Saat sampai di rumah sakit, Arco menyuruhku langsung ke ruangannya dan memberitahukan pin code ruangan itu. Tapi masalahnya, aku tidak tahu bagaimana caranya ke ruangan Arco. Jadi, akhirnya aku memutuskan untuk bertanya pada suster yang kelihatannya bisa membantuku. Dengan baik hati, dia mengantarkanku pada ruangan Arco tanpa bertanya.
Saat sampai, dia melangkah lebih dulu dan melihat melalui kaca yang ada di pintu. Ruangannya gelap, tentu saja. Karena Arco sedang sibuk dengan pasien daruratnya. Suster ini kemudian berbalik dan tersenyum padaku sebelum bicara, “Dokter Alamri is nu niet op zijn kamer. Als u wilt wachten, u kunt op onze cafe bij de eerste verdieping even wachten -Dokter Alamri saat ini sedang tidak di ruangannya. Kalau anda mau menunggu, anda bisa menunggu di cafe di lantai satu- .”
Aku tersenyum membalasnya, “Geen probleem. Dokter Alamri heeft me geteeld om in zijn kamer te wachten. -Tidak apa-apa. Dokter Alamri meminta Saya menunggu di ruangannya- .” Sengaja menggunakan nama belakang Arco, seperti yang digunakan si suster.
Dia menatapku bingung sebelum kemudian meraih gagang pintu dan mendorongnya. Tidak terbuka tentu saja. Dia kemudian berbalik padaku dan hendak bertanya, tapi aku memilih mendahuluinya, “Ik heb de pincode.”
Sekali lagi dia menatapku sebentar sebelum kemudian tersenyum dan mengangguk, “Ik moet nu weg, dan. -Kalau begitu Saya tinggal dulu- ,” dan kemudian segera bergegas menjauh.
Dengan itu, aku kemudian memasukan kode yang Arco berikan. Angkanya familiar, sehingga mudah untuk diingat, walaupun kombinasinya tidak seperti biasanya. Maksudku, angka yang digunakan mengandung tanggal dan bulan lahirku. Tapi alih-alih menggunakan kombinasi 1902 atau 0219 seperti dulu aku sebelum aku kemudian mengubah semua pinku, dia meletakkannya menjadi 1092.
Mungkin angka yang berarti baginya. Oktober 92? Karena ulang tahunnya di Bulan Januari, jadi oktober pasti punya makna sendiri untuknya. 92 adalah tahun kelahirannya. Mungkin saja.
Wah, aku terlalu bosan dan tidak punya kegiatan sampai akhirnya memilih memikirkan ini sekarang.
Untuk menghentikan diriku dan memberikan kesempatan pada otakku beristirahat, aku segera melangkah masuk ke ruangan Arco. Lampunya menyala otomatis saat pintu dibuka, jadi aku tidak perlu repot mencari saklar lampunya. Aku pun melangkah mendekati sofanya dan duduk setengah berbaring di sana.
Tidak ada yang bisa kulakukan sekarang. Jadi aku memilih meraih ponselku dan mulai mencari kegiatan. Berselancar di internet dan menyentuh tautan apapun yang menarik perhatianku.
Itu berlangsung cukup lama sampai aku sudah bosan. Untungnya, bunyi telepon masuk menyelamatkanku. Dari nada deringnya, aku tahu itu pasti keluargaku. Dan nama juga foto profil w******p yang muncul pun memang sesuai.
Gil. Kayak keduaku. Aku pun segera mengangkatnya, “Gil?”
“Kabar baik, adek gue tercinta. Gue juga seneng denger suara lo.”
Aku memutar bola mataku walaupun sadar lawan bicaraku tidak akan bisa melihatnya. Gil dan sarkasmenya. Berbeda tipis dengan Arco. Gil adalah versi akut.
“Zeg -ngomong-ngomong-,” dia kembali bicara karena tidak ada balasan dariku, “Gue bulan depan mau ke Belanda. Urusan kantor papa. Tapi gue juga mau sekalian mampir ke tempat lo.”
Pastinya. Dia tidak mungkin akan mengunjungiku jauh-jauh ke Belanda, dan hanya dengan satu tujuan itu. Bertemu denganku adalah tujuan sampingannya. Pekerjaannya di kantor papa adalah tujuan utamanya. Satu-satunya hal dari diri Gil yang bisa dipercaya dan diandalkan adalah ketika menyangkut pekerjaan dan perusahaan kecil papa.
“Pura-pura seneng kek,” sahut Gil lagi karena sekali lagi aku tidak memberikan reaksi apapun.
Dengan sengaja aku menghela napasku dengan keras, “Yey!” dan kemudian bereaksi singkat yang terdengar dibuat-buat.
Aku bisa mendengar Gil bersumpah serapah pelan yang pastinya ditunjukkan padaku. Tapi setelah beberapa detik, dia sudah bertanya lagi, “Lo dimana Be?”
Kali ini, akhirnya aku bisa menjawabnya lebih panjang karena bukanlah sebuah candaan ala kakakku ini, “Di rumah sakit. Lagi…”
“Lagi?” Gil memotongku dan terdengar tak percaya dan khawatir, “Lo ngapain lagi sampe masuk rumah sakit lagi?”
“Gil,” aku mencoba meredakan emosiku dan keinginanku untuk meneriakinya sekarang, “Gue di ruangannya Arco. Tadi lagi di luar sama Arco, terus dia dapet panggilan dari rumah sakit. Karena dia lagi tindakan, jadi gue nungguin dia di ruangannya.”
Tidak ada suara untuk beberapa saat dari Gil, sampai aku bahkan harus mengecheck layar, takut-takut sambungannya terputus. Internet Belanda memang bisa diandalkan, tapi siapa yang tahu dengan koneksi Gil, kan?
Ternyata masih tersambung, jadi aku memanggilnya. Seketika dia segera menjawab dengan pertanyaan, “Arco anaknya Mama Salma?”
Aku kembali memutar bola mataku, “Kita punya berapa sepupu jauh namanya Arco?”
Gil sekali lagi diam sejenak, tapi tidak selama yang sebelumnya. Aku bahkan tidak perlu mengeluarkan suara apapun untuk mengingatkannya kalau sambungan kita masih terhubung dan aku masih menunggunya di sisi belahan dunia ini, “Gue engga pernah lihat lo ngomong sama Arco di sini? Lo deket sama Arco di sana? Sampe nungguin dia di ruangannya.”
“Banyak banget pertanyaan lo,” itu adalah respon pertamaku. Tapi kemudian Gil menyebutkan namaku dengan nada memeringatkan. Memberitahuku kalau dia serius. Jadi aku pun menjawabnya dengan benar, “Emang engga pernah pas di Indo. Tapi di sini kan dia juga di rumahnya Tante Mer. Setelah dia bantuin gue pas gue masuk rumah sakit waktu itu, kita jadi sering ngobrol. Hari ini lebih ke gue yang minta dia nemenin sih buat day trip.”
Kakakku ini kembali diam. Kurasa sedang mencoba memahami penjelasanku. Jadi aku membiarkannya. Berharap dia memilih mengganti topiknya dan tidak lagi bertanya. Tapi ternyata aku berharap terlalu cepat, “Berdua doang?”
“Lo mau gue bawa berapa orang buat day trip?”
Sekali lagi dia diam. Kali ini cukup lama. Sampai aku bahkan bisa menggodanya, “Gil, lo ingetkan adek lo ini masih di sini, nyia-nyiain waktunya buat berusaha ngedengerin yang engga bisa didenger dari telepon lo.”
“Be,” Gil menghela napasnya pelan dan kemudian memanggilku dengan serius. Membuatku kemudian mengubah dudukku lebih tegak dan mendengarkan, “Engga ada yang perlu gue tahu soal lo sama Arco, kan?”
Kukerjapkan mataku beberapa kali, mencoba memahami maksudnya. Kalimatnya cukup implisit sehingga ak…
Dia …
“Lo engga lagi bilang kalau lo mikir gue pacaran sama Arco, kan?” tanyaku tak percaya.
Sekali lagi ada helaan napas yang kudengar sebelum suara Gil, “Gue perlu ingetin lo soal beberapa kali mergokin lo ngeliatin dia di acara keluarga, dan nge-stalk IG-nya Arco.”
Kalau saja mataku tidak dihalangi kelopak mata, kedua bola mataku bisa saja menggelinding keluar seperti di kartun. Aku tidak percaya Gil tahu soal i********: Arco dan, dia pernah melihatku sedang melihat ke arah Arco? Yang benar saja. Dan dia menyimpannya seorang diri sampai sekarang?
“Be?”
Suara Gil yang memanggilku dengan nada yang tegas itu pun akhirnya membuatku menyerah. Aku pun menghela napas dan bersiap menumpahkan rahasia yang hanya diketahui diriku dan beberapa sahabatku di Indonesia, “Fans aja. Pas kuliah lebih tepatnya. Tapi terus ya udah. Pas gue dapet tawaran dari kantor sini, yah, jiwa fangirling gue keluar sebentar kayaknya. Gue cuman ngecekin IG-nya dari gue tahu soal gue mau dipindahin ke sini. Tapi juga engga mikir apa-apa, maksud gue, biar Belanda engga segede Jakarta, tapi yah kesempatan ketemunya kecil.”
Ada jeda sebentar dari Gil sebelum aku mendengar kalimatnya, “Be, fans bisa aja jadi …”
Aku segera menggeleng dan menjawab tegas, “Engga. I was busy settling down sampe engga pernah kepikiran soal fangirling itu. Terus gue tumbang. Walaupun jadi temenan sama Arco, dia nganggep gue kayak impaired girl yang engga bisa ngurus dirinya sendiri dan sok independent…”
“You are,” putus Gil yang langsung membuatku diam. Setelah mencoba menahan amarahku, aku pun bicara, “Ada lagi engga nih yang mau lo omongin? Kalo engga ada lagi, gue putus. Sebelum gue emosi sama lo.”
Gil kembali diam sesaat sebelum bicara, “Je wilt me vertellen wanneer je gevoel en de situatie veranderd zijn, he -Lo akan kasih tahu gue kalo keadaannya berubah, kan-?”
Aku sungguh tidak merasa nyaman dengan pembicaraan ini, karena memang kenyataannya kita tidak pernah saling membicarakan soal lovelife masing-masing. Selayaknya keluarga khas keturunan timur tengah di Indonesia. Kami tidak terlalu terbuka untuk hal-hal yang menyangkut perasaan dan hal tabu lainnya. Dan walaupun punya sedikit darah Belanda, tapi budaya Arab masih lebih kental.
Karena hal itulah, aku memilih tidak menjawab Gil dengan serius, “Lo siapa? Kenapa HP nya kakak gue ada di lo?”
Gil mengerang, “Be! Gue lagi serius ini. Lo pikir gue seneng ngomongin ini?”
“Then drop it, Gil,” jawabku sambil tertawa, “Lo aneh kalo terus kayak begini. Jangan bilang lo kangen sama gue makanya lo jadi begini? Engga ada yang bisa lo gangguin kan gue engga ada? Makanya pas gue lagi di Indo, harusnya lo baik-baik sama gue.”
Beberapa saat setelah aku menyelesaikan kalimatku, pintu ruangan Arco terbuka dan dia muncul dengan atasan dan bawahan biru. Sesuatu yang biasanya kulihat saat dokter baru saja melakukan operasi.
“Justru gue begitu biar lo survive kalo engga ada gue. Ternyata malah engga mempan. Kurang kayaknya,” sahut Gil dan menarik perhatianku kembali pada sambungan teleponku.
“Lo makin ngaco, gue putus yah. Tot volgende maand -sampai jumpa bulan depan-!” dan memutus sambungannya.
Arco yang sudah duduk di kursinya sedang menatapku penasaran, “Siapa yang mau dateng bulan depan?”
“Gil. Barusan dia nelepon ngabarin gue dia mau dateng,” jawabku dan kemudian mengalihkan pembicaraan, “Jadi lo udah beres?”
Dia mengangguk, “Gue harus batalin makan malem mahalnya karena engga keburu buat balik ke haarlem dan nyampe tepat waktu buat restaurant-nya. Kita makan di Amsterdam aja yah?”
Aku mengangguk pasrah. Dan karena tidak yakin kalau aku punya ide untuk tempat makan yang bisa kami tuju, maka aku pun membiarkannya sekali lagi memutuskan. Lebih baik memberikannya pada yang sudah berpengalaman, kan?
***