Sedetik setelah Be memutuskan sambungannya, aku segera menyesali alasan yang kugunakan untuk memastikan Be tidak datang dengan Rasyid-Rasyid itu.
Aku terdengar seperti seseorang yang suka mengatur. Aku terdengar tidak sehat secara mental. Aku tidak terdengar seperti aku.
Tapi di sisi lain, aku juga tidak tahu apa yang harus kukatakan pada Be tanpa harus terdengar kurang ajar seperti itu, tapi juga bisa menjauhkan Be dari orang itu.
Alhasil, aku hanya bisa meletakkan kepalaku di meja. Tertunduk malu dengan apa yang kukatakan pada Be. Berharap Be setidaknya bisa memaafkanku kalau sampai dia berpikir sepertiku.
Ponselku berbunyi dan aku segera mengangkatnya. Berharap itu Be. Mendengarkan suaranya yang semoga saja masih sama dan sama sekali tidak tersinggung. Atau bahkan walaupun tidak mungkin, berharap dia sudah sampai di sini.
Sayangnya, harapanku pupus karena nama yang muncul di layar bukan yang kutunggu.
Mama. Lagi.
Memangnya mama belum selesai sudah mengganggu pikiranku dengan informasi yang tanpa disadarinya telah berhasil merusak jadwalku, dan membuatku bertingkah tidak rasional.
“Kenapa ma?”
Tanpa menunggu, aku langsung mendengar protes mama, “Kenapa? Becanda kamu? Telepon mama diputus tiba-tiba, terus abis itu kamu engga bisa dihubungin berjam-jam. Giliran udah bisa, kamu nanya kenapa?”
Aku menghela napasku pelan, “Maaf ma. Arco di pesawat tadi. Ini Arco baru nyampe Shcipol.”
Mama diam sejenak sebelum menyuarakan kekagetannya, “Eh? Mama pikir kamu nyampe Jumat?”
“Arco pulang duluan. Ada urusan mendadak.”
“Urusan apa?” tanya mama penasaran.
Tidak akan kuberitahu tentu saja, “Adalah.”
Mama menyuarakan rasa tidak sukanya terhadap jawabanku sebelum kemudian mengubah topiknya. Kembali pada hal yang diinginkannya, yang mengantarkanku pada pengetahuan baru soal Be, “Kamu udah di Belanda ketemu sama Nadia-nya dicepetin aja kalo gitu yah.”
Kali ini, aku bahkan tidak mencoba menahan helaan napasku, “Ma, Arco kan udah bilang.”
“Atau mama minta Nadia nyamperin kamu di Schipol, jadi kamu engga perlu keluar lagi Sabtu atau Minggu kalo engga mau.”
Aku menggeleng tegas, “Engga perlu. Arco lagi nungguin Be. Kalo ada ponakannya papa, nanti malah canggung. Arco capek banget ma.”
Mama diam, “Kamu minta tolong Be jemput kamu di Schipol?” dan dengan cepat aku mengiyakannya. Aku pun mendengar mama kembali bertanya, “Di sana jam berapa, Co?”
“Mau jam delapan,” jawabku bingung kenapa mama bertanya soal jam di sini.
“Co,” panggil mama serius, “Kata Mama Fathya Be engga ada mobil di Belanda?”
Sekali lagi aku mengangguk dan membenarkan hanya dengan gumaman.
“Astaga Co,” suara mama meninggi, “Kamu minta Be jemput kamu malem-malem ke Schipol padahal dia engga bawa mobil. Kamu yang bener lah!”
Kelihatannya aku diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk menguji alasanku sebelum mengatakannya pada Be saat Be sampai. Jadi dengan segera aku mengatakannya, “Ma, Be sehat walafiat hari ini, dan tadi Arco udah nanya dan dia engga masalah. Bagusan Arco ada yang nemenin di Taxi, kan? Daripada Arco sendiri terus kenapa-napa. Arco capek banget sumpah.”
Mama diam untuk waktu yang cukup. Aku pun memutuskan untuk tidak mengganggunya. Lebih baik aku diam dan menyiapkan alasan selanjutnya kalau-kalau mama tidak percaya dengan yang ini, kan?
“Co,” mama memanggilku kembali dengan nada serius, “Mama engga pernah lihat kamu sama Be ngobrol selama di sini. Kalian deket banget kayaknya?”
Nah, untuk yang ini aku tidak tahu bagaimana harus meresponnya. Aku sama sekali tidak siap.
Tidak bisa kubayangkan menceritakan kenyataannya pada mama dan apa yang sedang kurasakan sekarang. Aneh rasanya kalau aku juga memberitahu mama soal ini lebih dulu, sebelum Be tahu soal ini. Ini kan menyangkut dia.
“Co?” mama memanggillku sekali lagi, “Mama perlu batalin idenya mama sama mamanya Nadia ga?”
Tanpa pikir panjang aku menjawab, “Iya,” dengan cepat. Terlampau senang mama tiba-tiba akhirnya tidak lagi memaksakanku soal ini setelah semenjak mengungkit topik ini dia cukup terdengar bersikeras.
Mama tidak langsung menyambung. Dan ketika suara mama terdengar, mama juga terdengar tidak yakin, “Mama perlu juga ga ngomong Mama Fathya buat batalin soal ngejodohin Be sama Rasyid?”
Aku terdiam mendengar pertanyaan mama. Tidak yakin bagaimana harus menjawabnya.
Dengan senang hati aku ingin menjawab ‘iya’, tapi aku yakin itu akan membuat mama berpikir lebih jauh dan mungkin akan terlalu cepat untuk Be. Yang bahkan kurasa belum tahu soal keputusanku dan perasaanku. Yang bahkan tidak sama sekali punya perasaan yang sama.
“Co?” mama terdengar sangat berhati-hati, “Mama engga perlu ngingetin kamu kalo semisal kamu punya hubungan lebih sama Be, kamu harusnya pindah dari tempat tinggal kamu yang sekarang, kan? Supaya engga ada berita aneh-aneh.”
Jujur saja aku tersentak mendengar kalimat mama. Bukan berarti itu salah, tapi aku tidak percaya aku mendengar mama mengatakan ini padaku. Membicarakan soal hubunganku dengan lawan jenis.
Setelah sadar dari kekagetanku, aku memilih menjawab mama, “Ma, Arco sama Be engga pacaran.”
Mama bergumam membenarkank, “Mama percaya. Tapi kalo kamu responnya dari tadi begini, di telepon sebelumnya juga ngomonginnya Be mulu, mama jadi yakin kamu punya niatan lebih dari pacaran. Dan karena kalian ada di tempat tinggal yang sama, jadi ada baiknya kamu yang pindah, Co.”
Penjelasan mama membuatku berpikir. Aku sama sekali tidak berpikir sampai harus meninggalkan rumah Tante Mer jika memang hasilnya sesuai dengan yang kuinginkan. Aku memang berpikir untuk pergi jika hasilnya sebaliknya, karena tidak yakin masih bisa menghadapi Be di rumah.
Tapi kurasa, Mama Fathya juga akan mengatakan hal yang sama kalau sampai hal yang kuharapkan terjadi. Mama Fathya pasti tidak akan senyaman sekarang ketika mengetahui anaknya tinggal di rumah yang sama dengan orang yang memiliki perasaan pada anaknya. Walaupun ada adiknya sendiri di sana.
“Co?” panggil mama lagi.
Aku kemudian memutuskan untuk merangkai kata dan memberikan penjelasanku secukupnya, “Arco yang urus ini, ma,” kataku lebih dulu, “Tapi Arco janji, apapun hasilnya, Arco akan cari tempat tinggal baru. Arco juga engga akan macem-macem. Arco masih ngehargain Be sebagai sepupu jauhnya Arco dan anaknya Mama Fathya. Di atas semuanya. Arco juga masih sangat menghargai Be sebagai perempuan.”
Mama terdengar menghela napasnya, “Mama percaya kamu engga bakal ngelanggar janji,” lalu diam sebentar sebelum suaranya berubah lebih santai seperti biasa, “Kenapa musti nunggu pas udah di sana, sih? Kalo dari kalian masih di Indonesia, kan bisa cepet. Siapa tahu mama bisa udah dapet cucu.”
Berkat kalimat itu, aku pun tersedak oleh ludahku sendiri.
Mama yang benar saja? Dia langsung berubah 180 derajat setelah bicara serius, dan bisa langsung mengatakan hal seperti itu?
‘Lust starts with chemistry. Love starts with trust and respect.’ - Marian Lanouette.
***