Setidaknya ada satu hal yang bisa kusyukuri hari ini. Aku bisa pulang lebih cepat. Walaupun tetap setelah lewat jam 7 malam. Tapi setidaknya aku tidak harus tinggal lebih lama.
Aku kelelahan. Berkat sikap impulsifku yang bergerak berdasarkann emosi tanpa berpikir, aku tidak bisa tidur semalaman. Dan kelihatannya, itu juga berefek pada Be. Aku mendapatinya duduk dengan Bianca di dapur, dan Bianca sibuk mencoba menarik perhatiannya yang entah kemana. Yah, kurasa aku tahu kemana.
Sialnya, aku terlalu sibuk dengan pikiranku sehingga tidak menyadari Bianca mendekati pintu dapur dimana aku sedang berdiri dan melihatku berdiri di sana. Menatapku sejenak sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya tanpa bertanya atau membuat Be menyadari keberadaanku.
Akupun memilih segera kembali ke kamarku. Berusaha mengistirahatkan otakku, yang nampaknya masih belum mau bekerja sama malam tadi.
Hasilnya? Aku tidak tidur semalaman dan harus mencoba membuatku sadar seharian ini dengan mengkonsumsi gula.
Seolah belum cukup. Ponselku berbunyi sekitar pukul 1 siang. Saat kulihat, itu kontak w******p Gil. Kecurigaanku segera muncul, karena Gil pada dasarnya tidak pernah mengontakku setelah dia kembali ke Indonesia.
Tanpa basa-basi, dia segera menyatakan maksudnya. Memberikan ultimatum padaku untuk menggunakan otakku dan tidak melakukan hal yang akan membuat Gil murka dan mungkin bisa melenyapkanku dari muka bumi.
Aku paham 100% maksudnya.
Itu wajar. Dia kakak laki-laki Be satu-satunya, dan dia pasti tidak nyaman dengan kenyataan Be tinggal di satu atap yang sama denganku. Dengan itu, aku pun memberitahunya bahwa aku memang berniat pindah, tapi tidak semudah itu juga.
Kehidupanku yang menghabiskan waktu di rumah sakit, tidak memberikanku waktu senggang untuk sekedar browsing apartemen dekat rumah sakit melalui website yang tersedia.
Namun, karena keadaan yang memaksa, aku akhirnya mulai bisa mencuri-curi waktu. Menggunakan satu website yang tersedia dari pemerintah kota yang bisa membantuku mencari tempat tinggal baru, aku mulai mencari-cari wilayah dan apartemen yang tersedia di saat makan siang atau saat sedang duduk di ruanganku setelah selesai tindakan.
Hasilnya? Tidak banyak yang sesuai dengan yang kuharapkan. Kelihatannya Gil harus sedikit bersabar.
Karena itulah aku di mobil sekarang. Membelokan mobilku mengikuti jalan raya untuk menuju salah satu pelayanan housing swasta di Amsterdam. Tapi, baru saja berbelok dan menyesuaikan fokusku pada jalanan di depanku, mataku menangkap sosok Be yang sedang berbicara dengan seseorang di pinggir jalan raya di dekat penyebrangan.
Sudah menjadi kebiasaanku untuk menghubungi Be saat melihatnya di jalan, jadi aku langsung menghubunginya. Tapi, baru saja panggilannya tersambung, dia sudah langsung mengangkatnya dan membombardirku dengan pertanyaann, “Lama banget, Co? Lo udah keluar dari rumah sakit? Katanya mau nraktir gue makan malem? Gini sih mendingan gue ke rumah sakit nyamperin lo, biar lo engga perlu ke sini.”
Untuk sesaat aku terdiam, tidak sama sekali ingat kalau aku punya janji dengannya. Tapi setelah beberapa detik, aku memilih mengikutinya dan meminta penjelasan belakangan, “Gue di seberang jalan, gue muter dulu.”
Be kelihatan kaget tapi dengan segera dia mencari-cari mobilku. Lalu kemudian bicara dengan orang di sebelahnya tanpa memutuskan sambungannya, “Oh, itu Arco-nya udah, Rasyid.”
Nama itu menarik perhatianku sesaat sebelum kembali melanjutkan fokus pada U-turn di depanku.
Jadi, laki-laki yang sedang bicara dengannya tadi itu yang namanya Rasyid?
Setelah sampai di sebelahnya dan menepi, aku pun memilih untuk menurunkan jendela dan tidak keluar karena ini bukan daerah dimana aku bisa memarkirkan mobilku sebentar. “Be,” panggilku.
“Lama banget,” katanya mendekat dan membuka pintu, “Nyaris aja ngerepotin Rasyid nganterin gue ke rumah sakit,” lalu kemudian mengubah nadanya dan bicara pada Rasyid ini, “Rasyid, ini Arco,” lalu padaku, “ini Rasyid, Co.”
Rasyid mendekat dan menjulurkan tangannya dari pintu dan mengajakku bersalaman. Aku pun membalasnya. Lalu setelah melepasnya, dia kemudian berkata, “Lo beneran mirip Gilvary sedikit. Muka lo.”
Aku tersenyum menanggapi, “Yah, biarpun jauh, Gil kan masih sepupu gue,” karena dia bicara dengan sangat informal, aku pun memilih mengikutinya. Belum lagi, ada dorongan untuk tidak bersikap baik dan sopan padanya entah kenapa.
Dia mengangguk dan tertawa kecil, “Kalian mau kemana? Gue ikut lo kenapa-napa ga, Co?”
Pertanyaannya membuatku tak percaya. Dia sungguh-sungguh mengundang dirinya sendiri pada acara makan malam yang baru saja diputuskan Be beberapa saat yang lalu tanpa persetujuanku, yang pada dasarnya aku tidak sama sekali keberatan. Kecuali Rasyid ikut.
“Arco?” panggil Rasyid lagi. Membuatku tidak punya waktu untuk meramu kalimat menolaknya dan memutuskan memberikan semua keputusannya pada Be. Toh aku sudah bilang akan membuat ini setara dan adil, “Lo tanya Be deh.”
“Be?” tanya Rasyid bingung dan langsung kusambung, “Tanya Florimel.”
Dia menatapku sejenak sebelum beralih pada Be, “Boleh?”
Be kelihatan mencoba merangkai kalimatnya sedemikian rupa. Semuanya nampak jelas dari raut wajahnya, “Well, I’m not sure,” katanya memulai, “Arco utang cerita soal di Niger, and I don’t think dia bakal cerita kalo ada orang lain. I’m dying already, udah nungguin lama banget soalnya.”
Wah, dia menggunakanku untuk menolak, di depanku.
Rasyid mengangguk perlahan dan kemudian membuka mulutnya, “Next time then,” katanya dan tersenyum kemudian beralih padaku, “Enjoy the rest of your day,” lalu menjauh meninggalkan kami. Sementara Be memilih memasuki mobil, duduk, dan menutup pintunya.
“Gue yakin gue engga pernah ngejanjiin lo apapun soal makan malem kemaren,” kataku membuka pembicaraan. Mencoba senormal mungkin.
Be memutar bola matanya, “Ngebantuin orang tuh pahala loh, Co.”
Dia sama sekali tidak terdengar sedang mencoba menutupi sesuatu. Luar biasa. Kalau aku tidak melihat yang terjadi pagi buta rabu minggu lalu, aku mungkin akan mengira hanya aku yang dibuat merasakan segala hal dalam waktu bersamaan olehnya dan pengakuanku.
Aku pun memilih mengikut jalan pembicaraannya, “Gue engga lihat celah gue dapet pahala. Yang ada gue dapet dosa, ngebohongin orang.”
Be menghela napasnya, “Lo baru aja nyelametin gue dari terjebak makan malam awkward sama Rasyid plus dianter pulang. Gue belum bisa nemuin kalimat yang engga akan bikin suasana jadi aneh setelahnya.”
Kalimat-kalimatnya membuat firasatku terbangun dan seolah aku harus terus menggali soal ini, jadi aku memanjangkan topik ini, “Kalimat apaan emang?”
Untuk sesaat, Be hanya diam. Sebelum akhirnya menghela napasnya kecil dan menjawab, “that him and me, I don’t think it’ll work.”
Perutku mulai mual dan jantungku bekerja terlampau keras karena adrenalin yang tiba-tiba saja tersuntik dari kalimat Be barusan. Membuatku tak bisa mengontrol bibirku dan melanjutkan bertanya, “Kalo lo sama gue?”
Sekali lagi Be hanya diam. Dia mengambil seluruh waktu yang cukup membuatku gila dan berkeringat. Telapak tanganku sudah sangat basah dan masih mencengkram kemudian dengan sangat kuat. Tapi akhirnya, dia membuka mulutnya, “Let’s give it a whirl.”
Sungguh, aku ingin menginjak rem saat itu juga, tapi otakku masih cukup bekerja dan memberitahuku untuk menepi sebelum melakukannya. Setelah berhasil, aku pun melepas sabuk pengamanku dan duduk menghadapnya, “Be, lo barusan bilang lo ngasih gue kesempatan untuk lebih jauh lagi, dan di sisi lain, lo juga lagi mikir gimana caranya ngasih tahu Rasyid kalo dia engga punya kesempatan?”
Dia sama sekali tidak mengubah posisi duduknya, bahkan tidak menatapku, “I did,” melirikku sebentar sebelum kemudian mengalihkan pandangannya lagi keluar.
Aku tidak pernah tahu kalau aku akan merasakan sensasi semacam euphoria saat Belanda sedang merayakan Koningsdag dan berpesta pora. Kalau aku bisa keluar dan berteriak, aku pasti sudah melakukannya. Ada dorongan luar biasa dari dalam yang menyuruhku untuk memeluk Be, tapi aku mencoba mengontrolnya sekuat tenaga, karena itu sama sekali tidak sopan.
Wah, aku harus mengalihkan perhatianku dari Be, dan dari perasaan ini.
Dengan itu, aku kembali mengubah posisiku menghadap jalan dan memakai sabuk pengaman. Memastikan aku masih berada di tempat dudukku dan menahanku untuk berbuat gila.
Setelah mobil kembali berjalan, aku kemudian bicara, “Abis makan, kayaknya lo harus nemenin gue nyari apartemen baru. Kalo ini nyampe ke Gil, gue engga yakin dia tenang sama kenyataan gue tinggal di rumahnya Tante Mer.”
“Ngomong-ngomong soal Gil,” Be mengubah pembicaraan dan kali ini dia sudah menatapku, “Lo ngomong apa sama Mama Salma sebelum ngomong sama gue di Schipol? Mama Salma nelepon mama dan langsung bikin heboh Gil.”
Baiklah, kelihatannya topik ini akan sedikit lebih panjang dari yang kukira.
‘And suddenly you know… It’s time to start something new and trust the magic of beginnings.’ - The Random Vibez
***