BAB 5. EGOIS

1056 Kata
“Pocong?” tebak Langit asal. Dara meninju perut Langit dengan gemas, lalu dia menunjukkan tespek yang memiliki dua garis merah tanda positif. “Apa ini?” tanya Langit dengan wajah polos. “Sepertinya aku hamil,” jawab Dara. “Tidak mungkin! Kita hanya melakukan itu sekali saja, masa udah langsung hamil. Lagian kamu enggak mual-muntah,” protes Langit, merasa bingung dan kaget secara bersamaan. “Kamu yang mula muntah, kan?” sahut Dara. “Mana bisa begitu, kamu yang hamil ya, kamu yang harusnya mual, muntah, pusing, dan mulut tak enak,” protes Langit. “Ya sudah, kita denger pendapat dokter aja, capek aku dengerin Kak Langit ngoceh,” gerutu Dara, lalu dia berjalan kembali menemui dokter yang memeriksa Langit. Dara pun menunjukkan hasil tespek, dokter memberikan anggukan sebagai respon. Lantas, tersenyum ke arah Langit dan Dara secara bergantian. “Selamat Mas, Mbak, sebentar lagi kalian akan menjadi ayah dan ibu, garisnya sudah jelas banget, ini artinya Mbak Dara benar-benar positif hamil, minggu depan bisa periksa ke dokter kandungan, ya,” ucap pria paruh baya yang mengenakan jas putih itu. Sontak, wajah Langit kembali pucat setelah mendengar ucapan selamat dari pria bergelar dokter tersebut. *** Setiap pagi, Langit harus mengalami mual dan muntah yang menyiksa, tak jarang dia harus terlambat pergi bekerja karena kondisinya itu. Bahkan, untuk makan saja, Langit kesulitan, seperti ibu hamil pada umumnya. Meskipun sudah begitu sabar menghadapi kondisi yang cukup langka ini, Dara terkadang merasa frustrasi, sebab suaminya terus-menerus mengeluh, dan tak jarang mengumpat. “Kenapa tidak kamu saja yang mengalami ini? Atau luruhkan saja bayi sialan itu!” umpat Langit, saat dirinya tersiksa dengan aroma nasi yang masih mengepul. Setiap keduanya akan makan, selalu saja terjadi drama yang cukup mengesalkan. Tak jarang acara makan mereka justru diakhiri dengan perdebatan tanpa penyelesaian. “Memangnya itu mauku? Memangnya aku yang buat kamu mengalami sindrom couvade tersebut? Hah! Itu terjadi karena bayinya, bayinya ingin kamu mengakui kehadirannya, Kak!” sahut Dara, tak kalah kesal, karena Langit selalu mengeluh dan mengeluh. “Tapi ini menyiksa, Dara!” sembur Langit. “Dia pikir dengan membuatku seperti ini, akan membuat hidup kita baik-baik saja kedepannya? Hah! Pekerjaanku jadi terganggu, aku kurang tidur, kurang makan, aku juga sulit berkonsentrasi. Pokoknya, kamu harus menghentikan kehamilan itu, aku tidak mau kalau sampai harus berbulan-bulan mengalami kehamilan simpatik sialan ini,” cerocos Langit, lantas dia membanting sendok nasi dan pergi meninggalkan Dara yang masih termangu. Mata dara menanap, terkejut melihat suaminya tampak begitu serius saat memintanya untuk mengakhiri kehamilan. Hingga wanita cantik itu terpaku untuk beberapa saat. “Kak, jangan begitu, ini juga anakmu!” teriak Dara, pada akhirnya. Mencoba menolak apa yang Langit minta. “Anak? Anak apa yang dalam kandungan saja sudah menyusahkan!” balas Langit tak kalah berteriak, dia begitu kesal dengan keadaannya saat ini. Sementara itu, Dara tak tahu apa yang harus diperbuat, satu sisi menginginkan anak dalam kandungannya lahir, di sisi lain, dia merasa tak tega melihat Langit tersiksa dengan situasinya. Hingga Langit pergi meninggalkannya, begitu saja. Masalah pernikahan di antara keduanya semakin rumit, tetapi Dara harus menerima itu sebab dialah yang menawarkan diri untuk menikah dengan pria yang jelas-jelas tak mencintainya. Beberapa jam kemudian, Dara masih menunggu Langit dengan gelisah. Beberapa kali wanita itu mondar-mandir di depan sofa, seraya sesekali menengok ke arah pintu masuk. Dengan harapan, Langit akan datang membuka pintu. “Sudah jam segini, Kak Langit ke mana?” gumam Dara, usai dirinya melihat jam dinding yang jarum jamnya menunjukkan pukul 00:30. Semakin malam, tubuhnya semakin lelah, Dara duduk di sofa lalu menyandarkan punggung ke sandaran sofa. Dengan perlahan, dia merebahkan diri dan akhirnya ketiduran. *** Menjelang subuh, Langit baru pulang, pria tampan itu tertegun sesaat, ketika melihat Dara tertidur di sofa karena menunggunya. Namun, seolah tak memiliki hati, Langit acuh tak acuh dan langsung masuk ke kamar. Perangainya tampak tak menyukai Dara, seolah semua yang terjadi adalah salah istrinya. Hingga keesokan harinya, hal itu terus berulang, Langit bahkan tak menegur Dara, meski keduanya nyaris bersinggungan. Hal itu pun berlanjut terus menerus, hingga Dara merasa kesal dengan perlakuan pria itu. Pagi ini, Langit merasa mual yang luar biasa. Tepat, saat Dara membuka toples roti untuk sarapan, Langit langsung tidak tahan dengan aromanya, setelah mengumpat pada sang istri, dia berlari ke toilet dan memuntahkan isi perut yang belum terisi apa pun. Muntah kosong yang menyakitkan, membuat emosi pria itu kembali meledak. Setelah mencuci mulut di wastafel, Langit menyibak perlengkapan cuci muka milik Dara yang tertata di area itu. Hingga benda-benda tersebut berhamburan ke lantai kamar mandi. Dara yang menyusul Langit hanya tertegun melihat amarah pria tinggi tegap itu. Sungguh bukan maunya hal itu terjadi, tetapi melihat sikap Langit, Dara merasa semakin bersalah. Dia takut untuk bersikap, mau peduli atau membiarkan saja, membingungkan. Lantas, Langit kembali ke meja makan. Menyadari itu, Dara buru-buru menyiapkan buah kupas, sebab tahu hanya itu yang bisa Langit makan. Dara menyodorkan sepiring kecil melon kupas, tetapi tanpa diduga, Langit menepis tangan Dara hingga sepiring buah berpindah dengan cepat ke lantai. “Apa-apaan kamu ini, Kak? Aku hanya berusaha membantumu!” sentak Dara, kesal. Dia menahan tangis di hadapan Langit, sebab pria itu akan lebih marah jika melihatnya menangis. “Buah tidak akan menyembuhkanku!” balas Langit, tak kalah berteriak. Dara berjongkok dan mulai memunguti pecahan piring di lantai. Air matanya meluruh saat pikirnya berusaha mencerna dan memahami kalimat yang baru saja suaminya lontarkan. “Baiklah, aku akan menghentikannya! Dengan begitu Kak Langit tidak perlu lagi merasa tersiksa dengan kehamilanku.” Dengan nada tertahan, Dara terpaksa mengucapkan hal itu. Sebab, jika begini terus hatinya tak akan sanggup. Mungkin Dara bisa gila menghadapi sikap Langit. “Bagus kalau kamu mengerti,” jawab Langit dengan nada ketus, kemudian dia bangkit dari duduk dan pergi tanpa peduli lagi. “Aish ….” Dara mendesis kesal, dia tidak menyangka jika kehamilannya menjadi masalah besar. “Padahal malam itu dia begitu bersemangat, kenapa semua seolah menjadi salahku?” gumam Dara. Dara terus menggerutu, meluapkan kekesalannya terhadap Langit, hingga itu terhenti saat sebuah pecahan piring melukai jarinya. “Aw!” pekik Dara, dengan spontan dia menarik telunjuk yang terluka, lalu mengeluarkan darahnya. Tiba-tiba, Langit berlari ke arah Dara, berjongkok dan meraih telunjuk yang terluka itu. Dengan cekatan, Langit mengisap luka di telunjuk Dara, bermaksud untuk menghentikan pendarahan. “Apa yang kamu–” Mata Dara membelalak mendapati tindakan suaminya yang benar-benar di luar dugaan. Bersambung …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN