BAB 3. PERJANJIAN

1780 Kata
Pernikahan dengan Rania dibatalkan, tetapi Langit menikah dengan Dara setelah berdiskusi panjang lebar. Terdengar egois memang, tetapi tidak ada pilihan lain agar situasi tetap kondusif, meskipun untuk sementara. Sebab, tak bisa dihindari jika suatu saat keluarga Rania melakukan pembalasan. Pembicaraan berjalan alot, keluarga Rania tak terima seperti apa yang diprediksikan. Namun, tidak ada yang bisa mengubah keputusan itu. *** Langit duduk berhadapan dengan Dara yang masih kelelahan usai acara resepsi tersebut. Namun, wajahnya selalu ceria seperti tidak ada beban. “Kamu enggak mikir, kalau keputusan ini terlalu berisiko?” celetuk Langit. “Lebih berisiko jika pernikahanmu batal, kamu tahu marahnya Om Andra seperti apa, bukan? Ingat, Kak, dia lebih percaya padamu dibandingkan anaknya sendiri. Jika kamu mempermalukannya, apa yang akan dia lakukan, coba?” cerocos Dara. “Terus apa selanjutnya? Kamu pikir aku bisa menjadi suamimu, gitu?” sergah Langit. “Ya, terus mau jadi apa? Bersikap saja sewajarnya, kan, bisa. Enggak usah terlalu dibuat template,” sahut Dara, terdengar tanpa beban. Dia memang bukan gadis lemah yang hanya akan iya dan iya saja jika diajak berdiskusi. Pendapatnya selalu acak, tetapi masuk akal dan efektif. “Kita buat perjanjian saja,” ucap Langit. “Okey,” jawab Dara langsung setuju. “Aku akan tulis apa yang harus kamu lakukan, nanti kamu tambahkan apa yang harus atau tidak boleh aku lakukan kepadamu,” tutur Langit seraya menatap gadis berwajah imut itu. “Baiklah!” Langit pun mulai menulis, ya, alasan klasik untuk tidak saling menyentuh dan bersikap seperti biasanya saja. Dara pun langsung setuju dengan hal itu, kontrak yang mereka sepakati berlaku satu tahun tanpa sepengetahuan orang tua dan mertua masing-masing. “Jangan tidur bersama atau melakukan hal intim, jiah, padahal itu yang ditunggu-tunggu setelah pernikahan,” gumam Dara. “Apa?” ternyata Langit mendengar itu. *** Benar saja, pernikahan mereka berjalan kaku seperti kanebo kering. Keduanya masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing, kadang meski serumah, mereka jarang bertemu. Hingga setahun pun berlalu tanpa kesan. “Besok hari terakhir kita terikat kontrak, bukan?” tanya Dara, saat sedang sarapan berdua, dia mencoba membicarakan hal itu. Jarang sekali kesempatan itu didapatkan. “Emh, nanti malam tepat pukul 23:59, kita akhiri ini dan kembali ke kehidupan masing-masing,” tutur Langit pada istrinya. “Ternyata, Kak Langit memang lebih baik saat menjadi kakak dibandingkan saat menjadi suami,” celetuk Dara. Sontak, komentar itu membuat Langit tersenyum kecut. “Malam ini aku akan pulang terlambat, tapi kuusahakan aku pulang sebelum hari berganti,” pesan pria pemilik mata indah itu. “Mau ke mana?” tanya Dara, baru kali pertama dia merasa penasaran dengan rencana pria yang sudah setahun hidup bersamanya itu. “Aku diundang ke pesta ulang tahun teman kuliah dulu, aku ingin mengajakmu, tapi tempo hari kamu bilang ada meeting hari ini,” jelasnya tanpa ragu. “Baiklah, have fun,” jawab Dara sedikit kecewa dengan jawaban Langit, lantas dia menyuapkan potongan roti terakhir hingga mulutnya penuh. Langit pergi ke kantor seperti biasa, begitupun dengan Dara yang kebetulan bekerja sebagai seorang sekretaris di perusahaan ternama. “Kenapa enggak langsung ngomong kalau mau ajak ke party, jangan cuma nanya Jumat malam kamu sibuk, enggak? Malah terdengar kayak basa-basi,” geruru Dara, masih kesal pada pria tampan yang bergelar suami itu. Bibir merah muda itu terus berkomat-kamit tak karuan, mengungkapkan kekesalan pada suami singkatnya. *** Usai bekerja, Dara langsung pulang. Sebab, dia sudah berjanji dengan Langit akan mengadakan perpisahan kecil di rumah dengan nonton film bersama. Hal yang selama ini tak pernah mereka lakukan. Setelah dua jam menunggu, hingga Dara bosan, Langit tak kunjung pulang. Gadis itu melirik penunjuk waktu yang tertempel di dinding, jarumnya menunjukkan pukul 11 malam lebih 10 menit. “Ke mana dia pergi?” gumam Dara, khawatir. Sementara itu, di hotel tempat teman Langit bernama Dion berpesta, cukup meriah. Namun, sial, setelah hidupnya cukup tenang selama setahun ini. Pria itu harus bertemu lagi dengan Rania yang juga diundang ke pesta itu. “Kenapa kamu enggak bilang, kalau dia datang?” Langit bertanya dengan nada kesal kepada Dion. Sebenarnya bukan hanya bertanya, melainkan itu merupakan bentuk protes. “Enggak usah terlalu diambil pusing, yang sudah, ya sudah, lagian ‘kan, kamu sudah punya istri,” sahut Dion. Langit mendelik malas, lalu mendengkus kasar. Dia berusaha menghindari bertukar pandang dengan Rania, tetapi wanita itu terus menatapnya dengan tatapan sendu, seperti dulu. Perlahan, Rania pun menghampiri Langit dan duduk di sampingnya. Lalu, seolah dengan sengaja menumpahkan minuman ke kaki langit yang membuatnya harus berjongkok dan membersihkan celana pria itu dengan tisu. “Maaf,” ucapnya, tentu saja itu hanya modus untuk mendapatkan perhatian dari Langit. Alih-alih menanggapi permintaan maaf Rania, Langit memilih bangkit dan pergi ke tempat lain. Dia juga bersikap acuh tak acuh pada wanita yang sepertinya belum merelakannya itu. “Lang!” panggil Rania. Langkah Langit terhenti, lalu mengembuskan napas kasar saking malasnya. “Ada apa? Ada yang ingin kamu bicarakan?” tanya Langit dengan nada datar. Akan tetapi, Rania justru terpaku, lidahnya seketika kelu saat Langit merespons panggilannya. “Jika memang tidak ada yang ingin dibicarakan, aku akan ke sana!” Langit melanjutkan perkataannya, lalu beranjak menuju meja lain yang masih sepi. Rania masih terpaku dengan begitu kesal, Langit semakin jauh untuk digapai dari waktu ke waktu. “Pst!” Dion menyelipkan sebuah bungkusan kecil ke tangan Rania, membuatnya terkejut dengan mata membeliak. “Susul dia dan temani, masukan ini ke dalam minumannya. Kamu akan mendapatkannya malam ini,” bisik Dion, lalu tersenyum miring. “Kamu yakin ini akan berhasil?” tanya Rania. “Sure!” Rania pun menyusul Langit dengan terburu, langkah pria itu cukup cepat karena tubuh tinggi dan kaki jenjang. Sejurus kemudian, Rania sudah berhasil menyusul Langit. Di tempat itu mereka hanya berdua saja. “Apa lagi?” tanya Langit ketus. “Berhentilah bersikap dingin padaku, aku hanya ingin bicara, karena kita belum sempat melakukan hal itu, Lang,” jelas Rania, lagi-lagi modus. “Sudahlah, lupakan, itu semua sudah berlalu,” sahut Langit, lalu pria itu melirik jam di pergelangan tangan, tampak gelisah. Saat Langit lengah, Rania menuangkan bungkusan yang berisi serbuk putih itu. Setelah yakin jika serbuknya sudah larut dalam jus jeruk itu. Rania mengajak Langit untuk minum, merayakan karena mereka sudah berbaikan. Langit yang sangat ingin menyudahi pertemuan itu, menuruti tanpa curiga. Pria itu minum jus hingga tandas. *** Di sisi lain, Dara yang tidak bisa menunggu lagi, memilih menyusul ke tempat pesta itu. Kebetulan, Dara menemukan undangan pesta tersebut di nakas ruang tengah. “Bisa-bisanya dia melupakan janji terakhirnya, dasar suami bertingkah!” gerutu Dara, lalu mengendarai mobil dengan kecepatan penuh menuju hotel tempat pesta diadakan. Setelah menempuh lebih dari sepuluh menit perjalanan, Dara pun sampai di parkiran hotel. Dia bertanya pada petugas keamanan seraya menunjukkan undangan yang Langit tinggalkan di rumah. Dara masuk dan mencari ruang pesta sesuai arahan dari petugas keamanan. Di ambang pintu, dia mematung, matanya bergerak cepat mencari sosok pria yang tak lain adalah suaminya. Di tengah gemerlapnya lampu dan musik yang membuat kepalanya pening hingga konsentrasinya terganggu. “Langit!” teriak Dara sekencang-kencangnya. Akan tetapi, suaranya kalah dengan dentuman musik yang DJ putar. “Langit Atlanka Pradipta!” teriaknya lagi, kali ini lebih kencang dari sebelumnya. Sial, suaranya masih tak didengar. Hingga akhirnya Dara memutuskan untuk pergi ke panggung dan merampas mikrofon. Dengan langkah tegap dia berjalan seperti seorang manusia super yang akan menyelamatkan korban kejahatan. “Matiin!” pinta Niadara pada DJ yang sedang asyik memainkan piringan hitamnya. Dia diabaikan, yang akhirnya memilih untuk mencabut kabel yang tersambung ke sound. “Ngeyel!” ketusnya. Semua orang menyoraki Dara, karena mengganggu kesenangan. “Beri aku waktu satu menit!” ucap Dara yang kini sudah berbicara di depan Mikrofon. “Langit Atlanka, silakan datang ke sumber suara!” ucapnya. “Langit!” panggilnya lagi. “Langiiiit!” kali ini lebih kencang. Hal itu pun bisa didengar dengan jelas oleh Langit dan juga Rania. Namun, saat Langit akan menunjukkan diri Rania mencegahnya secara berulang. Efek obat yang Rania berikan sepertinya mulai bereaksi, Langit pusing dan sulit mengendalikan tubuhnya seperti orang mabuk. Gubrak! Langit pun ambruk, hal itu membuat semua perhatian terarah padanya. Termasuk perhatian Dara. Rania yang melihat Dara menatap ke arahnya, berusaha menyembunyikan Langit. Lalu, dia meminta bantuan Dion untuk membawa pria itu ke dalam kamar. Dara yang curiga dengan keributan itu, cepat-cepat turun dari panggung. Sialnya, beberapa penjaga mencegah pergerakannya karena Dion melapor. Akan tetapi, Bukan Dara, jika menyerah begitu saja dengan keadaan. Setelah menjelaskan semuanya, akhirnya Dara pun diberi ruang untuk mencari suaminya. Di sisi lain, Rania sudah berhasil membawa Langit ke kamar. Kesadaran Langit pun mulai pulih, hawa di tubuh atletisnya memanas membuat pria itu membuka kemeja hitam yang dikenakan. Setelah bertelanjang d**a, Langit menarik Rania ke dalam dekapannya, karena dorongan hasrat yang disebabkan obat perangsang. Nyaris saja Langit mendaratkan bibirnya di bibir Rania, tetapi sebuah ketukan pintu berhasil menghentikan itu. “Buka!” teriak Dara dari luar kamar. Langit terusik dengan suara itu, karena dia begitu mengenalnya. “Dara ….” ucap Dara, lirih. “Buka, atau kutelepon polisi!” teriak Dara untuk kedua kali, lagi-lagi dia harus menyelamatkan suaminya dari cengkeraman Rania. Langit hendak membuka pintu, tetapi Rania tak membiarkan itu semua. Dia justru memeluk Langit dengan begitu erat, sampai-sampai dengan rela melepaskan bagian atas gaunnya, demi menarik hasrat Langit lagi. Langit tercenung untuk beberapa saat, hingga suara pintu yang terbuka mengusik semuanya. “Dasar jalang, sialan!” umpat Dara, yang berhasil membuka pintu dengan bantuan petugas hotel. Buru-buru, dia membawa Langit pergi dari kamar itu. Namun, yang terjadi Langit justru menariknya ke dalam dan mendorong Rania keluar dari kamar tersebut. Langit mengunci pintu rapat-rapat, ditambah dengan kunci manual. Sementara, Rania kesal dengan kejadian memalukan itu, dia berusaha menggedor pintu dan membukanya lagi. Namun, sialnya, kali ini tidak bisa, karen petugas yang tadi bersama Dara tahu, jika Dara adalah istri sah Langit. Rania kena malu untuk kedua kalinya. Di dalam kamar, dengan brutal dan napas yang memburu, Langit mendorong tubuh langsing Dara ke kasur, hingga gadis itu berada tepat di bawah kungkungannya saat ini. Dara berusaha menyadarkan Langit dengan mendorong tubuh atletis suaminya. Sial, sentuhan itu justru membuat Langit semakin menggebu. Langit semakin mendekat dan lebih dekat, hingga embusan napas saling menerpa wajah satu sama lain. Manis. Dara berusaha memberontak, tetapi di sisi lain, Langit adalah suaminya. Gadis itu bingung, antara harus melayani atau menolak hasrat itu. “Kak, lep–” Cup! Sebuah kecupan hangat mendarat di bibir ranum Dara, itu terjadi secara berulang yang membuat Dara semakin lama semakin larut. Kontak mata di antara keduanya seolah mengatakan keinginan untuk memiliki satu sama lain. “Tapi, Kak–” Dara kembali mendorong tubuh Langit, karena teringat perjanjian yang mereka miliki. Di sisi lain, sebagai suami Langit pun memiliki hak atas tubuh dan segala hal tentangnya. Bersambung ….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN