, kamu memang jalang yang menggoda pria, walau tahu itu calon suami orang,” komentar pria itu dengan bengis.
“Siapa yang nyuruh kamu datang ke sini? Rania? Dion? Atau siapa? Hah!” cecar Dara, dia menarik langkah mundur perlahan, niatnya ingin masuk kamar untuk melindungi diri.
Akan tetapi, pria itu semakin mendekat dengan sorot mata bagaikan binatang buas yang sedang menatap mangsanya. Dara memecahkan vas ke lantai, lalu mengambil pecahan yang paling runcing untuk dijadikan senjata. Wanita cantik itu menodongkan pecahan kaca tersebut ke arah pria yang mengancamnya, tanpa disadari, tangannya pun terluka dan mengeluarkan Darah.
Tanpa ragu, pria itu melangkah maju menghampiri Dara, berpikir Dara hanya seorang wanita dan makhluk lemah. Pria itu pun menyerang tiba-tiba, yang membuat Dara terkejut dan melesatkan kaca itu tepat ke wajah si pria. Sontak, pria itu mengerang kesakitan, bersamaan dengan deru mobil Langit yang sepertinya baru saja sampai di halaman rumah mewah itu.
Pria itu terkesiap saat mendengar ada yang datang, dengan wajah berlumuran darah, pria itu berlari secepat kilat. Sementara Dara melemparkan pecahan kaca yang baru saja dia pakai sebagai senjata, lalu duduk terkulai di lantai.
Di luar sana, Langit yang melihat seorang mencurigakan keluar dari rumahnya seketika panik, dia mengejar pria itu, tetapi tak berhasil menangkapnya. Seketika itu, ingatannya langsung tertuju kepada Dara, buru-buru Langit berbalik, lalu berlari.
“Dara!” teriaknya, dengan jantung yang berdegup kencang, apa lagi saat melihat darah berceceran di lantai.
“Dara!” Sekali lagi, Langit berteriak.
Ketika sampai di ambang pintu, betapa terkejutnya dia, saat melihat Dara sedang duduk tak berdaya dengan tangan berlumur darah. Langit yang panik pun sontak menghambur ke arah istrinya, lalu memeluknya erat-erat.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Langit dengan getar di suaranya, dan berkali-kali mengeratkan pelukan lalu memastikan tubuh Dara tidak terluka.
Dara belum menjawab karena masih panik, tetapi tubuhnya gemetar.
“Enggak apa-apa, sekarang udah ada aku, jangan takut,” ucap Langit.
Dara menangi di pelukan suaminya, seraya memeluk tubuh kekar itu erat-erat.
“Aku takut, Kak,” ucap Dara.
Langit menciumi pucuk kepala Dara berusaha menenangkan istrinya. Lantas, dia memapah Dara untuk pindah dari sana, setelah Dara ke sofa, Langit membuka blazer dan dasi yang dikenakan, kemudian menggulung lengan kemejanya. Melihat pakaian Dara yang cukup mini, Langit meraih selimut yang ada di sandaran sofa, dan menyelimuti paha istrinya yang putih mulus.
“Tunggu sebentar,” ucap Langit.
Tanpa menunggu jawaban Dara, dia beranjak ke dapur dan membawa wadah untuk membersihkan luka Dara. Selain itu, dia juga membawa kotak P3K.
Tak lama kemudian, Langit kembali, lantas dengan cekatan dia mengobati luka di tangan istrinya yang cukup dalam.
“Mau pergi ke IGD aja, kayaknya harus dijahit,” saran Langit.
Akan tetapi, Dara menolak, dia yang merasa tenaganya sudah habis hanya inginkan rumah dan beristirahat dengn nyaman. Langit pun tak memaksa, usai mengobati dan membalut luka istrinya, Langit membersihkan pasca kekacauan yang terjadi di rumahnya. Sementara, Dara menunggu di sofa hingga dia ketiduran.
Tak lama kemudian, Langit selesai membersihkan bekas kekacauan itu. Saat melihat Dara tertidur pulas, dia tak tega membangunkannya, tetapi tidur dalam posisi tersebut pun akan mengganggu kesehatan punggung sang istri.
Lantas, Langit memilih untuk menggendong Dara dan membawa ke kamarnya. Guncangan yang terjadi saat Langit berjalan, membuat tidur Dara terusik. Saat membuka mata, dia melihat wajah suaminya begitu dekat. Leher jenjang dengan tengkuk yang mulus dan wangi yang maskulin seakan membuat pikirannya melayang-layang di udara.
“Kak ….” Tiba-tiba Dara berucap lirih dengan manik mata yang masih tertuju ke wajah tampan sang suami.
“Hmm,” jawab Langit, sederhana saja, tetapi deep voice itu membuat jantung Dara bergetar hebat.
Keduanya memang jarang berkontak fisik seperti saat ini dan itu yang membuat Dara menjadi tak karuan.
“Aku suka mendengar suara jantungmu, terasa menyenangkan,” ucap Dara, lalu melekatkan kepala ke d**a bidang suaminya.
Wajah Langit tiba-tiba memerah, malu sekaligus salah tingkah. Dia ketahuan berdebar saat kedua tangan itu merangkul tubuh istrinya. Langkahnya terhenti di ambang pintu, seketika itu dia tersadar, jika kamar yang dituju bukanlah kamar Dara melainkan kamarnya. Pria itu tertegun untuk beberapa saat.
“Apa yang kupikirkan?” ucap Langit dalam batinnya, lantas dengan cepat dia mengubah arah langkah, untuk pergi ke kamar Dara.
“Apa aku membuatmu tidak fokus? Kalau begitu turunkan saja aku, aku bisa berjalan ke kamarku sendiri, karena yang terluka tanganku bukan kaki,” komentar Dara seraya menatap wajah suaminya yang tampak semakin memerah.
Langit pun menurunkan Dara tanpa kata-kata, setelah Dara berdiri dengan baik, Langit berbalik dan pergi ke kamarnya yang jaraknya memang bersebelahan dengan kamar Dara.
Melihat sikap dingin itu kembali kambuh, Dara pun masuk tanpa mengharapkan apa pun lagi. Perlahan, dia membuka outer yang kotor karena cipratan darah. Setelah berhasil terbuka, tiba-tiba pintu kamar Dara terbuka dengan kasar dan tertutup kembali. Dara terhenyak bukan main, rasa takut kembali menyergap, dia berbalik spontan mencari tahu siapa yang datang.
Akan tetapi, kali ini yang datang bukan orang asing seperti sebelumnya, melainkan suaminya yang melenggang dengan tatapan garang dan menghambur ke arahnya seperti seorang yang baru saja lepas kendali. Langit memeluknya, lantas mendaratkan kecupan lembut di bibir Dara, sontak mata wanita itu menanap.
Belum sempat dia mengatakan protes, Langit kembali mencumbunya dengan hangat dan penuh gairah. Tidak ada waktu, untuk mengatakan apa pun, mata Dara terpejam dan membalas cumbuan sang suami.
Sentuhan lembut yang Langit lakukan di sekujur tubuhnya bagai magnet yang membuat Dara inginkan lebih dari itu. Langit melepas cumbuannya sejenak, menatap dalam mata indah sang istri.
“Maukah kamu tidur denganku?” ucapnya, masih dengan suara rendah yang terdengar bagai bisikan malaikat cinta.
Dara tersenyum manis, lalu mengangguk lembut. Setelah mendapat persetujuan istrinya, Langit kembali melancarkan aksi liarnya, kali ini bukan karena pengaruh perangsang, tetapi pengaruh perasaan cinta yang bergejolak dan menjejali hatinya.
Malam mencekam, berubah menjadi malam yang menggairahkan, keduanya memanjakan satu sama lain dengan belaian yang dulu hanya sebatas angan. Ketenangan terpancar di wajah pria yang kini mengungkungnya di ranjang berukuran queen itu. Berulang kali dia tersenyum hangat, setiap tatapan sendu keduanya bertemu.
Setelah beberapa saat permainan cinta yang lembut berpadu, rintihan terdalam Dara lontarkan seraya memeluk erat tubuh polos suaminya. Tak lama kemudian, Langit menyusul dengan suara yang tak jauh berbeda, keduanya larut dalam hasrat di balik selimut.
Bersambung ….