Sabtu.
Hari yang Salwa tunggu. Pagi hari sekali dia sudah bangun, merapikan tempat tidur, membereskan pekerjaan di belakang bersama para pelayan. Bibi Marimar beberapa kali berusaha menahannya, sebab perempuan separuh baya itu tak ingin memperlakukan calon istri tuan muda sebagai pembantu. Namun, Salwa melakukan semua hal dengan senang hati, tanpa terpaksa sedikit pun.
"Bibi, aku ingin kembali ke rumah ayah, walau sebentar saja. Aku rindu sekali padanya." Di bawah teriknya mentari, dengan Salwa yang sedang menjemur baju di atas balkon khusus meng-anginkan kain yang masih lembab, gadis cantik itu curhat.
Bibi Marimar menatapnya penuh kasih. Ia paham betapa salwa merindukan ayahnya. Apalagi mendengar cerita selama ini mereka sudah hidup berdua, ibu Salwa sudah lama meninggal dan ayahnya adalah tipikal lelaki setia yang tidak mau menikah lagi kendati Salwa sering memintanya untuk menikah kembali.
"Nona benar ingin pulang?"
"Ya, Bibi. Sebentar saja, aku rindu sekali menyajikan makanan hangat untuk ayahku." Tatapan Salwa tampak menerawang saat ia mengatakan itu.
"Hmmmmm ... Nona mungkin harus meminta izin dahulu kepada tuan Kaisar. Sedikit penjelasan kepadanya mungkin akan membuat Nona bisa pulang lagi ke rumah walau hanya sebentar."
Salwa nampak berpikir. Wacana yang ia katakan kepada Kaisar sudah menjadi kesepakatan mereka, bahwa Salwa akan pulang setiap Sabtu. Namun, itu setelah mereka sah menikah. Sekarang mereka belum menikah. Apa Kai akan mengizinkannya?
"Aku sangsi akan mendapat izin, Bi."
"Mari dicoba dulu, Nona. Percayalah, sebenarnya tuan muda adalah orang yang baik."
"Siapa yang mau izin dariku?"
Serentak, Salwa dan Marimar menoleh. Marimar nampak membungkuk hormat kepada Kai yang sedang menatap Salwa dengan tatapan tajam dengan tangan yang masuk ke dalam saku celana. Ia sudah rapi, akan ada perjalanan menuju Jerman hari ini.
"Bicaralah, Nona. Nampaknya, suasana tuan muda sedang baik hari ini."
Hah! Bibi saja yang tidak tahu betapa menyeramkan lelaki ini. Aku tidak bisa melihat suasana hatinya yang lain selain buruk! Salwa mendengus di dalam hati.
"Tidak ada yang mau bicara? Waktuku tinggal sepuluh menit di sini sebelum pergi terbang." Kaisar menatap keduanya lagi. Bibi Marimar menyikut pelan Salwa yang masih diam mematung, belum menyampaikan maksudnya kepada Kaisar yang masih menunggu sambil melihat arloji.
Kaisar berbalik dan akhirnya membuat Salwa bersuara setengah berteriak membuat lelaki itu menoleh dengan kesal.
"Kau tidak bisa memelankan suaramu?!" Kai berkata geram, ia mendekat ke arah Salwa yang segera menjauh.
Ya Tuhan, perkara minta izin saja harus begini susahnya! Salwa mengeluh dalam hati seiring semakin mendekatnya Kaisar.
"Aku ingin pulang sebentar, Tuan. Aku rindu ayahku." Salwa menunduk.
Kaisar menaikkan satu alisnya. Ia menatap Salwa tak suka.
"Kau belum mendapatkan hak itu sebelum terikat pernikahan denganku."
Salwa menarik nafas panjang. Ia tahu, Kaisar pasti tak akan mengizinkannya.
"Aku rindu ayah." Salwa mengulangi perkataannya.
Kaisar masih betah menatap gadis itu yang menatapnya penuh harap. Bibi Marimar meninggalkan keduanya, ia tahu, tuan muda dan calon istri membutuhkan ruang berdua saja. Ia berharap Kaisar memberi izin kepada Salwa walau hanya sebentar untuk pulang dan menemui ayahnya.
"Baiklah."
Salwa mendongak, apa ia tak salah dengar? Kaisar mengizinkannya?
"Apa aku boleh pulang?" tanya Salwa yang tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Kaisar menatap gadis itu dengan tatapan datar. Apa yang menyenangkan kalau hanya pulang ke rumah. Selama ini, ia bahkan tidak pernah merindukan ayahnya. Obrolan Kaisar dan tuan besar hanya sebatas tentang perusahaan mereka yang sudah menjamur di mana-mana.
"Aku tidak mau mengulangi perkataanku, Salwa. Kau boleh pulang tapi akan ada pengawal yang menemanimu. Ingat, kau hanya boleh kembali sehari. Besoknya kau sudah harus berada di sini."
Salwa mendengarkan dengan seksama. Walau begitu sebentar, tapi Salwa tidak mau kehilangan kesempatan langka ini. Ia akan menggunakan waktu sebaik-baiknya. Ia segera mengangguk dan tanpa sadar mengucapkan terimakasih berulang kali.
Salwa bergegas menuju kamar dan mengganti bajunya. Kaisar sendiri sudah turun karena ia harus segera pergi. Salwa meraih tas.Ia turun dengan seorang pengawal yang akan turut serta.
"Nona, tuan muda memerintahkan Nona untuk tidak kemana-mana selama pulang dan berada di rumah ayah Nona." Pengawal memakai jas itu mengingatkan Salwa. Salwa hanya bisa mengangguk. Ia tidak peduli apapun aturan Kaisar yang penting ia akan segera kembali bertemu dengan ayahnya.
"Aku mengerti," jawab Salwa singkat.
Bibi Marimar melambaikan tangan, melepaskan kepergian Salwa dengan senyuman. Perjalanan menuju rumahnya yang cukup jauh memakan waktu kurang lebih satu jam. Salwa sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan ayahnya.
Suasana asri dengan pepohonan hijau juga rumah yang cukup besar menyambut Salwa dengan semilir angin. Ia menatap haru rumah itu. Setidaknya,ayahnya tidak kehilangan rumah mereka. Kaisar masih berbaik hati tidak menjadikan ayahnya gembel di jalanan. Oke, Salwa cukup berterima kasih untuk itu.
Mereka sampai di depan halaman yang cukup luas. Seorang pelayan tergopoh menuju pintu dan membukanya.
"Non, syukurlah Nona pulang. Tuan Subroto sedang sakit."
Hati Salwa yang tadinya dihinggapi kebahagiaan karena busa pulang, sekarang jadi banjir airmata kesedihan. Ia segera berlari. Tak dipedulikannya pengawal yang mengekor di belakang.
"Ayah!" Salwa segera ambruk memeluk ayahnya yang sedang berbaring lemah. Makanan yang tidak tersentuh, tubuh ayahnya yang kurus. Salwa menangis.
"Salwa, jangan menangis, Ayah hanya demam biasa."
Sang ayah berusaha menenangkan puterinya. Ia juga sedih, karena banyak pikiran membuatnya kini jadi jatuh sakit. Ia dan Salwa lost kontak karena Kai bahkan tak mengizinkan Salwa menggunakan ponselnya. Benda itu disita, hingga Salwa buta tentang semua hal yang terjadi pada ayahnya.
"Dia begitu kejam, Ayah. Dia bahkan tidak membiarkan aku tahu kabarmu."
Salwa jadi tergugu dalam tangis kesedihannya. Ayah hanya bisa menepuk pundak puterinya dengan lembut.
"Jangan pernah melawan batu dengan batu, Salwa. Biarlah kau menjadi air, yang mengikis kerasnya batu secara perlahan. Setidaknya, Kaisar masih berbaik hati tidak menyita rumah ini juga masih membiarkan ayah aman di sini, bukan di penjara."
Salwa menatap kekosongan, ia semakin menyadari betapa akan menderitanya dia nanti. Salwa kemudian meraih mangkuk berisi sup yang masih terasa hangat.
"Ayah, ayo makanlah. Aku akan menyuapimu. Ayah harus sembuh, aku hanya satu hari berada di rumah ini. Besok aku harus sudah kembali. Aku akan membuatkanmu makanan yang enak dan aku akan mendatangkan dokter untuk memeriksa keadaanmu."
Tuan Subroto tersenyum, ia mengangguk, mengusap lembut rambut puteri kesayangannya. Ia juga mulai menerima suapan demi suapan dengan susah payah, walau lidahnya terasa pahit. Ia ingin Salwa bisa tenang meninggalkannya nanti jika mereka harus berpisah lagi.