10

1747 Kata
Mengiyakan permintaan Be dengan terlalu cepat membuatku tidak bisa tidur semalaman. Di satu sisi, aku tahu aku mengikuti keputusanku dan percobaan baru yang rasa-rasanya sudah nyaris berhasil, sebelum akhirnya jantungku bertingkah lagi semalam karena tindakan kecil tanpa sadar Be. Pergi dengannya hari ini berarti sekali lagi mencoba membuatku terbiasa dengan Be yang sesungguhnya, dan menabrakkan bayangan Be yang sempurna dengan kenyataan. Membuatnya kalah dan memberikan nol alasan untukku menyimpan perasaan yang sudah sejak lama ingin kubuang. Di sisi lain, aku agak takut aku justru salah langkah dan sekali lagi mendapati kegagalan. Resiko kali ini sangat besar. Bila gagal, aku bukan hanya berakhir dengan masih memiliki perasaan pada Be yang seharusnya kuhentikan sejak lama. Aku juga menyiksa diriku sendiri karena menginginkan sesuatu yang tidak bisa kumiliki, bahkan ketika sudah mengetahui kenyataannya. Sudah keluar dari ilusiku tentang Be. Ada sebagian dari diriku yang ingin membatalkan rencana hari ini. Ingin rasanya melangkah ke atas dan mengetuk pintu kamar Be, kemudian mengatakan kalau aku tiba-tiba saja harus ke rumah sakit besok. Membuat alasan apapun yang masuk akal, setidaknya yang membantuku keluar dari situasi ini. Tapi, membayangkan bagaimana reaksi Be setelah aku mengatakan itu menghentikan keinginanku. Dia sangat menantikan hari ini sampai tidak bisa berhenti bicara selama perjalanan pulang dari Amsterdam ke Zaandam semalam. Ingin tahu kemana aku berencana mengajaknya. Pada akhirnya, aku berpikir semalaman, apakah ini adalah keputusan terbaik. Dan sekarang, di sinilah aku, di ruang TV, menunggu Be turun dari kamarnya sambil menguatkan diriku. Mengatakan pada diriku sendiri kalau aku harus bertanggung jawab atas langkah yang kuambil. Bahwa jika ini gagal lagi, aku hanya harus mencoba lebih keras lagi. Atau menyerah. Yah, menyerah terdengar tidak ter… Tidak. Kuhentikan diriku sendiri dari pikiran gila itu. Aku sudah memutuskannya hampir dua tahun lalu, dan sebagai laki-laki, aku harus memegang omonganku. Keputusan tidak bisa dianulir. Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Aku hanya butuh mencoba lebih keras lagi untuk berhasil. “Co, udah sarapan?” suara Be yang tiba-tiba saja terdengar memecahkan konsentrasiku dengan duniaku sendiri di dalam kepalaku. Kalimatnya ternyata bukan hanya menarikku kembali ke dunia nyata, tapi juga menyentakku dengan pertanyaan untuk diriku sendiri. Kenapa aku justru menunggunya di sini, kalau aku bisa menunggunya di ruang makan sambil sarapan. Luar biasa. Aku terlalu disibukkan dengan kecemasanku sendiri. “Co?” panggilnya lagi dan kemudian menyipitkan matanya, “Belum makan kayaknya lo, makanya engga fokus gini,” lalu terdiam sejenak sebelum akhirnya memandangiku dengan penuh kecurigaan, “Lo sengaja yah, biar gue yang bikinin sarapan lo? Engga mau capek, mentang-mentang hari libur lo dipake nemenin gue.” Alasan yang Be lontarkan terdengar lebih masuk akal untukku dibandingkan harus mengatakan padanya, ‘Gue sibuk mikirin apa harus ngelanjutin rencana kita atau engga. Abis rasanya bahaya bangget buat gue. Sampai lupa gue belum sarapan dan malah nungguin lo di sini.’ Karena itu aku tersenyum dan mengangguk, “Baguslah lo sadar.” Be memutar bola matanya dan bicara, “Sandwich?” Aku mengangguk dan dia segera melangkah ke dapur. Akupun mengikutinya. Seperti yang dia katakan, dia membuat sandwich. Dengan segera dia menyiapkan bahan-bahan dan peralatannya dan kemudian mulai melakukan langkah-langkah yang biasanya orang lakukan untuk membuat roti isi. Tidak butuh waktu lama, dia sudah selesai dan dengan dua piring di tangannya, dia mendekat ke arah meja. Meletakkan satu piring dengan sandwich di atasnya di depanku, dan satunya lagi di seberangku. Kelihatannya dia berencana duduk di sana, Ternyata dia belum selesai. Dia kembali ke bagian dapur dan mengambil gelas. Mengisi gelas tingginya dengan air putih. Itu kebiasaannya. Dia hanya minum air putih di pagi hari, kecuali dia butuh asupan energi tambahan seketika, maka dia akan meneguk s**u yang manis, atau bahkan memilih segera keluar tanpa sarapan dan membeli matcha latte sembari berjalan ke bus stop. “Lo mau apa, Co?” tanya Be kembali menarikku kembali ke dunia nyata. Kelihatannya yang dia maksud adalah minuman untukku, jadi aku memilih segera menjawab, “Air putih aja. Nanti di jalan mampir beli kopi.” Be mengangguk dan meraih gelas tinggi lainnya, mengisinya dengan air dan melangkah mendekat. Dia segera duduk dan kami mulai menyantap sarapan dalam diam. Hanya untuk beberapa saat. Karena dalam hitungan kurang dari sedetik, Be sudah memecahkan keheningan sesaat itu, “Jadi kita kemana?” “Haarlem,” jawabku singkat sambil mengunyah roti isi sayuran dan daging asapku. Be diam sejenak tapi dia kemudian mengangguk. Kukira dia sudah selesai, tapi dia melanjutkan pertanyaannya, “Naik intercity -kereta jarak jauh dengan banyak pemberhentian- atau sprinter -kereta dengan lebih sedikit pemberhentian-?” Aku menggeleng, “Mobil aja.” Dia diam cukup lama, “Emang sih tarif parkirnya murahan di Haarlem daripada di Amsterdam, tapi bukannya cepetan naik sprinter?” Aku harus setuju dengan kalimatnya, tapi aku punya alasan lain kenapa memilih menggunakan mobil, “Dari Centraal Station -stasiun kereta- ke Zijlstraat nya lebih jauh dibanding dari tempat parkir -di Belanda, tidak bisa sembarangan memarkirkan kendaraan. Ada tempat-tempat tertentu yang digunakan sebagai lahan parkir. Ada website yang bisa digunakan untuk mengecek ketersediaan lahan parkir di tempat tersebut dan memesan tempat-. Lagian juga kalau ada emergency jadinya gampang.” “Wah, sampe udah tahu mau parkir dimana dari sekarang,” katanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan tersenyum menggodaku, “Udah beneran jadi orang Belanda lo. Untung pelitnya engga.” Kali ini giliranku yang memutar bola mataku, “Lo belom tahu aja,” cemoohku. ‘Menjadi bisa adalah karena terbiasa. Maka lakukanlah. Lakukan lagi. Lakukan terus, sampai menjadi bisa.’ -Ellamaela. *** Menghabiskan waktu ala anak muda ibu kota. Itulah topik One Day Trip-ku hari ini dengan Arco. Setelah memarkirkan mobilnya di Raaks dan berjalan sekitar lima menit ke Zijlstraat, kami langsung disambut deretan toko pakaian dan fashion, dan beberapa toko makanan yang cukup instragamable. Karena tujuanku hari ini memang bukan untuk berbelanja -kecuali menemukan sesuatu yang benar-benar tidak bisa kutolak lagi, jadi aku dan Arco lebih banyak berjalan-jalan mengitari beberapa butik yang harganya bisa kubilang cukup mencekik untuk pekerja swasta asing di perusahaan multinasional. Sekitar pukul 10, Arco mengajakku masuk ke Huize van Wely. Sebuah Toko roti terkenal yang juga sekaligus Cafe dengan banyak menu andalan. Salah satunya adalah yang aku pesan, se-cup kecil es krim buatan sendiri yang terkenal. Kalau bukan sedang dalam masa liburan sehariku, aku akan bersumpah serapah karena harganya saat melihatnya di menu. Setelah duduk di sana dan mengobrol tak karuan, kami akhirnya menyadari kalau sudah waktunya makan siang. Kami pun keluar dari Huize van Wely dan berjalan sebentar sebelum akhirnya Arco mengatakan kalau kita sudah sampai. Frietkamer. Itu namanya. Dari itu saja aku sudah tahu kalau menu andalannya pastilah frietjes. Kentang goreng ala Belanda yang dipotong panjang dan besar dan berisi, kemudian diberikan toping yang kadang membuatku menggeleng. Tempatnya tidak se-aestetik cafe tadi, dan tidak besar juga. Tapi sangat banyak orang mengantri di depannya untuk, dan beberapa sepertinya sudah memesan dan sedang menunggu untuk take away. “Kita takeaway aja sambil jalan ke Kleine Houtstraat yah? Engga nyampe 10 menit,” jelasnya dan aku hanya mengangguk. Mengikuti saja idenya. Toh, aku sudah setuju untuk tidak mengeluh dengan apapun rencananya. Kami pun segera mengantri. Tapi kelihatannya Arco punya pikiran lain, “Lo duduk aja, gue yang ngatri.” Kali ini aku menggeleng, “Gue juga mau tahu menunya,” kataku beralasan. Sebenarnya, aku ingin ikut mengantri karena aku ingin membayar. Sampai saat ini aku belum mengeluarkan uang sepeser pun. Tiket tol menggunakan kartunya, es krim tadi juga menggunakan uang Arco. Kalau aku duduk dan tidak ikut dengannya, dia akan membayar lagi. “Scan barcode yang di sana, lo lihat menunya, kasih tahu gue,” katanya menunjuk papan barcode menu. Aku kembali memerkerjakan otakku untuk memberikan alasan baru, “In case lo butuh bantuan gue pas mesen.” Dia diam dulu, nampak bingung dengan maksudku, tapi akhirnya berhasil memahami dan mendengus, “Be, ini Belanda, lo bisa survive pake Bahasa Inggris selama itu kota besar atau wilayah pariwisata.” Aku menghela napas. Dia benar. Kelihatannya aku harus mengatakan maksud asliku berdiri dengannya di sini dan ikut melangkah maju setiap antriannya bergerak, “Kali ini gue yang bayar.” Arco menatapku sejenak, sebelum akhirnya menggeleng, “Kata siapa gue engga bakal biarin lo bayar? Gue engga sebaik itu,” dan tersenyum jahil, “Gue mau buat lo bayar makan malem, soalnya gue mau bawa kita makan malem di tempat super mahal. Jadi simpen buat entar aja. Frietkamer doang kemurahan buat lo nraktir gue.” Sungguh, aku menyesal berniat baik padanya. Dengan itu, aku pun berjalan menjauhi Arco dan mendekati papan barcode. Tapi setelahnya, aku kembali dan tetap mengikutinya mengantri. Setidaknya, dia tidak mengantri sendirian. Sekitar hampir duapuluh menit, pesanan kami selesai, dan kami melanjutkan langkah menu jalanan baru yang sekali lagi berisi pertokoan, butik, art and craft, dan cafe-cafe yang sangat cocok untuk berfoto OOTD. Sekali lagi kami berjalan memutari tempat-tempat ini. Sampai akhirnya mataku tiba-tiba mendarat pada sebuah baseball jacket di Bojangles. Aku tidak bisa melepaskan pandanganku dari sana, dan aku bisa langsung membayangkannya kalau aku membeli itu. Jadi, tanpa berpikir panjang aku segera mendekati staff toko dan meminta ukuran yang sesuai untuk Arco. Dia sedang sibuk melihat sepasang sepatu yang menarik perhatiannya, jadi ketika laki-laki ini melihat ke arahnya, Arco juga masih tidak sadar. Dengan cepat aku membeli jaket itu dan segera mendekati Arco. Dia sedang meletakkan sepatu yang baru saja dicobanya itu. Tanpa bisa menahannya, akupun langsung menanyakannya, “Kenapa?” “Engga enak dalemnya. Kalo gue banyak berdiri jadi engga nyaman,” jawabnya. Aku pun mengangguk memahaminya. Dia akhirnya menyadari tas kertas bertuliskan Bojangles di tanganku dan langsung bicara, “Kapan lo beli nya?” tanyanya tak percaya. Dengan senyum penuh kemenangan aku menyerahkan tas itu padanya. Tanpa bicara dia hanya meraih tas itu dengan tangan kanannya dan memindahkannya ke tangan kirinya. Bahkan tak melihat apa isi di dalamnya. Tunggu, dia salah sangka sepertinya, “Co, itu gue bukan minta tolong bawain. Itu buat lo,” kataku menjelaskan. Kalimatku membuatnya berhenti melangkah dan menatapku bingung, “Ngapain?” Aku mengangkat bahuku, “Lihat Varsity Jacket itu di dalem tadi terus langsung kepikiran kayaknya pas kalo lo yang make, jadi langsung gue beliin deh.” Dia menatap selama beberapa saat dan seperti sibuk dengan pikirannya sendiri setelah mendengar kalimatku. Membuatku merasa cukup canggung karena ditatap seperti itu, dan akhirnya memilih memanggilnya lagi. Tatapan matanya menunjukkan kalau dia sudah kembali ke dunia nyata dan menyadari sekitarnya dan aku yang ada di depannya. Dia kemudian menggeleng seketika kembali menjadi dirinya yang menyebalkan, “Thank you, tapi gue tetep bakal minta traktiran di restaurant yang gue mau entar malem.” Aku menghela napas, astaga. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN