Kerja jantungku yang menjadi berlipat ganda pada kondisi tertentu saat pandanganku jatuh pada Be bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan detak jantungku sekarang.
Walaupun bukan seorang kardiolog, aku tahu rasanya tidak mungkin manusia normal bisa selamat dengan detak jantung seperti ini. Belum lagi, telapak tanganku basah bukan main. Kalau tidak tahu penyebabnya adalah apa yang sedang kulakukan saat ini. Ralat, apa yang sedang kusampaikan saat ini pada Be. Kalau bukan karena ini, aku sudah yakin umurku mungkin hanya tinggal sebentar lagi dan ada baiknya aku segera dilarikan ke rumah sakit.
Tapi karena dengan penuh kesadaran aku tahu alasan dari kondisiku sekarang bukanlah alasan medis, melainkan psikologis, maka aku memilih mengikutinya sambil mencoba menenangkan diriku.
Itulah kenapa kuletakan kedua lenganku di meja. Menghindari getaran yang nampak sangat jelas jika tidak bertumpu pada sesuatu. Syukurlah aku sedang duduk saat memulainya. Karena kalau aku berdiri, aku mungkin akan tersungkur. Kakiku sama sekali kehilangan tenaganya.
Entah datang dari mana keberanian ini. Tapi kalimat itu meluncur begitu saja. Bukan! Pertanyaan itu. Yang kemudian diikuti dengan pertanyaan lainnya yang lebih membuatku ingin muntah. Perutku rasanya sedang diaduk-aduk. Seperti saat sedang menaiki perahu di pekan raya, dimana perahu berjalan maju mundur memacu adrenalin.
Itu yang kurasakan sekarang. Dalam versi 3000 kali lebih gila.
Di sisi lain. Be kelihatannya kehilangan fungsi otaknya.
Dia diam dan hanya menatapku sejak pertanyaan terakhirku.
Syukurlah kami menggunakan Bahasa Indonesia, jadi tidak ada siapapun yang mendengar kami yang mengerti saat ini. Setidaknya kecil kemungkinannya.
“Be?” aku tidak tahan dengan perasaan ini dan memilih melanjutkan pertanyaanku. Mengeluarkannya dalam satu kali tembakan lebih baik dibandingkan membuatku tersiksa seperti ini dalam waktu yang lama, “Masih bisa engga kalau gue bilang gue sekarang punya tujuan khusus itu?”
Be mengedipkan matanya beberapa kali. Kelihatannya dia mulai mampu mencerna yang sedang terjadi sekarang. Dia membuka mulutnya, tapi nadanya membuat perasaanku semakin kacau, “Co, lo kay…” dan karena itu aku memotongnya dan memutuskan menjelaskan semuanya.
Inilah saatnya aku mengakhiri perjalanan menjadi pemuja rahasia yang sudah kulakukan sejak lama. Mengakhirinya dengan berani, dan bukannya dengan pengecut seperti saat aku pergi ke Belanda dua tahun lebih lalu.
Hadapi yang sekarang terjadi, “Ini bukan cuman pikiran semalem doang Be. Gue udah maju mundur, jalan di tempat dari SMP, dan baru sekarang gue cukup berani buat bilang ini,” aku memulai kisah panjangku, “Kabur ke Belanda karena gue pikir engga ada kesempatannya. Tapi bukannya engga ada kesempatan, gue baru sadar guenya yang engga mau nyari atau bikin kesempatan itu. Baru sadar kalau selama ini gue bikin alesan buat pembenaran tindakan pengecut gue sendiri.”
Aku tak bisa menahan senyum pahitku muncul akibat memikirkan kebodohanku, “Nyoba segala cara buat ngindarin lo. Buat ngilangin lo dari pikiran gue. Padahal takdir udah baik banget selalu ngasih jalan. Tapi guenya yang terlalu pemalas dan pesimis.”
Setelahnya, aku kemudian menyadari kalau kalimatku lebih seperti menjelaskan kondisku, tanpa memikirkan bagaimana perasaan atau bahkan pikiran Be. Dengan itu, aku kemudian mengangguk, “Gue paham kalo lo kaget. Siapa pun pasti kaget kalo tiba-tiba orang yang engga pernah ngobrol sama dia sebelumnya tiba-tiba ngomong kalo orang itu punya crush sama dia. Apalagi dengan semua tingkah gue yang rasanya pengecut banget. Wajar kok kalo lo kaget atau bingung.”
Tapi, aku juga tidak mau membiarkannya memutuskan sekarang. Di saat emosinya masih berkecamuk karena kalimatku. Itu mungkin saja tidak akan baik. Entah untukku, atau bahkan untuk Be sendiri.
“Tapi gue mohon lo pikirin ini dulu dan jangan mutusin sekarang,” lanjutku, “Kasih gue kesempatan yang sama kayak yang lo kasih ke Rasyid ini,” kemudian menyadari permainan kotorku hari ini dan segera meyakinkannya, “Gue janji engga bakal aneh-aneh lagi kayak tadi dan akan act fairly sama dia,” mengganti pilihan kosakataku dari play fairly menjadi yang baru saja kukeluarkan. Karena kenyataannya, Be bukanlah permainan.
Be menautkan alisnya dan kemudian tersenyum menghina, “Lo ngapain emangnya?”
“Jangan tanya,” kataku kesal sekaligus menyesal. Terlalu malu menjelaskannya, “Gue sendiri engga percaya bisa ngomong kayak gitu abis tahu lo lagi makan sama Rasyid ini.”
Dia mendengus sebelum kemudian tersenyum dan menggeleng. Dia memilih membuka mulutnya dan mengganti topik pembicaraan, “Pulang engga nih? Lo kayak kecapean banget. Lama di sini entar makin aneh.”
Aku yakin dia masih tidak nyaman dan tidak yakin apa yang harus dilakukannya. Karena itulah dia memilih mengalihkan pembicaraan. Tapi masalahnya, aku sudah terlanjur berada di situasi ini. Dibandingkan mengulang kembali, karena aku tidak yakin aku akan sanggup bertahan kalau sekali lagi harus mengalaminya, aku lebih memilih melanjutkan perjuanganku, “Be, pertanyaan gue engga ada yang dapet jawaban dari lo sama sekali. Semuanya.”
Be menatapku sejenak tak yakin sebelum akhirnya menghela napasnya panjang, “Gosh, how I wish I could say everything in Dutch, and you’d still understand,” kemudian dia mengernyit setelah beberapa saat, “I don’t know how you did this before. It feels awkward.”
Eh? Dia sedang mengatakan dia tidak yakin bagaimana menjawab pertanyaanku? Karena rasanya aneh? Apa aku boleh sedikit berharap? Atau itu berlebihan?
“Gue kayaknya harus engga setuju sama lo kalo ini bakal fair buat Rasyid sama lo,” katanya pada akhirnya, “You’ve got the upper hand already,”
“Have I?” tanyaku polos tanpa bisa mengontrol mulutku. Aku bahkan baru menyadari bibirku sudah membentuk senyum ketika aku membuka suara untuk bertanya.
Be memutar bola matanya, “Gue mindlessly ngasih tahu aturannya sama lo. Tanpa tahu kalo lo lagi taking advantages of the situation.”
“Koreksi,” responku tak setuju, “Gue bilang juga takdir aja yang baik sama gue. Kebetulan kesempatannya dateng terus.”
Dia menatapku tak percaya sebelum menggeleng dan kemudian berdiri, “Mending pulang deh. Dari pada lo makin ngaco.”
‘Confession: occasional vomit of inner feelings.’ - Deeksha Gupta.
***