Kami baru sampai di pintu depan Raaks untuk mengambil mobil dan berpindah lokasi ke restoran yang sudah kupikirkan sejak semalam.
Hari ini berjalan sesuai rencanaku, walaupun ada sedikit kejutan kecil dari Be yang membuatku sedikit kesulitan menata pikiranku dan terus tegar dengan keputusanku.
Hampir
Aku harus menambahkan hampir di kalimat sebelumnya.
Hari ini berjalan hampir sesuai rencanaku. Karena kalau sesuai dengan rencanaku, maka seharusnya aku dan Be tidak sedang melangkah gegas seolah ada bencana yang sedang mengikuti kami seperti sekarang.
Telepon dari rumah sakit membuatnya kacau.
Aku tiba-tiba harus kembali secepatnya, karena pasienku tiba-tiba saja krisis.
Saat menjelaskannya pada Be, kukira dia akan kecewa atau setidaknya menunjukkan kekecewaannya, tapi ternyata, dia justru kelihatan panik dan bertanya apa masih memungkinkan karena kami berjarak setengah jam dari Amsterdam bahkan dengan melewati jalur bebas hambatan.
Ponselku berbunyi lagi. Sekali lagi dari dokter madya yang bertugas jaga hari ini. Segera saja kuangkat teleponnya sambil meraih kunci mobil dan menekan kuncinya, berjalan ke sisi pengemudi dan hampir saja membuka pintu mobil dan menyaksikan hal paling buruk nyaris terjadi jika saja responku tak cepat.
Be sibuk dengan tali tas selempangnya yang terlilit dengan tali pakaiannya yang menggantung di dadanya. Dia tidak menyadari ada mobil yang sudah hampir dekat dengannya, dan dia bisa saja celaka. Dengan segera aku melangkah dan melupakan sambungan ponselku dengan dokter muda ini. Melangkah ke arah Be dengan adrenalin berpacu kencang. Berharap punya cukup waktu supaya aku juga tidak perlu meghadapi keadaan krisis di sini, dengan Be.
Kutarik Be menyingkir dari jalan mobil ini mendekat ke arahku yang berada di samping kap mobil depan. Membuatnya tersentak kaget dan kehilangan keseimbangan. Dia pun menumpukan semua berat badannya padaku, dan aku yang tidak siap pun akhirnya terdorong ke belakang hingga menabrak kap mobilku.
Setidaknya mobilku bukanlah city car, sehingga bisa menahanku hingga tidak sampai berbaring. Tapi karena itu juga, aku akhirnya terhimpit di antara mobilku dan Be yang sedang menutup matanya rapat-rapat di atasku. Dan karena dia sedang dalam keadaan shock yang cukup bertahan sementara aku sudah pulih lebih dulu, aku pun kemudian menyadari kalau keadaan ini memberikanku kesempatan melihat Be dari dekat. Benar-benar dekat.
Membuat jantungku yang tadinya sudah mulai kembali normal detaknya, kembali menggila dengan alasan yang berbeda.
Untuk menghindari itu, aku pun memilih berdeham dan menarik perhatian Be. Mencoba sebisa mungkin terlihat santai dan juga terdengar santai, “Be? Mau sampai kapan?”
Be membuka matanya dan kemudian menyadari di mana dia bersandar. Dengan segera dia bangun dan kemudian mengucapkan maaf beberapa kali dan memastikan keadaanku.
“Lo hobi banget nyari perkara biar masuk rumah sakit kayaknya,” kataku mencoba mengganti topiknya. Berdoa semoga dengan cara ini aku bisa kembali normal, dan Be tidak mau mengungkit ini lagi, “Gini caranya lo bisa ditarik pulang sama nyokap bokap lo sebelum lo harus pulang.”
Be menatapku kesal sebelum menghela napas, “Gue pura-pura engga denger karena lo barusan abis nyelametin gue,” dan kemudian berbalik. Segera membuka pintu penumpang depan dan masuk.
Aku menatapnya.
Seperti sedang ditampar kenyataan, kejadian barusan seolah sama sekali tidak memberikan efek apapun pada Be. Dia kelihatan baik-baik saja sekarang, walaupun tadi sedikit terguncang. Kami sama-sama mengalami ketakutan karena Be hampir saja mengalami kecelakaan. Tapi setelahnya dan sampai sekarang, aku masih harus mencoba menenangkan diriku supaya bisa kembali seperti biasa. Kembali mengingatkan diriku soal rencanaku dan keputusanku.
Tapi Be, dia sudah kembali normal.
Seperti dunia sedang menjelaskan padaku, bahkan setelah kejadian semalam yang membuatku tidak tidur semalaman, Be sama sekali tidak terganggu dan hanya aku yang merasa kesulitan dan berpikir berlebihan. Berharap terlalu banyak diam-diam.
‘And the worst part of it all is that I’m wasting all my time pondering over you when I know your thoughts never ponder over me,’ - Unknown.
***