Baik dan Tampan

1517 Kata
Salwa tidak lagi melihat Mark untuk beberapa saat sebab ketika mereka bertemu tadi pun tak lama. Mark harus bertemu dengan beberapa bawahan Kaisar di dalam rumah itu. Namun, kalau untuk urusan bisnis, mengapa Mark sampai harus ke rumah Kaisar segala? Apa tidak bisa nanti saja ketika Kai sudah pulang dan mereka hanya cukup bertemu di perusahaan. Dan sepertinya, Mark sudah cukup terbiasa keluar masuk rumah megah milik Kaisar selain tentu saja ayah atau ibu tiri dari lelaki itu. Pas pula saat tengah tak sengaja memikirkan hal itu, bibi Marimar lewat dan melihat dirinya yang seperti sedang memikirkan sesuatu. Seperti biasa dengan senyumannya dia segera mendekati Salwa. "Nona, syukurlah nyonya Merry sudah pergi. Tadi aku sempat dengar dari pelayan katanya tuan Mark telah menolong Nona, menjauhkan perempuan itu dari Nona." Salwa memandang sebentar kepada Marimar, kemudian dia mengangguk membenarkan. Marimar memang sudah pergi berlalu saat tadi dia dan Merry sedang saling bertegang tadi jadi tentu pelayan itu tidak melihat Mark yang tiba-tiba saja datang lalu mengakhiri kegilaan Merry. "Ya, tapi mengapa bisa ada dia, Bi?" tanya Salwa yang tak urung jadi meneruskan rasa penasarannya. "Tuan Mark memang sahabat baik tuan muda Kaisar, Nona. Mereka sahabat dekat sejak dulu. Setelah tuan Mark kembali dari luar negeri, mereka tak hanya kembali dekat sebagai dua orang sahabat yang lama tak bertemu, tapi juga menjadi partner bisnis. Tuan Kaisar memang menyimpan banyak file atau dokumen penting di rumah ini di ruang kerjanya dan tuan Mark sering ke sini untuk itu." "Jadi, kasarnya, Mark juga termasuk salah satu orang kepercayaan tuan Kaisar?" tanya Salwa semakin tertarik dengan perbincangan ini. "Ya, bisa dikatakan begitu, Nona. Mungkin, bisa dikatakan jika hanya kepada tuan Mark, tuan Kaisar sangat bersahabat." "Ehmmmm, tak heran, Bi, sebab Mark sangat baik dan ramah." Salwa jadi memuji Mark tanpa sadar. "Nona betul. Tuan Mark sangat baik. Dia juga sangat tampan bukan?" Mau tak mau Salwa mengangguk. Memang tidak ada yang bisa menyangkal hal itu. Mark memang mempesona dengan keramahan dan kehangatan sikapnya meski terhitung dengan ini, baru dua kali dia bertemu lelaki itu. Sungguh berbeda dengan Kaisar yang walau tentu saja tak kalah mempesonanya, tetapi sikap mereka sangat bertolak belakang. Kaisar sangat egois, pemarah, tukang perintah dan kejam! Sudah jelas itu yang Salwa bisa jabarkan tentang lelaki yang tak lama lagi akan menyandang gelar sebagai suaminya itu. "Tapi, Nona tidak bermaksud untuk membandingkan tuan Mark dengan tuan Kaisar, bukan?" tanya bibi Marimar dengan mata sedikit memincing seolah tengah memindai kejujuran Salwa. Salwa menatap Marimar lagi kemudian menggeleng perlahan. "Tanpa aku membandingkan mereka pun, sikap keduanya sudah menjelaskan hal itu kepada semu orang, Bi." Marimar tersenyum kecil mendengar ungkapan lirih Salwa itu. Salwa sama sekali sedang tak berusaha membela dirinya, dia hanya berkata sesuai apa yang memang dia lihat juga dia rasakan. Jadi, Marimar sangat paham. "Nona, jangan tersinggung. Tapi memang saya hanya ingin mengingatkan Nona, bahwa tuan Kaisar sangat mempertahankan orang yang sudah menjadi bagian dari hidupnya. Dia tentu tidak suka jika Nona berpaling kepada pria lain. Apalagi dia sudah sangat menyayangi seorang perempuan, doa akan mempertahankan perempuan itu dengan semua kemampuan yang dimilikinya." Kening Salwa jadi berkerut pula mendengarnya. Dia jadi hampir tertawa keras mendengar Marimar begitu menyanjung Kaisar. Lagipula, harusnya Marimar itu sadar bahwa Kaisar menjadikan dirinya ini sebagai istri kelak, bukan karena pria itu sayang kepadanya, tetapi karena dia memang sebagai pengganti Safira. Mana ada cinta dari Kaisar untuknya? Sementara pria itu selalu memandangnya dengan penuh kebencian setiap kali mereka bertemu. Dan lagi, memangnya dia juga terlihat akan mengkhianati Kaisar dengan berpaling kepada Mark? Namun, Salwa tak lagi mau meneruskan pembicaraan itu. Dia memilih untuk bersama Marimar turun ke dapur. Dia ingin membantu memasak. Meski sekarang Kaisar sedang tak di rumah tetapi pelayan memang tetap harus masak seperti biasa sebab bawahan Kaisar di rumah itu juga tidak sedikit, dan Kaisar menjamin makan, minum dan istirahat mereka semua di belakang area rumah megahnya. Ada banyak kamar seperti kontrakan berderet dan juga sebuah meja besar yang biasa digunakan para bawahan untuk makan bersama. Ya, untuk hal mensejahterakan para bawahannya, Salwa mengakui kepedulian Kaisar itu pantas untuk diacungi jempol. Semua bawahan dan para pelayan Kaisar hidup sejahtera baik secara gaji maupun kehidupan mereka selama berada di bawah naungan Kaisar, hanya dia sendiri yang merana. Itu satu hal yang sangat jelas dan kontras. "Nona, kenapa tak istirahat saja?" Marimar yang sedang memilih sayuran untuk nanti dimasak pelayan lain, menatap Salwa dengan pandangan hangat. "Biar saja aku di sini bersama kalian, Bi. Rasanya, aku sangat tidak bisa jika hanya berdiam diri saja. Lagipula, Kaisar bilang aku juga harus seperti para pelayan lainnya." "Nona jangan begitu, tuan muda pasti hanya asal bicara kemarin. Dia pasti sama sekali tak bermaksud untuk menyamakan Nona dengan pelayan lainnya." Salwa hanya tersenyum, kemudian melanjutkan untuk mengupas kulit wortel. Marimar juga mulai sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Sebagai kepala pelayan di rumah itu, Marimar sangat memperhatikan pekerjaan para pelayan lain, dia juga paling paham makanan kesukaan juga yang tidak disukai oleh Kaisar. Bicara tentang kepala pelayan, asisten setia Kaisar, pria bernama Steve itu juga tak nampak sebab Salwa jelas tahu bahwa dia akan mengikuti kemana saja Kaisar melangkah. Pria itu juga cukup mengerikan bagi Salwa, sebab dia juga seperti sudah dibentuk dengan dingin oleh Kaisar, sehingga dia juga hanya bicara seperluanya kepada siapa saja termasuk Salwa. "Bi, aku ke toilet dulu." Salwa bergegas ke toilet saat panggilan alamnya terasa. Saat keluar dari toilet bawah itu, tak sengaja dia dan Mark kembali bertemu. "Tuan, aku kira sudah pulang tadi." Salwa berusaha basa basi kepada pria yang sudah mengulas senyum untuknya itu. "Belum, Nona. Masih ada berkas yang tengah dicari oleh bawahan Kaisar di dalam. Aku sedang menunggunya di sini." "Oh, baiklah kalau begitu. Tapi, Tuan jangan memanggil saya Nona, panggil saja saya Salwa." "Oke, nice. Itu terdengar sangat indah." Salwa mau tak mau jadi tersenyum mendengar keramahan pria di depannya ini. Dan karena sedang tak ada Kaisar, Salwa bersedia saja setelah Mark memintanya untuk menemani di ruang tamu. Mereka duduk dengan tenang, saling berhadapan di atas sofa yang terhalang meja besar. "Kaisar pasti sangat mencintaimu, Salwa. Dia sampai membawamu ke sini, dia pasti takut kehilanganmu." Salwa tersenyum kecut mendengarnya. Padahal sudah sangat jelas, beberapa saat yang lalu saat masih ada Merry di rumah megah ini, dia mengatakan kepada Mark bahwa dia sangat membenci Kaisar, begitu pula sebaliknya. Namun, sepertinya, Mark tak menanggapi itu dengan sungguh-sungguh. "Tuan, apa dia terlihat begitu?" tanya Salwa kemudian, memancing reaksi Mark. Mark terlihat sedang berpikir sesaat, Salwa yakin, sebetulnya Mark ini pasti paham bagaimana sikap Kaisar terhadapnya meski hanya sekilas melihat. Bukankah keduanya bersahabat karib, jadi pasti Mark tidak bodoh dan saat ini terlihat hanya ingin menghiburnya. "Lupakan saja, Tuan. Saya hanya bertanya asal saja. Oh iya, saya kembali ke dapur." Mark tersenyum kecil kemudian membiarkan Salwa berlalu. Namun, baru beberapa langkah Salwa berjalan, suara Mark terdengar memanggilnya lagi dengan cukup tenang. "Ya, Tuan?" Mark beranjak dari duduknya. Dia mendekat ke arah Salwa dengan begitu santai dengan sesekali melirik ke kiri dan kanan melalui sudut matanya, seolah memastikan bahwa tak ada siapapun yang akan mendengar perbincangannya dengan Salwa setelah ini. Sementara Salwa masih menunggu, dia sendiri juga sedikit waspada dan tetap menjaga jarak dari Mark sebab bisa saja ada pelayan yang usil kelak dan melaporkan kepada Kaisar yang tidak-tidak tentangnya dan Mark hari ini. "Ada apa, Tuan?" tanya Salwa dengan hati-hati, dengan mata yang awas ke sekeliling. "Tidak, aku hanya ingin mengatakan, nomor teleponku ada di salah satu daftar di buku telepon tak jauh dari telepon rumah ini. Aku sahabat baik Kaisar, jika ada sesuatu yang terjadi kepadamu, kau bisa mencari namaku di sana." Lalu, Mark pergi dan berlalu dengan santai, dengan satu tangan masih berada di saku celana. Sesaat kemudian, Salwa yang masih tertegun mendengar kata-kata Mark barusan sekilas menoleh kepada pria yang telah sibuk dengan beberapa berkas dan seorang bawahan Kaisar. Dia tidak mengerti maksud Mark barusan, tapi pria itu seakan paham bahwa keberadaan Salwa di rumah ini seperti ada sesuatu hal yang melatarbelakanginya. Salwa kemudian bergerak, dia pergi ke kamar, duduk sebentar di tepi ranjang dan masih berusaha untuk mencerna apa yang tadi dikatakan oleh lelaki itu. Salwa bisa melihat bahwa Mark sangat baik. Dia jelas berbeda dengan Kaisar. Beberapa saat kemudian, dia beranjak, menuju ke jendela kamar yang berteralis itu lalu tak sengaja melihat Mark baru saja keluar dan hendak masuk ke dalam mobilnya yang mewah. Tak sengaja pula, Mark mendongak dan melihatnya. Lelaki itu melambaikan tangannya kepada Salwa yang hanya membalasnya dengan senyuman kecil. "Entahlah apa maksudmu, Mark, tapi aku rasanya memang memerlukan kau suatu saat nanti." Salwa bergumam pelan lalu kembali ke tepi ranjangnya sendiri. Dia sedang melamun, memikirkan nasib setelah ini. Lusa, katanya Kaisar akan segera pulang. Salwa sudah kembali harus mempersiapkan mental untuk menghadapi pria itu. Dia juga harus bersiap, sebab pernikahan mereka akan segera digelar. Ia akan menjadi istri yang paling dibenci oleh Kaisar. Dia juga jadi bergidik ngeri, membayangkan akan menjalani malam pertama dengan lelaki kejam itu. Harusnya, malam pertama bagi perempuan yang baru atau akan menikah, menjadi malam yang paling ditunggu, tapi tentu pada kisahnya dan Kaisar, hal itu hanya untuk satu tujuan pasti, seorang generasi peneru bagi Kaisar, tidak akan ada cinta di dalamnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN