“Stop, kumohon!” pinta Dara mencoba mempertahankan kewarasannya, sementara Langit semakin gila karena pengaruh obat perangsang yang diminumnya.
“Kenapa?” tanya Langit, “aku, kan, suamimu.”
Napas pria itu tersengal-sengal, menahan gejolak yang semakin lama semakin membara. Dia tak bisa lagi menahan hasrat kelelakian yang terus meronta mencari kepuasan.
Dara berusaha membebaskan diri dari dekapan Langit, tetapi pelukan dan cumbuan yang terus menghujam membuatnya semakin lama semakin tak berdaya. Hingga perlawanan yang Dara lakukan berubah menjadi gerakan mengimbangi.
Langit tersenyum menang, saat Dara memejamkan mata dan merintih penuh cinta. Pria berwajah dingin itu ternyata begitu panas saat melakukan adegan ranjang. Dia begitu luar biasa, membuat Dara benar-benar terbuai.
Entah berapa lama keduanya saling memanjakan, sebab mereka tertidur begitu merasa seluruh hasrat sudah tersalurkan.
***
Keesokan paginya, mereka terbangun secara bersamaan. Langit menatap Dara, begitupun sebaliknya. Sejurus, keduanya berteriak kaget secara bersamaan, apalagi saat tersadar jika keduanya tak mengenakan sehelai pakaian pun.
“Apa yang kamu lakukan padaku?!” teriak Langit pada istrinya, dia menarik selimut yang membuat sisi lain selimut itu tersingkap dari tubuh Dara.
Dara dengan refleks menarik kembali ujung selimutnya, sebab dia merasa malu jika harus tampak plontos di depan Langit. Meskipun semalaman mereka sudah melakukan itu.
“Kamu yang melakukan padaku, bukan aku!” sahut Dara.
“Apa?!” Langit tercenung, lalu mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi.
Suasana menjadi hening untuk sesaat, hanya embusan napas keduanya terdengar saling bersahutan.
“Kenapa kamu tidak menyadarkanku?!” protes Langit dengan wajah ketus.
“Maksud Kak Langit?” sahut Dara seraya mendelik kasar.
“Ya, kamu tampar aku kek, atau apa?” ujarnya, dia masih tampak syok dan sesekali memijat pelipisnya.
Mendengar ocehan Langit, Dara begitu putus asa, dia mendengkus dan menatap Langit dengan malas.
“Jadi, Kak Langit nyesel?” tanya Dara dengan getar di nada bicaranya.
“Enggak–bukan–tapi–”
“Kalau emang Kak Langit nyesel, anggap saja ini enggak pernah terjadi.” Dara memotong penjelasan yang akan Langit lontarkan, baginya respon Langit sudah begitu membuat dirinya terhina.
Dara pun bangkit dari kasur dengan menarik seluruh selimut untuk menutup tubuhnya. Sontak, itu membuat tubuh Langit terekspos, buru-buru Langit menarik sprei putih untuk menutupi tubuh atletisnya.
Dara memunguti pakaiannya di lantai, dia pun pergi ke toilet tanpa peduli kepada Langit lagi. Langit hanya terpaku, dia tidak tahu bagaimana harus menghadapi Dara. Tak lama kemudian, Dara keluar dari kamar mandi, dia pun pulang dengan tergesa dengan wajah sedih dan kecewa. Sementara itu, Langit hendak menyusulnya, tetapi urung saat menyadari dirinya belum mengenakan apa pun.
“Argh, sialan!” umpat Langit, lalu dia mengibaskan sprei ke kasur, tatapannya menangkap bercak merah di sprei itu, dan Langit langsung mengerti tanda apa itu sebenarnya.
“Apa yang harus kulakukan setelah ini?” gumam Langit, merasa menyesal telah menodai Dara.
“Kini Dara sudah tidak perawan lagi,” ucapnya, meratapi kesalahan di kuar kendalinya.
Langit memilih tidak buru-buru pulang, dia mandi dan bersih-bersih terlebih dulu, seraya berpikir bagaimana cara menghadapi Dara nantinya.
“Apa yang harus kulakukan? Bagaimana kalau setelah kami bercerai, lalu Dara hamil. Bisa habis Mama dan Papa memarahiku,” gumam Langit.
“Lagian kenapa aku harus melakukan hal seceroboh itu?! Dasar tidak waras.” Langit merutuki diri sendiri, dengan air yang terus mengguyur dari kepala hingga ujung kaki.
Usai mandi, Langit menelepon Dion untuk menanyakan beberapa hal, dia merasa curiga pada temannya itu. Sebab, setelah bertemu dengan Rania di pesta, dirinya tak mengingat apa pun lagi. Langit merasa dirinya diracuni sesuatu.
Akan tetapi, saat Langit menelepon Dion, tak ada jawaban darinya. Langit pun memutuskan untuk pulang saja, dan membicarakan semuanya dengan Dara.
***
Sesampainya di rumah, Dara sudah menunggunya di sofa dengan kontrak dan surat cerai. Seperti janji yang mereka sepakati, jika pernikahan itu hanya akan berlangsung setahun, dan hari inilah waktunya mereka mengakhiri itu.
“Kita perlu bicara,” ucap Dara, saat melihat suaminya masuk rumah dengan gerak kaku dan ragu-ragu tak seperti biasanya.
Langit menghampiri Dara dan duduk tepat di hadapannya. Langit menatap Dara ragu-ragu, lalu bersiap untuk mendengarkan.
“Baiklah, benar kita harus bicara. Aku akan mendengarkanmu terlebih dulu.” Langit memberi Dara kesempatan untuk berbicara kepadanya.
Dara mendelik ke arah suaminya, lalu dia mengembuskan napas berat, “Kurasa ini harus diperpanjang, alih-alih diakhiri, Kak.”
Dara menyodorkan kontrak yang dulu mereka sepakati.
“Aku khawatir, jika aku hamil nanti, anakku lahir tanpa ayah,” lanjutnya.
“Dasar bodoh, kamu pikir aku akan membiarkannya begitu. Jelas tidak mungkin, anakmu juga anakku, Dara,” sergah Langit.
“Oke, kita perpanjang satu bulan, jika tidak ada tanda-tanda kamu hamil, kita akhiri ini,” tegas Langit, lantas dia bangkit dari duduk dan pergi begitu saja.
“Selalu saja gitu, orang lain belum selesai ngomong, Kak Langit main pergi saja!” protes Dara.
“Memangnya apa lagi? Bukankah kesepakatan sudah dibuat?” sergah Langit.
Mendengar jawaban Langit yang singkat, padat, dan memangkas, rasanya tidak ada lagi kata yang harus terlontar. Dara juga beranjak dari duduk dan pergi ke kamarnya. Namun, setelah di kamar Dara tidak berhenti menggerutu, mengumpati suaminya yang seperti dua orang berbeda jika dibandingkan dengan Langit tadi malam. Langit yang begitu ekspresif, hangat, lembut, dan romantis.
“Dasar menyebalkan!”
***
Satu minggu berlalu, tidak ada tanda-tanda kehamilan pada Dara. Dia masih bisa makan lahap di waktu apa pun.
Dua minggu berjalan begitu singkat, tetapi hasil masih sama, tidak ada tanda-tanda kemunculan embrio di perutnya. Dara pun masih bekerja seperti biasa. Dia juga melakukan perjalanan dinas ke luar kota, seperti biasa.
Minggu ketiga dan keempat, bahkan hingga enam minggu berlalu, masih sama. Tidak ada apa pun yang menjadi tanda buah hati hadir. Keduanya mengobrol kembali di tempat saat sebelumnya. Lalu, keduanya memutuskan untuk mengakhiri pernikahan tersebut. Lagi pula Dara tidak hamil.
Dara juga tak ingin memaksa kehendak, meskipun tamu bulanannya belum datang, tetapi dia tak mengalami tanda-tanda kehamilan. Namun, tepat saat Dara akan menandatangani surat cerai yang sudah disiapkan, tiba-tiba Langit merasa mual yang tak tertahan.
“Hooek!” Langit menutup mulut dengan kedua tangan lalu berlari ke toilet.
Dara terkejut dan urung menandatangani surat cerai itu. Bergegas dirinya menyusul Langit, dan membantu menepuk-nepuk bahunya.
“Kak Langit baik-baik saja?” tanya Dara.
“Perutku melilit sekali, ada apa denganku?” jawab Langit dengan wajah pucat dan keringat sebesar biji jagung mengelilingi keningnya.
“Kita ke dokter saja,” ajak Dara.
Langit langsung menuruti saran Dara, keduanya pun pergi ke dokter untuk memeriksa Langit.
Sesampainya di klinik, Langit masih mual-mual dan sesekali muntah. Membuat Dara semakin khawatir. Namun, yang mengherankan, setelah menjalani pemeriksaan dasar, tidak ada yang salah dengan Langit. Dia baik-baik saja. Dokter pun ikut herang. Hingga akhirnya Dokter yang memeriksa Langit meminta Dara untuk melakukan tes urin.
Setelah Dara melakukannya, Langit pun merasa tegang dan was-was dengan hasil yang Dara miliki. Langit yang tak sabar menunggunya di depan pintu toilet seraya menutup hidung dengan frustrasi.
Tak lama kemudian, Dara keluar dari toilet dengan wajah muram dan tampak lemas.
“Bagaimana?” tanya Langit.
“Aku po–”
“Po?”
Bersambung ….