Saat emailku memberikan notifikasi bahwa ada email baru yang masuk dari ayahku, aku agak sedikit bertanya-tanya. Abi biasanya akan langsung menghubungiku atau mungkin mengirim pesan instant dulu sebelum meneleponku. Dan saat aku membukanya, ternyata ada tiket pesawat dalam tautannya, dan isi badan email nya adalah sebuah kalimat perintah singkat: ‘Co, weekend ini pulang ke Jakarta. Ini tiket PP-nya.’
Tidak ada penjelasan apapun.
Aku mencoba menghubunginya dan menanyakan alasannya yang tiba-tiba mengirimkan tiket pesawat, tapi saat tersambung abi hanya mengatakan, “Pulang dulu aja, nanti ngobrol di rumah.”
Dengan alasan itu, aku pun harus membatalkan janjiku pada Be. Aku memintanya sekali lagi menemaniku mencari apartemen. Kali itu akan seharian di hari Sabtu. Tapi nyatanya, aku sudah harus meninggalkan Schipol pukul 7 malam di hari Jumat.
Firasatku memang sudah tidak enak sejak mendapatkan email, tapi aku tidak tahu kalau aku akan menghadapi kenyataan seperti ini. Kalau aku harus merasakan persidangan abi, Gil dan Ami Ali, ayah Gil dan Be. Persidangan di waktu makan siang di hari Sabtu.
“Co?” panggil abi membuka pembicaraan, “Abi denger dari mama soal kamu sama Be. Karena kamu ada jauh di Belanda sama Be, jadi abi mau denger penjelasan kamu, bareng sama Ali sama Gil.”
Baiklah, aku tidak akan bisa melewati ini dengan aman dan mudah. Pun aku mengelak, aku akan melewati ini lagi karena ini harus. Jadi, lebih baik selesaikan sekarang, “Arco engga pacaran sama Be, Abi, Ami Ali,” jawabku mencoba sangat terdengar yakin, “Tapi Arco emang nyambung ngobrol sama Be, dan nyaman ngobrol sama Be. Jadi Arco emang punya niatan lebih.”
“Be tahu soal ini?” suara Ami Ali terdengar sangat serius.
Entah kenapa, tapi aku langsung merasa kecil dan tak berdaya di depan Ami Ali, bahkan hanya dengan mendengarnya bertanya satu kalimat barusan.
Jantungku rasanya mau pecah. Saat aku mengatakan perasaanku dan maksudku pada Be, aku memang kesulitan mengontrol jantungku dan reaksi tubuhku. Tapi yang saat ini kurasakan adalah ribuan kali lebih berat. Apa aku bisa bertahan sampai akhir?
Aku mencoba mengangguk dan membalas tatapan Ami Ali yang rasanya seperti mengeluarkan laser, “Arco udah bilang sama Be, dan Be terima niatannya Arco. Arco tahu step selanjutnya adalah ngasih tahu ini ke mama sama abi, dan kemudian dateng nemuin Ami Ali sama mama Fathya, tapi karena jawaban Be baru Arco dapet dua hari lalu, Arco belum sempet nyiapin tiket dan semua prosesnya.”
“Kamu tahu kalo Ami Ali bakal tarik pulang Be dalam lima tahun, maksimal?” tanya Ami Ali lagi.
Dengan anggukkan aku menjawab. Aku yakin betul Be pernah bilang kalau dia tidak akan berlama-lama di Belanda. Dia juga tahu kalau pada akhirnya dia harus masuk ke perusahaan keluarganya.
“Kontrak Arco di rumah sakit sekarang cuman sampe setahun lagi. Setelahnya Arco harus pulang ke Jakarta karena harus masuk ke rumah sakitnya abi,” jawabku menjelaskan apa yang sudah terpikirkan, “Karena Arco yakin Be pasti engga akan mau kalau Arco ajakin pulang setahun lagi, jadi Arco akan nunggu sampe Be selesai sama kerjaannya di sana, atau sampai lima tahun lagi. Arco engga mau maksa Be dan malah bikin Be engga nyaman.”
Gil kali ini yang menjawabku, “Lo yakin Be engga bakal berubah pikiran?”
Aku menggeleng yakin, “Lo tahu adek lo batu. Lagian, gue yakin bisa ngubah pikirannya Be lagi kalo sampe kejadian.”
“Kalo kamu yang berubah pikiran?” tanya Ami Ali lebih terdengar serius, “Lima tahun lama, Co.”
Sekali lagi aku menggeleng dengan yakin, “Insha Allah, engga Ami Ali. Arco udah merhatiin Be dari Arco SMP sampe sekarang. Jadi kayaknya susah untuk berubah.”
Setelah mengatakan kalimatku itu, tidak ada yang bicara. Ketiga pasang mata melihat ke arahku dengan tatapan yang tak bisa dibaca. Di sisi lain, aku sedang merutuki diriku sendiri karena mengatakan kalimat yang seharusnya tak perlu kukatakan.
Setelah momen tanpa suara yang rasanya bergulir lambat, abi akhirnya memecahkan kehampaan, “Soal rumah, gimana?”
Aku menatap abi sejenak sebelum akhirnya memahami rumah apa yang sedang dibicarakan abi, “Tempat tinggal Arco di Belanda?” dan abi segera mengangguk, “Arco udah mulai nyari kok dari setelah Arco bilang ke Be. Dua hari lalu juga Be nemenin Arco nyari. Arco akan pindah secepatnya kok. Tapi sampai saat Arco pindah, Ami Ali sama Abi bisa percaya sama Arco,” lalu menatap ke arah Gil yang sedang mencoba membunuhku dengan pandangannya, “Lo bisa ngelakuin apapun yang lagi lo pikirin ke gue kalo sampe gue ngelanggar janji.”
Gil menatapku semakin parah dan abi mengambil alih perhatianku dengan bicara, “Abi engga akan belain, Co. Awas.”
‘Choose the guy who takes you to meet his parents, not his bedroom.’ - quotesgram.com
***