bc

Jodoh Wasiat Kakek

book_age16+
9
IKUTI
1K
BACA
love-triangle
contract marriage
family
HE
love after marriage
fated
forced
opposites attract
friends to lovers
arranged marriage
arrogant
kickass heroine
heir/heiress
blue collar
drama
tragedy
sweet
bxg
lighthearted
serious
kicking
campus
city
office/work place
childhood crush
like
intro-logo
Uraian

Shena dan Dikta, dua insan yang sedari kecil seperti sudah ditakdirkan bersama. Kedekatan mereka begitu harmonis, saling menjaga satu sama lain. Begitu serasi di mata kedua keluarga masing-masing sampai rencana perjodohan sudah dituliskan untuk keduanya.

.

Namun, suatu hari sebuah kesalahpahaman mengguncang tidak hanya bagi mereka, tetapi juga bagi kedua belah pihak keluarga. Menciptakan benteng yang begitu tinggi dan kokoh sampai-sampai mereka tidak punya kesempatan untuk meluruskan yang salah.

.

Beruntung masih ada Kakek Sanjaya yang terus berusaha menjaga erat hubungan kedua keluarga. Beliau tetap bersikukuh pada rencana awalnya untuk menyatukan Shena dan Dikta dalam ikatan pernikahan. Hingga itu betul-betul terjadi, tak terelakkan.

.

Tetapi ... akankah ikatan itu mampu menyatukan kembali dua insan yang sudah terlanjur dibuat hancur masing-masing? Apakah pernikahan mereka akan bertahan di tengah kebencian yang sudah mendarah daging? Terlebih dengan adanya orang ketiga yang begitu gencarnya membuat mereka selalu berseteru. Rasanya perceraian lah satu-satunya jalan yang harus mereka tempuh.

.

Atau sebaliknya? Mengikuti takdir yang terus memaksa mereka bertahan meskipun tak henti-hentinya diterpa badai rasa sakit.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1 - Permintaan Kakek
"Ayo kita secepatnya bercerai." Bagaimana perasaanmu jika kalimat seperti itu dilayangkan oleh seorang pria yang baru saja menjadi suamimu kurang dari dua puluh empat jam? Hancur? Jelas! Sangat malah! Terlebih jika orang yang menjadi suamimu adalah laki-laki yang pernah mengisi penuh setiap kenangan manis masa lalumu, rasanya hancur saja masih kurang bisa mendeskripsikan rasa sakitnya. Sialnya hal itu terjadi pada Shena Candramaya, seorang gadis sederhana berusia dua puluh enam tahun yang bahkan tidak pernah meminta yang muluk-muluk pada Tuhan, tidak pernah berani bermimpi tinggi-tinggi, tidak pernah juga berbuat sesuatu yang menyakiti orang lain. Tapi anehnya kemalangan demi kemalangan terus menghantuinya selama bertahun-tahun. Pernikahan ini, sebetulnya Shena juga tidak menginginkannya! Tapi bukan berarti ia menantikan sebuah gugatan apalagi secepat ini. Rasanya Shena ingin menertawai dirinya. Sungguh miris. Andai saja dua bulan lalu ia berani menolak permintaan Kakek Sanjaya ketika beliau sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit, tentunya ia tidak perlu merasakan serangan batin yang sungguh menyiksa ini. ** Dua bulan sebelum hari pernikahan. Langkah gusar diiringi jantung berdegup serta bibir yang terus tergigit, tentu adalah perasaan tidak nyaman yang ingin dihindari semua orang, termasuk oleh Shena. Diliriknya suasana sekitar. Koridor rumah sakit yang menjajarkan pintu-pintu ruang rawat VVIP, tanda bahwa penghuni di dalamnya bukan orang-orang sembarangan. Termasuk orang yang sebentar lagi akan Shena temui. Meskipun di sepanjang jalan tangannya terus memeluk erat lengan ibunya seolah mencari kekuatan dari sana, tetapi tetap saja hati serta pikirannya tak mampu bertenang diri. Pasalnya, Shena sudah bisa menebak apa kiranya yang akan terjadi sesaat lagi. Bencana yang akan menimpa masa depannya. Dan bayang-bayang itu membuatnya semakin gelisah. 'Enggak! Please jangan sekarang ... aku belum siap.' Di tengah harapan itu, Shena melirik ke arah penghuni kursi roda yang tengah didorong ibunya. Yang seketika membuat sorot mata gundah gulananya berubah menjadi iba, lalu menciptakan suasana yang lebih buruk dari sebelumnya. Pasrah. Orang itu—pria paruh baya di atas kursi roda itu—yang perawakannya sudah kurus kering dengan kepala bersandar miring pada bahu kanannya, serta tangan kaki yang tampak berlagat kaku, dia adalah ayah Shena. Sosok yang bisa dibilang menjadi akar dari bencana yang akan Shena hadapi. Namun, Shena tak pernah menyalahkannya, tidak sekalipun! Rumit menjelaskan semuanya sekarang. Terlebih dalam detik-detik menegangkan ini .... Oh, tidak! Bahkan kini mereka telah tiba di tempat tujuan. Lebih cepat dari yang gadis itu harapkan. Shena menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata saat ibunya mengetuk salah satu pintu di tengah koridor lalu membukanya. "Devan dan keluarga! Akhirnya kalian sampai juga—uhuk! Uhuk!" Sebuah suara serak yang terasa berat dan lemah langsung menyambut kedatangan mereka. Shena membuka mata terpaksa. Tanpa melihat pun sebetulnya ia sudah tahu siapa yang bicara. Sanjaya Wiratama namanya, sang pemilik perusahaan roti tempat dulu ayahnya mengabdi di kala keadaannya belum semengenaskan ini. Sosok yang begitu dihormati Shena dan keluarga. Dia sudah renta dan sakit-sakitan. Namun lihat saja, bahkan dalam keadaan merebah sambil terbatuk-batuk pun dia masih menyempatkan untuk menyambut kedatangan keluarga Shena dengan hangat. Sungguh beliau orang yang baik, jika saja Shena tidak memandang ke arah lain .... Saat itulah napasnya terasa sesak penuh kebencian. Pria itu! Pria sebayanya yang tengah berdiri bersandar di dinding sambil membuang wajah tak acuh. Dia lah alasan utama mengapa Shena menyebut momen ini bencana! 'Kenapa harus dia cucu Kekek Sanjaya?' keluh Shena dalam hati sembari tak sadar tangannya mengepal kuat. "Shena? Kenapa diam di situ? Kemari, Nak." Suara serak Sanjaya yang masih berusaha menahan batuk kala ia mencoba untuk mendudukkan tubuhnya, berhasil mengembalikan fokus Shena. Gadis itu pun memaksa senyum, lantas berjalan mendekat untuk kembali memasang posisi berdekatan dengan ayah ibunya. Entah sejak kapan mereka sudah ada di tepi ranjang tempat Sanjaya merebah. "Kakek apa kabar?" Shena mencoba berbasa-basi sambil menyalami tangan pria tua itu. "Kelihatannya masih butuh banyak istirahat. Apa sebaiknya kami nggak usah berlama-lama di sini supaya Kakek bisa istirahat?" Sanjaya tersenyum lemah seraya menepuk pelan lengan Shena yang sedari kecil telah dianggapnya seperti cucu sendiri. "Kakek nggak selemah itu loh. Justru kehadiran kalian lah penyembuh Kakek." Lagi, Shena memasang senyum paksa. Bukan bermaksud tidak menghormati Sanjaya. Sebaliknya, ia tulus mengatakan kekhawatirannya. Hanya saja ... kalimatnya tadi juga didasari oleh keberadaan orang itu! Sekali lagi Shena melirik pria pengacau pikirannya dalam ruangan ini, dengan penuh kebencian. Hanya sekilas tentunya, sebelum Sanjaya menyadari hal tersebut. "Kamu sendiri bagaimana kabarnya, Devan? Udah sejauh mana perkembangan terapinya?" tanya Sanjaya, kali ini tertuju pada ayah Shena yang hanya bisa duduk tak berkutik di atas kursi roda. Yang ditanya mengangguk susah payah. Lalu dibantu jawab oleh sang istri. "Sudah jauh membaik, berkat dukungan Pak Sanjaya. Kami sekeluarga sungguh berterima kasih. Kalau bukan karena bantuan dari Bapak, kami nggak bisa bayangkan gimana keadaan keluarga kami. Sekali lagi, saya mewakili suami saya mengucapkan terima kasih banyak kepada Bapak." "Jangan ngomong begitu—uhuk! uhuk! Kan udah saya bilang, Devan itu udah saya anggap seperti anak sendiri. Devan juga adalah pengobat rindu saya akan mendiang putra saya, kalian semua tahu itu. Maka jangan sungkan untuk menerima bantuan dari saya. Karena saya nggak mau kehilangan sosok putra untuk yang kedua kalinya." Ibu Shena, Nirma Ayunanda, tersenyum haru. Matanya hampir berkaca-kaca. "Terima kasih." Gumamannya bahkan terdengar agak parau. Sanjaya tidak sempat menanggapi. Dia kembali terbatuk-batuk, kali ini cukup mengkhawatirkan karena napasnya sampai kesusahan. Shena buru-buru mengambilkan air untuknya. "Minum dulu, Kek." Setelah menerima bantuan Shena dan gadis itu menaruh kembali gelas di atas meja, Sanjaya berdeham. Air mukanya berubah serius sekarang. Diliriknya pemuda yang sedari tadi sibuk acuh tak acuh di sudut dinding. Pandangan Sanjaya langsung menajam kala menyaksikan ketidaksopanannya terhadap kedatangan keluarga Shena. "Dikta, kemari!" serunya pelan. Yang dipinta menurut, tetapi masih dengan sorot mata malas. Sementara Shena menatap langkah pria itu dengan tatapan setajam belati. Dia adalah Dikta Wiratama, sosok yang dulu pernah menciptakan surga sekaligus neraka dalam hidup Shena. Sosok yang awalnya berperan bagai malaikat, tetapi tiba-tiba suatu hari berubah menjadi monster, entah oleh sebab apa. Sialnya, dia adalah cucu Sanjaya. Orang yang sedari kecil sudah direncanakan untuk dijodohkan dengan Shena. Dan tebakan Shena, hari ini lah Sanjaya akan memperjelas perjanjian itu. Mangkanya perasaan Shena tidak karuan sedari kakinya menginjak gedung rumah sakit siang ini. "Ada apa?" Dikta bertanya enggan ketika kakinya sudah berdiri persis di hadapan ranjang sang kakek. Sorot mata Sanjaya tampak agak emosi melihat tingkah tidak sopan cucunya. Namun, ia berusaha menutupinya. "Coba kamu sapa dulu Om Devan dan Tante Nirma. Bersikaplah yang sopan, mereka tamu penting Kakek hari ini," titah Sanjaya. Dengan setengah hati Dikta menyalami ayah dan ibu Shena, tanpa mengucap sepatah kata pun. Pandangannya terpaku cukup lama ketika menggenggam tangan kanan Devan. Ditatapnya setitik kecacatan di sana dengan sedikit iba. Tapi hanya sekejap, karena detik berikutnya sorot matanya kembali sombong seakan penuh jijik. Shena menangkap perubahan itu. Hatinya semakin bergemuruh. 'Tega sekali dia bersikap begitu ke Ayah! Padahal dulu tangan Ayah lah yang kerap mengasihinya bagai putranya sendiri, apa dia udah lupa?!' Shena membatin penuh amarah. "Ehem!" Sanjaya berdeham dengan maksud mencairkan suasana yang mulai menegang, sekaligus untuk menutupi sikap buruk cucunya di hadapan Devandra Adhikara, alias ayah Shena. "Dikta pasti masih jet-lag. Baru pagi ini dia tiba dari Australia. Jadi maklumi ya kalau sikapnya seperti ini. Biasa lah anak muda jaman sekarang, kalau lagi kecapekan ya begini tingkahnya. Ditambah lagi anak ini pasti sudah terpengaruh norma tidak sopan dari budaya luar." Dalam kondisinya yang tengah stroke, Devan tentu tak mampu menjawab. Tapi, gestur tubuhnya mengisyaratkan kalau ia sama sekali tidak keberatan dengan sikap Dikta. Ya, ayah Shena memang selalu sebaik itu. Sementara itu, Dikta tampak mendengus pelan di posisinya. Hampir tidak kelihatan, tapi pandangan jeli Shena lagi-lagi mampu menangkap hal tersebut. Yang membuatnya kini semakin menaruh kebencian terhadap pria di hadapannya itu. Sanjaya kembali memandang Shena. "Nah, Shena, sekarang kamu kemari, Nak." Dengan terpaksa Shena berdiri tepat di sisi Dikta, berhadapan dengan Sanjaya. Pria tua itu kini bergantian menatap kedua sejoli itu. Sekali lagi Sanjaya terbatuk-batuk lama. Shena hendak mengambilkan air lagi, tetapi Sanjaya segera memberinya isyarat bahwa ia tidak apa-apa. Lalu pria tua itu malah tertawa getir. "Kalian lihat sendiri kan, Kakek udah semakin tua, umur Kakek mungkin nggak akan lama lagi. Maka dari itu hari ini Kakek mengumpulkan kalian di sini, untuk kembali membahas perjanjian lama kita." "Kakek jangan ngomong begitu. Shena yakin Kakek akan tetap di sini untuk waktu yang masih panjang. Jadi, untuk membahas rencana itu, kita masih punya banyak waktu." Shena berkata begitu dengan harapan bahwa hari ini bukan hari bencana itu akan dimulai. Kalau bisa, ia ingin menundanya. Tidak, ia malah ingin membatalkannya. Tapi mana bisa? Utang budi keluarganya sangat menjeratnya sampai ia kesulitan untuk memberi penolakan. Sanjaya kembali tertawa. Kali ini lebih getir dari sebelumnya, seakan menyiratkan ketidakyakinan. "Kakek udah sakit-sakitan, Shena. Kakek merasa nggak punya waktu lebih banyak lagi untuk terus menunda rencana ini." Kali ini Shena hanya bisa tertunduk. "Kek, Dikta aja baru pulang, baru juga kemarin-kemarin lulus lalu coba magang sana-sini mencari pengalaman. Dan sekarang baru mau serius terjun ke dunia bisnis. Bukannya lebih baik kalau Dikta mapan dulu sebelum melangkah ke arah sana?" Akhirnya Dikta angkat suara. "Kamu tenang saja, Kakek udah menyiapkan posisi bagus untuk kamu di perusahaan. Kamu nggak perlu khawatir soal karir." "Tapi 'kan kita juga belum mendapat persetujuan dari Mama. Kakek lihat? Mama nggak datang hari ini." "Soal itu biar jadi urusan Kakek dengan Mama kamu. Kamu hanya tinggal fokus menjalankan amanat Kakek, yaitu menikahi Shena." Bagai di sambar petir, Shena langsung lemas begitu mendengar kalimat itu. Betul 'kan dugaannya. Hari ini lah neraka baru dalam hidupnya akan dimulai. Demi Tuhan, ia bahkan tidak bisa membayangkan akan semenderita apa dirinya jika benar ia akan diperistri oleh seorang Dikta Wiratama. Kini, bayang-bayang masa lalu ketika pria itu baru saja mengukir kelam dalam kenangannya kembali menghantui pikirannya. Padahal ia sudah tidak mau mengingatnya lagi. Sungguh Shena ingin menolak. Tapi ketika melihat tatapan ayah dan ibunya yang turut berbinar bahagia mendengar niatan Sanjaya, Shena tidak mau merusaknya. Benar, ini juga keinginan mereka, impian mereka. Yaitu melihat putri tercinta mereka hidup makmur di bawah lindungan keluarga Sanjaya. Andai mereka tahu bagaimana perlakuan Dikta beberapa tahun lalu terhadap Shena, apakah mereka masih bisa tersenyum seantusias ini? Tidak .... Shena bahkan tidak mau mereka mengetahui hal itu. Tidak boleh, atau mereka akan dihantui rasa bersalah seumur hidup. Shena menghela napas dalam. Ya, sedari awal ia memang tidak punya pilihan. Ia hanya bisa pasrah. Namun, setitik kecil hati Shena masih mengharap sedikit bantuan dari Dikta. Ia berharap pria itu akan memberi penolakan mewakili Shena, mengingat kebenciannya terhadap gadis itu juga tak kalah besar. "Tetap aja, Kek, ini masih terlalu cepat buat Dikta. Setidaknya kasih Dikta waktu dulu untuk memperbaiki diri Dikta sebelum layak untuk menjadi suami Shena." Dan harapan Shena terwujud. Tetapi hatinya mencibir mendengar alasan yang digunakan Dikta untuk menolaknya. Sungguh pembohong besar! Padahal menyebut dirinya akan menjadi suami Shena saja bibirnya sudah menampakkan jijik. Menyadari itu, sejujurnya hati Shena sesak. Terlebih ketika mengingat dulu sekali mereka pernah sedekat nadi. "Lalu mau tunggu sampai kapan? Kamu lihat sendiri kondisi Kakek, Dikta. Semakin lemah, semakin renta. Barangkali besok-besok Kakek nggak ada umur, setidaknya sebelum itu Kakek ingin melihat kalian menikah dulu." "Kakek jangan ngomong begitu. Udah Shena bilang Kakek masih akan bertahan lamaaa sekali untuk mewujudkan harapan Kakek." Shena menyahut tulus. "Harapan kita, Nak," ralat Sanjaya. "Ya, harapan kita," ulang Shena sambil tertunduk, menyembunyikan keraguan besarnya. "Tapi tetap aja, Kek, ini beneran terlalu cepat ...." Nampaknya Dikta masih berusaha keras melontarkan penolakannya. "Udahlah, Dikta. Turuti aja permintaan Kakek, lalu segala milik Kakek akan menjadi milik kamu, Kakek janji! Anggaplah ini wasiat terakhir Kakek." Sialnya, setelah itu Dikta tidak melontarkan penolakan lagi. Mungkin dia tergiur dengan iming-iming yang dijanjikan sang kakek. Sampai membuatnya seketika melupakan kebencian yang sedari tadi secara terang-terangan dia layangkan pada Shena. Sungguh menjilat ludah sendiri. Membuat Shena semakin muak melihatnya. Sekali lagi Shena menghela napas pasrah. Kini, mutlak sudah rencana itu, tak terelakkan lagi. Sekarang yang bisa Shena lakukan hanya bersiap-siap sebelum menjalani neraka baru dalam hidupnya. **

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.2K
bc

TERNODA

read
199.3K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.7K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.2K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
14.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
69.9K
bc

My Secret Little Wife

read
132.4K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook