13

1639 Kata
Benar yang orang bilang. Ketika kau tidak menikmati yang terjadi saat itu, waktu berlalu dengan lambat. Sementara saat kau menikmatinya, semuanya terasa lebih cepat, sehingga kau butuh menghargai setiap detiknya. Setelah one day trip ke Haarlem yang seharusnya bisa berakhir sempurna tapi malah memaksaku kembali ke rumah sakit dan Be harus menunggu di ruanganku, aku dan Be jadi cukup sering bersama. Awalnya, aku tidak menyadarinya, hanya kebetulan melihatnya berjalan ke Centraal Station dan mengajaknya naik mobilku kembali ke rumah. Dia sudah kembali sering pulang malam, dan saat aku selesai dengan shift-ku di malam hari, biasanya kami akan berpapasan. Jadi, tidak ada salahnya kan mengajaknya. Tapi kalimat Bianca di suatu pagi tiba-tiba membuatku tersadar. Kelihatannya aku membuat diriku masuk terlalu dalam, dan sudah terlambat untuk mundur. Apapun caranya, apapun alasannya. Be saat itu belum keluar kamarnya, dan hanya ada aku juga Bianca di ruang makan untuk sarapan. Bianca tiba-tiba saja menanyakan kebenaran konklusinya, “Jadi sekarang udah bukan sepupu doang, Chard? Udah balikan?” Aku tersentak memang, tapi cukup bingung juga dengan kalimatnya itu, jadi aku mengkonfrontasinya, “Who said she was my ex?” Seketika, Bianca menyunggingkan senyum yang membuatku kesal bukan kepalang dan mengulang salah satu kataku, “Was?” Aku merutuki diriku sendiri. Kenapa juga aku tidak mengontrol kalimatku. Sekarang Bianca pasti akan semakin menjadi-jadi. Dan karena itu, aku pun memilih meninggalkannya. Walaupun sarapanku belum selesai. Bahkan karena kejadian itu, aku harus mengeluarkan uang lebih untuk membeli sarapan. Sisi baiknya, aku akhirnya dibuat sadar kalau aku sudah melenceng jauh dari tujuan awalku. Tujuan awalku part 2. Setelah part pertamanya sudah gagal. Bukannya semakin mengenal Be aku semakin kecewa dan dibenturkan pada kenyataan seperti rencananya, aku justru tak sadar kalau aku menjadi semakin nyaman dengannya. Walaupun harus menghadapi sikapnya yang kekanak-kanakan. Tidak ada manusia yang sempurna. Begitu juga Be. Tapi setidaknya, mengobrol dan menghabiskan waktu dengan Be membuatku berpikir kalau setidaknya bersama dengannya membuatku nyaman. Bukan hanya sekedar ketertarikan dari luar, ilusinya yang dulu kusimpan dan selalu kuulang-ulang di otakku. Mengenalnya membuat semua ilusi itu pecah satu persatu, tapi tidak dalam arti yang buruk. Mengobrol dan berinteraksi dengannya, aku merasa lebih bebas dan nyaman. Jarak yang biasanya kupasang menghilang dengan sendirinya. Bahkan saat tidak ada yang bicara, aku tidak merasakan kecanggungan yang memaksaku harus mengisinya dengan suaraku. Mengganggunya dengan kalimat-kalimatku yang membuatnya kesal dan mengeluarkan bantahan-bantahan penuh sarkasme, atau sebatas reaksi bahasa tubuh atau ekspresi. Intinya, dia membuatku yakin kalau aku sudah salah langkah. Bukannya mundur dan berusaha menghilangkannya dari pikiranku seperti yang kupikir seharusnya kulakukan, aku harus mulai menyudahi karirku menjadi pengagum rahasianya dan mulai memberanikan diri menyatakan semua ini padanya, dan berharap kami bisa bersama. Tapi, bicara lebih mudah dari melakukannya. Aku tidak punya pengalaman, dan setiap kali mencoba memikirkannya, aku kehilangan nyaliku. Jantungku berdetak kencang tak karuan. Telapak tanganku basah dan aku kehilangan fungsi kerja otakku. Belum lagi, aku tidak yakin bagaimana reaksi Be jika dia mendengar ini. Aku sama sekali tidak melihat dia melihatku dengan cara yang sama denganku melihatnya. Kalau sampai aku berhasil mengutarakannya, aku harus bersiap dengan kemungkinan terburuk yang paling besar sampai saat ini. Bahwa Be tidak sama sekali berpikir ke sana, dan aku harus menerima penolakkan. Aku tidak yakin apa aku masih bisa berada di bawah atap yang sama dengan Be jika sampai itu terjadi. Karena ketidakpastian ini, dan aku yang belum memutuskan apa yang aku lakukan kalau kemungkinan terburuk terjadi, aku pun masih belum juga menyampaikannya pada Be sampai saat menjemput kakaknya di Centraal Station, atau sampai aku berangkat ke Niger keesokan harinya. Atau lebih gilanya lagi, sampai sekarang. Setelah hampir tiga minggu di Niger untuk misi kemanusian dari rumah sakit tempatku bekerja. Setidaknya satu hari sekali aku berkontak dengan Be melalui sambungan pesan instan atau telepon. Tapi rasanya salah kalau aku mengatakannya di sini. Saat berada jauh darinya dan tidak mengatakannya di depannya langsung. Karena ini juga lag aku menahan kalimat ini untuk keluar. Kalimat? Siapa yang kuajak bercanda? Apa yang bisa kusebut kalimat kalau aku bahkan belum punya kalimatnya. Yang kupunya hanya keinginanku untuk melangkah lebih jauh dari sekedar pengagum rahasianya dan berharap dia bisa memberiku kesempatan atau bahkan merasakan hal yang sama. Tanpa kalimat yang tersusun. Setidaknya, belum ada. ‘If fear didn’t exist, I’d run up to you, kiss you, and tell you that I love you.’ - PIcturequotes.com *** Dering ponsel membangunkanku dari istirahatku. Setelah selesai dengan pengecekan pasien di kota yang baru sejak pagi, aku akhirnya bisa kembali ke bis dan menutup mataku. Badanku lelah bukan main, dan aku sungguh berharap Jumat segera tiba. Jumat adalah hari terakhir aku akan berada di sini. Aku akan segera kembali ke Belanda di Jumat malam, dan bisa kembali ke kehidupan normalku. Dan bertemu Be. Kami masih terus saling menggirim pesan atau menghubungi lewat sambungan telepon. Menceritakan apa yang terjadi pada diri kami masing-masing. Karena itulah aku berharap yang menghubungiku adalah Be. Walaupun ternyata saat aku melihat layar, harapanku pupus karena nama orang lain yang muncul. Dengan segara aku mengangkatnya, “Halo ma?” “Co? Tidur yah?” suara mama langsung terdengar. Aku menggeleng dan menjawab, “Engga. Kenapa?” “Sibuk ga kamu?” Baik. Ini adalah sinyal bahaya yang dikirimkan mama secara tak sadar padaku. Mama pasti akan mengatakan sesuatu yang dia pikir tidak akan kusukai atau kusetujui dengan mudah. Dia biasanya akan beputar-putar dengan pertanyaan demi pertanyaan, dan menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan baru. “Ma?” “Kamu kapan beres tugas di sana dan ke Belanda?” tanya mama lagi. Membuatku menghela napasku dan mengalah kemudian menjawab cepat, “Jumat malem.” Mama diam sebentar kemudian bertanya kembali, “Kalo Sabtu sore kamu keluar lagi capek ga? Atau Minggu?” OK, aku tidak mau bermain tebak-tebakkan lagi, “Ada apaan ma?” Aku mendengar suara helaan napas mama sebelum akhirnya aku mulai mendengar peringatannya, “Dengerin dulu mama sampe selesai,” lalu jeda sejenak sebelum melanjutkan, “Mama mau ngenalin kamu sama anaknya sepupunya papa.” Mendengar kalimat itu saja aku sudah sangat ingin memotongnya dan mengatakan kalau aku tidak tertarik. Tapi karena mama sudah memintaku untuk tidak memotongnya, jadi aku memilih diam dan membiarkan mama menyelesaikannya, “Kamu engga pernah ketemu kayaknya. Dia lagi liburan di Eropa sama sepupu-sepupunya, dan minggu ini di Belanda. Senin dia udah berangkat lagi. Mama udah ngehubungin Nadia dan dia bilang mau ngosongin jadwalnya buat kamu. Kamu mau yah?” Karena sudah ada pertanyaan, jadi aku mengasumsikan mama sudah selesai dengan penjelasannya yang harus kudengarkan sampai habis dan sedang menunggu jawabanku. Dengan segera aku menjawab, “Engga, Arco capek.” “Co,” rengek mama, “Kan kenalan doang. Nadianya udah sengaja mau ngosongin jadwal buat kamu loh. Lagian ini kenalan doang, engga mau mama paksa langsung nikah. Kalo kalian cocok yang kalian yang nentuin, kalo engga, kan yang penting udah kenalan dulu.” Ini pertama kalinya mama mencoba menjodohkanku dengan seseorang. Yah, mungkin juga karena usiaku dan dia melihat aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku untuk memikirkan orang lain. Walaupun pada dasarnya mama salah, aku punya cukup waktu untuk memikirkan soal Be. Sebetulnya, ini kesempatan yang tepat. Mengatakan pada mama untuk tidak perlu repot dulu mencari, dan membiarkanku berjalan dengan caraku sendiri untuk mendekati Be. Tapi, egoku menyuruhku diam dan hanya mengizinkan Be menjadi yang pertama tahu. “Co,” panggil mama lagi. Kembali menarikku ke dunia nyata, “Yah? Kayak anak-anaknya Mama Fathya gitu, yah? Mereka engga susah kayak kamu. Sekarang lihat Zen sama suaminya, baik-baik aja, kan?” mama mulai menggunakan taktik perbandingan, “Be juga. Kata Tante Fathya udah tiga minggu ini ngobrol sama yang dikenalin ke Be.” Seketika itu juga aku mengubah posisi dudukku yang tadinya masih bermalas-malasan dan berubah menjadi serius. Mama menggunakan nama Be sebagai contoh lainnya? Dan Mama bilang Be sedang dijodohkan dengan orang lain dan sudah tiga minggu ini terus berkontak? “Ma? Be kapan dikenalinnya?” tanyaku memotong entah apa yang mama sedang katakan. Aku sudah terlanjur tidak mendengarnya. Mama tidak langsung menjawab, dan setelah beberapa detik yang rasanya seperti berjam-jam, aku akhirnya kembali mendengar suara mama, “Kata Mama Fathya, Gil yang ngomongin ke Be langsung pas Gil dateng. Terus ketemuan mereka berdua sama yang dikenalin sama Be. Gil pulang, dia cerita ke mama Fathya katanya Be sama Rasyid nyambung. Mama Fathya cerita ke mama.” Be tidak sama sekali pernah menyebut nama asing itu setiap kali menceritakan harinya. Kenapa tiba-tiba ada nama itu sekarang dan informasi ini? Dan datangnya dari mama. “Be nya udah bilang iya, ma?” tanyaku tak bisa mengontrol rasa ingin tahuku. Sekali lagi mama diam lebih dulu. Cukup lama, bahkan lebih lama dari yang sebelumnya. Cukup lama bahkan aku sampai harus memanggilnya untuk memastikan sambungan wifiku tidak terputus sehingga masih bisa mendengar suara mama, “Kata Mama Fathya sih Rasyid-nya udah mau, tinggal Be-nya. Tapi kata Mama Fathya, Be-nya masih belum bilang apa-apa ke mamanya atau ke Rasyid.” “Rasyid ini tinggal di Belanda, ma?” “Co,” mama terdengar berbeda, “Kok kamu malah nanyain soal Be sama Rasyid sih? Mama lagi minta kamu ketemu sama Nadia.” Tidak penting. Mama dan idenya tidak penting sekarang, dan aku sudah memberikan jawabanku. Yang terpenting sekarang adalah keberadaan orang asing yang tiba-tiba masuk ke kehidupan Be dengan tujuan yang sangat jelas sejak awal, dan bahkan disetujui oleh Mama Fathya. Seketika aku merasakan dorongan untuk segera memutus sambungan dengan mama dan menghubungi Be. Atau lebih baik lagi, mengatakan kalau terjadi hal yang genting di Belanda sehingga aku harus pulang sekarang dan segera menghampiri Be yang mungkin saja masih di kantornya. Mengatakan apa yang sudah kupikirkan sejak lama dan membuatnya menyadari keberadaanku. Mungkin menutup jalan untuk Rasyid-Rasyid ini. “Ma, Arco ada urusan,” dan segera memutus sambunganku. Mulai menimbang mana yang paling baik dilakukan, dan apa yang akan kulanjutkan setelahnya jika aku memilih mengeksekusi ideku itu. ‘The secret of getting ahead is getting started.’ - Mark Twain. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN