Nightmare

1239 Kata
Silau. Salwa masih berusaha membuka matanya meski secara perlahan sebab matanya baru saja bisa beradaptasi setelah terpejam untuk waktu yang ia sendiri tak tahu sudah berapa lama. Suasananya sunyi, sementara pikiran Salwa berusaha untuk menggali. Harusnya dia berada di keramaian, harusnya dia ada di tempat acara sepupu Kaisar. Harusnya ... Lalu mata Salwa membuka sempurna. Dia segera bergerak, bangkit dari posisinya yang tadi berbaring. Diperhatikannya beberapa kali pun suasana tak lagi sama seperti terakhir kali dia sadar. Apa dia pingsan? "Nona sudah bangun?" Salwa menoleh, bibi Marimar membawa nampan berisi makanan. Salwa menatap perempuan itu dengan pandangan bertanya-tanya. "Tadi Nona pingsan. Wajah Nona begitu pucat. Tuan muda membawa Nona pulang dalam keadaan sudah tidak sadar." Seakan tahu apa yang saat ini Salwa pikirkan, bibi Marimar menjelaskannya tanpa Salwa minta. Salwa sendiri untuk beberapa saat masih diam sampai akhirnya, dia meremas jemari sendiri lalu menatap Marimar dengan tampang cemas. "Matilah aku, Bi, pasti Kaisar sangat marah besar karena aku sudah pingsan dan menyusahkannya tadi." Salwa berkata sembari membayangkan wajah Kai yang selalu menyeramkan di matanya jika pria itu sedang marah. "Tenanglah, Nona Salwa, tuan tidak bicara apapun tadi ketika mengantar Nona ke kamar ini." Ya, tapi nanti dia akan memaki-maki ku ketika bibi tak melihatnya. "Tapi ..." "Sudah, ayo makan dulu." "Tapi dia dimana, Bi?" Marimar menunjuk jendela kaca yang tirainya masih terbuka di kama itu. Ternyata hari sudah gelap. Nampaknya, dia pingsan cukup lama. "Tuan Kaisar selalu punya jadwal untuk keluar bersama teman-temannya di saat malam seperti ini. Jangan dipikirkan, Nona, siapa yang bisa mencegah jika tadi Nona harus pingsan lalu tak sadarkan diri. Nona sepertinya sedang tak sehat. Jadi harus banyak istirahat dan minum vitamin ini." Bibi Marimar menunjuk sebuah botol kecil dengan vitamin di dalamnya, di letakkan di samping piring makan Salwa di atas nampan. "Terimakasih, Bi," sahut Salwa kemudian setelah akhirnya menerima nampan berisi makanan dan vitamin itu untuknya. Dia berharap sekali Kaisar tak perlu pulang malam ini agar dia bisa menghindar dari kemarahan lelaki itu. Namun, bukannya itu sama saja? Kaisar bisa memarahinya besok atau kapan saja. Salwa memikirkan itu dengan hati nelangsa. Sepanjang hidupnya, baru kali ini dia takut kepada seseorang. Mungkin, karena selain Kaisar memang pria yang baginya tak menyenangkan, juga karena dia kerap diliputi rasa bersalah sebab kematian calon istri lelaki itu. Salwa akhirnya mencoba menghabiskan makanannya. Marimar sudah keluar dari kamarnya. Salwa melihat jam dinding, tenyata waktu sudah menunjukkan pukul sembilan lebih sepuluh menit. Ia juga menyadari jika sudah berganti pakaian dari gaun ketat siang tadi. Siapa yang sudah menggantinya? Oh, pasti bibi Marimar. Salwa turun dari kamar setelah menghabiskan makanannya dan gegas mencucinya pula. Saat ini, pelayan yang terlihat hanya satu dua saja karena yang lain sudah pergi ke kamar masing-masing. Bibi Marimar juga tak lagi nampak. Setelah selesai, Salwa kembali lagi ke kamarnya. Dia sempat membersihkan tubuhnya dan mengganti baju dengan dress tidur. Hingga pertengahan malam sampai waktu sudah menunjukkan pukul satu dinihari, Salwa masih saja belum bisa tidur kembali. Dia sebetulnya bosan, mau memakai ponsel juga tidak bisa, jadi yang dilakukannya sekarang adalah membuka jendela kamar. Ia duduk di samping jendela, merasakan semilir angin dingin yang mulai membelai wajahnya. Dinginnya malam ini membuat Salwa jadi terkenang dengan nasibnya sendiri. Tidak pernah terbayangkan akan terkurung dalam sangkar emas milik orang berkuasa seperti Kaisar ini. Namun, apapun yang telah terjadi, Salwa memilih untuk menjalaninya, bukan lari dari kenyataan atau berusaha menyembunyikan dirinya sendiri. Ia juga tidak menyangka akan mengenal sosok dingin seperti Kaisar. Apalagi satu kenyataan akan kembali dijalaninya tak lama lagi. Ia akan menikah dengan Kaisar. Saat tengah melamun dan meratapi nasibnya, Salwa melihat dari kejauhan, sebuah mobil mewah masuk dengan cahaya lampunya yang menyorot terang. Lalu keluarlah Mark dari sisi pintu kemudi. Pria itu bergerak membuka pintu sebelahnya. Salwa terus memperhatikan sampai ia melihat Kaisar turun dengan dipapah oleh sahabatnya itu. Mark mendongak, membuat pandangannya dan Salwa jadi bertemu pandang. "Kaisar mabuk?" Salwa bertanya dalam hatinya sendiri. Sempat tak ingin turun tapi kemudian akhirnya dia segera menutup jendela dan bergegas turun ke bawah. "Dia mabuk berat," jelas Mark setelah Salwa turun dan mendekati Mark yang sedang memapah Kaisar menuju kamarnya di lantai atas. Salwa tak banyak bicara, dia hanya mengangguk pelan. Sempat mengutuk diri sendiri pula karena memilih turun dan bertemu Kai lagi. "Aku pulang, Salwa. Biarkan saja Kaisar beristirahat." "Ya, terimakasih, Mark." Salwa menjawab pelan. Mark menatapnya sebentar lalu mengangguk dan tersenyum. Setelah lelaki itu keluar dari kamar Kaisar, Salwa mulai membuka sepatu Kaisar dan menyelimuti tubuhnya yang masih berbalut kaus ketat hingga otot perut dan d**a lelaki itu tampak tercetak jelas. Bau alkohol tercium begitu jelas dari hembusan nafas Kaisar. Salwa baru saja mematikan lampu kamar lelaki itu dan hendak beranjak sampai akhirnya dia merasa tubuhnya dibekap dari belakang. "Tuan," kata Salwa takut-takut berusaha berontak dan melepaskan diri. Namun, Kaisar bergerak cepat, mendorong tubuhnya ke atas ranjang dan mengukungnya dengan kedua kaki yang menghimpit. Salwa terbelalak saat melihat lelaki itu membuka kausnya dalam keremangan cahaya lampu tidur. "Tidak! Apa yang akan kau lakukan?!" Salwa mulai panik, tapi dia sama sekali tidak bisa melepaskan diri. Kaki Kaisar menghimpit dirinya begitu kuat. "Kita sudah lama tidak melakukannya, Safira!" Salwa menggigit bibirnya, menahan tangis sebab takut juga sekalian karena rasa bersalah apalagi Kaisar saat ini sedang menyebut nama Safira lagi. Dia tahu, dia yakin, Safira memang sangat berarti bagi lelaki itu. "Tuan aku bukan Safira. Tolong biarkan aku keluar." Suara Salwa yang gemetar membuat Kaisar melihatnya dengan lekat. Saat ini, Salwa juga jadi menatap Kaisar. Sekian detik, keduanya terdiam tapi kemudian, wajah Kaisar kembali mengeras. Dia tidak berniat melepaskan Salwa dan membiarkannya keluar dari kamar itu. Kaisar malah melakukan sesuatu yang tak terduga. Pikiran Salwa sebelumnya tak sampai ke arah sana. Namun, sekarang lelaki itu dengan beringas menarik paksa dress tidur yang Salwa kenakan. Merobeknya dengan geram, membalik tubuh Salwa tanpa ampun. "Tidak, tolong hentikan! Tolong hentikan, Kaisar! Lepaskan aku!" Salwa memekik panik. Apalagi sekarang dress tidurnya sempurna sudah lepas dari tubuhnya. Ia polos tanpa sehelai benang pun. Salwa mencoba berlari, menendang perut lelaki itu hingga Kaisar sempat terjerembab ke samping. Salwa segera bergerak menuju pintu, sayangnya Kaisar tak mungkin melepaskannya begitu saja. Lelaki itu mengunci benda itu, Salwa menatapnya dengan tatapan betul takut hingga tubuhnya sendiri gemetar. Mata Kaisar tampak berkilat, ada amarah, ada kesedihan juga kesombongan yang mendominasi. "Apa yang akan kau lakukan?! Jangan!" Salwa tidak bisa berontak saat Kaisar menyeret dirinya, menarik rambutnya hingga wajahnya mendongak ke atas. Lelaki itu mulai menelusuri leher jenjangnya, meremas satu bukit kembarnya yang sialnya malah menegang kencang sekarang. Lalu, Salwa semakin terbelalak kala pria itu meraup salah satu bukit kenyalnya dengan sapuan bibirnya, begitu rakus. Salwa memekik, memukul-mukul pundak Kaisar yang malah semakin membenamkan wajahnya kedua belahan dadanya yang sedang membusung menantang. "Lepas, Kai! Aakh, lepas!" Kaisar melepaskannya, tapi hanya sebentar karena setelah itu, Salwa dibungkam dengan ciuman yang begitu kasar juga menyakitkan. Seolah belum puas, lelaki itu sekarang melempar tubuhnya ke atas ranjang, menghimpitnya lagi dan kali ini dengan tubuhnya sendiri. Secepat mungkin, Kaisar melepas celananya, Salwa memekik tertahan saat Kaisar dengan paksa berusaha menembus kesuciannya. Airmata Salwa tak berhenti mengalir saat pusaka keras milik lelaki itu merobek paksa sesuatu yang selama ini dia jaga dengan susah payah. Salwa menatap hampa langit-langit kamar itu dengan Kaisar yang masih memacu tubuh mereka berdua. Kebenciannya kepada Kaisar semakin dalam, luka hatinya menganga lebar, sakit di bagian intinya tak lagi dia hiraukan. Kaisar terus memacu tubuhnya dengan dia yang kini diam tak lagi terisak, hanya airmata yang setia mengalir, jatuh satu persatu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN