Sudah dua hari dari kedatangan Mark waktu itu. Salwa masih berada di rumah megah milik Kaisar. Untuk beberapa hari setelah ditinggal Kaisar pergi ke luar negeri, dia merasa cukup bebas dan aman meski tak bisa kemana-mana. Setidaknya, dia tidak dihantui rasa takut setiap kali bertemu atau terlibat perdebatan dengan Kaisar.
Namun, siang itu ketika dia sedang berbaring karena memang cukup kelelahan, dia jadi sempat tertidur. Dia kaget bukan main saat merasakan ranjangnya tiba-tiba terasa berguncang.
"Bagus, kerjamu cuma tidur ternyata."
Salwa refleks langsung bangkit meski sekarang kepalanya terasa begitu pening karena bangun dengan terkejut. Salwa berusaha menetralkan diri dan mencari kesadarannya hingga pulih betul.
"Tuan, maaf, aku kelelahan dan tertidur." Ia segera berdiri kemudian, sembari membetulkan letak rok berbahan katun selututnya yang sempat tersingkap sedikit.
Dia tidak menyangka jika Kaisar sudah kembali. Dia juga menyesalkan kenapa harus tertidur seperti saat ini. Namun, memang tubuhnya sedang tidak enak. Dia merasa kurang enak badan.
"Alasan saja! Sekarang, buka bajumu, coba gaun ini!"
Sebuah gaun berwarna merah hati dengan gliter dilemparkan begitu saja hingga mengenai wajah kemudian luruh dan jatuh ke atas lantai. Salwa menahan diri untuk tidak membalas Kaisar meski saat ini dia betulan mulai terpancing emosi.
"Untuk apa ini, Tuan?" tanya Salwa sembari memungut benda itu.
"Jangan banyak tanya, pakai saja. Kita akan pergi sekarang."
Salwa menarik nafas berat. Tak bisakah Kaisar membiarkannya istirahat sebentar saja? Kenapa juga dia harus ikut? Padahal tadi dia sudah mengatakan kalau tubuhnya saat ini sedang dalam kondisi tidak enak badan.
Namun, akhirnya dengan berat hati, ia mulai mengganti bajunya dengan gaun itu. Dia juga sudah tidak peduli dengan Kaisar yang masih berada di dalam kamarnya. Dia bisa melihat saat ini mata Kaisar menatap tubuhnya yang hanya memakai bra dan celana dalam itu dengan begitu lekat.
Kau galak tapi m***m!
Salwa jadi mendengus di dalam hati.
Akan sangat percuma mengusir lelaki itu. Jadi Salwa memang sudah menebalkan muka. Gaun indah itu segera melekat di tubuhnya yang sintal. Kaisar mengalihkan pandangannya sebentar lalu meminta Salwa berhias sementara dia sendiri keluar dari kamar.
Salwa menahan pening di kepalanya menuju meja rias lalu mulai memoles wajah hingga pucatnya tersamarkan. Sesekali dia akan memegang sisi dahinya yang terasa betul-betul pening.
"Cepatlah, kau bukan puteri raja yang harus membuat aku menunggumu terlalu lama!"
Salwa tersentak kaget, menemukan Kaisar kembali yang tampak menatapnya dengan kesal dan jengah. Salwa lagi-lagi hanya diam, dia hampir saja terjatuh karena tubuhnya sempat tak seimbang saat bangun dari kursi.
Ia mendekat ke arah Kaisar yang meliriknya sekilas, kemudian berjalan bersisian bersama lelaki itu. Di samping Kaisar kerap kali membuat Salwa jadi bergidik sendiri. Seperti sekarang, dia hanya bisa diam tanpa berani bicara sedikit pun.
"Kita akan ke acara salah anak dari keluarga ayahku. Jangan sampai mempermalukan aku setibanya kita di sana. Ingat, angkat tinggi dagumu!"
Salwa hanya mengangguk, dia sedang didikte oleh Kaisar, dia tidak diperbolehkan sama sekali untuk membantah. Mereka kemudian segera masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu.
"Kenapa kau diam saja?! Kau tak suka aku pulang?!"
Lagi, untuk kesekian kalinya di siang bolong nan terik ini, Salwa terkejut bukan main. Kaisar ini entahlah kenapa, sepertinya apapun yang dilakukan oleh Salwa selalu saja salah di matanya. Menjawab dia pasti akan dimaki, diam pun tetap dicaci.
"Tuan, katakanlah, aku harus bagaimana. Aku bingung menghadapimu. Aku tidak punya topik untuk bicara denganmu. Lagipula bukankah katamu, kau tak suka mendengar suaraku?"
"Kapan aku bilang begitu, heh?"
Salwa melengos tanpa kentara. Dia betulan sedang sakit kepala, ditambah Kaisar yang nampak memang sengaja memancing emosinya. Namun, dia tetap berusaha untuk diam tak menggubris. Terserahlah mau apapun yang akan dilakukan Victor.
Tak lama kemudian, mobil yang membawa mereka masuk ke sebuah rumah yang halamannya cukup luas tapi tentu tidak seluas punya Kai. Salwa tidak bisa membayangkan, entah berapa triliun harta keluarga besar Kaisar ini. Semua saudaranya juga kaya-kaya. Tapi yang dia dengar, sesama saudara juga masih suka bersaing.
"Hei, turun!"
Salwa tak lagi terkejut, dia turun dengan pelan, berusaha menyeimbangkan beban tubuh dengan sepatu tinggi, gaun yang cukup ketat juga kepala yang sedari tadi berdenyut hebat.
Salwa segera menggamit lengan Kaisar. Saat mereka masuk, semua mata serasa menatap mereka dengan lekat. Untuk mata orang awam yang tidak mengerti tentang hubungan Kaisar juga Salwa, mereka tentu menganggap bahwa keduanya adalah pasangan yang sangat serasi.
Bahkan beberapa sepupu Kaisar menatap Salwa bak singa jantan yang sedang lapar. Kaisar menyadari hal itu, dia melihat ke arah Salwa yang tampak acuh tak acuh.
Namun di tengah acara, saat ia terpisah dengan Kaisar karena lelaki itu sedang berbicara dengan beberapa pengusaha, Salwa didatangi oleh seorang sepupu Kaisar.
Salwa yang tak enak jika mengabaikannya terpaksa meladeni pria yang ternyata bernama Louis itu. Namun, dia bisa melihat tanda bahaya saat matanya dan Kaisar bertemu.
"Aku harus ke sana, maaf."
Salwa berusaha pergi tapi Louis malah menahannya dengan menyodorkan segelas wine dingin.
"Tidak, aku tidak minum alkohol," tolak Salwa dengan halus.
"Sedikit saja, Salwa. Hargai aku yang sudah membawakannya untukmu."
Sekali lagi Salwa berusaha untuk menolak. Tak lama kemudian, Kaisar betulan datang. Dengan tanpa basa basi, ia melayangkan pukulan kepada Louis hingga pria itu tersungkur.
Salwa menjerit ketakutan, melihat Kaisar menghajar Louis tanpa ampun. Acara itu juga dipastikan sudah kacau balau. Mahendra bersama istri jalangnya mendekat.
"HENTIKAN!"
Suara Mahendra membuat Kaisar melepaskan cengkramannya pada Louis.
"b******n kau, Kai! Kau akan membayar ini!"
Louis mengerang sementara Kaisar sudah membawa Salwa pergi, tidak, lebih tepat jika menyebutnya sedang menyeret Salwa dengan kemarahan yang masih meledak-ledak.
Salwa sangat takut. Dia bahkan tak berani mengeluarkan sepatah katapun sekarang meski cengkraman tangan Kai begitu kuat di tangannya sendiri.
"Sudah aku bilang jangan bicara pada siapapun termasuk sepupu-sepupu k*****t itu!" bentak Kaisar sesaat sebelum mereka akan memasuki mobil.
Salwa betulan lemas sekarang, dia padahal tak salah apapun, dia juga tak pernah mengajak siapapun bicara tadi. Louis lah yang datang dan Salwa tidak mungkin mengabaikannya begitu saja apalagi saat itu ia juga tahu bahwa Mahendra yang tak lain adalah ayah Kaisar tengah menatap dirinya.
"Aku tidak mengajaknya duluan, Tuan."
Dan setelah melakukan pembelaan kecil itu, Salwa merasa tubuhnya melemas sempurna. Denyut di kepalanya kini semakin mencengkram hingga ke isi otaknya sendiri.
Matanya mulai berkunang-kunang dan Salwa tidak tahu lagi apa yang terjadi setelah itu. Dia ambruk ke atas tanah dengan Kaisar yang segera tersadar bahwa Salwa sudah pingsan di belakangnya.