BAB 6. CEMBURU

1221 Kata
“Apa yang kamu lakukan?!” Dara menarik tangan dari isapan Langit, lalu spontan berdiri salah tingkah. Wajahnya memerah, hawa panas tiba-tiba merambat di sekujur tubuhnya. Langit terhenyak ketika mendapati respons dari istrinya yang tampak tak menyukai tindakan yang dilakukan. “Aku cuma berusaha membantu,” jawab Langit, ketus. Lantas, dia pun berdiri lalu mengambil kotak P3K yang ada di lemari, tak jauh dari tempatnya, kini. Langit pun menarik Dara dan mengarahkannya untuk kembali duduk di kursi. Kemudian, pria itu mengobati luka di jari Dara dan membungkusnya dengan plester. Begitu cekatan dan lembut. Dara mendengkus kasar, tak mengerti dengan sikap sang suami yang begitu cepat berubah dalam hitungan menit saja. “Apa yang harus kulakukan padamu? Bagaimana aku harus menyikapimu, Kak?” tanya Dara dengan nada tertahan, dia kesal dan bingung secara bersamaan. Langit bergeming seolah tak mengindahkan pertanyaannya. Setelah selesai mengobati luka Dara, dia pun buru-buru membersihkan pecahan piring di lantai. “Kak!” Dara yang kesal karena sikap Langit, mendesak jawaban dari pria itu. Langit pun akhirnya menoleh ke arahnya, memberikan fokus yang diharapkan. “Aku juga bingung, aku juga tidak tahu harus bagaimana, aku kesal, syok, dan sakit hati dengan keadaan kita!” ungkap Langit. “Sakit hati? Kakak sakit hati karena aku mengandung anakmu. Kamu kesal karena aku yang kamu cumbu, bukan perempuan itu? Itu maksudmu?” sergah Dara, mencoba menerka ke mana arah pembicaraan suaminya. “Perempuan itu?” Langit mengerutkan kening, menatap Dara, sedikit tak mengerti dengan apa yang baru saja dilontarkan. “Maksud kamu apa, Dara?” tanyanya penasaran. “Jangan pura-pura bodoh, atau bersikap membodohiku, Kak Langit. Aku tahu cuma Rania yang kamu inginkan, aku tahu hatimu cuma untuknya. Pernikahan ini mauku, okey aku terima. Tapi, anak ini? Jangan kamu pikir ini hanya mauku juga?! Kamu yang menekanku untuk melakukannya, untuk melayanimu!” cerocos Dara, dia mengoceh dengan segala perasaan yang meledak. Sial, hati wanita cantik itu sudah tak mampu menahan emosi yang selama ini terus diredam. “Dara, bukan begitu maksudku–” “Lalu apa?!” sela Dara, rasanya dia tak sabar untuk menunggu penjelasan dari Langit. Akan tetapi, Langit kembali terdiam. Mengesalkan. Pria itu termangu, saat melihat sikap Dara saat ini. “Sudahlah, Kakak tenang saja, mumpung situasinya belum terlalu sulit, kehamilanku juga belum ada yang tahu, besok atau lusa kita lakukan. Aku akan mengambil cuti, setelah menemukan RS yang bisa melakukan itu,” jelas Dara, lalu dia bangkit dari duduk dan meninggalkan Langit. Langit menatap punggung Dara dari belakang, ada hantaman yang cukup kencang ke dalam d**a saat mendengar istrinya mengatakan itu. Egois. *** Berkat koneksi yang Langit miliki, akhirnya mereka menemukan RS di Singapura untuk melakukan peluruhan kehamilan Dara. Keduanya pun sudah merencanakan keberangkatan ke Negeri Singa itu. Dengan perasaan gamang dan sedih yang luar biasa, Dara pun meminta cuti kepada bosnya. “Tumben?” sahut Pria tampan berstatus lajang itu. “Emh, suami ngajak liburan, Bos. Lagi pula, selama lima tahun bekerja aku belum sempat cuti,” ungkap Dara, dengan senyum penuh keraguan. “Okey, baiklah, aku izinkan. Segera kembali, dan kutunggu performamu setelah liburan. Semoga kinerjamu makin bagus, kulihat beberapa waktu belakangan kamu agak kacau,” sahutnya, dengan tangan masih sibuk menandatangani dokumen yang menumpuk di meja kerja. “Terima kasih, Bos,” ucap Dara. Dia pun lantas berpamitan pada Sean, lalu berbalik hendak pergi dari ruangan itu. Namun, sebelum sempat membuka pintu, Sean kembali memanggilnya. “Dara!” Sontak, panggilan itu membuat langkah Dara terhenti, dia kembali menoleh ke arah pria matang yang cukup tampan itu. “Ya,” sahut Dara. “Jika menikah terlalu sulit, tidak ada salahnya untuk melajang. Kamu wanita luar biasa, hidupmu tidak akan sulit tanpa seorang pria. Kalaupun, harus ada pria, pilihlah yang terbaik. Mengenal dengan cukup lama, bukan berarti dia yang terbaik,” tutur Sean, seraya membuka kacamata dan menatap Dara dengan sorot lembut, dia juga tersenyum tipis. Raut wajah Sean seolah mengerti apa yang Dara rasakan saat ini. Akan tetapi, Dara tak begitu banyak merespons, wanita muda yang cantik itu tersenyum, berpura-pura tidak memahami apa yang bosnya katakan. Lalu Dara pun berpamitan lagi, kali ini dia benar-benar pergi. “Keputusanmu untuk menikah terlalu cepat, Dara,” gumam Sean dengan mata berkaca-kaca. *** [Aku sudah dapat cuti, kita bisa berangkat besok] Dara mengirim pesan kepada Langit saat jam makan siang. Setelah mengirim pesan tersebut, dia kembali mengaduk makanan di piring tanpa menyuapkan ke mulut. Hari ini, dia benar-benar tidak berselera. Saat Dara hendak membereskan tempat makan, tanpa sengaja dirinya melihat Sean menggandeng seorang gadis kecil seraya berjalan menuju kantin. Langkah Dara terhenti, melihat pemandangan itu membuat luka di hatinya menganga. Ada harapan kecil yang mencuat, berharap jika Langit bisa menjadi pria yang lembut seperti bosnya. Dara terkesiap, saat Sean melambaikan tangan kepadanya. Dara membalas dengan senyum simpul, tanpa banyak kata. Sean pun menyapa, begitu juga dengan gadis kecil itu, begitu melihat Dara, dia langsung menghambur dan memeluk kaki jenjangnya. “Kak Dara, udah lama kita enggak ketemu. Kakak jarang ke rumah sekarang,” protes gadis kecil itu. Dara meletakkan kembali nampan ke meja, lalu dia berjongkok mensejajarkan diri dengan gadis kecil itu. “Maaf, Kakak terlalu sibuk,” kilahnya. “Kapan-kapan kita kemping lagi, yuk!” ajak gadis kecil itu. “Sheza, biarkan Kak Dara, ya, jangan ganggu dia,” larang Sean, dia merasa tidak enak hati. “Enggak apa-apa, Bos,” sahut Dara. “Nanti kapan-kapan kalau Kakak ada waktu, ya.” Jelas itu berbohong, sebab sudah tidak mungkin baginya untuk pergi dengan Sean dan Sheza lagi. Statusnya kini sudah menjadi istri orang. “Jangan berjanji untuk sesuatu yang tidak bisa kamu tepati, jangan sakiti anak kecil dengan harapan palsu,” ujar Sean. Mendengar itu, Dara kembali berdiri dan mengusap pucuk kepala Sheza. “Aku tidak pernah memberi harapan palsu,” ucap Dara. “Sungguh?” tanya Sheza. Dara mengangguk kecil, tetapi anggukan itu ditepis Sean. “Tapi, She, walaupun Kak Dara mau, sekarang sudah enggak bisa. Dia sudah ada suami, nanti suami Kak Dara marah,” tutut Sean, mencoba memberi pengertian pada putrinya. “Emh, begitu, ya? Kalau gitu, sebagai gantinya kita makan malam di luar saja, gimana? Aku janji setelah ini enggak ganggu Kak Dara lagi.” Sheza menatap Dara dan Sean secara bergantian, berharap kedua orang dewasa itu segera menyetujui kemauannya. “Oke!” jawab Dara. Sean pun tersenyum, karena Dara masih begitu mempedulikan putrinya. *** Dara dan Sean pergi makan malam sepulang bekerja, untuk menyenangkan hati Sheza. Mereka memilih restoran Korea, untuk makan ramyeon, karena Sheza sangat menginginkan itu. Siapa sangka, Langit juga sedang berada di tempat tersebut. Dia baru saja selesai meeting dengan pemilik restoran yang kebetulan merupakan klien bisnisnya. Saat keluar dari ruangan VVIP, ekor mata Langit melihat Dara yang begitu ceria saat bercanda dengan dua orang asing di salah satu meja. Hatinya bergemuruh melihat pemandangan tersebut, kilas balik tentang Rania yang mengkhianatinya kembali terlintas. Langit tidak ingin hal itu terulang, matanya membelalak dengan urat menegang menghampiri meja tempat Dara makan. “Dara!” panggil Langit dengan nada tegas, dia berdiri di sisi meja seraya menatap Dara dengan sorot berapi-api. Dara yang tak asing dengan suara itu, seketika mendongak, dia terkejut dengan kehadiran Langit di sana. Matanya membeliak saat melihat suaminya berdiri dengan raut wajah yang sulit diartikan. Dara takut, pria itu akan salah paham, meski tahu pasti belum ada cinta seperti itu di hatinya. “Kak Lang–” Bersambung ….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN