18

1974 Kata
“What the hell, girl? You scared me out of my mind!” aku mendengar suara nyaris berteriak dari arah pintu. Saat kulihat, Bianca sudah dalam kondisi sangat terjaga, walaupun rambutnya berantakan seperti habis bangun tidur, “Besok masih weekday, Florimel. Lo ngapain pagi buta duduk di counter dapur bengong?” Aku hanya mampu memberikan senyum setengahku. Tidak tahu bagaimana harus menjawabnya. Semenjak pulang dan masuk ke kamar, aku akhirnya mendapatkan waktu seorang diri dan mulai memproses apa yang terjadi. Menyadari kalau aku sedang berada pada situasi aneh saat ini yang tidak pernah terbayangkan olehku. Seorang Arco yang pernah kukagumi menyatakan kalau dia … Aku tidak yakin bagaimana harus menjelaskannya. Menyukaiku? Kurasa itu terlalu lemah untuk mendeskripsikan yang Arco katakan semalam. Sementara, kata satu lagi yang berawalan huruf ‘C’ akan terlalu kuat untuk menjelaskannya. Tidak, seperti yang Arco bilang, awalnya hanya kekaguman. Mengagumi. Jadi bukan Cinta. Kalau dia memutuskan ingin mempunyai agenda yang sama dengan Rasyid terhadapku? Astaga, aku tak yakin apa yang sedang kupikirkan. Intinya, otakku kacau karena Arco tiba-tiba saja mengatakan kalau dia punya maksud lebih denganku dan mendeklarasikannya mulai malam tadi. Memintaku memberikannya kesempatan. Bukan hal aneh dalam lingkungan keluarga keturunan sepertiku. Maksudku, adalah hal normal dijodohkan atau bahkan menikah dengan sepupumu sendiri. Bahkan pamanmu. Yah, logikanya, dengan aturan yang banyak dan populasi minoritas di Indonesia, itulah yang terjadi. Tapi ini aneh untukku. Maksudku, Arco memang sepupu jauhku. Pada dasarnya kami tidak pernah saling berinteraksi sebelumnya. Tapi semenjak datang ke Belanda, dia pada dasarnya bisa kukategorikan teman, sekaligus saudara, sekaligus orang yang bisa diandalkan. Dan kategori pertamanya lah yang membuatku bingung. Tidak pernah sebelumnya saat harus berkenalan dengan seseorang untuk tujuan dijodohkan, aku sudah lebih dulu mengenalnya sebagai teman. Cukup dekat dan cukup sering berinteraksi. Kondisi baru ini lah yang kemudian membuatku tak yakin bagaimana harus menjawab pertanyaan Arco. Aku mungkin sudah terlanjur mengkategorikannya sebagai teman, dan bagaimana kalau ke depannya malah akan mempersulitku, atau Arco. Sebentar, aku terdengar seperti sedang mencari-cari alasan sekarang. Astaga, otakku kacau sekali. Dan semuanya berkat keadaan asing ini. Di satu sisi, aku memang pernah mengagumi Arco. Dia juga menyenangkan untuk diajak bicara, dan beberapa kebiasaan buruknya yang sudah kuketahui masih bisa kutolerir. Tapi di sisi lain, ini pertama kalinya seseorang datang dengan sendirinya, dan bukannya karena rencana dari mama. Menyatakan kalau dia ingin aku memberikannya kesempatan, dan dengan tangan terbuka menerima pola pikirku yang mungkin untuk sebagian orang cukup idealis. Aku tidak pernah punya pengalaman seperti ini sebelumnya. Menerima orang yang datang dengan sendirinya padaku dan menjelaskan maksudnya. Aku tidak yakin bagaimana harus bereaksi. “Florimel!” suara Bianca sekali lagi menarikku keluar dari pikiranku yang sedang kusut ini. Dia sudah duduk di sampingku, dan kelihatannya khawatir, “Lo udah ngegeleng sendiri beberapa kali tanpa ngomong apapun. Gue engga perlu lapor Tante Mer bilang ponakkannya kayaknya harus dibawa ke psikiater, kan?” Kuhempaskan napasku untuk merespon Bianca. Tidak punya cukup tenaga untuk membalasnya. Aku harus menyimpan tenagaku yang tersisa untuk melanjutkan proses berpikirku. Jadi nantinya, ketika pagi datang, pikiranku sudah tertata dan aku tahu bagaimana harus menghadapi Arco. Menghadapi. Karena kenyataannya, saat terdesak semalam, aku akhirnya membuat keputusan tanpa berpikir dan dengan kalimatku sendiri mengiyakan permintaan Arco. Padahal awalnya aku hendak mengalihkan pembicaraan sehingga tidak harus memberikan jawaban pertanyaannya saat itu juga. Tapi seperti biasa, Arco cukup keras kepala terhadap apa yang sudah menjadi keputusannya. Sehingga aku harus pasrah karena tidak sedang dalam keadaan siap. Siapa juga yang bisa siap jika mendapatkan serangan tiba-tiba seperti itu yang jenisnya tidak bisa diperkirakan. “Heh!” aku merasakan dorongan yang membuat tubuhku miring cukup keras ke kanan, namun mendapatkan bantuan karena sesuatu yang mendorongku itu juga mencoba menahanku agar tidak jatuh mencium lantai. Siapa lagi, pasti Bianca. Dia menatapku sejenak sebelum memicingkan matanya, “Ini bukan masalah kerjaan kayaknya. Mau setahun di sini, gue engga pernah lihat lo begini, padahal kerjaan lo gila banget,” katanya mulai menyalakan mode detektifnya. Aku akan membiarkannya berpetualang dengan imajinasinya kali ini. Aku masih punya hal lain yang harus kuselesaikan, dan batas waktunya terlalu sedikit. Pertanyaan besar yang masih belum terjawab. Bagaimana aku harus menghadapi Arco mulai hari ini? Menghindarinya? Rasanya terlalu kekanak-kanakkan. Aku juga tidak pernah menghindari orang-orang yang dikenalkan mama padaku. Bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa? Aku tidak yakin aku bisa melakukannya. Melihat Arco hanya akan memutar kembali memori kejadian di salah satu cafe di Schipol semalam. Aku mungkin bisa mati otak lagi kalau sampai itu terjadi. “Florimel!” Bianca mendorongku lagi dan kembali menyebutkan namaku, “Lo jangan bikin gue takut dong! Gue berasa engga lagi ngomong sama lo.” Aku menghela napasku, kesal. Bianca tidak akan meninggalkanku sendirian dengan pikiranku dan memberikan waktu cukup untuk menatanya kalau aku tidak menjawabnya. Jadi, aku harus membuang beberapa menit berhargaku untuk membuatnya kembali ke kamarnya, “I’m ok, lo balik ke kamar aja. Gue cuman butuh mikir.” Dia menatapku sejenak sebelum membuka mulutnya. Hilang sudah kemungkinan Bianca akan meninggalkanku sendiri di sini, “Lo mau cerita sama gue? Siapa tahu gue bisa bantu mikir. Atau bantu yang lain.” Dengan senyuman menghargai aku menolaknya, “It’s not a big deal.” Siapa yang kubohongi? Ini adalah hal besar! Tapi bisa apa aku, aku tidak yakin mampu menceritakannya pada Bianca. Dia tidak akan tahu duduk perkaranya seperti aku, karena dia baru mengenalku di sini. Mengenal Arco di sini. Akan memakan waktu jika harus menceritakannya dari awal. Dia menatapku lagi, dan kali ini kelihatan tidak yakin. Tapi dia kemudian menghela napasnya pendek dan mengangguk, “Kalo lo berubah pikiran, lo tahu harus nyari gue kemana,” dan kemudian berdiri. Melangkah menjauh menuju pintu dan akhirnya meninggalkanku sendirian. Tapi kelihatannya apa yang dikatakan Bianca ada benarnya. Aku tidak akan berhasil jika aku berusaha seorang diri, karena otakku kacau bukan main. Aku harus mencari seseorang yang berada dalam daftar kontakku yang bisa kuhubungi untuk menceritakan ini dan meminta bantuan. Sayangnya, beberapa detik berpikir, aku kemudian menyadari aku tidak akan bisa menemukannya. Aku pernah menceritakan soal kekagumanku pada Arco pada teman akrabku saat kuliah, tapi dia tidak akan mungkin memahami masalahku sekarang, karena latar belakang budaya keluarga kami yang berbeda. Satu-satunya orang yang tahu soal Arco dan memahami betul soal keluargaku adalah Gil. Tapi membayangkan memulai pembicaraan telepon dengan Gil untuk tujuan menceritakan dilemaku ini saja sudah membuatku bergidik. Aku tidak akan bisa melakukannya. Tidak akan bisa walaupun Gil sudah mengatakan hal paling aneh yang pernah dia katakan padaku sebelumnya. Saat aku menunggu Arco di ruang kerjanya. Oh, astaga! Aku tidak akan bisa menyelesaikan ini saat ini juga. Sebaiknya aku kembali tidur. Atau setidaknya mencoba untuk tidur. Dengan itu aku berdiri dan mulai melangkah menjauh dari counter dapur. Melangkah sepelan dan seringan mungkin. Berhati-hati mencoba tidak membangunkan siapapun. Saat aku sampai, aku segera menutup pintu kamarku dan kemudian melempar diriku ke kasur. Badanku lelah. Sangat. Tapi otakku tidak juga mau beristirahat. Dengan mata yang masih sangat segar, aku kemudian meraih ponselku yang berada di meja kecil di sebelah tempat tidurku. Ada pesan baru. Dan itu dari Bianca. Saat kulihat jam nya mengirimkan, ini baru saja dikirimkannya. Kenapa juga dia harus menggunakan aplikasi pesan instan kalau dia tadi berada denganku di dapur? Aku pun menyentuh layar dan membuka pesannya. Pesan yang sangat singkat. Hanya dua kata dan satu tanda. Tanda tanya yang sangat tepat sekali. Sebuah tebakan jitu. ‘Arco yah?’ tanya dalam pesan itu. Aku tidak yakin apa yang harus kugunakan untuk membalasnya. Dia menebak dengan tepat sasaran. Tapi aku juga belum mau menjelaskan semuanya padanya. Seperti kataku tadi, akan memakan waktu membuatnya mengerti keadaannya. Baiklah. Aku tidak punya pilihan lain. Sebentar lagi akan pagi, dan aku pasti akan secara tidak sengaja bertemu dengan Arco. Akan aneh kalau aku menghindarinya, jadi aku harus segera mendapatkan masukan. Dengan itu aku mendudukan tubuhku dan kemudian mengendalikan ponselku untuk masuk ke aplikasi pesan instan dan mencari kontak kakak laki-lakiku itu. Setelah ditemukan, kusentuh ikon telepon dan mendekatkannya ke telinga. Menunggu dengan sabar sebelum akhirnya aku mendengar suara Gil. “Dan ternyata bener,” itu yang kudengar sebagai jawaban Gil saat dia mengangkat teleponku. Bukannya ‘halo’ atau kalimat normal lainnya yang biasa digunakan untuk menerima sambungan telepon. “Maksudnya?” tanyaku tak paham. Gil terdiam sebentar sebelum mulai bicara, “Mama ngegedor pintu kamar gue pas subuh. Katanya udah enggga tahan nungguin gue, soalnya dia udah pengen nanya dari abis tahajud. Dikabarin sama Mama Salma.” Kewaspadaanku mulai meningkat. Kenapa tiba-tiba ada nama Mama Salma di sini, dan mama juga? “Mama nanyain lo sama Arco ada hubungan apa. Pas gue di Belanda ngeliat lo berdua gimana,” jelasnya melanjutkan, “Pas gue tanya maksudnya mama, katanya Mama Salma nelepon mama abis shalat tahajud. Dia abis nelepon Arco sama nelepon lo. Terus Arco ngomong yang bikin shock semua orang. Mama Salma engga tahan, jadi ngomong ke mama. Mama mau mastiin, jadi nanya ke gue. Dan sekarang, lo nelepon gue. Berarti bener.” Arco sudah mengatakannya lebih dulu pada Mama Salma? Aku tidak tahu lagi harus bereaksi seperti apa. “Be,” suara Gil tiba-tiba serius, “Gue bisa bantuin lo ngomong ke mama soal keputusan lo ke Rasyid. Seenggaknya selama lo di Belanda. Tapi lo harus ngomong sendiri ke Rasyid soal keputusan lo.” Aku mengerjapkan mataku beberapa kali sebelum akhirnya bertanya, “Kapan gue bilang gue udah ada keputusannya?” Gil terdengar mendengus sebelum menjawab, “Lo gila?” tanyanya meremehkanku, “Dari awal juga udah jelas sebenernya Rasyid engga ada kesempatannya. Cuman karena Arco belum ngomong aja. Dan sekarang giliran udah ngomong, gue rasa gue yang jauh di sini juga langsung bisa tahu.” Jujur saja, aku merasa seperti sedang telanjang dan berada di bawah miksroskop. Seperti semuanya terlihat jelas oleh Gil, tapi aku sendiri tidak bisa melihatnya. Dan karena hal itu, aku akhirnya pasrah dan menghela napas sebelum membuka mulutku, “Tapi Arco engga minta gue kasih jawaban. Dia cuman minta gue kasih kesempatan yang sama kayak Rasyid.” Gil tertawa sinis tak percaya sebelum menjawabku, “Yang pada dasarnya, dia udah curi start. Kesempatan apa lagi, Be? Daripada lo gantungin Rasyid, mending langsung lo putusin.” Nah, ini dia. Kesempatanku untuk menceritakan duduk masalahnya. “Gil, gue harus ngasih tahu lo tentang apa yang gue pikirin soal sistem perjodohan di kita ini,” dan kemudian memulai monologku tanpa diputus oleh Gil. Dia mendengarkan dengan seksama, tanpa bertanya dan terus membiarkanku menjelaskan. Pada dasarnya sama seperti saat aku menjelaskannya pada Arco. Setelah selesai dengan semua pandanganku, aku kemudian diam. Gil tidak langsung menjawab. Ada jeda beberapa saat sebelum akhirnya aku bisa mendengarnya, “Dan lo belum lihat itu dari Rasyid, sementara sebaliknya dari Arco?” Aku menggeleng, “Gue engga sengaja ngasih tahu Arco, sementara Rasyid engga tahu. Rasanya agak unfair kalo gue…” “Be, lo lagi ngulur-ngulur juga. Kayak yang lo omongin, wasting time. Buang waktunya Rasyid dan Arco tapi di sini konteksnya, bukan lo. Hasilnya udah ada dari lama, jadi buat apa lagi gantungin Rasyid? Kasih tahu yang dia perlu tahu, dan lo bisa ngelanjutin sama Arco. Walaupun belum tentu jadi juga.” Kalimat terakhirnya kemudian menyentakku dan memunculkan alasan baru yang langsung kukemukakan, “Itu dia masalahnya," jawabku dan kemudian mengulang kalimatnya, "Walaupun belum tentu.” Gil tertawa lagi. Terdengar sangat sinis, “Lo bercanda? Selama ini juga semua yang dikenalin sama lo kondisinya belum tentu jadi, dan akhirnya engga ada yang jadi, Be.” Seolah ada balok kayu yang menyentakku, kalimatnya itu membuatku menyadari maksudnya dan pikiran Gil. Aku memang sedang mencari alasan, dan berjalan berbalik arah dari pendirianku selama ini. “Sebagai laki-laki,” kata Gil lagi, “Gue cuman bisa nyaranin lo kasih keputusannya ke Rasyid, dan lo mulai jalan lo sama Arco, menyesuaikan sama idealisme lo itu,” dia berhenti sejenak dan kemudian bicara lagi, “Sebagai kakak lo, gue harus nelepon Arco dan ngancem dia untuk engga ngambil kesempatan karena kebetulan tinggal satu rumah sama lo.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN