14

1623 Kata
Di depanku saat ini, Rasyid sedang menjelaskan penuh semangat tentang teknologi yang dia dan teamnya coba untuk kembangkan di sebuah perusahaan multinasional yang bergerak di bidang teknologi dan penerangan. Jujur, aku tidak paham. Tidak satu kata pun, walaupun aku mendapati Rasyid berkali-kali memberikan penjelasan dari terminologi khusus yang disebutnya, atau sekedar mengganti katanya menjadi sesuatu yang lebih familiar. Aku tetap tidak yakin apa bagusnya selain dari itu akan menjadi salah satu dari banyak teknologi ramah lingkungan yang dikembangkan di negara maju dan akan diekspor ke negara berkembang dan menjadi barang mahal. Tapi, untuk menghargainya, aku memilih mengangguk sesekali dan terus memerhatikan. Beberapa kali mengeluarkan bunyi ‘oh’ atau ‘ah,’ sambil terus mencoba memikirkan pertanyaan sautan apa yang bisa kulontarkan. “I bore you out of your mind, don’t I?” katanya tiba-tiba dan itu membuatku tersentak. Dengan rasa bersalah, aku memilih jujur karena sudah tertangkap basah, “I just don’t understand that world. My bad.” Dia tersenyum memahami dan mengangguk, “So, do you have any plans for another one day trip? Mau kemana lagi rencananya?” Kuhargai upayanya mencari topik baru untuk pembicaraan selama makan malam ini. Karena jika tidak, aku masih belum tahu apa yang harus kukatakan, dan rasanya sangat aneh jika tidak ada yang bicara sama sekali. Dengan itu aku menggeleng, “My one day trip buddy masih di Niger, harus nunggu dia pulang dan istirahat dulu sebelum ngegangguin dia lagi,” Rasyid menatapku sebentar sebelum bertanya memastikan, “Arco?” dan aku segera mengangguk membenarkan, “Kenapa harus nungguin dia? I can also help you with that? I’ve been here longer than him,” dan diakhiri dengan senyuman kecil sambil mengangkat bahu. Sekali lagi, aku sangat mengapresiasi kebaikannya. Tapi, untuk yang ini rasanya berlebihan kalau aku memintanya. Jadi aku menggeleng tegas, “I don’t wanna disturb you, tho,” jawabku dan kemudian menambahkan alasan selanjutnya dengan bercanda, “Kalo gangguin Arco engga apa-apa. Dia pada dasarnya udah disturbed my life semenjak masuk rumah sakit.” Sekali lagi aku menerima pandangan dari Rasyid sebelum mendengar responnya. Tapi kali ini, responnya diikuti dengan helaan napas kecil dan gelengan kepala sambil tersenyum kecil, “You know what? I feel like I’ve known this Arco guy even though I haven’t met him in person yet.” Aku tertawa kecil dan menjawabnya dengan penuh semangat, “You should meet him. Dia sebelas duabelas sama Gil.” Kali ini dia mendengus pelan dan tersenyum. Dia menatapku serius kemudian membuka mulutnya, “Will you tell him about me once he’s back? Exactly like how you keep mentioning his name to me?” Pertanyaannya membuatku terdiam. Rasanya aku tidak sesering itu menyebutkan nama Arco. Tidak di luar batas. Maksudku, kehidupanku kan memang hanya seputar pekerjaan, bergaul dengan tenants di rumah yang salah satunya adalah Arco, yang kebetulan juga sepupuku. Yang kebetulan adalah seorang dokter, yang berpikir aku ini tidak bisa dibiarkan mengurus diriku sendiri karena aku bisa saja mati ditanganku. “You make it sound like I always talk about Arco,” kataku mencoba membuat suasana berat yang tiba-tiba terasa ini menjadi sedikit lebih netral dengan candaan, “Dia bisa gede kepala dan picking on me lebih gila lagi kalo sampe dia denger.” Rasyid diam sebentar sebelum akhirnya mengembangkan senyum dan terlihat sedikit lebih santai seperti awalnya. Baik, kelihatannya aku berhasil. Dia kemudian mengangguk dan menatapku, “I definitely should meet him,” lalu mengubah topiknya lagi, “Kamu ada rencana pulang ke Indo kapan? Natal? Tahun lalu engga pulang kan? Lebaran juga engga.” Aku harus mencoba sebisa mungkin menahan diriku tidak mengernyit mendengarnya menggunakan kata sapaan ‘kamu’ untuk merujuk padaku. Tidak nyaman rasanya. Itulah kenapa aku selalu mengganti bahasaku menggunakan Bahasa Inggris saat harus merujuk diriku. Dia terdengar invasif saat menggunakannya, entah aku yang terlalu sensitif atau memang pikiranku yang terlalu negatif. Tapi aku tidak bisa berlama-lama dengan itu. Aku harus memberikan jawaban untuk pertanyaannya. Jadi aku memilih mengangkat bahu, “Belum tahu. Semoga sih bisa pas Natal sama New Year Holiday,” “Kita bareng aja gimana?” tanyanya semangat, “Aku juga udah lama engga balik.” Aku tersenyum sopan mencoba mencari jawaban terbaik, “I’m not sure, tho. I need to check my schedule.” Dia mengangguk pelan sebelum membuka mulutnya, “If you…” Tapi sebelum kalimatnya selesai, ponselku berdering dan aku segera meraihnya yang sedang tergeletak di meja. Layarnya memberitahuku kalau itu Arco. Dia menghubungiku menggunakan sambungan telepon biasa? Bukannya akan sangat mahal? Dengan segera aku melirik Rasyid dan bicara, “Sorry,” dan sebelum mendengar jawabannya, aku segera menjawab sambungannya, “Kenapa Co?” Suara Arco seketika terdengar, “Lo lagi dimana?” Aku diam dan rasa curigaku pun seketika muncul. Arco punya kebiasaan menjebak dengan pertanyaan saat dia sedang ingin meminta bantuan, “Gue engga yakin lo nelepon mahal-mahal gini cuman buat nanyain gue dimana.” Arco tertawa mendengar tuduhanku yang kelihatannya tepat sasaran, “Kalo lo masih di luar, ke Schipol dong. Naik Intercity aja. Tadi gue check yang dari Amsterdam Zuid paling deket.” Aku bingung mendengar permintaannya. Kulirik jam tanganku untuk mengecek hari kalau-kalau aku salah, dan ternyata aku masih mengingat hari dengan baik. Ini masih Rabu. Kenapa Arco bisa di Schipol kalau ini masih pertengahan minggu. Lagi pula, dia bilang sendiri jadwalnya padat sampai Jumat malam. “Be!” panggil Arco membuatku kembali menyadari sambungan teleponnya. “Lo bukan harusnya masih di Niger sampe Jumat?” tanyaku bingung. Tapi di sisi lain, aku mulai mengemasi barang-barangku yang berada di atas meja ke dalam tas. Aku mendengar Arco membenarkan pertanyaanku barusan, “Nanti gue jelasin. Ini lo dimana? Masih di kantor?” “Lagi makan,” jawabku cepat lalu mengalihkan fokusnya, “Setengah jam loh gue baru bisa sampe Amsterdam Zuid. Gapapa?” Arco diam sejenak sebelum bertanya, “Sama temen kantor?” Aku menggeleng dan berharap Arco bisa melihatnya sehingga aku tidak perlu menjawab dengan kata-kata. Tapi tentu itu tidak mungkin. Jadi mau tidak mau, aku pun harus menjawab dan dengan sengaja memilih kata rujukan senetral mungkin, “Sama Rasyid, kenalannya Gil.” Keheningan terdengar sekali lagi dari Arco. Kali ini cukup panjang sehingga membuatku memastikan sambungannya masih terjaga. Setelahnya, aku mencoba memanggil nama Arco dan barulah aku mendapatkan respon, “Kalo bisa lo naik kereta yah, Be. Kalo naik mobil lama soalnya, engga yakin masih sanggup gue nunggu lebih lama. Tapi kalo lo engga, engga apa-apa. Mending balik aja. Nanti gue minta Bagas aja.” Kuputar bola mataku, “Menurut lo? Gue tiba-tiba punya SIM di sini?” lalu kembali mengubah topiknya, “Lo kabarin aja lo nunggu dimana. Gue mau siap-siap dulu,” lalu memutuskan sambungannya. Dalam hitungan detik, aku mendengar suara Rasyid dan langsung membuatku kembali menyadari kalau aku sedang duduk dengannya di sini untuk makan malam, “Mau pergi?” Aku mengangguk sambil terus bersiap, “Arco tiba-tiba nyampe di Schipol, dan minta dijemput. I have to catch the intercity, I think I should go now.” Rasyid mengangguk perlahan sebelum kembali bersuara, “Mau dianter ke Schipol? I don’t mind, tho.” “But I do,” jawabku cepat dan kemudian menyesalinya. Dengan segera kutambahkan kalimatku agar tidak terdengar dingin, “Lebih cepet naik Intercity soalnya,” aku mengeluarkan selembar 20 Euro dan selembar 5 Euro dan meletakkannya di meja, “Kalo my meal costs lebih dari 25 euro, just let me know, I’ll transfer the rest,” lalu diam sejenak untuk membiarkan Rasyid memahami kalimatku sebelum kemudian melanjutkan, “I have to go,” dan segera melangkahkan kakiku menjauh dari meja tempatku sebelumnya duduk. Sedikit bersyukur, setidaknya aku diberikan alasan untuk pergi lebih dulu dan tidak harus kembali menolak tawaran Rasyid mengantarku pulang. Dia sudah jauh-jauh berkendara dari Rotterdam ke Amsterdam selama satu jam, aku tidak mungkin membuatnya berkendara lebih jauh lagi,kan? Aku tidak bermaksud jahat, dan aku tahu apa maksudnya melakukan ini semua. Tapi masalahnya, aku belum mendapatkan apa yang kubutuhkan untuk bisa memutuskan menerimanya. Di luar dari dunia pekerjaannya yang tidak begitu kukenali, sebetulnya tidak ada masalah dalam hal percakapan. Maksudku, dia bisa dengan mudahnya mendapatkan topik baru untuk menghindari keheningan yang cukup mengganggu. Dia juga sangat baik. Komunikatif. Setiap hari dia mencoba membangun komunikasi denganku. Tapi ada satu hal. Karena hubungan yang sedang dicoba untuk dibuat berhasil oleh mama ini tidak berdasarkan perasaan, jadi aku menggunakan otakku untuk menilai. Maksudku, pada akhirnya aku harus hidup dengan orang ini, kan? Aku haru bisa menyeimbangkan kehidupannya dengan kehidupanku. Harus bisa menerima pola pikirnya. Sayangnya, sejauh ini sulit bisa mengenali hal itu darinya. Walaupun sudah hampir sebulan berbicara dengannya. Tapi tidak banyak hal yang bisa diketahui darinya selain soal pekerjaan dan selain soal hal remeh-temeh. Aku tentu bisa saja memulai topik ini. Toh Rasyid kelihatannya tidak sama sekali punya pemikiran ini dan tidak keberatan bicara kesana kemari. Jadi, membicarakan hal-hal serius seperti soal pandangan hidup atau hal-hal yang mungkin akan menimbulkan masalah di kemudian hari seharusnya juga bukan hal tabu. Kalau memang dia punya tujuan seperti apa yang mama dan Gil bilang. Tidak berarti setelah mengetahui itu dan memutuskan, aku kemudian akan langsung memintanya menikahiku jika memang menurutku dia tidak akan menimbulkan masalah untukku di kemudian hari. Aku juga tidak segila itu. Aku hanya berpikir, pembicaraan ini akan memercepat keputusannya. Dibandingkan harus terus membuang waktu dan bicara tak jelas hanya untuk mengenal satu sama lain secara lamban. Katakan aku konservatif. Aku juga tidak punya pengalaman dalam menjalin hubungan. Tapi perjodohan yang biasa dilakukan di budaya keluargaku, karena pada akhirnya aku harus menerima cara ini, setidaknya, aku harus berpikir rasional untuk mengurangi resiko tersakiti di kemudian harinya. Dan kelihatannya, aku belum melihat itu dari Rasyid. Karena itu aku memilih mengikuti alurnya sampai aku memutuskan aku tidak bisa melanjutkan karena terlalu membuang waktuku. Atau sampai Rasyid mulai menyentuh topik itu, sehingga aku bisa melihat arahnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN