Masih dengan menatap langit-langit kamar dengan tatapannya yang kosong, Salwa juga mencoba untuk tidak mengeluarkan suara isakan yang sedari tadi dia tahan. Setelah Kaisar selesai dengan kegiatannya, lelaki itu sempat menatapnya sebentar sebelum kemudian akhirnya pergi ke kamar mandi. Nampaknya, lelaki itu sudah setengah sadar, dia tak lagi seratus persen mabuk.
Dia juga sempat menyeringai kecil kala melihat Salwa yang terluka karena perbuatannya malam ini. Saat ini, Salwa masih berada di dalam kamarnya, sedangkan Kaisar baru saja keluar dari kamar mandi. Dia tampak keluar dengan handuk yang melilit pinggangnya. Rambutnya terlihat masih setengah basah. Dia melihat Salwa sekilas, awalnya dia sempat terkejut ketika mendapati dia telah menggagahi Salwa malam ini. Namun, setelah kesadarannya semakin berangsur pulih, dia tak menghentikan aksinya itu.
Malah dia meneruskannya, seolah menikmati wajah ketakutan juga kepasrahan setelah Salwa lelah memberikan perlawanan. Kini, ia duduk di atas sofa, sedang Salwa mulai memungut dress tidurnya yang sudah robek di sana sini, memakainya kembali dengan susah payah, lalu berjalan dengan perlahan keluar dari kamarnya. Kaisar hanya menatapnya dengan pandangan dingin. Tak ada kata yang keluar dari bibirnya hingga Salwa betulan tak lagi terlihat di dalam kamarnya.
Dia sendiri segera beranjak, meraih celana pendek dan ketat yang biasa digunakannya untuk tidur juga sebuah kaus putih yang pas mencetak otot-otot perutnya. Namun, dia sempat tertegun ketika melihat noda merah yang tercetak di atas seprainya yang berwarna putih itu. Namun, dia tak begitu menghiraukannya lagi setelah itu. Kai memilih untuk segera tidur.
Sementara di kamarnya sendiri, Salwa tengah duduk di bawah pancaran air. Dingin air itu tak membuatnya segera beranjak, ia terus duduk dengan memeluk kedua lututnya. Salwa menangis terisak setelah menyadari bahwa kehormatan yang selama ini telah ia jaga dengan susah payah, sudah terenggut begitu saja oleh lelaki tak berperasaan yang bahkan setelah sadar dari pengaruh alkoholnya tadi, tak langsung melepaskannya, malah terus bergerak liar di atas tubuhnya yang sudah kesakitan.
Lalu setelah kelelahan menangis, Salwa segera berdiri dengan susah payah, meraih handuk dan segera keluar dari kamar mandi. Langkahnya nampak begitu gontai setelah dia keluar dan meraih piyama tidur.
Dia juga segera membaringkan tubuhnya yang kelelahan di atas ranjang. Perlahan, ia mulai memejamkan mata, nafasnya mulai teratur dalam tidur yang mungkin akan lebih panjang malam ini karena Salwa berharap bahwa tadi dia hanya bermimpi, tapi sekuat apapun dia berusaha untuk melawan kenyataan, dia tetap saja tidak bisa menghindar. Memang itulah yang telah terjadi kepadanya, memang Kaisar lah yang sudah mengambil semua kehidupannya semenjak dia menginjak istana megah bak neraka ini.
***
Rupanya, setelah kejadian semalam, keesokan pagi Salwa mengalami demam tinggi. Ia tampak semakin pucat dan membuat Marimar jadi khawatir. Salwa hanya bangun sesekali tapi kemudian matanya kembali terpejam.
"Dia belum bangun juga?" tanya Kaisar ketika sempat menyambangi kamar Salwa yang terbuka dengan bibi Marimar di dalamnya.
Lelaki itu sudah terlihat tampan dengan setelan kerja seperti biasa. Di belakangnya, menunggu dengan setia, Steve, asisten sekaligus orang yang paling Kai percaya.
"Badannya panas sekali, Tuan Kaisar." Bibi Marimar meletakkan satu tangannya di atas dahi Salwa.
Kaisar melengos, ia kemudian menatap Steve dan hanya dengan satu tatapan mata dari Kai, Steve sudah paham apa yang mesti dia lakukan.
Steve segera sibuk dengan ponselnya dan nampak sedang berbicara dengan seseorang. Kaisar sendiri sudah pergi menuju ke bawah dan akan menunggu asistennya itu di dalam mobil.
"Aku sudah menghubungi dokter untuk datang ke sini. Sementara kau jaga saja dia dulu. Dan pastikan dia segera sembuh agar acara pernikahan tuan muda dan nona Salwa lusa kelak berjalan dengan lancar." Steve berkata kepada Marimar dengan ekspresi datar.
"Bagaimana kalau panasnya masih berlangsung hingga lusa nanti, Ketua? Sepertinya, Nona Salwa memang sangat lemah."
"Pernikahan akan tetap dilaksanakan, apapun kondisi Nona Salwa, itu sudah menjadi perintah dari tuan Kaisar."
Marimar hanya diam saja sembari terus mengompres dahi Salwa. Panasnya sangat tinggi, membuat kepala pelayan itu jadi khawatir. Steve sudah pergi dan menyusul Kaisar yang telah menunggunya dengan tenang di dalam mobil.
"Nona, sabarlah, sebentar lagi dokter akan datang."
Tampak kemudian mata Salwa terbuka, dia menatap Marimar dengan pandangan hampa dan terluka. Sebetulnya, semalam Marimar mendengar teriakan Salwa dan juga rintihannya yang begitu menyayat hati, tetapi dia tentu tak bisa berbuat apapun untuk menyelamatkan Salwa.
Dia tidak menyangka jika pagi ini akan menemukan Salwa dalam kondisi begitu menyedihkan. Tatapan mata Salwa kosong, matanya sembab, bibir dan wajahnya pucat, juga naiknya suhu tubuh secara mendadak yang telah membuatnya demam tinggi. Dia juga nampaknya berekspektasi terlalu tinggi sebab tadi dia berharap Kaisar akan menghampiri Salwa dengan menunjukkan kepanikannya. Namun, respon lelaki itu begitu tenang dan tidak ada niat sedikit pun untuk mendekat guna memastikan kondisi Salwa. Pria itu hanya melihat sebentar kemudian meminta Steve menghubungi dokter. Hanya itu, seolah semua hal adalah biasa baginya. Remeh!
"Nona."
Marimar segera mendekat ke arah Salwa lagi saat Salwa membuka matanya.
"Aku haus, Bi," ujar Salwa pelan dan lirih.
"Sebentar, Nona." Marimar segera menuangkan air yang sengaja dia bawa tadi. Dia segera membantu Salwa untuk minum. Dia tahu betul, saat ini Salwa memang sangat lemah.
Dia kembali membantu Salwa berbaring. Ia menatap Salwa dengan pandangan iba.
"Nona beristirahatlah. Nona harus segera sembuh. Lusa, Nona sudah akan menikah. Nona harus kuat karena kalau Nona lemah, tuan muda pasti akan kembali memarahi Nona lagi. Nona harus bisa bangkit."
Salwa hanya diam mendengarkan. Dia masih merasa tubuhnya terasa remuk redam setelah dihajar tanpa ampun di atas ranjang Kaisar semalam. Kejadian malam itu seperti menjadi satu pembukaan penderitaannya yang akan lebih panjang kelak, setelah dia menikah dengan lelaki itu.
Salwa hanya bisa membayangkan bagaimana akan mengerikan malam-malamnya kelak setelah dia resmi menjadi istri lelaki itu. Kalau sebelum ada ikatan saja, Kaisar sudah begitu kasar dan semena-mena memperlakukannya, entah bagaimana setelah dia resmi menjadi istri dari lelaki itu.
Salwa mencoba untuk memejamkan mata, dia butuh lebih banyak istirahat untuk bisa memulihkan luka tubuh juga luka batinnya sendiri.
Sementara itu, di dalam ruangannya di perusahaan, Kaisar menatap ke dinding kaca dengan masih terkenang oleh peristiwa semalam. Dia awalnya memang dikuasai alkohol, tapi setelah dia melihat Salwa polos dengan pemberontakan sengir yang diberikan gadis itu, nafsunya malah berkobar semakin menggila.
Dan Kaisar menyukai itu, dia mulai mengenang ada sensasi sendiri ketika semalam telah menggagahi perempuan yang begitu dibencinya itu. Dan Kaisar tahu, dia ingin mengulanginya lagi, lagi dan lagi.