Aku Memang Membencinya

1056 Kata
Malam itu, setidaknya Salwa tidak meringkuk dalam ketakutan seperti ketika di rumah Kai. Ia bisa menikmati pemandangan yang tenang dengan cahaya temaram di teras rumah bersama ayahnya. Waktu masih menunjukkan pukul sembilan malam, kedua orang yang larut dalam rindu itu saling bercerita banyak hal. Ayah sudah lebih baik, kehadiran Salwa membuatnya merasa bahagia hingga perlahan sakit itupun hilang. "Ayah harus menjaga kesehatan, ya. Aku akan menikah dengannya dalam beberapa hari ke depan. Seharusnya pernikahan itu sudah terjadi kemarin-kemarin, tetap Kaisar punya banyak sekali pekerjaan dan entah mengapa, aku malah mensyukuri itu, Ayah. Aku bahkan sempat berharap, ia amnesia kemudian jadi lupa ingatan bahwa ia akan menikahiku—dengan terpaksa tentunya." Salwa meringis kecil menceritakan uneg-uneg di dalam hatinya yang sudah lama ia pendam. Rasa sakit karena perlakuan Kaisar memang sudah membuat hatinya menganga sedalam itu. Salwa tak bisa membayangkan, bagaimana nanti kehidupan rumah tangga mereka. Tentu saja tak akan ada kebahagiaan. Salwa sudah mengubur dalam tentang hal itu dalam angan pernikahannya. "Salwa ... Apa kau membencinya?" tanya ayah dengan suara pelan. Salwa menoleh, mendapatkan tatapan ayah yang tertuju fokus hanya kepadanya. "Ayah, siapa sih yang mau diperlakukan begitu. Aku tidak tau bagaimana menghadapi Kaisar. Dia sangat dingin, seperti bongkahan es di kutub utara. Sekalinya dia bicara, kata-katanya kasar sekali." Salwa menunduk dalam. "Ayah mengerti maksud dan perasaanmu, Salwa. Tapi cobalah untuk bersikap baik padanya. Sebab bagaimanapun juga, setelah kalian menikah, kau tetap harus menjalankan kewajibanmu. Kalian akan mempunyai anak. Jangan biarkan anak kalian nanti lahir tanpa cinta kedua orangtuanya." Mendengar kata anak, Salwa jadi tersentak. Ia bahkan lupa sudah membuat kesepakatan dengan Kaisar bahwa setelah ia melahirkan anak untuknya nanti dan ketika anak itu sudah berusia dua tahun, maka Salwa akan melepaskan anak itu untuk bisa melepaskan diri dari Kaisar. Salwa menarik nafas kasar, pembicaraan yang begitu sensitif ini membuatnya jadi ngantuk seketika. "Aku tidak ingin membicarakan tentangnya lagi, Ayah. Ayo, kita pergi tidur. Ayah harus banyak istirahat. Besok, aku sudah harus kembali. Ayah tidak boleh sakit lagi ya. Aku pasti kepikiran kalau Ayah sakit. Tenanglah, aku akan melepaskan diriku darinya setelah masa itu tiba." Tuan Subroto hanya bisa terdiam menatap anaknya iba. Tentu ia pun tak ingin Salwa terusan menderita dengan berada di rumah Kaisar yang bagaikan sangkar emas itu. Namun, sebagai orangtua, tuan Subroto malah berharap, Salwa bisa perlahan menerima Kaisar, akan sangat menyedihkan jika anaknya akan menjadi seorang janda suatu hari nanti. Namun, lelaki itu tak mau berpikiran yang terlalu jauh dahulu. Ia tidak ingin menambah beban Salwa yang sudah berkorban banyak. Hari ini ia juga bersyukur, setidaknya kemurahan hati Kaisar telah membuatnya dan Salwa bertemu lagi. "Apapun yang terjadi besok, Ayah hanya ingin kau tetap menjadi sebaik-baiknya Salwa. Jangan mendendam." Salwa mengangguk pelan, lantas ia segera masuk ke dalam kamarnya. Salwa bisa tidur dengan nyenyak lagi sekarang. Hal yang sudah tidak ia rasakan lagi saat ia tidur di istana milik Kaisar yang selalu ketus kepadanya. Keesokan harinya, Salwa juga bangun dengan tubuh yang lebih segar. Namun, di detik berikutnya, ia malah tidak bersemangat. Ia harus kembali ke rumah yang masih terasa asing baginya itu. "Aku harus kembali dan menjelma menjadi Salwa yang tak berdaya lagi." Salwa mengeluh singkat sambil menyingkap selimut dan membawa tubuhnya ke kamar mandi dan duduk meringkuk di bawah pancaran air. Dingin sekali pagi ini, sedingin hati lelaki yang tengah beradu hasrat dengan perempuan bayaran di Jerman sana. *** "Nona sudah pulang." Marimar mendekati Salwa yang baru saja tiba di halaman besar nan megah milik Kaisar. Lelaki itu sedang tak ada, tentu saja, karena dia sedang berada di luar negeri. Aku malah berharap dia tak perlu kembali saja! "Nona?" Salwa tersentak, dia baru saja selesai mengutuk Kaisar di dalam hatinya bahkan menyumpahi agar lelaki itu tidak perlu datang lagi. Tapi, siapalah Salwa? Tentu dia tak bisa mengatur datang dan perginya Kaisar, sebab yang betul sekarang, dialah yang diatur hidupnya oleh lelaki dingin dan kejam itu. "Maaf, Bibi, aku merasa ruh ku seperti masih tertinggal di rumah jadi tidak mendengar Bibi barusan menyapa." Mendengar itu, Marimar langsung tertawa cukup keras. Baginya Salwa sangat menyenangkan. "Nona sangat menyenangkan, suka melucu dan berbeda dari nona Safira." Ah, kenapa bibi harus kembali mengungkit satu nama itu. Salwa bukannya tak suka, tapi setiap kali bibi menyebutnya, itu seperti sedang membuatnya seperti seorang pembunuh karena memang dialah yang sudah tanpa sengaja membuat perempuan itu meninggal. "Wah, ramai sekali. Pembantu baru kenapa hanya berdiam?" Baik Salwa maupun Marimar sama-sama menoleh. Mereka menemukan Merry dengan kacamata hitam juga balutan dress begitu ketat hingga beberapa bagian tubuhnya menonjol, terlihat sedang melipat kedua tangan di depan d**a. Tatapannya terhunus kepada Salwa. Sedang Marimar tak suka saat Merry menyebut Salwa sebagai pembantu baru. "Maaf, Nyonya, Nona Salwa adalah calon istri tuan muda Kaisar." Marimar berusaha menegaskan tetapi tangan Merry malah terayun hendak menampar wajah Marimar, membuat Salwa bergegas menangkapnya. "Lepaskan tangan najismu itu dariku!" desis Merry penuh ancaman. "Aku tidak suka melihat penindasan, Nyonya. Dan maaf, kau sama sekali tidak ada urusan denganku dan kau tidak berhak menyebutku seperti itu." "Oh, kau ingin melawanku? Kau lupa bahwa aku ini istri dari ayah Kaisar?!" "Aku tidak lupa, tapi memang tidak perlu tahu." Salwa melepaskan tangannya, membuat tangan Merry terhempas begitu saja. Dia menatap Salwa tak suka. "Harusnya Kaisar memilih lagi calon istrinya. Aku heran mengapa dia harus menikahimu sementara banyak perempuan bersedia dengan sukarela membuka paha untuknya." Salwa tersenyum kecil, ia membiarkan Marimar berlalu dari ketegangan di antara mereka berdua. "Termasuk kau, yang memang mengincar Kai tapi tidak dapat jadi merelakan tubuhmu untuk ayahnya," bisik Salwa. "Kurang ajar!" Sekali lagi tangan Merry nampak terayun tetapi kali ini, tangan itu kembali tertahan. Salwa mendongak, dia bahkan tak sadar jika perdebatannya bersama ibu tiri Kaisar itu sudah disaksikan oleh seseorang sedari tadi. Merry bergegas menurunkan tangannya setelah tahu siapa orang yang menahan tangannya tadi. "Mark!" "Jangan sakiti calon istri Kaisar, Merry. Kau bisa celaka." Merry menghentakkan kakinya dengan kesal lalu masuk ke dalam dengan sebelumnya memberikan pandangan mengancam kepada Salwa. Salwa sendiri menarik nafas lega kemudian menatap Mark yang tentu sudah pernah bertemu dengannya dulu. Tapi mengapa dia ada di sini? "Aku akan mengambil dokumen di sini, Salwa. Kau pasti heran mengapa aku di sini sedangkan Kai sedang di luar negeri." "Hmmm ... Ya, tapi aku tak peduli tentangnya." Salwa berlalu tapi Mark segera berjalan sejajar dengannya sembari menatap heran. "Kau terlihat begitu ..." "Aku memang membencinya," potong Salwa sebelum Mark menyelesaikan kata-katanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN