“Halo?” aku memerlambat langkahku menuju tempat di mana Arco sedang menunggu.
Dia bilang di menunggu di salah satu cafe di bandara yang bisa diakses olehku. Karena sudah hampir setengah jam, aku yakin dia pasti sudah bosan menunggu. Maka dari itu aku melangkah gegas tadi.
Tapi tiba-tiba saja ponselku berbunyi dan saat kulihat, deretan nomor tidak dikenal muncul di layar. Nomor Indonesia. Menghubungiku melalu call service dari sebuah aplikasi pesan instant yang populer di Indonesia dan di banyak negara.
“Halo Be,” suara seorang perempuan terdengar ramah menyebutkan nama kecilku. Kelihatannya seseorang dari keluargaku, “Mama Salma, nih. Kamu sibuk ga?”
Mendengar nama itu, aku refleks menghentikan langkahku.
Walaupun Mama Salma pada dasarnya adalah tanteku, tapi aku tidak banyak bicara dengannya. Walaupun tidak separah seperti dengan Arco, di mana aku sama sekali tidak pernah bicara dengannya sebelumnya.
Menyadari aku tidak meresponnya dan itu pasti tidak sopan, aku segera membalas, “Oh, halo Mama Salma. Apa kabar?”
“Baik banget, Be. Kamu apa kabar? Sibuk ga?” respon Mama Salma dan kembali mengulang pertanyaannya yang belum kujawab.
Aku tidak yakin apa aku bisa memberitahunya kalau aku sedang di Bandara menjemput anaknya yang baru pulang dari dinas luar negeri pekerjaannya. Pasti akan aneh dan akan memunculkan pertanyaan. Jadi aku memilih untuk menjawab seadanya, “Masih di luar sih, Mama Salma. Tapi engga sibuk kok. Lagi di jalan. Kenapa mama Salma?”
“Mama Salma mau minta tolong nih, boleh ga?” jawaban itu yang kudengar dari Mama Salma. Membuatku refleks mengangkat sebelah alisku. Curiga tentu saja. Tapi tidak sopan menolak tanpa mendengarkannya lebih dulu. Lebih lagi dia saudara sepupu mama. Jadi aku pun mengiyakannya dan kemudian melanjutkan langkah dengan tenang sambil mendengarkan kalimatnya.
“Kamu di Belanda di rumah yang sama sama Arco, kan?” tanya Mama Salma dan aku kembali mengiyakannya.
Aku bisa melihat logo cafe tempat Arco menunggu dari tempatku sekarang. Dengan langkah stabil aku pun melangkah mendekat sambil terus mendengarkan Mama Salma dan merespon.
“Sering ngobrol sama Arco ga?”
Tanpa sadar aku mengangguk, “Rumayan sih Mama Salma. Kalo ketemu di rumah, soalnya Arco rumayan sibuk juga di rumah sakit. Atau kalau Arco pulangnya pas sama Be pulang kantor.”
Gumaman Mama Salma yang kudengar lebih dulu saat aku melewati pintu cafe dan memulai perjalanan pandanganku mencari Arco.
Yang kucari ternyata duduk di pojokan cafe dengan pandangan fokus pada layar ponselnya. Karena dia belum menyadari kedatanganku, jadi aku memilih mendekatinya. Saat sampai, aku pun segera menarik kursi di hadapan Arco dan membuatnya memindahkan pandangannya padaku.
Dia kelihatan lelah. Sangat bahkan, kalau boleh kukatakan.
Dia menatapku dengan tatapan bertanya dan menyuarakan pertanyaannya pelan, “Siapa?”
Tanpa suara, aku menggerakan bibirku untuk menjawabnya, “Mama Salma,” dan langsung menerima pandangan curiga dari Arco.
“Mama Salma mau minta tolong kamu bilangin Arco supaya mau ketemu sama Nadia, yah? Sekali aja,” kalimat Mama Salma menarik perhatianku kembali. Tapi bukan hanya itu. Kalimatnya membuatku kaget dan bingung.
Mama Salma baru saja meminta bantuanku untuk mengenalkan Arco pada seseorang? Aku? Memangnya Mama Salma pikir aku sedekat apa dengan Arco sampai bisa memintanya melakukan hal sebesar itu?
Arco menatapku sebentar sebelum bertanya pelan, “Kenapa?”
Aku pun mencoba menjawab ibu dan anak ini bersamaan dengan satu respon yang sama, “Mama Salma, kayaknya Be engga mungkin bisa bantu. Bukannya engga mau, tapi kayaknya Be engga bisa maksain Arco buat ketemu sama Nadia itu kalo emang Arconya engga mau. Be kan...”
Tapi kalimatku belum selesai ketika Arco tiba-tiba saja merebut ponselku dari tanganku dan mendekatkannya pada telinganya, “Ma? Ini kenapa jadi bawa-bawa Be? Kan Arco udah bilang.”
Dia kelihatan panik sekaligus mencoba meredam emosinya. Dia diam sebentar sebelum menghela napasnya kesal, “Engga gini ma. Jangan...” tapi kalimatnya berhenti di tengah dan dia diam. Sebelum akhirnya kembali menghela napas seperti orang yang menerima kekalahan, “Nanti Arco telepon lagi, Arco mau pulang dulu. Jangan ngomong aneh-aneh lagi sama Be, ma,” lalu memutuskan sambungannya kemudian menyerahkan kembali ponselnya padaku.
Kuterima ponselku yang tadi dirampasnya dan kemudian memandangnya penuh curiga sambil tersenyum meledek, “Kayaknya ada yang lo buang nih dari cerita lo di Niger. Nadia siapa tuh?”
“Gue juga baru denger namanya sebelum booking tiket balik ke sini,” jawab Arco setelah memutar bola matanya, “Sama kayak denger namanya Rasyid. Bahkan gue baru dengernya dari mama.”
Aku mengangkat bahuku tak peduli, “Yah emang engga ada yang musti diceritain soal Rasyid. Jadi engga gue omongin.”
Arco menatapku sejenak sebelum membalas, “Masa lo makan malam hari Rabu gini sama kenalannya Gil kalo engga ada yang bisa diceritain?”
Tanpa bisa menahannya, aku pun mendengus, “Ada. Lo nyelamatin gue hari ini. Gue bisa kabur karena telepon lo.”
Orang di depanku ini hanya diam saja saat mendengar kalimatku. Tapi dia tidak melepaskan pandangannya dariku. Membuatku harus memanggil namanya dan bertanya kenapa dengannya.
Dia kelelahan, dan bisa terlihat jelas dari wajahnya. Mungkin itu juga alasannya dia kehilangan fokusnya sejenak.
“Kenapa emangnya sama Rasyid ini?”
Entah hanya perasaanku saja, tapi aku mendengar perubahan dari nada bicara Arco. Dia terdengar serius sekarang entah kenapa.
Aku menghela napasku. Ini pertama kalinya aku akan mengatakan soal pandanganku dan pendapatku soal budaya perjodohan dan perkenalan keluargaku ini pada orang lain. Aku bahkan tidak pernah mengatakannya pada teman atau sahabatku. Tentu saja tidak pada keluargaku, karena kami tidak cukup terbuka untuk hal-hal ini, lagi pula.
“Call me idealist, tapi gue punya prinsip sendiri soal dikenalin-dikenalin gini,” kataku memulai. Sambil bersiap menerima entah apa yang akan menjadi pilihan respon Arco. Menertawakanku dan mengatakan aku kekanak-kanakan? Mengatakan aku aneh? Atau tidak rasional? Apapun itu, aku harus siap.
Arco nampak berhati-hati sebelum aku mendengar pertanyaannya, “Yang adalah?”
Baiklah. Yang terjadi, terjadilah. Aku pun memulai penjelasanku, “Buat gue, karena logikanya gue harus hidup sama orang ini, jadi gue harus tahu apa gue bisa nerima pola pikirnya, pandangannya, bad habits-nya. Karena kan pada dasarnya engga dimulai sama perasaan.”
Dengan sengaja, aku menghentikan kalimatku sejenak. Membiarkan Arco mencerna maksudku dan mencoba menemukan reaksi apa yang kira-kira sedang dipersiapkannya. Sebelum akhirnya aku melanjutkan karena Arco tetap diam, “Yah, karena tujuannya udah jelas. Jadi dari pada wasting time, gue rasa lebih baik kalo jelas dari awal. Gue engga lihat itu dari dia, dan perasaan juga engga ada sparkling-nya sama sekali. Jadi yah,” kemudian mencoba berpikir bagaimana harus mengakhiri monologku ini, “End of the story.”
Arco masih diam untuk beberapa saat. Membuatku merasa kecil karena dia tetap diam tapi terus memandang ke arahku dengan sorot mata yang seperti berpikir atau mencari sesuatu. Dan karena tidak tahan lagi, aku pun bicara, “Co, say something. Kalo engga kita mendingan pulang. Gue ngerasa kayak alien sekarang kalo lo ngelihatin gue kayak gini.”
Dia menggeleng kecil sekali sebelum akhirnya menarik napasnya panjang dan kembali menatapku dengan pandangan serius, “Lo nganggep gue buang-buang waktu lo juga?”
Kalimatnya membuatku merasa sepertinya dia salah mengerti penjelasanku. Jadi dengan cepat aku menggeleng dan bahkan menggunakan kedua tanganku untuk menyangkalnya, “Lemme make it clear, tujuannya mama ngenalin Rasyid ke gue karena ada tujuan khusus, kan? Jadi kenapa harus muter-muter. Lo kan engga dikenalin sama mama atau Gil ke gue buat jadi calon. Jadi aturan itu engga berlaku buat lo. Lagian, kita kan…”
“Kalo gue mau?” potongnya cepat. Membuatku langsung diam dan kebingungan. Maksudnya?
Tanpa pikir panjang, aku segera mengeluarkan pertanyaan satu kata yang barusan kupikirkan.
Posisi duduknya berubah dan dia mendekatkan tubuhnya ke meja. Meletakkan kedua sikunya di atas meja dan memandangku lurus-lurus ke arah mataku. Membuatku tiba-tiba merasa mual karena jantungku yang berpacu gila-gilaan. Dia pun memulai jawabannya, “Kalo gue mau aturan itu berlaku buat gue mulai hari ini gimana? Bisa?”
***