Pelanggaran!

1028 Kata
"Apa maksudmu bersikap genit seperti itu kepada Mark?!" tanya Kaisar saat ia dan Salwa kini sedang duduk bersisian di sebuah sofa empuk. Salwa menoleh, ia mengerutkan keningnya. Apa maksud lelaki ini? Apa yang harus ia lakukan selain membalas senyuman Mark dengan senyuman pula? Apa ia harus membuang muka? Tentu itu tidak sopan! "Aku hanya membalas senyumnya, Tuan. Aku tidak mungkin bersikap acuh kepadanya sedangkan dia sudah begitu ramah kepadaku, bukan?" Kaisar sekarang yang menoleh pula. Ia menatap Salwa tak senang. Wajahnya yang tampan tampak mengeras tanda ia sedang marah. Marah? Apa yang harus dimarahi? Salwa tidak melakukan hal lain selain memberi senyuman yang sama kepada Mark yang ternyata adalah sahabat dari lelaki yang akan menikahinya itu. "Aku tidak suka dibantah, Salwa!" Salwa sedikit terkejut ketika mendengar Kaisar menyebut namanya. Selama Salwa berada di rumah megah milik Kaisar, tak sekalipun lelaki itu sudi menyebut namanya. Kali ini Salwa tidak menjawab apapun lagi. Ia sendiri bingung dengan tingkah Kaisar. Masa ia harus mendiamkan Mark, tidak membalas senyuman lelaki itu? Padahal lelaki itu sudah begitu ramah kepadanya. Lagipula bukannya dari tadi ia sudah menebar senyum kepada siapa saja yang menyapa mereka? Kaisar tidak melakukan protes, tidak menganggapnya sebagai pelanggaran pula, tetapi kenapa ketika Mark yang dibalas oleh Salwa malah adalah sebuah pelanggaran bagi Kaisar? Lelaki itu takut merasa tersaingi kah? Kenapa pula demikian, bukankah hubungan mereka ini hanya di atas dasar terpaksa? Saat sedang bersitegang dalam keadaan berbisik seperti itu, topik utama yang sedang jadi perbincangan mereka malah mendekat dengan segelas minuman di tangannya, ia duduk di depan Salwa juga Kaisar. "Mark, kau tidak menemui rekan bisnismu yang lain? Sepertinya kau suka sekali mendekat ke arah kami?" kelakar Kaisar kepada Mark yang Salwa rasa lebih seperti sindiran, tapi Mark menanggapinya hanya dengan tawa. Ia juga masih tetap memandang hangat keduanya termasuk kepada Salwa. Tatap lelaki itu begitu teduh, Kalau boleh membandingkan, ia lelaki yang berbeda sekali dengan Kaisar. Kaisar tidak pernah memandang Salwa dengan begitu teduhnya, malah setiap tatapan Kaisar seperti berisi ancaman bagi perempuan itu. Bagaimana mungkin Salwa bisa mengabaikan senyuman yang begitu manis yang telah diberikan untuknya itu? "Ya, selain karena kita sudah lama tidak bertemu, juga karena calon istrimu yang aku rasa adalah orang yang menyenangkan, Kai, dia ramah," puji Mark tulus. Salwa tertunduk, tak mau menatap meski Mark bisa melihatnya tersenyum kecil. Sekali lagi, Kaisar menatap Salwa dari sudut matanya. Salwa sudah menggunakan berbagai cara untuk tidak membalas semua pujian dari Mark tetapi nampaknya Kaisar masih kurang puas. "Kau terlalu berlebihan, Mark, dia sama seperti Safira sebelumnya. By the way selamat ya untuk peresmian perusahaan barumu dan aku harap kerjasama kita akan terjalin dengan baik." Kaisar menyudahi perhatiannya terhadap Salwa yang sudah membuatnya kesal itu, untuk berbincang hangat kembali dengan Mark. Dari perbincangan mereka, Salwa tahu bahwa keduanya ternyata cukup dekat. Mark sudah lama bersahabat dengan Kaisar tetapi sifat keduanya bertolak belakang. "Mark, kami tidak akan lama berada di sini. Aku harus pulang, besok aku akan melakukan perjalanan ke luar negeri dan sekaligus aku mengundangmu untuk datang ke acara pernikahanku beberapa hari lagi." "Kau ini, kalau mau menikah, tunda dulu keberangkatanmu ke luar negeri," saran dari Mark mendapat sambutan tawa dari Kaisar yang merasa seolah pernikahan itu tidaklah penting baginya. Salwa kembali menggamit lengan Kaisar, keduanya tampak begitu mesra di mata Mark. Beberapa kali sebelum melepas keduanya pulang, ia memberikan senyuman manis kepada calon istri dari sahabatnya itu. Suasana sebenarnya masih ramai, orang-orang belum ada yang pulang tapi entah kenapa, Kaisar merasa tidak nyaman sejak dari tadi setiap dia menatap Salwa yang bertingkah begitu manis kepada Mark, dia seperti ingin membunuh perempuan itu. Salwa jadi bergidik melihatnya. Apa yang salah dari Salwa malam ini? Bagi Kaisar perempuan itu sudah melakukan pelanggaran fatal terhadap sikapnya kepada Mark yang rasa Salwa malah biasa, tidak ada hal yang istimewa yang harusnya membuat Kaisar menjadi begitu marah. Ketika sudah sampai di halaman besar rumah Kaisar dengan perjalanan di dalam mobil yang begitu hening, Salwa segera turun dari mobil, ia bergegas pergi ke kamar namun tak disangka Kaisar malah mengejarnya. Saat perempuan itu hendak menutup pintu, Kaisar sudah lebih dulu menahan. Terdorong jadinya Salwa dan masuk ke dalam kamar, ia memandang ngeri kaisar yang sudah melonggarkan dasi dan membuka kancing bajunya. "Tuan mau apa?" Salwa bertanya dengan takut seraya menggenggam gaunnya sendiri yang masih melekat di tubuhnya. "Yang aku mau? Kau sudah melakukan pelanggaran malam ini dan aku tidak menyukainya! Hilangkan sifat ramahmu kepada pria lain, itu membuat aku muak! Maka dengan sekali sentak, gaun yang dikenakan Salwa melorot begitu saja, menyisakan bra tanpa tali yang sedang menyangga kedua buah d**a indahnya. Tatapan yang begitu mendominasi oleh kaisar membuat Salwa bergegas menjauh, tetapi lelaki itu lebih suka mencengkeram lengannya kemudian menggiring Salwa ke tembok yang dingin dan menyatukan bibir mereka dengan tidak ada kelembutan sama sekali. Salwa menjerit, tanpa diduga malah menggigit bibir pria itu cukup keras. Kaisar refleks melayangkan satu tamparan di wajah Salwa membuat perempuan itu terhuyung dan terjerembab ke atas ranjangnya. Salwa mencengkeram sprei dengan air mata yang siap jatuh tetapi perempuan itu menahannya, kemudian tak lagi terdengar dengusan Kaisar selain hentakan sepatu yang terdengar menjauh dari dalam ruangan kamarnya itu. "Ayah, aku bisa gila bila berada di sini terlalu lama. Tapi tidak apa-apa, Ayah. Aku tidak ingin kau dipenjarakan, kalau aku kabur dari cengkraman Kaisar, aku justru mengkhawatirkan keselamatanmu." Salwa meraung sendiri di tengah malam itu tanpa berniat untuk mengenakan gaun itu lagi, ia meraih selimut kemudian membungkus dirinya yang sudah setengah polos itu lalu mencoba tidur dengan sisa kemarahan yang tidak bisa ia tumpahkan. Mereka akan menikah tak lama lagi, tapi sebelumnya ia akan menggunakan kesempatan dengan kaisar yang harus pergi ke luar negeri dengan mengunjungi ayahnya. Bagaimanapun juga Kaisar berusaha menahannya di istana bak neraka itu, tetapi Salwa tetap tidak ingin kehilangan kehidupan di luar istana itu. "Tenang Salwa, kau hanya perlu melahirkan anak untuknya, setelah itu, kau bisa meraih kebebasanmu lagi dan terbebas dari lelaki gila yang tidak punya perasaan sama sekali itu." Salwa berbisik menenangkan dirinya sendiri kemudian sempurna menutup matanya dengan kesakitan hati yang masih mencengkram malam-malamnya. Ia tak berniat lagi mengunci pintu, karena percuma, bagaimanapun yang punya kekuasaan di rumah ini adalah Kaisar, bahkan bukan hanya tentang rumah, tapi juga atas dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN